Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 76


__ADS_3

Tiga hari dirawat di rumah sakit, kini kondisi Irene telah pulih. Meski terkadang masih ada bagian tubuhnya yang terasa sakit. Terlebih lagi perasaannya. Sakit lantaran kehilangan yang teramat dalam akan calon buah hati. Tanda cintanya bersama Axelle.


Axelle sedang berganti pakaian, sedangkan Irene sedang membaca buku, berselonjoran di atas tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur itu.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Irene.


Axelle menoleh, setelah merapikan rambutnya di depan cermin.


"Oh iya, aku lupa kasih tau kamu." Lalu menghampiri Irene dan mengambil duduk di depannya.


"Hari ini aku ada janji mau menemani Ibu ke panti asuhan." Ujar Axelle.


"Ke panti? Panti asuhan mana?"


"Aku tidak tau panti asuhan mana yang mau Ibu kunjungi. Apa kamu mau ikut denganku?"


"Emm ..." Irene tampak berpikir sejenak. Sambil bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Berlagak sok mikir keras, hingga membuat Axelle gemas jadinya.


Satu kecupan singkat mendarat cepat di bibir merahnya. Irene pun tersentak. Ditatapnya kesal Axelle yang justru tersenyum nakal.


"Tidak. Aku di rumah saja." Ucap Irene.


"Ayolah ... Ikut denganku. Aku tidak akan tenang meninggalkan kamu sendirian di rumah. Ikut ya? Kalau tidak ..." Axelle mulai usil dengan mendekatkan wajahnya perlahan sembari memasang senyum genitnya.


Irene menatap Axelle kesal. Sambil memicingkan matanya.


"Dasar otak mesum." Sambil menjjtak pelan kepala Axelle. Ia tahu apa yang akan dilakukan Axelle padanya jika ia tidak menuruti kemauannya.


"Makanya ikut. Kamu sudah tau apa yang akan terjadi padamu jika kamu tidak menurut. Bisa aku pastikan kamu tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini. Sudah tiga hari loh Ren aku menganggur." Goda Axelle dengan tidak tahu malunya.


Irene pun memukul dada Axelle pelan. Saking gemas dengan tingkah suaminya itu.


"Dasar. Iya, iya, baiklah. Aku ikut. Kamu senang?"


"Tentu saja sayangku." Lalu mengecup singkat pipi Irene. "Ayo cepat ganti baju. Dandan yang cantik."


Irene pun bergegas turun dari tempat tidur. Berjalan ke arah lemari dan mulai mencari pakaian yang pantas ia kenakan untuk mengunjungi panti asuhan.


Sementara Axelle menunggu dengan setia sambil bermain ponsel di tepian tempat tidur.


"Mungkin Ibu ku akan tinggal bersama kita. Aku akan mencari orang yang bisa beres-beres rumah." Ujar Axelle tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.


"Kenapa repot-repot cari orang segala. Kita bereskan saja sendiri." Sahut Irene.


"Jangan Ren. Kamu baru saja pulih. Aku tidak mau kamu kecapean nanti. Oh ya, bagaimana kabar Mama dan Papa kamu?"


"Mungkin mereka akan sering datang mengunjungi ku. Katanya Papa lagi sibuk menyiapkan sesuatu."

__ADS_1


"Oh ya?"


"Papa meminta ku bersiap-siap. Tidak tahu untuk hal apa."


"Aku tidak menyangka Ren, ternyata kamu putrinya Pak Hadi. Kamu pasti sudah tidak asing lagi mendengar namanya kan? Dia itu produser terhebat menurutku."


Irene mengulum senyumnya sembari mulai mengganti pakaiannya. "Iya sih. Aku sering mendengar namanya. Tapi sayangnya, aku jarang nonton TV."


"Pantas saja kamu tidak mengenalku waktu itu. Tapi mana mungkin, kamu sering kan main handphone? Masa artis terkenal dan setampan ini saja kamu tidak kenal. Atau kamu hanya berpura-pura ya?" Goda Axelle yang mulai usil.


Melihat Irene dengan santainya mengganti pakaian di depannya, membuat ia tak bisa menahan diri untuk tidak mendekat.


Axelle bangun dari duduknya, dan perlahan menghampiri Irene. Punggung mulus Irene yang terpampang di depan matanya membuatnya menelan saliva kasar.


Irene sedikit kesulitan menarik resleting dress nya. Hingga punggungnya masih terekspose dengan jelas. Irene kembali hendak meraih resleting di punggungnya, sampai tiba-tiba sebuah sentuhan lembut di punggungnya membuatnya tersentak.


Irene menoleh. Dan mendapati Axelle menatapnya berbeda. Tatapan penuh damba. Irene tahu betul arti tatapan Axelle kali ini. Tatapan itu sering terlihat saat Axelle sedang terbakar gairah.


"Axelle, ibu kamu sedang menunggu kan?" Irene mencoba mengalihkan perhatian Axelle.


Namun tak semudah itu mengalihkan perhatian Axelle. Axelle telah lebih dulu membenamkan wajah di ceruk lehernya. Memberikan kecupan-kecupan lembut di sana. Sementara kedua tangannya perlahan mulai menanggalkan mini dress yang belum terkunci sempurna itu.


Sentuhan lembut Axelle membuat Irene tak mampu menolaknya. Irene menengadah, membiarkan Axelle mengeksplore leher jenjangnya. Disertai kedua tangannya yang mulai menjelajahi setiap lekuk tubuhnya. Dan berhenti di dua aset kembarnya.


Axelle mulai memberikan remasan-remasan pelan di dua asetnya. Hingga meloloskan lenguhan lembut dari bibirnya. Axelle hendak membuka pengait kain berenda yang menyangga dua asetnya, sampai tiba-tiba Irene malah menghentikannya.


"Axelle, tunggu." Pekik Irene halus.


"Kenapa Ren?" Tanya Axelle parau. Tak kuat lagi menahan hasratnya.


"Aku hanya tidak nyaman. Aku baru saja keguguran." Ucap Irene penuh sesal. Area intimnya memang sudah bersih. Hanya saja ia yang masih merasa kurang nyaman.


Axelle membuang napas pelan. Lalu mengulum senyum sambil mengangguk pelan.


"Iya, baiklah. Aku mengerti. Tapi saat kamu sudah merasa nyaman nanti, boleh kan aku tidak perlu memintanya lagi darimu?"


"Maksud kamu?" Sambil membungkuk meraih kembali dress yang telah terlepas dari tubuhnya. Lantas berdiri mengenakan kembali dress itu.


Axelle mendekatkan wajahnya, lalu berbisik lembut di telinga Irene. "Aku mau kamu yang ambil inisiatif lebih dulu." Sembari mengulum senyum usil nan menggoda.


Astaga.


Irene sampai malu dibuatnya. Wajah putih mulusnya bahkan mulai bersemu merah, semerah tomat matang. Axelle memang pandai menggodanya, hingga membuat hatinya berbunga-bunga dalam sekejap.


Axelle lalu meraih pundak Irene, dan memutar tubuh Irene membelakanginya. Sedetik kemudian tangannya mulai bergerak menaikkan resleting di punggung Irene.


"Lain kali jangan terlihat seksi di depanku. Aku tidak bisa menjamin, apa aku bisa menahan diriku." Ujar Axelle sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Irene.

__ADS_1


"Ayo cepat. Kasihan Ibu sedang menunggu." Ujarnya lagi berjalan lebih dulu menuruni anak tangga.


"Iya." Sahut Irene setengah berteriak.


.


.


Bermodalkan alamat yang diberikan Ranti, Axelle dan Irene pun sampai di depan sebuah hunian mewah. Namun mereka justru dibuat tertegun. Sebab bukan hanya Ranti, Olivia pun ingin ikut bersama mengunjungi panti asuhan tujuan Ranti.


Mereka pun tidak bisa menolak. Justru mereka senang bisa pergi bersama ibunya masing-masing.


"Kita mau ke panti asuhan mana?" Tanya Axelle sembari fokus pada jalanan ramai di depannya. Di sebelahnya Irene tengah asik bermain ponsel.


Dua ibu-ibu cantik yang duduk di jok tengah tampak mengulum senyum. Lalu berbarengan menjawab pertanyaan Axelle.


"Panti asuhan Kasih Bunda."


Axelle dan Irene pun tersentak. Sekilas saling bertukar pandangan.


"Itu kan panti asuhan tempat aku tinggal sejak kecil?" Ujar Irene sumringah.


"Oh ya?" Ranti tampak terkejut.


"Iya. Memangnya Bu Ranti kenal tempat itu?"


"Ren ... Panggil Ibu dong. Kan kamu sudah jadi anak Ibu sekarang." Pinta Ranti lembut.


"Irene mungkin masih canggung Ran." Celetuk Olivia sambil tersenyum simpul.


"Mama bisa aja. Oh ya, apa Ibu kenal tempat itu? Ibu pernah ke sana?" Tanya Irene penasaran. Axelle masih menyimak obrolan para bidadari dalam mobilnya itu.


"Iya. Itu adalah panti asuhan tempat Ibu menitipkan Axelle dulu. Sebelum Axelle di adopsi." Jawab Ranti.


"Oh ya? Ibu serius?" Irene semakin penasaran. Dipandanginya Axelle yang masih terfokus pada jalanan.


"Iya. Ibu serius."


"Dulu Irene juga tinggal di panti asuhan itu." Ujar Olivia menimpali.


"Aku tidak menyangka Liv, ternyata Irene ini adalah Nadine, putri mu. Setiap hari aku melihatmu memandangi foto Irene saat Irene masih kecil. Sekarang, Tuhan sudah mempertemukan kalian. Aku ikut bahagia." Ucap Ranti.


"Makasih Ran. Aku juga tidak menyangka loh, ternyata Axelle anak kamu. Padahal setiap hari kita selalu bertukar cerita tentang mereka berdua. Tidak ada yang bisa menebak takdir hidup kita. Dan aku sangat senang, kita menjadi satu keluarga. Bagiku, ini adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku."


"Jadi ... Sebelum di adopsi, Axelle dulu tinggal di panti asuhan itu?" Tanya Irene yang masih saja penasaran. Sadar tidak sadar, entah kenapa, tiba-tiba saja ia teringat tentang teman masa kecilnya dulu. Aldo.


"Iya. Ibu menitipkan Axelle di panti asuhan itu." Jawab Ranti mantap.

__ADS_1


Kembali Irene melayangkan pandangannya pada Axelle yang masih fokus menyetir. Hati kecilnya seakan berkata, ia mengenal Axelle jauh sebelumnya.


TBC


__ADS_2