Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 63


__ADS_3

Irene semakin mempercepat langkahnya. Ia tak menghiraukan Axelle dan Zaky yang mengikutinya dari belakang. Memanggil-manggil namanya berulang-ulang kali.


Yang ada dalam benaknya saat ini adalah menjauh. Bahkan ingin rasanya ia menghilang detik ini juga untuk selama-lamanya.


Sekarang, semua orang sedang mencibirnya sebagai perempuan murahan, perempuan tidak tahu malu, perempuan tak punya harga diri, dan cibiran-cibiran lainnya yang menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang perempuan.


Andai saja dulu ia lebih berpikir panjang lagi, dan tidak menerima tawaran sandiwara pernikahan ini, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mungkin saat ini ia bisa hidup tenang meski dengan ekonomi pas-pasan.


"Ren ... Irene ..." Panggil Axelle sambil terus berusaha mengikuti langkah Irene yang segera meninggalkan Galery.


"Irene ... Tolong jangan keluar dulu dari Galery. Di depan mungkin ada banyak wartawan." Teriak Zaky demi menghentikan langkah Irene.


Namun Irene tak menghiraukannya. Ia malah semakin mempercepat langkahnya. Setengah berlari untuk mencapai pintu utama Galery.


Sampai di depan pintu, barulah langkahnya terhenti. Sebab di depan Galery ada begitu banyak wartawan, reporter, yang menunggu kedatangan mereka untuk memberikan klarifikasi. Beruntung, dua orang satpam tak mengijinkan para wartawan itu memasuki Galery.


Axelle dan Zaky pun tergesa-gesa menghampiri. Dengan napas tersengal lantaran harus berlari untuk mengejar Irene. Tak lama, Boni pun datang menghampiri dan memperlihatkan berita lain yang tiba-tiba muncul dan seketika pun telah tersebar luas dengan begitu cepatnya.


"Bos ... Foto-foto kemesraan Bos dan Nona Clarissa telah tersebar Bos. Bahkan ada juga videonya." Ujar Boni sembari menyodorkan ponselnya ke tangan Axelle.


Axelle pun geram melihatnya. Amarahnya semakin naik ke ubun-ubun. Selain Clarissa siapa lagi yang menyimpan foto dan video kemesraan mereka. Tidak salah lagi, mungkin ini semua ulah Clarissa.


"Nona Clarissa sudah memberikan klarifikasinya. Katanya handphone nya hilang dicuri. Dan foto-foto itu katanya bukan dia yang menyebarkannya." Ujar Boni lagi.


"Omong kosong." Umpat Axelle kesal setengah mati.


"Axelle, sebaiknya, kalian bertahan dulu disini sebentar, sampai wartawan-wartawan itu pergi." Usul Zaky.


"Semua ini juga gara-gara kamu."


"Sudah berapa kali aku bilang, kamu salah paham Axelle. Mana mungkin aku membocorkan rahasia kalian berdua." Dari yang tampak, sepertinya Zaky enggan memberitahu bahwa pernikahan Axelle dan Irene adalah pernikahan yang sah. Entah apa yang terjadi pada Zaky. Apa ia ingin memanfaatkan situasi ini?


Irene masih berdiri mematung dengan derai air mata. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Tak tahu lagi harus berkata apa. Semuanya terjadi terlalu cepat. Tanpa terduga.


"Ren ..." Axelle mendekat, dan mencoba meraih jemari Irene ke dalam genggamannya.


"Maafkan aku." Ucapnya lirih.


Irene menghapus air matanya. Ditatapnya Axelle lekat. Lalu tatapannya bergulir pada Zaky yang juga menatapnya.


"Semua ini juga salahku. Aku menerima tawaran sandiwara pernikahan ini demi panti." Ucap Irene lirih.


"Jika memang orang-orang menginginkan kita berpisah, ya sudah, kita lakukan saja. Mari kita berpisah." Tambahnya. Hingga Axelle pun terperangah kaget mendengarnya.


"Apa kamu sudah gila Ren. Aku sudah pernah bilang, aku tidak peduli dengan reputasi dan karirku. Aku hanya ingin kita tetap bersama. Dan jangan lupa dengan kondisi kamu sekarang ini. Kamu sedang hamil Ren. Kamu mau bayi kita lahir tanpa seorang ayah?"


Mendengar ucapan Axelle, Zaky pun terhenyak. Sama hal nya dengan Boni. Ada rahasia lain yang baru saja mereka ketahui tentang Irene dan Axelle. Ternyata hubungan mereka memang sudah sampai sejauh itu. Bahkan hingga Irene hamil sekarang. Lalu Zaky harus bagaimana? Haruskah ia berterus terang saja?

__ADS_1


"Axelle, apa katamu tadi? I_Irene sedang hamil?" Mata Zaky menatap tak percaya pada Axelle dan Irene. Ternyata apa yang dikatakan Clarissa benar.


"Iya. Itulah sebabnya, kenapa aku ingin menikahinya secara sah menurut hukum dan agama. Aku sudah pernah bilang kan, hubungan kami bukan main-main lagi." Ujar Axelle berterus terang.


Zaky pun hanya bisa ternganga. Berkali-kali ia membuang napasnya kasar. Bahkan mengusap wajahnya gusar. Pikirannya melayang, kembali ke beberapa saat yang lalu.


.


Beberapa jam sebelumnya.


Pagi-pagi sekali, Clarissa datang menemuinya di unit apartemennya. Clarissa menawarinya sebuah kesepakatan. Namun ia saat itu teramat enggan menanggapi tawaran Clarissa.


"Aku hanya ingin mendapatkan kembali apa yang aku inginkan. Dan kamu bisa mendapatkan Irene. Aku tidak akan memaksakan lagi perasaanku padamu. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku hanya ingin, Axelle kembali padaku. Dan bertekuk lutut di hadapanku, seperti dulu. Bagaimana?" Ucap Clarissa saat itu.


Zaky belum memberikan tanggapannya. Ia masih diam membisu. Memikirkan tawaran Clarissa baik-baik dengan kepala dingin. Sembari menimbang-nimbang, keuntungan apa yang bisa ia dapat dari kesepakatan ini.


"Came on baby ... Aku tau kamu sangat menyukai gadis kampungan itu. Aku tidak akan melewati batas. Aku tau yang mana yang harus muncul ke permukaan, dan mana yang tidak.


Memang awalnya akan sangat kacau. Orang-orang tidak akan pernah berhenti membicarakan ini. Tapi lama-kelamaan, orang-orang pasti akan melupakannya begitu saja. Dan setelah itu, kamu bisa hidup tenang bersama gadis kampungan itu. Itupun jika kamu berhasil mendapatkannya." Tutur Clarissa panjang lebar. Demi menggoyahkan pendirian Zaky.


Zaky masih diam membisu. Memandang lurus ke luar jendela. Memikirkan matang-matang soal tawaran Clarissa.


Wanita ular itu mengajaknya bekerjasama untuk memisahkan Axelle dan Irene. Clarissa tahu jika Zaky pun mencintai Irene. Untuk itu, Clarissa memanfaatkan hal itu untuk merebut kembali Axelle. Demi membalaskan sakit hatinya. Dan Zaky adalah satu-satunya orang yang bisa ia manfaatkan untuk mencapai keinginannya.


Akan tetapi Clarissa tidak tahu bahwa Zaky menyimpan rahasia lain tentang Axelle dan Irene. Yaitu fakta tentang pernikahan mereka.


"Ini tidak akan lama. Palingan hanya untuk beberapa bulan saja. Setelah itu, semua akan kembali normal seperti semula. Jangan terlalu takut. Lagipula, Axelle itu hanya anak hasil dari perselingkuhan ayah mu. Untuk apa kamu menyayanginya.


Dia itu hanya anak pembawa sial dalam keluargamu. Ibunya adalah sumber penderitaan ibu kamu. Apa sudah lupa soal itu?" Clarissa masih berusaha memprovokasi Zaky. Sebisa mungkin ia ingin mengubah perasaan Zaky terhadap Axelle. Ia ingin Zaky membenci Axelle. Hingga Axelle tidak punya siapa-siapa lagi. Maka dengan mudah ia bisa kembali mendekati Axelle.


"Tapi ..." Zaky masih ragu.


"Tidak usah takut. Percaya padaku, semua pasti akan kembali seperti semula. Aku akan hidup tenang dengan Axelle. Dan kamu bisa mendapatkan Irene. Bagaimana?"


Zaky masih termangu. Memikirkan matang-matang tawaran Clarissa.


"Pak ... Pak Zaky ..." Samar Zaky mendengar suara panggilan Boni. Pikirannya masih melayang kemana-mana. Hingga tak menyadari Boni tengah menepuk-nepuk pundaknya pelan. Berusaha menyadarkannya dari lamunannya.


"Pak Zaky ..." Panggil Boni sekali lagi dengan nada suara meninggi. Disertai tepukan lebih keras.


Alhasil, Zaky pun tersentak kaget. Lamunannya buyar seketika. Matanya kini menatap tajam Boni.


"Ada apa?" Tanyanya ketus.


"Di luar semakin kacau. Semua wartawan memaksa ingin masuk. Mereka ingin meminta klarifikasi dari Bos Axe dan Irene. Mereka tidak akan pergi sebelum mendapatkan klarifikasinya."


"Biar aku saja yang keluar. Biar aku yang menjelaskan semuanya. Boni, bawa Irene masuk ke dalam." Ujar Axelle. Dan hendak keluar pintu utama Galery. Dimana telah berkumpul banyak wartawan dan reporter.

__ADS_1


"Axelle, tunggu." Ujar Zaky menghentikan langkah Axelle. Axelle pun menoleh, memandangi Zaky yang berjalan mendekat.


"Biar aku saja yang memberikan klarifikasi. Kamu bawa Irene ke dalam. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini." Tambahnya.


Axelle tersenyum miring. "Kamu yakin bisa mengatasi ini?" Axelle malah meragukan Zaky. Entah apa sebabnya.


Zaky mengangguk. "Percayalah padaku."


.


.


Sementara di ruangannya, Olivia tampak duduk termenung. Memikirkan masalah yang tiba-tiba melanda. Bukan memikirkan tentang kerugiannya. Melainkan ia lebih memikirkan tentang Irene.


Ia hanya tak menyangka, gadis polos seperti Irene berani berbuat hal yang tidak bermoral seperti itu. Apakah persoalan materi yang mendorongnya melakukan perbuatan memalukan itu? Ia sungguh tak bisa mempercayainya. Jujur, ia sangat kecewa terhadap Irene.


"Bu Olive ..." Panggil Shelly lirih.


"Ada apa Shell?"


"Saya minta maaf."


"Loh, memangnya kamu berbuat kesalahan apa?"


"Sebelumnya, saya yang mengusulkan untuk merekrut Irene menjadi model brand kita. Sejujurnya, saya juga tidak menyangka, ternyata Irene adalah gadis seperti itu. Maafkan saya Bu Olive."


"Tidak apa-apa Shell. Ini bukan sepenuhnya salah kamu."


Ranti yang mendengar percakapan mereka dari seberang pun akhirnya menghampiri.


"Liv ..." Panggil Ranti.


Olivia mengalihkan pandangannya pada Ranti.


"Ada apa Ran?"


"Kalau boleh aku kasih saran, sebaiknya kamu jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang Axelle dan Irene. Mereka mungkin punya alasan kenapa mereka melakukan ini." ujar Ranti hati-hati.


"Maksud kamu?"


"Bisa saja kan ada orang yang berusaha menjatuhkan mereka. Karena iri atau sakit hati mungkin."


Olivia tampak menghela napasnya dalam-dalam.


"Sebenarnya ... Ada sesuatu tentang Axelle yang kamu tidak tau." Ujar Ranti lagi. Hingga Olivia pun memandanginya penasaran.


"Oh ya? Apa itu?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2