Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 34


__ADS_3

Setelah makan siang usai, Zaky mengantarkan Irene kembali ke Olive Galery. Bahkan sampai ke tempat pemotretan.


"Clarissa itu ..." Zaky hendak memberitahu Irene mengenai Clarissa. Akan tetapi ia sulit memilih kata yang tepat.


"Aku sudah tau. Dia itu pacarnya Axelle kan?" Ucap Irene disertai senyum manisnya. Seakan tiada beban dihatinya.


"Kamu tau dari mana? Apa Axelle yang memberitahu kamu?"


Irene menggeleng. "Dari Boni."


Zaky pun mengulas senyumnya. "Maaf atas ucapannya tadi. Mungkin itu terdengar sedikit kasar. Clarissa memang seperti itu orangnya."


"Tidak apa-apa. Untungnya aku sudah terbiasa diremehkan. Aku ini hanya anak yatim piatu, yang tinggal di panti asuhan sejak kecil. Jadi, ucapan-ucapan seperti tadi sudah terbiasa di telingaku."


"Kamu memang berhati baik. Aku suka wanita seperti kamu." Kalimat itu tanpa sadar terucap begitu saja dari mulut Zaky. Tanpa ia bisa mengontrol.


"Apa?" Irene ingin memastikan pendengaran. Sebab ucapan Zaky tak terdengar jelas olehnya.


Dan Zaky malah tersenyum lebar. Sambil menatap lekat Irene. Wanita yang sejak pertama kali bertemu telah menghadirkan getaran berbeda di hati. Namun sayangnya, ia malah membuat wanita itu terjebak dalam permainan sandiwara yang ia buat sendiri.


"Zaky?" Suara lembut seorang wanita terdengar menyapa.


Olivia yang hendak ke tempat pemotretan tanpa sengaja melihat Zaky dan Irene tengah berdiri di ambang pintu. Sebenarnya, sejak tadi ia berdiri di seberang. Dan tanpa sengaja ia sempat mendengar ucapan Irene. Bahwa ia adalah seorang anak yatim piatu yang sedari kecil tinggal di panti asuhan.


"Bu Olive?" Zaky balas menyapa.


"Bu Olive, maaf saya tadi pergi makan siang bersama Pak Zaky tanpa memberitahu Bu Olive." Ucap Irene merasa tak enak hati meninggalkan pemotretan.


"Tidak apa-apa. Zaky sudah memberitahu saya tadi." Olivia mengulas senyumnya memandangi Irene. Entah kenapa, setiap kali melihat Irene hatinya berdebar aneh. Terlebih disaat tanpa sengaja ia mendengar kebenaran Irene.


"Oh ya, Zaky. Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Olivia kemudian.


"Boleh, Bu Olive." Zaky menyanggupi.


"Kalau begitu kita bicara di ruangan saya saja. Irene mungkin sudah harus melakukan pemotretan sesi ketiga."


"Boleh, boleh."


"Mari ..." Olivia mengambil langkah lebih dulu. Lalu diikuti Zaky kemudian.


Setelah Zaky dan Olivia beranjak dari tempat itu, Irene pun kembali masuk ke ruang pemotretan. Dimana Shelly sudah menunggunya.


"Kamu sudah kembali Irene?" Tanya Shelly melayangkan pandangan pada Irene yang tengah menghampiri.


Irene menyunggingkan senyumnya. "Maaf sedikit telat."


"Tidak apa-apa. Oh ya, Ren. Apa Bu Olive sudah memberitahu kamu?"


"Soal apa?"


"Lusa nanti acara peluncuran katalog terbaru kita. kamu harus hadir. Karena kamu model utamanya. Kemungkinan untuk katalog berikutnya, kita akan mengeluarkan produk dengan konsep Couple." Terang Shelly panjang lebar.


"Kalau soal acara peluncuran katalog sih, Bu Olive sudah memberitahu. Tapi kalau soal katalog baru, belum."


"Mungkin Bu Olive akan memakai kamu dan Axelle sebagai model katalog kedua di musim ini."


Irene terkejut mendengarnya. "Oh ya?"


"Itu baru rencananya. Rancangan untuk katalognya sih sudah selesai. Hanya tinggal menunggu waktu perilisannya saja."

__ADS_1


"Oh ... Begitu ya."


.


.


Sementara di lain tempat.


Sutradara menuruti permintaan Axelle. Yang menyanggupi meyelesaikan bagian adegannya lebih cepat. Bahkan ia harus bekerja keras, menguras seluruh tenaganya demi menyelesaikan syuting. Agar secepatnya ia bisa pulang lebih awal. Sebab hati tak bisa lagi menahan rindu.


Setiap adegan ia selesaikan dalam sekali take. Dengan mengerahkan seluruh kemampuannya. Bahkan terkadang ia terlihat kewalahan. Kelelahan fisik yang teramat sangat. Semua ia lakukan agar bisa menemani Irene. Ia tak ingin meninggalkan Irene sendirian.


Sudah berkali-kali sutradara mengingatkan Axelle agar rehat sejenak. Sekedar memulihkan tenaga. Tetapi Axelle tak mengindahkan. Ia bersikeras menyelesaikan bagian adegannya dalam waktu singkat.


.


Di lain tempat, Olivia dan Zaky tengah membicarakan sesuatu.


"Saya hanya ingin menawarkan, jika Axelle mau, saya ingin menggunakan dia sebagai model katalog berikutnya. Karena kamu manajernya, jadi saya ingin membicarakan hal ini dengan kamu." Ucap Olivia.


"Boleh. Nanti saya akan bicarakan hal ini dengan Axelle. Hanya saja saat ini dia sedang menyelesaikan syuting film. Saya rasa, dia pasti mau."


"Bersama Irene."


Zaky mengernyit. "Maksud Bu Olive?"


Olivia mengulum senyum. "Mereka adalah pasangan yang serasi. Saya ingin menggunakan mereka berdua sebagai model untuk brand bertema Sweet Couple."


Pias di wajah Zaky tampak berbeda. Seakan ada kecemasan, rasa tak suka, atau mungkin kecewa. Sebab bersamaan, ada sedikit rasa sakit yang serasa menyesakkan dada.


"Nanti akan saya bicarakan dengan Axelle dan Irene." Ucap Zaky lesu.


"Silahkan. Apa yang ingin Bu Olive tanyakan." Zaky kembali memasang wajah tersenyum.


"Apakah Irene itu anak yatim piatu? Maaf, saya tidak sengaja mendengarnya tadi."


"Iya. Bu Olive tidak salah. Irene tinggal di panti asuhan sejak kecil."


"Kalau boleh tau, panti asuhan mana?"


"Kasih Bunda."


Entah kenapa, tiba-tiba saja Olivia gemetaran. Ada rasa yang tak mampu ia jabarkan. Sedih, kecewa, terharu, semua melanda disaat yang bersamaan. Rona wajahnya pun mendadak memucat. Keringat dingin mulai mengucur deras. Mengingat-ingat kembali sesuatu yang mungkin ia lewatkan selama ini.


"Bu Olive? Bu Olive baik-baik saja?" Pertanyaan Zaky sedikit menyentak Olivia. Ia tersadar dari lamunannya yang kian melambung jauh.


"I_iya. Saya baik-baik saja."


.


.


Malam hari Axelle telah menyelesaikan syutingnya. Lebih cepat dibanding ia harus menunggu sampai pagi. Sampai di rumah, ia membaringkan diri di sofa ruang tengah.


"Bos. Eike pulang dulu ya?" Tanya Boni setelah menaruh koper Axelle di pojokan ruangan.


Axelle menganggukkan kepalanya.


"Kayaknya Irene belum pulang. Bos tidak apa-apa eike tinggal sendiri?"

__ADS_1


Axelle kembali mengangguk. Matanya mulai terpejam lantaran rasa lelah yang teramat sangat.


"Bos Axe terlalu memaksakan diri tadi. Besok Bos tidak usah syuting dulu. Nanti eike minta Pak Zaky menyampaikannya ke sutradara. Eike khawatir nanti Bos Axe sakit."


"Boni ..." Panggil Axelle susah payah. Bahkan untuk bicara saja rasanya terlalu lelah.


"Ada apa Bos? Bos Axe butuh sesuatu?"


"Irene."


"Bos Axe butuh istirahat, bukan Irene Bos."


"Kamu hubungi Zaky, tanyakan apa Irene sedang bersamanya." Pinta Axelle akhirnya. Tidak mendapati keberadaan Irene di rumah menimbulkan kecemasan di hatinya sekaligus rasa cemburu. Sebab ia tahu, saat ini mungkin Irene sedang bersama Zaky.


"Baik Bos." Baru saja Boni mengambil ponselnya, ponsel itu berdering dan menampilkan satu nama. Membuat Boni memanyunkan bibirnya.


"Handphone Bos Axe dimatiin lagi ya?"


"Hm ..." Axelle terlalu lelah untuk menyahuti pertanyaan Boni.


"Pantesan, Nona Clarissa menelepon eike lagi nih." Kesal Boni dengan wajah cemberutnya.


"Tidak usah dijawab. Abaikan saja."


"Tapi, Bos. Nanti eike yang diomeli. Mana tahan eike mendengar omelan Nona Clarissa."


"Sudah, jangan cerewet. Turuti saja apa kataku."


Axelle kembali memejamkan matanya. Setelah panggilan Clarissa berakhir, Boni hendak menghubungi Zaky. Saat tiba-tiba ...


"Begitu ya? Teleponku diabaikan." Ucap seorang wanita sembari berjalan menghampiri.


Boni panik. Sementara Axelle terlihat santai. Ia tetap berada pada posisinya. Bahkan matanya masih saja terpejam. Tak menghiraukan kehadiran Clarissa. Wanita itu menampakkan pias amarah di wajahnya.


"Eike pulang dulu Bos." Boni melangkah cepat meninggalkan Axelle dan Clarissa berdua. Ia hanya tak ingin terkena imbas atas kemarahan Clarissa.


"Axelle." Panggil Clarissa sembari menghampiri.


Axelle tak menggubris. Ia malah memiringkan badannya, membelakangi Clarissa yang berdiri di depannya.


"Axelle. Kenapa kamu tidak datang menemuiku. Kamu tau tidak, sejak tadi aku menunggu kedatangan kamu." Cecar Clarissa tanpa peduli keadaan Axelle.


"Aku lelah. Kamu tidak lihat, aku baru saja pulang." Axelle menyahuti masih dalam posisinya.


"Tapi kamu bisa kan langsung ke tempatku. Biasanya juga setelah pulang syuting kamu selalu ke tempatku. Kenapa sekarang kamu berubah? Bahkan kamu sering mengabaikan teleponku."


Axelle tak menanggapi. Ia justru bangun dari sofa. Lantas hendak meninggalkan Clarissa.


"Axelle. Jawab dulu pertanyaanku." Clarissa mencekal lengan Axelle. Langkah Axelle pun terhenti.


Di saat yang bersamaan, terdengar derum mobil yang baru saja tiba. Sejurus kemudian, tampak Irene dan Zaky melangkah bersama. Kali ini Zaky bahkan berani mengantar Irene sampai ke dalam rumah. Hal itu menimbulkan amarah yang menggunung di hati Axelle.


"Axelle ... Clarissa ..." Ucap Zaky kaget melihat keberadaan Clarissa di rumah itu.


Tapi tidak dengan Irene. Ia sama sekali tak terkejut. Melihat Axelle sedang bersama Clarissa, Irene memilih mengambil langkah cepat menuju kamarnya. Sampai tiba-tiba Clarissa justru menghentikan langkahnya.


"Tunggu."


TBC

__ADS_1


__ADS_2