
Di satu sudut kota, di sebuah hunian besar nan megah. Seorang wanita cantik paruh baya, melangkah gontai memasuki hunian mewahnya yang tampak sepi. Hanya ada dua ART, seorang satpam, seorang tukang kebun, dan seorang supir, yang senantiasa menemani kesehariannya di rumah itu.
Olivia Rajendra.
Satu-satunya yang tersisa dari keluarga Rajendra. Di rumah sebesar itu ia hidup bertemankan para ART nya. Satu-satunya pelita dalam hidupnya telah terenggut darinya bertahun-tahun lalu.
Olivia menghempaskan tubuhnya di sofa bed, tak jauh dari kolam renangnya. Di rumah sebesar itu, hanya tempat inilah yang menjadi favoritnya kala sedang gundah. Matanya menatap kosong, namun lamunannya kian melambung jauh. Membayangkan saat-saat kebersamaannya bersama putri kecilnya yang saat itu masih berusia tiga bulan.
Akan tetapi, lamunan indah itu justru harus terhenti begitu saja kala bayangan kehilangan putrinya kembali menghantui.
"Tidak, tidak." Pekik Olivia sambil menggelengkan kepalanya.
"Putriku masih hidup. Aku sangat yakin, Nadine ku masih hidup." Tambahnya dengan rona wajah yang kian memucat.
"Nyonya ... Nyonya tidak apa-apa?" Tanya seorang wanita paruh baya, yang usianya tak berbeda jauh dari Olivia. Meski penampilannya tak seelegan Olivia, wanita itu pun memiliki paras yang masih tampak ayu meski di usianya yang hampir setengah abad.
Olivia tersentak. Lalu memalingkan wajahnya. Menatap wanita paruh baya itu dengan kernyitan di dahinya.
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Nyonya." Ucap Olivia melarang.
"Duduk sini Ran." Titah Olivia.
"Tapi ... Nyonya kan__"
"Ranti ... Sudah berapa kali aku bilang?"
"Baik, Nyo__"
"Ranti ..." Olivia mendelik menatap Ranti, wanita paruh baya yang tampil sangat sederhana itu.
Ranti pun menurut. Ia lantas mengambil duduk di samping Olivia.
Olivia menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sembari menatap lurus.
"Sudah berapa lama ya Ran?" Tanya Olivia kemudian.
"Sangat lama, Liv. Makasih karena kamu mau menampung ku di rumahmu. Maaf jika selama ini aku selalu merepotkan mu." Ucap Ranti lirih mengingat hari-hari yang dilaluinya di rumah itu.
"Justru aku lah yang seharusnya berterima kasih. Karena kamu aku tidak kesepian di rumah ini sejak ayah dan ibuku meninggal."
Ranti tersenyum tipis. "Aku lah yang lebih berterima kasih padamu Liv. Karena kamu hidupku tertolong. Kamu sudah bersedia menampungku hingga bertahun-tahun lamanya. Kamu bahkan membiayai hidupku. Makasih banyak ya Liv."
"Kamu itu bukan hanya aku anggap teman. Tapi kamu sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Kamu teman curhat ku yang terbaik. Makasih ya Ran."
Dua wanita paruh baya itu saling mencurahkan isi hati masing-masing. Dengan permasalahan yang sama, kesedihan yang sama, yang melatarbelakangi persahabatan yang mulai terjalin diantara mereka sejak beberapa tahun silam.
Olivia dan Ranti yang sama-sama kehilangan pelita hati karena keadaan, menjadi teman berbagi untuk suka dukanya. Saling memahami hingga saling membutuhkan, membuat keduanya merasa saling melengkapi.
Ranti merasa sangat beruntung di pertemukan dengan Olivia. Ranti yang saat itu terluntang-lantung di jalanan, tanpa arah dan tujuan, bahkan hampir saja mengalami kecelakaan. Beruntung saat itu ia bertemu dengan Olivia yang datang di waktu tepat. Olivia bak dewa penolong baginya. Merasa oba, Olivia mengajak Ranti tinggal bersamanya.
__ADS_1
"Teringat seseorang?" Tanya Ranti tiba-tiba.
Olivia mengangguk lesu. Dengan pias wajah yang semakin suram. Wajahnya pun perlahan tertunduk. Bersamaan dengan butiran air bening yang lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Kamu sendiri?" Olivia balik bertanya.
Ranti menghela napas sejenak. "Bukan hanya teringat. Tapi aku sangat merindukannya." Ucapnya lirih.
"Aku yakin, putramu pasti sangat tampan." Sembari mengulum senyum tipisnya.
Ranti pun tersenyum. "Aku juga yakin, putrimu pasti sangat cantik."
"Andai mereka ada bersama kita."
Namun, kedua wanita itu hanya bisa berandai-andai. Sambil membayangkan kehadiran pelita hati yang entah dimana keberadaannya.
"Oh ya Ran. Apa kamu tidak merasa bosan di rumah terus? Gimana kalau kamu ikut bersamaku ke Galery. Kamu bisa bantu-bantu di sana. Kebetulan, tidak lama lagi aku akan merilis katalog kedua musim ini." Tawar Olivia.
"Aku sudah nyaman mengerjakan pekerjaan rumah. Gimana ya? Aku hanya takut akan membuat kekacauan nanti."
"Aku mengajak mu tinggal bersamaku bukan untuk menjadi pembantu rumah ini. Kamu teman dan juga keluargaku."
"Makasih, Liv. Tapi sepertinya aku ..."
"Akan aku kenalkan kamu dengan model baruku. Dia masih muda dan cantik. Tapi sayang, dia sudah menikah. Dan suaminya sangat tampan. Artis terkenal lagi."
"Iya. Kamu kenal Axelle kan? Pasti kamu pernah mendengar namanya."
Ranti mengangguk pelan. Memang ia mengenal Axelle. Wajahnya sering wara wiri di layar kaca. Mana mungkin ia tak mengenalnya. Namun entah kenapa ada sejumput rasa di hatinya yang tak ia pahami saat mengingat Axelle.
"Rencananya aku akan menggunakan mereka berdua sebagai model katalog berikutnya. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Gimana, kamu mau kan ikut bersamaku ke Galery? Lagipula, hampir sebagian besar rancangan ku itu juga berkat ide mu. Aku hanya ingin kamu beraktifitas di luar rumah, untuk menghilangkan kejenuhan mu."
"Ya ampun, Liv. Rumah ini sudah sangat nyaman bagiku. Mana mungkin aku jenuh."
"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi aku tetap berharap kamu mau ikut bersamaku."
"Aku pikir-pikir dulu ya?"
"Oh ya, maaf, aku ke kamar dulu ya. Aku mau bersih-bersih. Badanku rasanya lengket semua." Pamit Olivia sembari bangun dari duduknya.
"Oh silahkan, Liv. Mau aku buatkan jus atau ..."
"Tidak usah. Aku tinggal ya?" Olivia lantas beranjak menuju kamarnya di lantai dua rumah itu.
Sementara Ranti, masih termangu menatap lurus. Memikirkan tawaran Olivia. Bayangan Axelle pun melintas di benaknya tiba-tiba. Entah kenapa, darahnya serasa berdesir setiap kali melihat wajah Axelle di layar kaca maupun di setiap halaman media sosial. Seakan ada rasa yang tak mampu terungkap.
Namun, Ranti selalu berusaha menepis rasa itu. Lantaran usia Axelle yang mungkin sama dengan usia putranya, jika saja dia masih ada bersamanya.
.
__ADS_1
.
Axelle dan Irene termangu menatap dokter yang menampakkan senyum nya saat menjelaskan kondisi Irene saat ini.
"Tuan dan Nyonya sebaiknya menemui dokter kandungan. Karena kondisi Nyonya saat ini, hanya dokter kandungan yang bisa menjelaskannya." Ucap dokter memberi penjelasan.
"Do_dokter kandungan Dok?" Axelle mendadak gugup saat dokter menyarankan agar mereka menemui dokter kandungan.
Dokter kembali mengulas senyum. "Iya. Saya sudah memberitahu dokter kandungan. Tuan dan Nyonya silahkan langsung saja temui dokternya. Tidak perlu mengantri lagi. Dokter sudah menunggu. Silahkan."
.
.
Sama hal nya ketika menemui dokter umum. Saat dokter kandungan memberi penjelasan setelah melakukan Ultrasonografi (USG) pun Axelle dan Irene hanya bisa termangu. Saking terkejutnya sampai tak bisa berkata-kata lagi.
Penjelasan dokter cukup jelas, hingga tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Hasil yang tampak dari layar monitor pun cukup jelas.
"Selamat ya, Tuan dan Nyonya akan segera menjadi ayah dan ibu. Kandungan Nyonya Irene sudah berusia dua minggu. Saya sarankan agar Nyonya beristirahat yang cukup, hindari stress, dan mengkonsumsi makanan yang sehat. Nanti akan saya berikan vitamin." Ucap dokter memberi penjelasan.
"Sa_saya hamil Dok?" Irene benar-benar gugup dan shock mendengar penjelasan dokter.
"Iya, Nyonya hamil. Selamat ya. Tolong jaga kesehatan anda baik-baik agar tidak mengganggu perkembangan janin. Di usia kehamilan seperti ini masih sangat rentan mengalami keguguran. Untuk itu saya sarankan agar Nyonya berhati-hati."
Mau bilang apalagi. Mana mungkin dokter itu berbohong. Mana mungkin juga hasil dari pemeriksaan itu keliru. Sekarang Irene baru menyadari, setiap kali berhubungan dengan Axelle tak pernah menggunakan pengaman. Dan inilah resiko yang harus ia tanggung. Hamil di luar pernikahan.
Dalam perjalanan pulang, Irene diam membisu. Sama hal nya dengan Axelle. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sampai tiba-tiba terdengar isak tangis Irene. Hingga mengganggu konsentrasi Axelle. Axelle pun menghentikan mobilnya di tepian jalanan yang sepi. Di bawah pepohonan rindang.
"Ren ..." Cemas Axelle.
"Sekarang aku harus bagaimana?" Tanya Irene disela isak tangisnya.
"Apa maksud kamu?"
"Aku hamil. Apa yang harus aku lakukan. Kita bahkan bukan suami istri yang sah. Pernikahan kita hanya sandiwara. Aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah."
"Irene, apa maksud kamu. Aku ayah bayi itu. Dan aku akan bertanggung jawab. Oke?"
"Lalu bagaimana jika semua orang tau kalau pernikahan kita hanya pura-pura. Bagaimana nanti dengan_"
"Irene stop. Aku tidak mau mendengar ini lagi. Aku tidak peduli meski reputasiku hancur. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan segera menikahimu secara sah." Ucap Axelle meyakinkan Irene.
Namun entah mengapa Irene masih merasa ragu akan kesungguhan Axelle.
"Sebaiknya kita gugurkan saja bayi ini."
"Apa?"
TBC
__ADS_1