Suamiku Seorang MAFIA

Suamiku Seorang MAFIA
Membuat adik untuk Levi,


__ADS_3

***


Saat menerima ciuman dari Rean, dirinya tanpa sadar memejamkan matanya dan menikmatinya setiap gerakan yang ada di bibirnya.


"Apa ini? aku tidak bisa menolaknya, kenapa dia sangat mendominasi ku, kenapa hatiku berdebar dan sangat bahagia, ah, aku tidak tahu lagi, ini seperti dunia mimpi, jika ini mimpi aku tidak akan bangun," gumam Lily dalam hatinya.


Dia merasa heran saat dia menerima begitu saja ciuman dari lelaki ini, dia juga heran mengapa dia berdebar dan hatinya bahagia, dia merasa seolah berada didalam dunia mimpi.


Waktu yang terus berputar serasa berhenti, dengan sangat lembut dan penuh perhatian, Rean meluapkan perasaan nya pada tubuh istrinya ini, sudah lima tahun penantian dan dia bahkan tidak mau menyentuh wanita manapun, kesetiaan nya pada Lily tidak akan pernah goyah.


Bahkan jika Lily tidak ditemukan sekalipun, Rean tidak memiliki keinginan untuk melakukan itu dengan wanita yang lain, karena baik tubuhnya dan hatinya sudah dipenuhi oleh istrinya ini.


Sama dengan Lily, walaupun ia lupa, dia menjaga dirinya, dia menolak siapapun yang ingin mendekat, dia merasa seseorang sedang menunggu nya dan dia harus menjaga diri dengan benar.


Rean yang sangat merindukan kehangatan tubuh istrinya ini sekarang mencium kening istrinya, lalu matanya, bibirnya, dagunya dan semua bagian tubuh istrinya ia cium sembari meluapnya kerinduan.


Dia pandangi wajah istrinya ini sesaat, wajahnya sangat cantik, pipinya merona karena dia merasa malu, matanya tidak berani bertemu pandang dengan suaminya.


"Lihatlah mata ku, jika kau melihat nya kau akan tahu jika kita saling merindukan," bisik Rean menyentuh wajah Lily dan menghadapkan nya kearahnya, dan ....

__ADS_1


"Deg ... Deg ... Deg," jantung Lily rasanya mau copot, dia tidak pernah merasakan hal ini ke siapapun kecuali dengan pria ini.


Dia tidak sadar dia memejamkan matanya saat lelaki ini mulai membuka bajunya satu persatu, sampai ia sama sekali tidak berbusana, dia bukannya tidak bisa menolak tetapi dia merasa dia juga menginginkan ini, sesuatu yang tidak ia kenali di dalam hatinya ini, menuntunnya untuk menerima semua yang dilakukan oleh lelaki ini.


"Kau cantik sekali, tidak berubah sama sekali, aku akan mengingatkan mu bagaimana kita melakukan nya dulu," bisik Rean memulai olahraga panas hari itu.


Padahal hari masih siang, tetapi kerinduan Rean sudah tidak bisa di bendung lagi.


"Ahhh," suara kecil dan ditahan keluar dari mulut Lily saat Rean menyatukan tubuh mereka.


"Sayang, jangan di tahan, keluar kan saja, tidak akan ada yang mendengar kita di rumah ini," bisik Rean dengan nada yang nakal sembari mengecup leher istri nya.


"Aduh, aku malu sekali, tetapi ini sangat menggairahkan, tubuhnya seperti memang memiliki koneksi denganku, aku ingin menolak tapi aku jadi terlalu menikmati nya," gumam Lily memalingkan wajahnya karena merasa sangat malu.


"Hehe, kau malu, apakah kau tahu dulu kau sangat hebat, kau mendominasi tempat tidur dan melakukan nya tanpa malu-malu denganku, kau bahkan selalu berada diatas ku," bisik Rean mulai mempercepat ritme olahraga panas yang sedang berlangsung itu.


"Apa? tidak, aku tidak pernah seperti itu, aku hanya akan mengikuti mu karena tubuhku tidak mampu menandingi stamina mu, jadi aku sering hampir pingsan, enak saja kau mau membodohi ku," ketus Lily dengan jawaban yang tanpa sadar keluar dari mulutnya.


Hanya beberapa detik setelah itu, dia membelalakkan matanya dan tangannya menutup mulutku, seolah berpikir darimana jawaban itu berasal.

__ADS_1


"Hehe, sudah kuduga kau tidak melupakan ku, sebentar lagi kau juga akan ingat, berhenti berbicara nya mari fokus membuat adik untuk Levi, sayang," goda Rean sepenuhnya mengambil alih permainan dan menghabisi Lily sepanjang siang itu.


"Ahh, aku puas sekali, semoga sebentar lagi kita memiliki anak kedua, jika belum maka kita akan melakukan nya setiap hari," seru Rean sembari memeluk istrinya dan mencium dahinya dengan lembut.


"Setiap hari? apa? ti ... tidak bisakah kita menyicilnya? tubuhku tidak akan kuat, hiks," Lily bangkit dan memprotes keinginan suaminya yang ingin melakukan nya setiap hari dengan durasi waktu yang panjang.


"Sayang, kau pernah mengatakan ini kepadaku juga, kata menyicil, jika di ingat-ingat itu lucu sekali, aku merindukan semua tentang mu, juga bagaimana kau selalu bersikap menggemaskan saat menolak permintaan ku," Rean tersenyum dan sedikit tertawa saat mendengar jawaban dari istrinya ini.


"Oh ya, aku bukanlah lelaki yang bisa menahan diri kepada wanita nya, jika kau bertelanjang dada tepat di hadapanku seperti ini aku akan menyelesaikan satu ronde lagi denganmu," Rean menggoda Rean dengan pandangannya melekat di buah dada istrinya yang terpampang nyata di hadapannya itu.


(Kenapa aku bisa buat novel seperti ini? Kenapa? - curhatan author yang bingung lagi sama dirinya sendiri )


Lily yang tidak menyadari sedari tadi dia berbicara dia tidak mengenakan pakaian serasa ingin menenggelamkan dirinya sendiri saja, dia membeku sebentar dan akhirnya dengan secepat mungkin membenamkan diri kedalam selimut.


"Aaahhhh, aku malu sekali, tolong aku, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, bodohnya aku ini, hiks," gumam Lily memejamkan matanya dan berharap saat ia membuka nya dia akan melupakan hal yang baru saja terjadi.


"Hehe, kau memang sangat menggemaskan, tidak ada yang bisa menggantikan mu di dunia ini, tenang saja aku tidak akan melakukan nya hari ini, besok pagi mungkin kita akan melakukan nya lagi, tapi hari ini aku hanya ingin memeluk mu seperti ini dan merasakan panas tubuh mu," bisik Rean ikut masuk kedalam selimut dan menarik tubuh istrinya.


Dia memeluk nya dengan sangat erat, tubuh mereka merasakan kehangatan dan kenyamanan.

__ADS_1


__ADS_2