
Sementara itu, Herman, masih setia mengawasi gerak-gerik Olivia dan Nadine kawe. Bahkan saat Olivia dan Nadine kawe pulang ke rumah pun, Herman masih mengawasi mereka secara diam-diam.
Di dalam mobilnya yang terparkir di seberang, tak jauh dari rumah Olivia, Herman mengawasi keadaan rumah itu. Sementara hari mulai gelap.
"Halo?" Sapa Herman saat Gina menghubunginya di tengah pengawasannya.
"Pantau terus situasinya, jangan sampai lengah. Begitu ada kesempatan, culik saja perempuan itu. Kalau perlu dua-duanya." Titah Gina dari seberang, melalui sambungan telepon.
"Oke, beres. Asalkan bayarannya sesuai."
"Di pikiran kamu uang melulu. Ini juga demi putrimu."
Detik berikutnya, Herman memutus sambungan telepon Gina. Sebab dari kejauhan ia melihat mobil Hadi yang memasuki gerbang rumah Olivia saat seorang satpam membuka gerbang.
Herman pun turun dari mobil demi melihat keadaan di rumah itu lebih jelas lagi.
Dari yang tampak, Herman bisa melihat jelas, Hadi merangkul Nadine kawe. Pemandangan yang tampak di kejauhan itu benar-benar menunjukkan bahwa perempuan itu adalah benar putrinya Hadi dengan Olivia.
Di dalam rumah, Hadi dan Olivia juga Nadine kawe tengah berbincang mengenai rencana Hadi.
"Lusa aku akan menggelar pesta perkenalan untuk Nadine. Pestanya akan diadakan di ballroom hotel Royal. Dengan keamanan ketat. Aku hanya meminta kalian untuk berhati-hati." Ujar Hadi cemas. Sebab Gina sedang berniat buruk terhadap putrinya.
"Lalu bagaimana dengan Irene?" Tanya Gina.
"Tenang saja. Dia aman."
"Lalu, perempuan ini ..." Olivia menoleh, menatap cemas Nadine kawe.
Nadine kawe mengurai senyumnya. "Bu Olive tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya ini adalah ..." Nadine kawe mengungkap identitas aslinya. Yang tentu saja membuat Olivia tercengang.
"Kamu tidak perlu cemas. Dia ini bisa jaga diri." Ujar Hadi menimpali.
Bukan tanpa alasan Hadi meminta bantuan dari pihak yang berwajib. Sebab ia sudah memperkirakan hal terburuk apa yang bisa dilakukan Gina. Jika Gina bisa menculik seorang bayi, bahkan meminta Herman menghabisi seorang bayi, tidak menutup kemungkinan, Gina bisa saja menghabisi Irene dan Olivia.
Untuk itulah Hadi telah mempersiapkan rencana yang matang untuk menjebak mereka. Bahkan Hadi tidak akan segan-segan menjebloskan mereka ke penjara sekalipun.
.
"Liv ..." Panggil Hadi lirih saat hendak berpamitan pulang.
Atas permintaan Hadi, Nadine kawe akan menginap di rumah Olivia sampai rencananya berhasil.
Olivia mengantar Hadi sampai ke mobilnya yang terparkir. Hadi hendak membuka pintu mobil, namun untuk bergegas pulang urung. Lantaran keinginan yang membuncah. Ingin sekali saling menumpahkan rindu dengan Olivia. Wanita yang sampai detik ini masih mengisi ruang di hatinya.
"Pulanglah. Kamu juga butuh istirahat. Belakangan ini kamu terlalu sibuk demi putri kita. Aku hanya tidak mau membuat Gina marah. Walaupun begitu, Gina itu masih istri kamu." Ujar Olivia halus meminta Hadi pulang ke rumahnya.
Namun Hadi tampak enggan menanggapi ucapan Olivia jika menyangkut soal rumah tangganya dengan Gina.
Hadi mengambil selangkah lebih mendekat. Meski berusia paruh baya, namun garis-garis ketampanannya masih terlihat jelas. Diraihnya jemari Olivia ke dalam genggamannya. Disertai tatapan sendu namun dalam.
Ditatap Hadi seperti itu membuat Olivia gugup. Olivia menundukkan wajahnya. Mencoba menata hati kembali. Tak ingin pendiriannya runtuh oleh kehadiran mantan suami.
"Jika aku diberi kesempatan, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku akan membuat semuanya kembali seperti dulu." Ucap Hadi lirih.
__ADS_1
"Kamu masih ada Clarissa dan Gina. Jangan sia-siakan mereka. Mereka juga adalah keluargamu. Yang menyayangimu sepenuh hati."
Hadi menggelengkan kepalanya. "Tidak. Gina hanya butuh uangku saja. Ada satu hal yang aku sangat yakin tentang Gina. Aku yakin dia yang menculik Nadine."
"Jangan menuduh orang sembarangan kalau kamu tidak punya bukti. Aku tidak membela Gina. Hanya saja ... Dia itu istri kamu. Tidak pantas kamu menuduhnya seperti itu."
"Aku sangat yakin Liv. Akan aku buktikan padamu. Tunggulah sebentar lagi."
"Pulanglah. Ini sudah larut malam." Olivia menarik kembali tangannya dari genggaman Hadi. Namun Hadi malah mempererat genggamannya. Bahkan ia menarik tangan Olivia.
Dalam sekejap, tubuh ramping Olivia telah berada dalam pelukan Hadi. Olivia meronta. Namun Hadi tak memberi ruang, dan malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu Liv. Aku rindu saat-saat bersamamu. Aku ingin sekali kita kembali seperti dulu. Jika kamu memberiku kesempatan, aku akan kembali padamu. Pada putri kita. Kita akan membangun keluarga kecil kita seperti dulu lagi." Ungkap Hadi dari hatinya yang terdalam.
Entah atas dorongan apa, hingga Olivia pun perlahan mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Hadi. Bahkan isak tangis tertahan Olivia mulai terdengar. Membuat Hadi enggan melepas pelukannya.
"Aku masih mencintaimu Liv." Ucap Hadi tulus.
Olivia malah semakin terisak dalam tangisnya. Tak bisa memungkiri perasaannya sendiri, bahwa ia pun masih memiliki perasaan yang sama. Sama-sama merindu.
"Apa kamu bisa menjamin ucapan mu?" Tanya Olivia akhirnya menuruti kata hati kecilnya.
"Aku bisa menjamin. Secepatnya aku akan menyingkirkan Gina dari hidupku. Akan aku buktikan padamu, dia yang menculik Nadine untuk memisahkan kita."
Olivia mengangguk pelan. "Kalau begitu buktikan padaku. Buat aku mempercayaimu lagi."
Hadi tersenyum bahagia. "Makasih Liv. Aku janji, secepatnya akan aku buktikan."
.
.
Axelle dan Irene yang hendak beristirahat, terusik dengan kedatangan Zaky.
"Ada apa tengah malam begini datang kemari?" Tanya Axelle sembari mengambil duduk di sofa ruang tamu. Disusul oleh Zaky kemudian.
Tak lama, Irene datang dengan dua cangkir kopi hangat di tangannya. Diletakkannya cangkir kopi itu masing-masing di depan Axelle dan Zaky. Lantas ia duduk disamping Axelle.
"Tidak perlu repot-repot Ren." Ujar Zaky merasa tak enak hati mengganggu istirahat sepasang suami istri itu.
"Tidak apa-apa." Irene mengulas senyum manisnya. Hingga membuat Axelle meliriknya kesal.
"Jangan tersenyum seperti itu. Kamu hanya boleh tersenyum padaku." Bisik Axelle kesal.
Satu cubitan mendarat di pinggang Axelle. Disertai kerlingan kesal Irene. Axelle pun terkekeh melihat ekspresi lucu istrinya.
"Bercanda sayang." Axelle menyentil gemas hidung Irene.
Irene menanggapi candaan Axelle dengan wajah cemberut. Hingga membuat Axelle semakin kesal. Dan langsung mendaratkan satu kecupan di bibir manyun Irene.
"Love you." Ucap Axelle. Yang disambut senyum bahagia Irene.
Melihat kemesraan Axelle dan Irene, Zaky hanya bisa tersenyum. Ia pun turut berbahagia atas kebahagiaan adiknya.
__ADS_1
"Oh ya, sebenarnya kamu ada keperluan apa. Sampai kamu datang selarut ini?" Tanya Axelle.
"Oh iya, aku sampai lupa." Zaky merogoh kantong celananya. Mengambil ponsel dari dalam sana. Detik berikutnya ia memperlihatkan sebuah video pada Axelle dan Irene.
Dimana Clarissa tengah meracau tak tentu dalam kepanikan dan ketakutannya.
"Ini maksudnya apa?" Tanya Irene.
"Kemungkinan besar yang menabrak Irene tempo hari adalah Clarissa." Ujar Zaky tanpa ragu.
Axelle dan Irene pun terkejut.
"Kamu dapat video ini dari mana?" Tanya Axelle penasaran. Sekaligus ada amarah yang mulai mendera. Jika itu memang benar, Clarissa benar-benar sudah keterlaluan.
"Dari Vania. Saat itu dia datang untuk menemuiku. Di parkiran dia tidak sengaja melihat Clarissa dalam keadaan seperti ini. Dia hanya iseng saja merekamnya."
"Ini tidak bisa dibiarkan. Clarissa harus mendapatkan ganjaran dari perbuatannya." Geram Axelle.
"Apa yang akan kamu lakukan padanya?"
"Apalagi kalau bukan melaporkannya."
"Jangan terburu-buru dulu. Sebaiknya kita kirim video itu ke Papa. Nanti biar Papa saja yang menyelesaikannya." Usul Irene.
"Apa yang dikatakan Irene benar juga. Biar Pak Hadi saja menyelesaikan ini. Kalian tidak perlu repot-repot mengurus orang seperti Clarissa."
"Iya, baiklah. Kalian benar."
"Aku kirim videonya ke handphone Irene." Zaky mengirim video Clarissa ke ponsel Irene segera.
Setelah perbincangan, Zaky pun pamit pulang. Axelle mengantarnya sampai ke mobilnya.
"Sebaiknya kalian waspada dengan Clarissa. Dia itu wanita yang ambisius. Dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya. Aku jadi khawatir. Kemarin dia bisa menabrak Irene, bahkan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Entah apa lagi yang bisa dilakukan wanita itu nanti." Ujar Zaky sebelum sempat membuka pintu mobil."
"Terima kasih atas perhatian kamu. Aku dan Irene akan lebih berhati-hati. Oh ya ..." Axelle menepuk pundak Zaky pelan. Sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Jangan sia-siakan wanita seperti Vania. Menurutku, dia wanita yang cukup sabar dan pemaaf. Bahkan untuk kesalahan yang memalukan yang pernah kamu lakukan saja, dia masih bisa memaafkanmu. Itu karena dia sangat mencintaimu."
Zaky terhenyak. Ditatapnya Axelle dengan seksama. Axelle malah mengulum senyumnya.
"Aku dan Vania melihat perbuatanmu waktu itu dengan Clarissa. Saat itu, Vania sangat hancur. Dia sangat sedih melihat kekasihnya bercumbu dengan wanita lain. Sama dengan perasaanku saat itu. Tapi berkat cintanya yang besar padamu, dia masih bisa memaafkanmu."
Zaky pun mengulas senyum getirnya mengingat saat itu. Saat-saat yang sangat memalukan yang pernah ia lakukan. Lantaran mabuk ia kehilangan akal sehatnya.
"Terima kasih sudah mengingatkan aku. Axelle, jaga dirimu baik-baik. Aku mungkin akan kembali bersama ayah dan ibu. Dan mungkin, aku akan mengajak Vania ikut bersamaku."
"Nikahi saja dia."
"Aku sempat berpikir seperti itu. Makasih ya. Salam untuk Irene. Aku permisi." Zaky pun bergegas naik ke mobilnya. Lalu mulai memacu mobilnya perlahan meninggalkan halaman rumah.
Axelle menghela napas lega. Akhirnya, hubungannya dengan Zaky bisa kembali seperti dulu. Seperti bagaimana seharusnya hubungan seorang kakak dam adik. Ia hanya bisa berharap Zaky pun bisa menemukan kebahagiaannya.
TBC
__ADS_1