Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 65


__ADS_3

Merasa sia-sia memberikan penjelasan panjang lebar namun tak ada satupun yang percaya. Akhirnya Zaky memilih kembali masuk ke dalam Galery.


"Gimana Pak Zaky? Berhasil?" Tanya Boni seraya menghampiri Zaky yang baru saja masuk.


Disusul oleh Axelle, datang menghampiri Zaky. Axelle hanya ingin tahu bagaimana cara Zaky mengatasi wartawan di luar. Dan tentu saja ia ingin tahu tentang pernyataan Zaky bahwa pernikahannya dengan Irene adalah pernikahan yang sah dan resmi.


Sebab setahunya, pernikahan beberapa bulan lalu hanyalah sebuah sandiwara yang telah disusun apik oleh Zaky agar tampak seperti nyata. Akan tetapi, ia tak menyangka, jika pernikahan yang saat itu adalah sandiwara di matanya, nyatanya adalah sebuah pernikahan yang sah. Apakah selama ini Zaky membohonginya? Untuk apa? Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan perasaan Zaky terhadap Irene?


"Gimana? Sudah teratasi?" Tanya Axelle sambil menatap lurus Zaky.


Zaky menghela napasnya sebentar. Diliriknya dahulu Irene yang tengah terduduk lesu di sofa sudut ruangan. Sebelum akhirnya ia menyahuti pertanyaan Axelle.


"Belum." Sembari menggeleng pelan.


"Kenapa?"


"Tidak ada yang percaya dengan penjelasan ku."


"Apa alasannya?"


"Aku tidak punya bukti."


"Bukti? Bukti apa? Bukannya kamu bilang kamu punya buktinya? Kenapa sekarang kamu bilang kamu tidak punya buktinya?" Kini Axelle menatap tajam Zaky. Kenapa sekarang ia merasa Zaky mulai pandai memutarbalikkan fakta?


"Bukan seperti itu. Hanya saja ... Aku ... Aku memang tidak punya buktinya. Jika aku punya pun, mereka tidak akan percaya. Dan menyangka bahwa bukti itu palsu. Rekayasa. Jadi, percuma."


"Jadi maksud kamu?"


Zaky menggelengkan kepalanya. Lalu hendak menjauhi Axelle. Namun langkahnya harus terhenti sebab Olivia yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Ditambah lagi Axelle yang mencekal kuat lengannya. Hingga Zaky pun tak bisa menghindar.


"Zaky ... Jadi benar, pernikahan Axelle dan Irene hanya sandiwara?" Tanya Olivia dengan tatapan serius.


Zaky memalingkan wajahnya sebentar. Memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan. Tadinya ia ingin membuktikan bahwa pernikahan Axelle dan Irene adalah sah. Namun tidak ada satupun yang percaya. Hingga ia pun enggan. Dan mungkin ini adalah kesempatan baginya untuk memisahkan Axelle dan Irene.


Akan tetapi bagaimana dengan kehamilan Irene? Jika ia ikut memisahkan Axelle dan Irene, lantas bagaimana dengan bayi yang dikandung Irene? Apa ia begitu tega membuat bayi tak bersalah itu lahir tanpa seorang ayah nanti?


"Jelaskan dulu apa maksudmu. Kenapa sekarang aku malah jadi makin susah percaya padamu. Setelah perbuatan mu dengan Clarissa malam itu. Tolong jangan buat aku membencimu." Ujar Axelle lalu melepas cekalan tangannya.


"Zaky ... Terus terang saja, saya sangat kecewa. Dan saya tidak bisa lagi mengajak Axelle dan Irene bekerja sama. Perbuatan mereka berdua itu ikut mencoreng nama baik saya. Saya benar-benar kecewa." Tutur Olivia dengan pias kekecewaan yang mendalam.


"Maafkan saya Bu Olive." Ujar Zaky singkat.


Mendengar permintaan maaf Zaky, justru memicu amarah Axelle. Hingga dengan kuat ia memutar paksa tubuh Zaky untuk berhadapan dengannya. Dicengkeramnya kerah Zaky kuat. Sambil menatapnya tajam dengan kilatan amarah yang menggunung.


"Apa maksud kamu dengan minta maaf seperti itu. Apa itu artinya kamu memang tidak punya buktinya?" Tanya Axelle disertai amarah.


"Bu_bukan begitu Axelle. Aku ... Aku hanya ..."


"Katakan yang sebenarnya. Apa yang kamu sembunyikan dariku."


"Tidak ada. Aku hanya mencoba mengatasi situasi."


"Jadi pernyataanmu tadi di depan wartawan itu bohong? Yang mana yang harus aku percaya sekarang? Ucapanmu di depan wartawan atau ucapanmu saat ini di depanku."


"Maafkan aku." Ucap Zaky lirih diiringi wajahnya yang menunduk lesu.


Bugh


Dengan cepat, tanpa mampu Zaky menghindar, sebuah pukulan keras kembali mendarat di wajah Zaky. Hingga wajah Zaky pun berpaling.

__ADS_1


Kejadian tak terduga itu sontak membuat Olivia, Boni, dan Shelly, yang kebetulan menyaksikannya menjadi ketakutan dan tegang. Bahkan Irene yang sedang duduk di pojok ruangan pun dengan cepat menghampiri. Dan mendapati sebuah pemandangan yang tak enak dipandang mata. Axelle tengah diliputi amarah saat ini.


Tanpa melepas cengkeramannya dari kerah Zaky, kembali Axelle mendaratkan satu pukulan di wajah Zaky.


Untuk yang ketiga kalinya harus gagal. Sebab sebuah tangan halus menahan pergelangan tangannya. Serentak pandangan mereka pun teralihkan pada sosok wanita yang berani mencegah Axelle.


Namun berbeda dengan cara Zaky menatap wanita itu. Zaky mengerutkan dahinya, seakan tengah mengingat-ingat seraut wajah paruh baya itu.


Zaky lalu mengambil beberapa langkah menjauh.


"Cukup Nak." Ujar Ranti sembari menatap lekat bola mata Axelle saat Axelle memalingkan wajahnya.


"Jangan mencegahku." Tegas Axelle. Sambil menatap tajam Ranti. Ranti pun melepas pergelangan tangan Axelle.


"Maaf, tapi apa yang kamu lakukan ini salah."


"Memangnya anda siapa berani menasihati ku?"


"Saya ... Saya ..." Bibir Ranti bergetar. Tak kuasa ia mengatakan sesuatu yang begitu ingin diakuinya di depan Axelle.


"Anda bukan siapa-siapa. Jadi jangan mencegah ku, apalagi menasehati ku. Paham? Maaf, aku harus mengatakan ini. Tapi aku tidak suka ada orang yang ikut campur."


"Axelle." Seru Irene dengan nada keras. Sembari menghampiri Axelle. Diraihnya lengan Axelle dan mengelusnya lembut. Sekedar meredakan amarah yang kini menguasainya.


"Aku sudah pernah bilang kan, aku tidak suka melihat kamu seperti ini." Ucap Irene bernada lembut.


"Tapi Ren, aku ..."


"Apalagi saat kamu memukuli Zaky. Aku benar-benar tidak suka kamu bersikap brutal seperti itu."


"Tapi apa yang Zaky lakukan itu sudah keterlaluan Ren. Aku yakin dia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita."


"Axelle, kamu salah paham Axelle." Zaky berusaha membela diri.


"Tolong kamu jujur. Kenapa aku merasa kamu mulai berbohong padaku. Aku tau apa yang kamu katakan pada Irene di restoran tempo hari." Ujar Axelle.


"Ma_maksud kamu?"


"Kamu mengutarakan perasaan mu pada Irene kan?"


Zaky pun terlihat salah tingkah. Ia memalingkan wajahnya, mencoba menghindari tatapan tajam Axelle.


"Sepertinya kita harus banyak bicara." Axelle kini menarik lengan Zaky untuk menjauh dari Irene dan Ranti.


Sementara yang lain masih menyaksikan apa yang terjadi. Situasi di dalam Galery tak kalah kacaunya dengan situasi di luar Galery saat ini.


Axelle menghela napas sejenak. Lalu menghembuskannya perlahan. Diliriknya sejenak Irene yang memandanginya cemas. Takut jika ia tak mampu mengontrol amarahnya.


Axelle pun mencoba melunak. Agar situasi tak semakin kacau.


"Irene sedang hamil. Jika aku dan Irene berpisah, lalu bagaimana dengan nasib bayi itu?" Tanya Axelle dengan merendahkan nada suaranya.


"Tolong katakan yang sejujurnya. Dan aku mohon, bantu aku menyelesaikan masalah ini. Aku sungguh ingin hidup tenang bersama Irene. Setelah masalah ini selesai, aku akan berhenti dari dunia entertaint. Aku akan membawa Irene pergi jauh dari kota ini. Kami akan merawat bayi kami bersama-sama." Ujar Axelle sungguh-sungguh.


"Katakan sejujurnya, pernikahanku sah atau memang hanya sandiwara. Kamu yang paling tau soal ini. Karena kamu yang mengatur segala sesuatunya saat itu." Tambahnya.


Namun Zaky masih membisu. Ia melayangkan pandangannya sejenak pada Irene. Mencoba berdamai dengan perasaannya saat ini. Jujur, ia terluka. Mengetahui kenyataan bahwa Irene sedang mengandung anak Axelle, jelas-jelas telah menutup rapat pintu untuknya. Tak kan mungkin lagi ia bisa memiliki wanita yang dicintainya.


Semula ia berpikir, segala sesuatunya akan berjalan mudah dan mulus. Ia berpikir Axelle tidak akan mungkin jatuh hati pada Irene. Hingga dengan mudah ia bisa mengakhiri pernikahan mereka. Dengan dalih mengakhiri sandiwara. Namun kenyataannya pernikahan yang ingin diakhirinya itu adalah sebuah pernikahan yang sah.

__ADS_1


Sungguh ia berdosa jika sampai melakukan hal itu. Sedangkan Axelle bukan orang lain, melainkan adiknya sendiri.


"Atau jangan-jangan kamu sengaja menyembunyikan kebenaran demi Irene. Agar kamu bisa_"


"Maafkan aku, Axelle." Sela Zaky sebelum kalimat Axelle selesai.


"Sebenarnya ... Pernikahan kalian adalah pernikahan yang sah menurut hukum dan agama. Aku terpaksa berbohong padamu, agar kamu mau menikahi Irene demi reputasimu saat itu. Sekali lagi maafkan aku." Tambahnya.


Axelle pun bernapas lega. Selama ini ia menganggap ia sering berbuat zina dengan Irene. Tapi ternyata Irene adalah istrinya yang sah. Tapi kenapa Zaky tidak jujur sejak awal. Sungguh ia sangat kecewa dengan sikap Zaky.


"Maafkan aku ..." Ucap Axelle tiba-tiba diiringi kepalan tinjunya yang mulai melayang di udara. Ia hendak memukuli Zaky sekali lagi. Namun tinjunya tak sempat menyentuh wajah Zaky. Sebab sepasang tangan halus kembali menahan pergelangan tangannya.


"Jangan Nak. Jangan lakukan itu." Pekik Ranti sambil memegangi pergelangan tangan Axelle.


Tak suka ada yang ikut campur, Axelle pun menghempas kuat lengannya. Saking kuatnya hingga Ranti pun terhempas, lalu jatuh ke lantai. Lantaran tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Sudah aku bilang jangan ikut campur." Seru Axelle lantang menatap ke arah Ranti.


"Tapi Nak ..."


"Jangan panggil aku Nak. Aku bukan anakmu."


"Axelle!" Seru Zaky lantang. Sebab tak suka Axelle bersikap kasar seperti itu. Terlebih lagi terhadap orang tua.


Melihat Ranti yang terpukul dengan perlakuan kasar Axelle, Irene pun mencoba membantunya berdiri dan mencoba menenangkannya.


"Maafkan Axelle ya Bu Ranti." Pinta Irene lembut.


Ranti tersenyum miris. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ucapan Axelle sangat menyakiti hatinya.


"Minta maaf sekarang juga." Titah Zaky.


"Pada siapa?"


"Pada ibu itu."


"Memangnya dia siapa?"


"Dia ... Dia adalah ..." Zaky menoleh sejenak ke arah Ranti yang kini menatapnya cemas. Tampak kekhawatiran dari sorot matanya.


"Entah kenapa aku tidak suka melihat wanita itu." Ucap Axelle.


"Axelle, kamu keterlaluan. Ayah tidak pernah mengajarimu bersikap kasar terhadap orang tua."


"Ayah? Ayah katamu?" Axelle memalingkan wajahnya. Tak ingin mengingat kembali masa kecilnya.


"Minta maaflah pada ibu itu Axelle." Titah Zaky sekali lagi.


"Aku tidak mau."


"Axelle ..."


"Tapi kenapa? Kenapa aku harus_"


"Karena dia ibu kamu. Ibu kandung kamu." Sela Zaky cepat dan lantang. Hingga Axelle pun terdiam detik itu juga.


TBC


❤️Thankyou so much buat yang masih nungguin update nya. Jujur otor adalah bumil yang sedang menunggu saat-saat lahiran. Jika tiba-tiba otor belum bisa update untuk beberapa hari, itu artinya otor sedang berjuang melahirkan satu nyawa ke dunia. Mohon doanya agar persalinannya lancar☺️

__ADS_1


So semoga terhibur ...


Happy reading❤️


__ADS_2