Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 49


__ADS_3

"Kamu benar. Aku tertarik padanya. Aku menyukai Irene. Sejak pertama kali melihatnya." Tambahnya. Hingga guratan amarah pun mulai tampak. Emosi mulai menguasai Axelle.


Zaky dengan berani mengakui perasaannya. Sebab ia tahu, Irene bukan milik siapa-siapa. Jadi tidak ada masalah jika ia mencoba mendekati Irene.


"Seperti yang sudah aku katakan, jauhi dia. Aku tidak suka melihatmu mendekatinya." Lalu beranjak menghampiri Irene. Tanpa menghiraukan Zaky.


"So why (lantas kenapa)?" Pekik Zaky sembari menyusul langkah Axelle.


"Karena dia milikku." Balas Axelle lantang. Dengan cepat ia meraih pergelangan tangan Irene. Kembali menariknya kasar.


"Ikut aku." Ucap Axelle sembari menarik pergelangan Irene.


Irene tak terima diperlakukan kasar oleh Axelle. Sebisa mungkin ia melawan dan meronta. Berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Axelle. Dengan kuat ia menarik tangannya hingga berhasil terlepas dari cengkeraman Axelle.


"Kamu tidak berhak memperlakukan aku seperti ini, Axelle. Aku ini bukan boneka mainan mu." Kesal Irene yang mulai tak suka dengan perlakuan kasar Axelle.


"Kamu milikku. Mengerti?" Tegas Axelle dengan wajah serius.


"Apa kamu sudah gila?"


"Iya, aku memang sudah gila. Kamu yang sudah membuat aku jadi seperti ini. Sudah berulang kali aku bilang, jauhi Zaky. Tapi kamu masih saja keras kepala."


"Memangnya kenapa? Dia itu pria yang baik. Dia dewasa, dia lebih pengertian, dia sopan, dia__"


"Karena dia kakak ku." Sela Axelle cepat dengan hati menahan kesal.


Irene pun terdiam. Lalu memandangi Zaky yang datang menghampiri. Apa yang baru saja ia dengar cukup membuatnya terkejut. Sebab selama ini yang ia tahu, Zaky adalah manajer Axelle. Akan tetapi tak disangka justru tersimpan fakta lain tentang hubungan mereka berdua.


"Dia memang kakak kandungku. Tapi status kami berbeda. Dia anak yang terlahir dari pernikahan yang sah. Kehadirannya di tengah-tengah keluarga bagaikan pelita yang senantiasa membawa kebahagiaan. Sedangkan aku, hanyalah seorang anak yang tidak diinginkan. Kehadiranku hanya membawa luka. Aku hanya seorang anak ha_"


"Axelle!" Cepat Zaky menyela kalimat Axelle yang mulai membuka jati dirinya. Sebab Zaky tak ingin ada orang yang tanpa sengaja mendengarnya. Dan akhirnya malah akan berakibat buruk. Seperti kata pepatah, dinding pun bertelinga.


Irene hanya bisa termangu mendengar penuturan Axelle. Namun hati mulai bertanya-tanya. Banyak hal yang membuatnya penasaran, bahkan ingin tahu. Jika benar mereka kakak beradik, lalu kenapa mereka tinggal terpisah. Zaky masih memiliki orang tua yang lengkap, sedangkan Axelle?


"Ikut aku atau kamu mau melihatku jadi lebih gila lagi." Permintaan setengah mengancam itu membuat Irene tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Akhirnya, dengan berat hati, Irene diam saja dan tak memberikan perlawanan saat Axelle kembali menarik pergelangan tangannya. Dan membawanya kembali ke lokasi syuting. Menunggu dengan setia hingga Axelle menyelesaikan syutingnya. Meski masih ada kesal di dada.


.


.


Sepanjang perjalanan, hening kian melanda. Tak ada yang saling membuka suara. Meski hanya sekedar berceloteh. Baik Axelle maupun Irene, diam membisu. Saling berpaling muka. Entah apa yang ada dalam pikiran masing-masing.


Sampai di rumah, Irene bergegas menuju kamarnya, lantas menguncinya rapat.


Sementara Axelle memandangi kepergian Irene yang tanpa bertegur sapa. Nyelonong begitu saja tanpa peduli keadaan. Langkah Axelle pun terhenti di depan pintu kamar Irene. Ingin mengetuk pintu, tapi tak enak hati.


Biasanya juga ia tak pernah mengetuk pintu kamar Irene. Ia langsung masuk begitu saja meski Irene tak mengijinkan. Ia lantas memutar handel pintu, ingin menerobos masuk seperti biasanya. Akan tetapi, pintu kamar Irene terkunci rapat. Ia pun hanya bisa menghembuskan napasnya panjang. Lalu beranjak ke kamarnya sendiri. Menapaki anak tangga satu per satu dengan langkah gontai.


Brakkk!

__ADS_1


Axelle membanting pintunya kuat. Hingga menghasilkan bunyi dentam keras yang menggema di seisi rumah.


Bahkan Irene yang tengah bersiap untuk mandi pun tersentak kaget. Sambil mengelus dadanya ia lantas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Jam sepuluh malam, Irene tak bisa memejamkan matanya. Ia resah, lantaran teringat Axelle yang belum makan sejak kembali dari lokasi sejam yang lalu. Ia ingin membuatkan makan malam untuknya, tapi terlalu takut menawarinya makan.


Namun hal itu tetap tak menyurutkan langkahnya menemui Axelle di kamarnya. Hanya untuk sekedar memastikan keadaannya.


Ia menghela napas sebentar, menghembuskannya perlahan kemudian. Tangannya mulai terangkat hendak mengetuk pintu kamar Axelle. Akan tetapi, disaat bersamaan, pintu kamar itu terbuka. Axelle sudah berdiri di ambang pintu. Menatapnya dingin.


"Ada apa?" Tanya Axelle datar.


Irene pun menurunkan kembali tangannya. "Tidak ada apa-apa." Jawabnya tak kalah datar. Lalu berbalik, hendak kembali ke kamarnya. Namun dengan cepat Axelle menarik pergelangan tangannya. Membawanya masuk, lalu mengunci pintunya rapat.


"A_Axelle, a_aku hanya mau ..." Irene bahkan tergagap saking gugupnya. Lantaran Axelle membawanya sampai ke balkon kamarnya.


"Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu."


"Apa itu?"


"Lihatlah. Indah bukan?" Axelle menadahkan pandangannya. Memandangi langit malam yang bertaburan bintang-bintang.


Irene pun mengikuti arah pandang Axelle. Meski masih sedikit bingung, apa maksud Axelle yang sebenarnya.


Disaat ia tengah memandangi bintang-bintang, Axelle memeluknya dari belakang.


"Maaf aku agak kasar tadi. Sedikitpun aku tak bermaksud menyakitimu. Maafkan aku ya?" Ucap Axelle lirih.


"Kamu tau, setiap kali aku merasa sedih, aku selalu menghitung bintang-bintang sampai aku merasa lelah. Dengan begitu, aku bisa melupakan kesedihanku." Tambahnya sembari menopang dagunya di pundak Irene.


"Oh ya?"


Axelle mengangguk pelan. "Terkadang aku ingin menjadi bintang di langit. Agar semua orang bisa melihatku."


"Kamu mirip seseorang yang aku kenal."


"Siapa?" Axelle melepas pelukannya. Lalu memutar tubuh Irene untuk berhadapan dengannya.


"Siapa orang yang mirip denganku? Mantan pacar kamu?" Celoteh Axelle menggoda Irene.


Irene menggelengkan kepalanya. "Bukan."


"Lalu siapa?"


"Teman masa kecilku."


"Oh ya? Apa aku dan dia sangat mirip?"


"Kebiasaan kalian yang mirip."


Axelle tersenyum. Lalu perlahan ia meraih jemari Irene. Menatapnya sendu penuh damba.

__ADS_1


"Apa kamu bisa berjanji padaku?" Tanya Axelle lirih sambil menatap lekat bola mata Irene.


Irene tak menjawab. Ia diam menatap lekat Axelle.


"Mungkin kamu tidak akan percaya jika aku bilang, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini." Axelle menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Orang yang seharusnya menyayangiku, tempat aku mengadu, tempat aku bersandar, justru meninggalkanku sejak aku lahir. Dan orang yang seharusnya menjadi panutanku, tidak bisa berbuat apa-apa."


"Maksud kamu?"


"Ayah dan ibuku. Mereka tidak pernah ada untukku. Ibuku pergi meninggalkanku sejak aku lahir. Sedangkan ayahku ..." Axelle enggan melanjutkan kalimatnya. Hatinya begitu sakit mengingat ayahnya yang tak bisa berbuat apa-apa. Sebab sifat ibunya Zaky yang terlalu mendominasi. Sehingga ayahnya hanya bisa menyayanginya secara diam-diam.


Jika ditanya lagi, ia tak pernah menginginkan terlahir seperti ini. Jika boleh meminta, ia pun ingin memiliki orang tua yang lengkap. Yang menyayanginya secara utuh. Namun sayang, semua itu hanya mimpi baginya.


"Ren, berjanjilah padaku, kamu akan selalu berada di sisiku apapun yang terjadi." Pinta Axelle sepenuh hati.


Irene terdiam, sambil menatap lekat Axelle yang menunjukkan kesungguhan hatinya. Namun sejurus kemudian, Irene mengulas senyum nya sembari mengangguk pelan.


"Kamu percaya kalau aku benar-benar mencintaimu?"


Irene kembali mengangguk. "Maaf aku masih saja meragukan mu. Aku__" Irene tak bisa menyelesaikan kalimatnya sebab Axelle yang telah lebih dulu membungkam bibirnya. Memagutnya lembut penuh perasaan. Semakin lama semakin dalam.


Sejenak, Axelle melepas pagutannya. Lalu mengangkat tubuh Irene dan membawanya ke tempat tidur. Membaringkannya perlahan, diikuti pagutan lembut yang kembali mendarat di bibir ranum Irene.


Pagutan lembut itu saling berbalas. Irene mulai berani membalas setiap lum *atan Axelle. Berusaha mengimbangi permainan Axelle yang semakin menggebu.


Berada di dekat Irene membuat Axelle tak mampu menahan gejolak di jiwanya. Seiring dengan perasaannya yang kian menggelora. Axelle semakin bersemangat membawa Irene menuju puncak asmaranya. Hingga keduanya kelelahan, dan saling mendekap di bawah selimut tebal dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.


Axelle mengecup pundak Irene berkali-kali. Satu kecupan singkat di dahi pun menyertai.


"Makasih sudah mencintaiku dan mau menerima semua kekuranganku." Ucap Axelle lirih dalam dekapannya.


"Hm ..." Singkat Irene menyahuti ungkapan hati Axelle.


"Oh ya, kamu tadi di lokasi kenapa? Aku sampai lupa menanyakan itu."


"Tidak tahu kenapa, kepalaku tiba-tiba pusing."


"Benarkah? Apa kamu sakit? Kita ke dokter ya?" Axelle terkejut sekaligus cemas.


Irene menggeleng. "Tidak perlu. Mungkin hanya masuk angin."


"Tapi aku khawatir. Sebaiknya kita ke dokter ya? Besok aku temani kamu ke dokter."


Irene pun tak bisa membantah selain menuruti ucapan Axelle.


TBC


**Baru bisa update gegara di rumah sedang ada hajatan kecil²an. Jadinya author benar² dalam keadaan tak bisa pegang handphone sama sekali😥😥


Sesempatnya nulis meski hanya dapat sebab.

__ADS_1


Thankyou buat yg masih nungguin update nya🙏


Salam sayang buat reader dari author abal-abal😘**


__ADS_2