Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 46


__ADS_3

"Action!" Pekik Sutradara.


Dengan posisi Axelle mendekap kedua pipi Clarissa, dan Clarissa tersenyum manis, adegan selanjutnya siap dilakukan.


Perlahan Axelle mulai mendekatkan wajahnya. Clarissa menyambutnya dengan tatapan berbinar. Sementara di seberang, Irene tengah menyaksikan dengan tatapan dingin.


"Axelle, ayo lakukan." Ucap Clarissa lirih saat Axelle masih terdiam menatapnya.


Ada rasa berat di hati melakukan adegan itu. Entah kenapa, hatinya begitu menolak. Axelle sungguh tak bisa. Terlebih lagi, Irene tengah menyaksikan saat ini. Memang sebelumnya, ia sudah memberitahu Irene perihal adegan selanjutnya. Dan kenapa Clarissa bisa ada di lokasi syuting. Tapi tetap saja, hatinya sungguh berat.


"Came on Axelle. Kita sudah sering melakukan ini. Jangan bilang kalau kamu gugup." Tantang Clarissa.


Axelle malah menatap Clarissa dingin. Sejurus kemudian ia memalingkan wajahnya, melepas dekapan tangannya dari wajah Clarissa.


"Cut!" Pekik sutradara kencang.


"Axelle. Konsentrasi dong." Ujar sutradara kesal.


"Maaf, Bang."


"Ya sudah, kita coba, sekali lagi."


Adegan siap dilakukan kembali. Seperti posisi semula, Axelle sudah bersiap. Akan tetapi, sedetik kemudian, ia kembali memalingkan wajahnya. Tak kuasa melawan kata hati.


"Cut!" Sutradara semakin kesal. Ini sudah yang kesekian kalinya Axelle gagal melakukan adegannya.


"Axelle. Profesional dong. Masa adegan yang begini saja kamu tidak bisa. Sebelumnya kamu bisa, bahkan hanya dalam sekali take. Kenapa sekarang tidak bisa? Istri mu sudah memberi ijin kan?" Kesal sutradara.


"Bukan begitu Bang. Masalahnya ..." Axelle seakan enggan mengungkap keresahannya.


Clarissa tersenyum sinis menatap Axelle. Bahkan meremehkan Axelle.


"Haruskah aku yang ambil inisiatif lebih dulu? Came on Axelle, biasanya kamu yang lebih agresif melakukannya padaku. Kenapa sekarang kamu jadi pecundang seperti ini? Apa semua ini karena gadis kampungan itu?" Ledek Clarissa. Namun Axelle tak menanggapi.


"Bang, minta waktunya dulu sebentar." Pinta Axelle.


"Ya sudah. Kita istirahat dulu sebentar. Saat pengambilan gambar ulang, lakukan dengan baik." Tegas sutradara.


"Oke, Bang." Axelle kemudian meninggalkan Clarissa yang masih mematung di depan kamera. Ia pergi menghampiri Irene yang sedang ditemani Boni di tempat rehatnya.


"Bos, kenapa Bos? Biasanya Bos paling cepat kalau cuma adegan begitu." Ucap Boni menyambut kedatangan Axelle.


Axelle menarik satu kursi lebih dekat dengan Irene. Lalu duduk, diraihnya jemari Irene perlahan dalam genggamannya. Menatapnya lekat-lekat, lalu menghembuskan napasnya pelan.


"Kamu kenapa?" Tanya Irene lembut.


"Rasanya berat melakukan adegan itu."


"Memangnya kenapa?"


"Kamu tau kenapa aku tidak bisa melakukannya."


"Karena Clarissa?"

__ADS_1


Axelle mengangguk pelan. "Salah satunya karena itu."


Irene terkekeh mendengar alasan Axelle tak bisa melakukan adegan ciuman. Tapi hatinya tersentuh, sebab Axelle berusaha menjaga perasaannya.


"Aku tidak apa-apa. Lakukan saja. Lagipula, itu hanya akting. Aku bisa mengerti."


"Tapi ..." Axelle memalingkan wajahnya. Memandangi Clarissa di seberang yang tengah memperbaiki riasan wajahnya.


"Hei ..." Irene mengulurkan tangannya. Menyentuh lembut wajah Axelle. Sembari mengulas senyumnya.


"Aku tidak apa-apa. Oke? Lakukanlah yang terbaik. Aku tau, kamu adalah aktor yang hebat. Untuk adegan seperti ini, aku yakin kamu pasti bisa." Irene tersenyum lebar menatap Axelle.


"Benar tidak apa-apa?" Axelle memastikan meski masih ada rasa berat itu membebaninya.


Irene mengangguk cepat. Axelle pun meraih jemari Irene yang menyentuh wajahnya. Dikecupnya lembut jemari itu. Lalu ia bangun dari duduknya. Setelah mengecup kening Irene, ia beranjak kembali ke tempat pengambilan gambar. Dimana Clarissa telah lebih dulu berada di depan sorotan kamera.


"Aku siap, Bang." Seru Axelle.


Sutradara yang telah bersiap di depan layar monitor pun mengacungkan jempolnya.


"Oke. Siap ya Axelle. Tiga ... Dua ... Satu ... Action!" Seru sutradara memulai pengambilan gambar adegan.


Clarissa telah bersiap menunggu Axelle melakukan tugasnya. Perlahan Axelle pun mulai mendekatkan wajahnya. Meski ia enggan, meski ada rasa berat dihatinya, tapi ia harus melakukan ini demi profesionalitas kerja.


"Came on Axelle ..." Ledek Clarissa. Sebab lagi-lagi Axelle terhenti di tengah jalan. Hingga kembali menimbulkan kekesalan sutradara.


"Cut!"


"Sorry Bang." Seru Axelle. Namun atensinya sedikit teralihkan lantaran kehadiran Zaky tiba-tiba.


Hal itu membuat kekesalan mendadak melanda. Axelle menghembuskan napasnya kasar. Sembari menatap tajam ke arah Irene dan Zaky yang sedang asik bersenda gurau. Irene tertawa-tawa, begitu pun dengan Zaky. Entah apa yang tengah mereka perbincangkan. Yang jelas, hal itu membuat Axelle geram. Kesal setengah mati. Ia tahu, Zaky menyukai Irene. Mungkin saat ini Zaky tengah berusaha mendekatinya.


"Aku siap, Bang. Kita mulai lagi." Seru Axelle kesal.


"Oke. Lakukan yang terbaik. Jangan ada kesalahan lagi. Bersiap ... Action."


Untuk melampiaskan kekesalannya, Axelle pun melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak tadi. Dengan cepat diraihnya tengkuk Clarissa. Lalu memagut lembut bibir Clarissa. Clarissa pun tak ingin kehilangan kesempatan. Ia membalas setiap pagutan Axelle. Untuk hal seperti ini, Clarissa sungguh lihai. Bahkan Clarissa lah yang mendominasi permainan.


Clarissa lantas mengalungkan lengannya di pundak Axelle. Menikmati permainan bibir Axelle. Meski ia tahu ini hanya sekedar akting. Tapi ini adalah kesempatan baginya untuk membuat Axelle kembali bergairah terhadapnya.


"Cut! Good. Bagus Axelle." Seru sutradara merasa puas dengan hasil yang diberikan Axelle.


Clarissa masih tak ingin kehilangan kesempatannya. Ia terus saja memagut bibir Axelle dengan rakusnya. Ia bahkan tak peduli sutradara sudah beberapa kali meneriakkan adegannya telah berakhir. Bahkan dorongan pelan di tubuhnya tak ia hiraukan. Ia terus saja melancarkan aksinya. Memagut lebih dalam.


Di seberang, Irene tertegun, bahkan terpaku melihat aksi keduanya yang tak peduli keadaan. Pengambilan adegan telah berakhir, tapi keduanya masih saling memagut mesra. Irene bahkan menyapukan pandangannya. Tampak sutradara dan pra kru yang lain menggelengkan kepalanya.


"Axelle, Clarissa. Adegannya sudah berakhir. Bersiap untuk adegan berikutnya." Seru


sutradara mengingatkan.


Namun Clarissa dan Axelle seakan tak peduli. Keduanya masih saling memagut. Bahkan seakan enggan terlepas. Sampai tiba-tiba, Axelle mendorong kasar tubuh Clarissa. Axelle tampak tersengal, lantaran Clarissa menyerang begitu buasnya. Hingga ia terasa kesulitan bernapas.


"Kamu sudah gila." Umpat Axelle kesal.

__ADS_1


Clarissa tersenyum puas. "Aku tidak percaya kalau kamu tidak mencintaiku lagi. Buktinya, aku bisa merasakan bagaiman perasaanmu yang sebenarnya dari cara mu mencium ku tadi."


"Itu hanya akting. Tidak lebih."


"Oh ya?" Clarissa lalu memalingkan wajahnya. Melayangkan pandangannya pada Irene yang tampak tertegun melihat aksinya dan Axelle.


Axelle pun memalingkan wajahnya. Mengikuti arah pandang Clarissa. Detik itu juga, perasaannya dilanda gelisah yang tak menentu. Dari ekspresi wajahnya, Irene mungkin terkejut. Bahkan raut wajahnya yang semula tampak ceria, kini mendadak suram.


Irene memalingkan wajahnya. Seakan menghindari tatapan Axelle. Lalu ia bangun dari duduknya. Hendak meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba saja kepalanya terasa pening. Hingga ia hampir saja terjatuh. Beruntung dengan sigap Zaky menopang tubuhnya.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Zaky cemas. Sembari membantu Irene berdiri dengan benar.


"Tidak apa-apa. Makasih ya?" Sembari mengulas senyum manisnya.


"Kamu sakit? Kalau kamu sakit, biar aku temani ke dokter."


"Tidak, aku tidak sakit. Tiba-tiba saja kepalaku pusing."


"Kamu sudah makan?"


"Belum sih. Tadi aku tidak menghabiskan sarapanku. Mungkin karena itu kepalaku jadi pusing."


"Sebaiknya kamu istirahat saja di rumah. Tapi sebelum itu kamu harus makan. Gimana kalau kita makan di tempat biasa. Kamu mau kan?"


"Em ... Gimana ya ..." Irene tampak tak nyaman dengan ajakan Zaky. Ia hanya takut membuat Axelle marah. Sudah berkali-kali Axelle memintanya untuk menjauhi Zaky.


"Hanya makan, tidak lebih. Gimana?" Ajak Zaky sekali lagi.


"Tidak perlu. Aku bisa kok mengajaknya makan di resto yang terdekat. Tidak perlu ke resto yang jauh segala." Tandas Axelle yang tiba-tiba datang menyela di tengah obrolan.


"Axelle." Seru Zaky. "Bukannya kamu masih ada syuting?"


"Ada. Tapi dua jam lagi. Waktunya cukup untuk mengajak istriku makan."


Zaky terkekeh. "Axelle, kenapa kamu menganggapnya serius? Ikatan sakral diantara kalian itu tidak nyata. Kamu paham kan?"


"Aku tidak main-main, kakakku. Aku serius dengan ucapan ku. Aku mencintainya. Aku sudah pernah kan mengatakan ini sebelumnya?"


Namun Zaky kembali terkekeh. "Lain kali kalau mau bercanda, cari yang lebih lucu. Aku tau, Irene bukan tipe wanita idaman mu. Tipe kamu itu, wanita seperti Clarissa."


Mendengar hal itu, Irene memalingkan wajahnya. Mencoba menghindari tatapan tajam Axelle. Apa yang dikatakan Zaky sedikit menyentil hatinya. Seakan ia tersadar dari mimpinya.


Ia bukan wanita seperti Clarissa. Pria manapun pasti menginginkan tipe wanita seperti Clarissa. Tak terkecuali Axelle. Yang notabenenya seorang aktor terkenal. Sudah pasti Clarissa adalah kriteria wanita idamannya. Tipe ideal pria seperti Axelle.


"Zaky ... Tolong antar aku pulang. Aku mau istirahat di rumah." Pinta Irene tiba-tiba.


"Baik. Akan aku antar kamu pulang." Sahut Zaky.


Irene pun kemudian mengambil langkah lebih dulu. Tanpa peduli seperti apa Axelle memandangi kepergiannya. Axelle begitu kesal. Setengah mati menahan amarah yang kian merasuk di dada.


Zaky pun lalu menyusul langkah Irene. Berjalan bersisian meninggalkan lokasi syuting tanpa peduli keadaan.


"Tunggu!" Seru Axelle lantang tak tahan lagi. Suara lantangnya bahkan mengangetkan orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2