Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 39


__ADS_3

Kalimat yang terlontar dari mulut Clarissa menimbulkan kekesalan dihatinya. Akan tetapi Axelle berusaha menahannya. Kini ia hanya penasaran, hal apa yang diketahui Clarissa tentang dirinya. Ada satu hal tentangnya yang tidak diketahui banyak orang, kecuali Zaky dan dirinya sendiri.


"Apa yang kamu ketahui tentangku?" Tantang Axelle atas ancaman murahan Clarissa. Jujur, ia sungguh penasaran, apa yang diketahui Clarissa tentangnya.


Clarissa menyeringai tipis diikuti raganya yang semakin mendekat. Perlahan diraihnya jemari Axelle. Menggenggamnya erat bahkan mengecupnya lembut.


Axelle tak menolak. Ia biarkan saja Clarissa melakukan apa yang diinginkannya. Ia hanya ingin tahu, sejauh mana Clarissa mengetahui rahasianya. Rahasia yang akan dianggap aib oleh banyak orang.


"Sayang, aku minta maaf. Selama ini aku selalu mengabaikan kamu. Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu." Bujuk Clarissa mencoba melunakkan hati Axelle.


Axelle memalingkan wajahnya. Tak ingin hati goyah, hingga terjerumus dan kembali mengambil keputusan yang salah. Ia sudah memilih menjauh, mengakhiri hubungannya dengan Clarissa. Meski banyak kenangan yang telah tercipta. Banyak asa yang sempat terukir. Ia hanya tak ingin menjadi pecundang. Yang suka mengobral janji. Namun ingkar pada akhirnya. Sungguh ia tak ingin menjadi pria seperti itu.


"Langsung saja, apa yang ingin kamu katakan. Apa tujuan kamu datang kemari." Kali ini Axelle lebih tegas. Tak ingin hatinya gundah. Sebab Clarissa pandai merayu. Tembok yang tinggi pun coba ia bangun demi keteguhan hatinya. Ia sudah memilih, memantapkan hati pada satu wanita.


"Aku ingin kamu kembali padaku."


"Aku tidak bisa." Tegas Axelle. Sembari menoleh. Kembali menatap tajam Clarissa.


Namun Clarissa tak peduli seperti apa ekspresi Axelle saat ini. Ia akan terus berusaha membujuk dan merayu, agar Axelle mau kembali padanya.


"Beri aku satu alasan. Kenapa?"


"Kita sudah tidak sejalan lagi."


"Itu bukan alasan yang tepat." Kemudian mengalungkan lengannya di pundak Axelle. Gaya khasnya dalam merayu pria.


"Hubungan tidak akan bertahan jika kita tidak saling memahami. Itu yang tidak ada dalam hubungan kita. Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri. Dan kamu tidak pernah ada untukku. Kamu ada hanya disaat kamu butuh."


"Aku bisa memperbaiki kesalahanku. Aku janji aku akan selalu ada untukmu. Aku janji, aku akan belajar untuk memahamimu." Clarissa masih saja gigih. Berusaha memenangkan kembali hati Axelle.


Pelan Axelle menurunkan tangan Clarissa dari pundaknya. "Mulai sekarang, jangan pernah datang menemuiku lagi." Kemudian beranjak meninggalkan Clarissa.


Dengan langkah gontai, Axelle menapaki anak tangga satu per satu. Jika boleh jujur, ada rasa sakit dan kecewa di hatinya. Hubungan yang selama ini ia jaga, akan berakhir begitu saja. Banyak waktu yang telah mereka lalui. Banyak kenangan yang telah tercipta. Namun keegoisan merenggut segalanya dalam sekejap.


"Axelle. Aku tau, kamu masih mencintaiku." Pekik Clarissa tak sabar.


Namun Axelle tak menghiraukan. Ia memilih masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat. Clarissa wanita yang berani. Ia tahu, wanita itu akan menyusul masuk ke kamarnya. Clarissa tak kan menyerah begitu saja sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Jawaban yang ingin aku dengar dari mulutmu bukan itu Axelle. Kamu tidak mengatakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi. Aku tau, di hatimu masih ada aku." Gumam Clarissa lirih.


Untuk saat ini, mungkin bukan waktu yang tepat untuknya mendapatkan jawaban dari Axelle. Akhirnya ia pun memilih meninggalkan tempat itu.


.


.

__ADS_1


Di kamarnya Axelle berusaha menghubungi ponsel Irene. Namun dering ponsel Irene justru terdengar nyaring dalam kamarnya. Di nakas kecil itu ponsel Irene tergeletak.


"Astaga." Axelle membuang napas panjang, disertai gelengan kepala. Ia lupa belum mengembalikan ponsel Irene. Bagaimana bisa ia jadi pelupa seperti. Sekarang bagaimana ia harus menghubungi Irene.


"Dasar payah." Ia jadi kesal sendiri atas kecerobohannya. Jika begini jadinya, maka tak ada cara lain lagi. Terpaksa ia harus melakukannya.


.


Sementara itu di panti asuhan Kasih Bunda.


Irene mencegah Bu Norma hendak membersihkan kamar lamanya. Kamar itu sengaja dibiarkan kosong. Sebab Bu Norma berharap suatu hari Irene kembali pulang saat sandiwara pernikahannya bersama Axelle berakhir.


"Biar aku saja yang membersihkannya Bu. Ibu istirahat saja." Cegah Irene sembari mengambil sapu dari tangan Bu Norma.


"Biar Ibu saja. Kamu pasti capek kan? Rumahnya Axelle sangat besar, dan kamu harus membereskannya sendirian. Lagipula kamu juga sekarang bekerja di Olive Galery. Pasti hari-hari mu sangat berat."


Irene tersenyum. "Tidak juga, Bu. Axelle tidak menuntut aku harus bekerja sepanjang hari di rumah itu."


"Oh ya, Ren. Apa Axelle tidak mengganggu mu?"


Irene semakin tersenyum lebar. Bahkan wajahnya bersemu merah. Ia lantas menggeleng.


"Tidak, Bu. Axelle orangnya baik kok."


"Syukurlah. Ya sudah, Ibu tinggal dulu. Kalau kamu capek, biarkan saja. Tidak usah dilanjutkan."


Kamar itu memang terlihat agak berdebu. Sebab sudah dua bulan ini Irene tidak menempatinya. Pelan Irene pun mulai membersihkannya di mulai dari membersihkan perabot, dilanjutkan dengan menyapu dan mengepel lantainya.


Iseng Irene membuka lemari pakaiannya. Lalu membuka laci kecil dalam lemari itu. Ia keluarkan beberapa barangnya yang tersimpan rapi dan sudah bertahun-tahun lamanya menghuni laci itu. Ia lantas mengambil duduk di tepian tempat tidur. Mengambil satu foto lama dari kotak kardus kecil.


Dalam foto itu, ada seorang anak lelaki dan Irene sendiri sedang duduk di bawah hamparan langit malam sambil memandangi langit yang bertaburan ribuan bintang-bintang. Ia tersenyum, sebab sudah lama tak melihat foto itu.


"Kenapa senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu?" Tiba-tiba Bu Norma datang, dan mengambil duduk di samping Irene.


"Hanya melihat foto lama."


"Oh ... Itu foto kamu dan Aldo. Saat itu kamu masih berusia lima tahun. Dan Aldo tujuh tahun. Tapi sayang, Aldo sudah diadopsi." Ucap Bu Norma sendu, mencoba mengingat-ingat kembali masa kecil Irene bersama sahabat kecilnya yang bernama Aldo.


"Kok aku bisa lupa ya?"


"Wajar, saat itu kamu kan masih kecil. Bahkan saat itu kamu susah menyebut namanya. Jadi kamu memanggilnya Aldo. Karena nama itu yang paling gampang kamu sebut. Nama lengkapnya Aldo, Ibu sudah lupa."


Sejenak pandangan Irene tertuju pada sebuah kalung yang berinisial NJ. Diambilnya kalung itu. Menatapnya sejenak. Kalung itu memang sudah lama tersimpan rapi. Irene tak pernah lagi mengenakan kalung itu.


"Saat Ibu menemukan kamu di depan pintu panti ini, kamu sudah memakai kalung itu. Mungkin saja itu kalung dari orang tua kamu. Makanya, Ibu meminta kamu menyimpannya baik-baik. Dan jangan sampai hilang. Siapa tau saja, suatu hari nanti, dengan kaling itu__"

__ADS_1


"Bu, tolong jangan membahas soal orang tuaku lagi." Sela Irene cepat sebelum Bu Norma menyelesaikan kalimatnya.


"Tapi, Ren ..."


"Jika benar orang tuaku menyayangiku, lalu kenapa mereka malah membuangku ke panti asuhan ini. Itu tandanya mereka tidak menginginkan aku. Mungkin saja aku ini hanya seorang anak haram." Kekecewaan yang mendalam tampak dari raut wajah Irene.


Ia tak tahu apakah ia harus membenci atau justru harus menerima orang tua yang begitu tega mencampakkannya. Sejak kecil, Bu Norma lah yang telah merawatnya. Dan ia sudah menganggap Bu Norma seperti orang tua sendiri. Jadi untuk apa ia berharap suatu saat nanti akan dipertemukan dengan orang tua kandungnya. Orang tua yang sudah menyia-nyiakannya selama ini.


Ditengah kegundahan hati dan lamunan yang semakin melambung jauh, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh kedatangan seorang anak panti.


"Kak Irene, di depan ada Kak Axelle." Kata anak itu susah payah di sela napasnya yang memburu karena berlari untuk memberitahu Irene tentang kedatangan Axelle.


"Kak Axelle? Oh ya?" Irene mengerutkan dahi tak percaya Axelle datang menyusulnya ke panti.


"Ayo, Ren. Temui Axelle dulu." Titah Bu Norma.


Tak ingin Axelle menunggu lama, Irene pun bergegas ke ruang tamu. Dimana ia mendapati Axelle sedang bersenda gurau bersama anak-anak panti yang lain. Sementara di sampingnya, ada beberapa tas besar yang berisi banyak cemilan dan banyak mainan anak-anak.


Irene menyaksikan pemandangan yang jarang terjadi dengan hati berbunga-bunga. Sungguh ia tak menyangka, Axelle bisa membuatnya jatuh cinta seperti ini.


"Kak Irene ... Ayo, ke sini Kak. Kak Axelle bawa cemilan yang banyak." Seru salah seorang anak saat melihat Irene berdiri di seberang.


Sontak Axelle pun memalingkan wajahnya. Memandangi Irene dengan senyum yang merekah.


Irene tersipu malu dan menundukkan wajahnya yang mulai bersemu merah.


"Kak Irene, ayo main bersama kami." Seorang anak datang dan menarik pergelangan tangan Irene. Mengajaknya bergabung. Lantas memintanya duduk di samping Axelle.


"Hanya sebentar saja kamu pergi meninggalkan aku, tapi aku sudah sangat merindukanmu." Bisik Axelle di telinga Irene.


Irene pun semakin tersipu malu. Dan hanya bisa membalas ucapan Axelle dengan senyumannya.


"Kak, nama lengkapnya Kakak ciapa ciiih ..." Tanya seorang anak perempuan yang paling kecil. Bahkan ucapannya saja belum terlalu jelas.


"Kakak?" Axelle menunjuk dirinya sendiri.


Anak kecil itu mengangguk. "Iya."


"Nama panjang Kakak, Axelle Allardo."


Tampak anak itu manggut-manggut. Tapi sejurus kemudian ia kembali berkata.


"Kalau Mia panggil Aldo boleh? Coalnya cucah di ingat. Mia cukah lupa gitu." Anak yang bernama Mia itu tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya.


"Boleh. Aldo ... Nama yang cukup bagus."

__ADS_1


TBC


__ADS_2