
***
Di kamar Rean dan Lily,
Saking panasnya kegiatan yang sedang dilancarkan oleh Rean, dia sampai lupa waktu, sudah berjam-jam dia menghabisi istrinya.
Dia seolah tidak pernah puas, dia selalu ingin lagi dan lagi, dia akhirnya tahu satu hal jika dia sangat suka melakukan olahraga panas ini dengan istrinya.
"Ah, aku lapar sekali, tapi rasanya enak, bagaimana ini? aku harus memilih yang mana?" gumam Lily berteriak dalam dirinya.
Dia begitu menikmati kegiatan panas ini, namun perutnya sudah kosong, apalagi setelah melakukan hubungan intim berjam-jam, membuat tenaganya terkuras habis.
Sekarang Lily sedang dihadapkan situasi yang genting.
"Aduh, seperti nya perutku akan berbunyi, tolooonggg jangaaaannn! aku akan sangat malu, aaaa" Lily berteriak lagi di dalam dirinya.
Dia ingin memerintahkan perutnya agar tidak mengeluarkan bunyi yang aneh, dan menghancurkan malam panas yang indah ini.
"Kruk ... kruk ... kruk"
Akhirnya suara perut keroncong Lily berbunyi sampai membuat Rean terkejut dan menghentikan aksinya.
"Ah, sudah kuduga, tubuhku ini mana mau mengikuti mau ku! aissshhh, aku malu sekali, aku ingin mengakhiri rasa malu ini sekarang juga! aaaaa! tolong jangan lihat aku!" decak Lily langsung melihat kesamping, dia sangat malu dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Sayang, apakah kau lapar? kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" ucap Rean terlihat khawatir saat melihat istrinya memegangi perutnya dan terlihat kelaparan.
"Ummm, aku malu, bagaimana mungkin aku mengadu lapar saat kau serius dengan apa yang kau lakukan tadi? aku hanya tidak ingin mengganggu," sahut Lily membenamkan wajahnya di bantal yang ada di kepalanya.
Mendengar itu Rean tersenyum dan tidak menyangka jika istrinya bahkan bisa lebih lucu lagi.
__ADS_1
"Kau memang lucu, jika kau lapar katakan saja, tidak apa, aku juga bukan monster yang akan melahap mu sampai kau pingsan," sahut Rean geleng-geleng, dia segera mengambilkan piyama dan memakaikan nya pada tubuh istrinya.
"Ayo kita makan dulu, kegiatan tadi akan kita lanjutkan saat kau sudah kenyang," bisik Rean menggendong tubuh istrinya dan berjalan menuju meja makan.
"Hah? ja ... jadi kau akan melakukan nya lagi? setelah kita makan? tapi aku sudah sangat lelah, tidak bisakah kita cicil?" tanya Lily dengan pertanyaan polosnya.
"Tidak! aku suka melakukan hal itu, itu bisa membuatku lupa hal lain, lagian kegiatan itu tidak bisa dicicil sayang, sudahlah berhenti tawar menawar denganku, dan makan lah," sahut Rean mencubit lembut pipi istri nya yang terlihat komplain dengan rencananya malam ini.
"Apakah ini hal baik? sebenarnya aku bukan tidak menyukainya, tapi aku sudah lelah, kenapa dia bisa jadi buas seperti ini? dia belajar dari mana sih?" gumam Lily melahap makanan nya dengan cepat.
Dia sudah sangat lapar, tiada henti suaminya menghabisi nya tadi.
"Atau apakah dia belajar dari perempuan lain? apakah dia diluar bertemu dengan wanita lain dan belajar dari mereka? jika tidak? bagaimana mungkin dia jadi sangat hebat dan sangat nakal seperti ini?" gumam Lily langsung menatap Rean yang juga sedang makan dengan tatapan mematikan.
Semua pikiran aneh sedang merajalela di kepalanya sekarang.
Rean merasa ada yang sedang menatapnya dan seperti ingin memangsanya, dia merasa bulu kuduknya merinding. Dan dilihatnya Lily sedang mengunyah makanan sembari melihat nya dengan tatapan mematikan.
"Uhukkk!" Lily yang tanpa sadar menatap dengan tatapan membunuh itu tersadar dan tersedak makanan yang ia makan sendiri.
"Aduh, kau ini seperti anak kecil, minumlah dulu, kalau makan itu jangan memikirkan hal lain, sebenarnya apa yang ada didalam pikiranmu itu?" decak Rean dengan sigap langsung memberikan air minum sembari menepuk-nepuk pundak istrinya.
"Astaga Lily, kau ini memang tidak bisa diandalkan, bahkan disaat seperti ini kau bisa tersedak seperti anak kecil, keanggunan dan ke feminiman yang kau latih dan ingin tunjukkan padanya jadi hancur berantakan, dimatanya aku sudah seperti anak kecil yang harus di asuh. Huhu, aku memang bodoh!" ketus Lily meminum dengan kesal minuman yang di sodorkan Rean padanya.
Setelah minum, Lily menggenggam gelas yang ditangannya dan melihat dengan penuh kekesalan gelas itu.
Dia tidak sadar sedari tadi Rean memandangi nya.
"Gadis ini, dia benar-benar memikirkan segalanya, aku ingin tahu sekarang dia memikirkan apa," gumam Rean geleng-geleng melihat ekspresi istrinya.
__ADS_1
"Tak!" Rean langsung menjitak jidat Lily sampai Lily tersadar.
"Awww. kenapa kau suka sekali menjitak jidat ku? sakit loh," keluh Lily memegangi jidatnya yang sudah merah.
"Sayang, apakah kau lupa? baru juga aku peringatkan jika berada di dekatku kau jangan memikirkan apapun, jangan mengkhawatirkan apapun, tadi kau memikirkan apa sampai pandangan mu seperti ingin membakar gelas tadi?" ketus Rean mencubit pipi istrinya gemas.
"Aku sedang berpikir, kenapa kau bisa begitu hebat hanya dalam beberapa hari! apakah kau bertemu dan belajar dari yang lain? aku tahu, aku salah, aku selalu memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan, aku hanya takut jika saja kau benar-benar melakukanya," decak Lily jujur.
"Sepertinya kita harus melakukannya lagi sekarang, kau pasti sudah kenyang makanya pikiranmu seperti itu," decak Rean dengan ekspresi yang terlihat marah.
Dia tentu saja tidak suka cara berpikir Lily yang ini.
Rean menarik tangan Lily dengan erat dan membawanya kembali ke kamar.
"Hah? tu ... tunggu, aku masih lapar, aku bersalah, aku minta maaf, itu sebenarnya bukan kemauan ku, tetapi kemauan otakku, aku sudah memarahinya barusan, kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyainya," decak Lily panik.
Dia masih lapar, dan sepertinya dia sudah mengatakan sesuatu yang tidak disukai suaminya, dia sedang panik sekarang.
"Tapi, kau tidak bisa menanyai otakku ya? tapi percayalah, aku tidak sengaja dan aku minta maaf," seru Lily saat tubuhnya sudah di jatuhkan ke kasur.
"Deg .... Deg ... Deg!"
Melihat Lily memohon padanya dengan ekspresi lucunya membuat jantung Rean semakin berdegup cepat.
"Astaga! aku bahkan tidak bisa marah padanya jika seperti ini, terlalu imut!" gumam Rean memejamkan matanya.
"Oh tidak, dia sudah memejamkan matanya, dia terlihat sangat marah! bodohnya aku, dasar kau otak tidak tahu tempat, kau beraninya berpikir seperti itu!" decak Lily memarahi otaknya sendiri.
"Hehe, jika seperti ini, kukerjai saja dia, aku suka melihat wajah lucunya," gumam Rean mendapatkan ide brilian.
__ADS_1
"Sayang, kata siapa jika meminta maaf aku tidak akan marah padamu? sejak kapan kata maaf bisa menyelamatkan seseorang?" bisik Rean tersenyum sangat nakal.
Rean sudah membuka ikatan piyama yang tadi ia pakaikan untuk istrinya itu sekali tarik, tubuh polos istrinya sedang ia pandangi dari atas kebawah.