
"Kalian mau kemana?" Tanya Zaky dengan tatapan tajamnya.
"Darimana kamu tau aku dan Irene ada di taman ini?" Axelle balas bertanya, alih-alih menjawab pertanyaan Zaky.
"Aku hanya kebetulan lewat saja. Dan kebetulan juga ada yang perlu aku bicarakan denganmu."
"Soal apa?"
"Mungkin sebaiknya kita cari tempat lain saja biar lebih nyaman."
"Baiklah. Kebetulan ini sudah sore. Dan kami mau mencari tempat yang bagus untuk makan malam."
"Kalau begitu kita ke resto favoritku saja. Tempat biasa aku dan Irene makan."
Axelle mengerutkan dahinya. Lalu menggulir pandangannya pada Irene yang masih menggandeng lengannya. Axelle menaikkan kedua alisnya saat Irene menaikkan pandangan, menatapnya.
"Kalian sering makan berdua?" Tanya Axelle, bermaksud menggoda Irene.
Irene menggeleng pelan. "Hanya beberapa kali. Bukan sering."
Axelle pun tersenyum lebar. Untuk apalagi ia harus waspada dengan Zaky. Toh Irene sekarang sedang mengandung anaknya. Mana mungkin juga Irene akan pergi meninggalkannya. Secara tidak langsung, Irene telah terikat dengannya. Jadi ia bisa sedikit bernapas lega. Sebab mana mungkin juga Zaky masih mau mendekati wanita yang sedang hamil.
"Baiklah, kita makan di tempat favoritmu saja." Axelle pun menyetujui saran Zaky.
.
.
Di tempat biasa, di meja khusus tamu VIP, mereka tengah duduk. Menunggu hidangan yang telah mereka pesan sebelumnya.
Zaky tampak menghela nafas panjang. Lalu menghembuskannya pelan. Sesekali matanya kembali melirik pergelangan tangan Irene yang tampak polos. Seketika, tampak kekesalan di raut wajahnya.
Terlebih lagi saat melihat Irene dan Axelle saling bercanda. Tidak seperti sebelumnya, jangankan berada di dekat Irene, bahkan menyebut namanya saja Axelle enggan. Dan kini mereka terlihat akrab. Mungkinkah yang dikatakan Axelle benar? Bahwa mereka saling mencintai.
Jika memang benar, lantas bagaimana dengannya. Sebelum Axelle, ia yang telah lebih dulu menaruh hati pada Irene. Kini ia hanya bisa menyesali ide gilanya yang membuat Axelle dan Irene berada dalam satu ikatan. Mengapa ia tak menyadari ini sebelumnya. Tinggal dalam satu atap berdua akan membuka jarak diantara keduanya. Yang tentunya bukan jarak untuk memisahkan. Namun sebaliknya, jarak yang membuat hubungan keduanya malah semakin dekat.
"Ehem ..." Deheman Zaky mengagetkan Irene dan Axelle. Keduanya pun bersamaan melayangkan pandangannya pada Zaky.
"Oh ya, Axelle. Mengenai tawaran Bu Olive ... Kemarin, kebetulan aku ke tempatnya. Asisten Bu Olive sudah mengkonfirmasi perihal jadwal pemotretannya." Ujar Zaky memulai.
"Jadwal pemotretan kalian sama. Karena modelnya kalian berdua." Zaky lalu terkekeh. Seakan merasa ini adalah lelucon.
"Lalu? Ada hal lain lagi yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Axelle.
__ADS_1
"Nanti akan aku kasih ke Boni jadwal kegiatan kamu. Termasuk undangan-undangan talkshow dari beberapa stasiun TV. Juga beberapa acara jumpa fans mengenai film kamu yang akan segera tayang."
"Oke. Hanya itu?"
"Iya, hanya itu."
"Kalau begitu, aku permisi ke toilet sebentar." Sembari bangun dari duduknya. Namun sebelum beranjak pergi, Axelle membisikkan sesuatu di telinga Irene.
"Awas ya, jangan menatapnya terlalu lama. Nanti kamu bisa jatuh hati padanya." Bisik Axelle. Irene pun sontak memalingkan wajahnya, menatap kesal Axelle yang justru tersenyum menatapnya.
"Bercanda." Lalu beranjak pergi meninggalkan Zaky dan Irene berdua.
Zaky memandangi punggung Axelle yang semakin menjauh sampai hilang dari pandangannya. Pandangannya pun kini bergulir pada Irene yang duduk sambil berpaling muka, memandangi objek lain ketimbang memandangi Zaky. Ia hanya menuruti perkataan Axelle. Meski terkesan konyol dan bercanda, akan tetapi ia tahu, Axelle bersungguh-sungguh.
"Ren ..." Panggil Zaky lirih.
"Ya ..." Sahut Irene tanpa berpaling muka.
"Maaf jika aku menanyakan hal ini. Apakah bingkisan dariku sudah kamu buka?"
Irene salah tingkah. Tak menyangka Zaky akan menanyakan hal itu.
"Emm ... Su_sudah. Makasih banyak ya? Tapi, aku rasa sebaiknya kamu tidak perlu memberiku hadiah semahal itu." Jawab Irene canggung.
"Maaf, itu terlalu berlebihan."
Zaky membuang napas pelan. Memalingkan wajahnya sebentar, sebelum akhirnya kembali menatap Irene dengan tatapan berbeda.
Sementara Irene menundukkan wajahnya dalam-dalam. Tak ingin bertatapan dengan Zaky.
"Ren ... Sekali lagi aku minta maaf. Mungkin aku harus mengatakan ini sekarang." Ucap Zaky.
Irene masih tertunduk. Meski Zaky terus menatapnya lekat.
"Irene ... Jujur, aku ... Aku menyukaimu." Ungkap Zaky spontan.
Irene tersentak kaget mendengarnya. Sontak ia mengangkat wajahnya. Menatap Zaky yang masih menatapnya lekat.
"Ma_maksud kamu?" Meski Irene mendengarnya dengan jelas, akan tetapi ia masih belum mempercayainya. Mana mungkin Zaky menaruh hati padanya. Sedangkan mungkin Zaky pun sama seperti pria lainnya. Yang menginginkan kriteria wanita idaman seperti Clarissa. Seorang model cantik dan seksi.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu." Zaky mengulangi kalimatnya lebih jelas lagi.
Gugup, sudah pasti. Bahkan kini suasananya mendadak canggung. Sebab Irene tak tahu harus menanggapi ungkapan hati Zaky seperti apa. Mana mungkin ia menolaknya kasar. Mana mungkin juga ia memberitahu Zaky perihal kehamilannya.
__ADS_1
Sementara Zaky, tak peduli keadaan. Ia bahkan mengabaikan setiap perkataan Axelle. Yang terang-terangan mengatakan ingin menikahi Irene secara sah. Bukan sandiwara lagi.
Mungkin, sampai detik ini, Zaky masih menganggap Axelle hanya bercanda.
"Maaf membuatmu terkejut. Tapi apa yang aku katakan, sungguh-sungguh dari lubuk hatiku." Tambahnya.
Irene masih membisu. Tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa menatap Zaky lurus.
"Jujur, aku butuh jawaban darimu. Tapi sepertinya, kamu mungkin belum bisa memberikan jawabannya sekarang." Ujar Zaky menebak isi hati Irene dari raut wajahnya yang tampak saat ini.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu terucap dari mulut Irene. Sejujurnya ia masih shock atas pengakuan Zaky.
"Tidak masalah jika kamu belum bisa menjawabnya sekarang. Aku bisa menunggu." Sembari mengulas senyum manisnya, menatap Irene lekat.
Irene masih tak tahu harus bilang apa. Ia pun hanya bisa menatap Zaky dengan seksama. Tanpa ia sadari, si seberang, dari balik dinding, Axelle memperhatikan.
Sejak tadi Axelle telah selesai dengan urusannya di toilet. Saat kembali, tanpa sengaja ia malah mendengar pengakuan Zaky. Hingga menyurutkan langkahnya untuk menghampiri. Ia lantas memilih menyimak apa yang terjadi dari seberang.
Dari tempatnya berdiri, Axelle bisa mendengarnya. Meski samar, tapi masih cukup jelas di telinganya. Bahkan ungkapan cinta Zaky terdengar jelas olehnya.
Jujur, ada rasa mulai tak suka akan sikap Zaky yang terkesan ingin menusuknya dari belakang. Bisa-bisanya Zaky memanfaatkan keadaan ini untuk mengakui perasaannya pada Irene. Jika itu Clarissa, ia tak peduli. Tapi Irene berbeda. Dan ia tak bisa membiarkan hal ini terjadi.
"Maaf lama." Ujar Axelle begitu menghampiri. Lantas kembali duduk di tempatnya semula.
Kedatangan Axelle tiba-tiba, sontak membuat Zaky dan Irene salah tingkah. Keduanya pun cepat mengalihkan pandangannya masing-masing.
"Makanannya belum siap? Waaah ... Berarti resto ini payah dong. Pelayanannya lama. Kita cari tempat lain saja yuk." Kelakar Axelle untuk mengurai suasana yang mendadak terasa canggung.
"Tidak perlu Axelle. Sebentar lagi pesanannya selesai kok." Tolak Irene.
"Oh ya? Berarti kamu sering dong datang ke sini."
"Hanya beberapa kali."
"Oh, iya, benar. Tapi kalau Zaky ... Dia sudah sering datang kemari." Kini Axelle menatap tajam Zaky. Sambil tersenyum sinis.
Zaky hanya tersenyum menanggapi ucapan Axelle. Sebab apa yang dikatakan Axelle memang benar. Restoran ini adalah restoran langganannya.
"Karena tempat ini cukup nyaman. Bahkan untuk berkencan. Suasananya tidak terlalu bising. Cocok untuk yang sedang ingin menyatakan cinta." Tambahnya tajam. Hingga Zaky pun kembali salah tingkah.
Sementara Axelle semakin tersenyum lebar melihat tingkah Zaky.
TBC
__ADS_1