
***
Di sebuah tempat di dalam kerajaan Eden,
Pertemuan antara Sean dan orang itu telah mencapai sebuah kesepakatan, kesepakatan yang akan menjadi kunci untuk semua kemalangan yang disengaja keluarga Rolex atau lebih tepatnya Vincent Rolex.
"Rean, aku sudah melaksanakan sesuai dengan rencana yang kau katakan, sebentar lagi aku akan masuk ke kediaman Vincent Rolex, aku akan memakan umpannya dan aku akan menyerahkan sisanya padamu," seru Sean pada Kakaknya itu, sekarang ini dia sedang berada dalam sebuah mobil bersama Logan menuju kediaman Rolex.
"Haha, sebaiknya kau jaga baik-baik kepalamu itu karena saat aku sampai disana aku akan langsung memukulmu," ketus Rean tertawa jengkel saat Sean lagi-lagi tidak memanggilnya Kakak.
"Pfftt, umur kita hanya beda beberapa menit saja, haha, aku menunggu mu Kak, akhirnya setelah perjalanan panjang, kita akhirnya memiliki tujuan hidup, akhirnya kita tahu jika ibu membutuhkan kita lebih dari siapapun, kita akhirnya tahu jika kita bukan anak terbuang yang tidak di inginkan,"
"Kakak tahu, di lubuk hatiku, aku selalu iri pada Winston, karena dia memiliki kehormatan dan kebanggaan karena kedua orang tuanya, sekarang aku tidak akan merasakan itu lagi, aku bisa bangga dan mengangkat bahuku di depan orang lain, akhirnya kita tahu siapa kita sebenarnya," seru Sean langsung mematikan panggilan itu.
Tiba-tiba saja dia merasa emosional, bagaimana tidak, setelah berpuluh-puluh tahun, mereka mengenal siapa diri mereka sendiri, mereka akhirnya bisa mengangkat kepala dan membusung kan dadanya di hadapan orang lain.
Dia tidak membenci Winston, tetapi dia ingin memiliki kehormatan dan kebanggaan yang dimiliki Winston karena ayah dan ibunya.
"Ah, aku harus meminta maaf pada Winston setelah ini usai, akhir-akhir ini mengapa aku emosional sekali sih?" keluh Sean memandang keluar kaca mobil.
Logan yang melihat itu tersenyum, dia lega, semua perasaan yang dialami oleh Sean secara beruntun menunjukkan pada dirinya jika Sean adalah manusia biasa seperti dirinya.
Sean yang jenius dan terkenal tidak kenal ampun ini juga hanyalah seorang putra dan seorang adik yang menyayangi keluarga nya dan haus akan kasih sayang.
Jalanan yang gelap diterangi lampu jalan mewarnai malam Sean, dia berpakaian rapih dan terlihat tampan. Hanya beberapa saat setelah dia menelepon Rean, mobil yang ia kendarai memasuki sebuah gerbang besar, mereka disambut oleh para petugas di rumah itu.
"Baiklah, mari berpura-pura dan menipu lawan, jika ingin menang, maka kita harus meyakinkan lawan seolah mereka telah mengendalikan permainan dan menjadi lengah, kepercayaan diri dan obsesi akan menjadi senjata yang ampuh untuk mengalahkan pengecut!" decak Sean turun dari mobil sembari mengancingkan jasnya.
__ADS_1
Tidak lupa senyuman yang mereka dan penuh pertanyaan ia lemparkan pada semua orang yang menyambut nya di depan pintu rumah.
"Silahkan Tuan sekalian, mohon ikuti saya," seru seorang yang berpakaian formal, sepertinya orang itu adalah kepala pelayan di rumah Vincent Rolex.
Pria yang sudah sedikit tua itu menuntun Sean dan Logan menuju sebuah ruangan, disana sudah ada meja besar panjang yang diatasnya dipenuhi makanan.
"Oh, Tuan Sean sudah datang, mari duduk, aku akan menjamu kalian berdua dengan makanan yang terkenal di kerajaan ini," seru Vincent tersenyum sangat ramah, dia berdiri dan menyambut tamunya dengan baik.
Sean bisa melihat di meja makan sudah ada anak pertama Vincent yaitu Daren Jeff R, juga ada seorang wanita paruh baya seumuran ibunya, pastinya dia adalah Layla Rolex, wanita bejat yang rela menjebak sahabatnya sendiri.
Layla yang juga menyambut tamu ayahnya tidak bisa menutupi ekspresinya, dia bergetar hebat dan wajahnya merah padam, dia bisa melihat mata lelaki tampan ini persis dengan mata sahabatnya, Hera Razkira Gael, seseorang yang ia khianati demi cinta yang tidak pernah ia dapatkan.
Sampai sekarang Layla sering bermimpi buruk, dia selalu bermimpi jika Hera dan suaminya yang sudah meninggal mendatanginya di tengah malam dan mengejar nya untuk dibunuh.
Layla sampai membutuhkan pengobatan untuk ketakutan berlebihan nya itu, tetapi semuanya itu pantas ia dapatkan.
Sean terlalu mirip pada Ibunya, hal itu membuatnya semakin takut.
"Baiklah, beristirahat lah dan minum obat mu," seru Vincent menutup matanya sejenak, dia terlihat kesal saat putrinya tidak bisa menutupi ketakutan yang ada dalam dirinya.
***
"Tuan Sean, biarkan aku menuangkan minum untuk anda," seru Vincent pada Sean yang sudah duduk dan menyantap makanannya.
Dengan senyuman dan sandiwara nya Sean tersenyum dan mengangkat gelasnya, dia bersikap seolah dia belum tahu apapun dan menerima semua yang dikatakan oleh Vincent.
Mereka berbincang-bincang setelah itu, Sean dan Logan menyadari jika sedari tadi Daren mencuri pandang untuk melihat sekilas kearah Sean, seperti ingin memastikan apakah Sean sudah tumbang atau belum.
__ADS_1
Sean memang seorang mafia, tetapi dia dulu sekolah kedokteran dan memiliki lisensi dokternya, dia bertugas menjadi dokter pribadi di perkumpulan mafia Winston dulu, juga merangkap sebagai pembunuh jika diperlukan.
Tentu saja Sean tahu jika di minuman yang dituangkan ke gelasnya berisikan bahan kimia yang membuat lawannya akan pingsan dan lumpuh sesaat.
Dengan rencana yang matang, Sean sudah meracik sebuah obat dan meminumnya sebelum ia menghadiri perjamuan, sekarang tubuhnya dan tubuh Logan sudah kebal akan racun ringan seperti itu.
Tetapi untuk menjebak lawan, seperti yang dia katakan tadi, kita harus memakan umpan dan membuat lawan lengah.
"Tuk!" Sean berpura-pura menjatuhkan garpu yang ia punya, dia pun menunduk ingin mengambil sendok garpu yang dilantai, setelah itu dia berpura-pura kesakitan dan menggeliat di lantai.
Vincent dan Daren mendekati nya dan bersandiwara, mereka terlihat khawatir.
"Tuan Sean, ada apa?" seru Vincent tersenyum, dia melihat kearah putranya dan mengangguk, memberikan kode jika bahan kimia itu telah bereaksi.
Mereka tidak tahu jika jatuhnya garpu, itu adalah cara Sean untuk membuat kedua orang ini berkumpul di dekatnya agar dia bisa menempel chip kecil di baju mereka.
Sedangkan Logan, yang ikut dalam sandiwara skala besar itu berpura-pura ingin menolong bosnya tetapi beberapa detik setelah itu dia pura-pura pingsan.
"Bawa mereka ke ruangan belakang, dia akan menunggu saat eksekusi nya, sekarang belum waktunya dia mati, dia dan saudaranya harus di eksekusi di depan umum sama seperti keluarga nya," seru Vincent pada para penjaga yang sudah bersiaga tadi diruang perjamuan itu.
"Besok, tahta akan jatuh ke tangan mu putraku, aku sudah menyiapkan kudeta yang meriah besok, para menteri dan dewan telah sepakat denganku, besok semuanya akan berkumpul di hadapan raja dan kita akan merebut tahtanya, dan kau akan duduk di singgasana besok!" seru Vincent menepuk pundak putranya dan seperti tidak sabar menunggu hari esok.
Dia tidak tahu apa yang menunggunya besok, seorang pun tidak akan tahu, siapa yang akan duduk di atas takhta, dan darah siapa yang akan mengalir di altar.
***
Jangan lupa di like 🥰
__ADS_1