
Setelah makan malam bersama Zaky, Axelle dan Irene memutuskan pulang ke rumah dan tak mampir kemana-mana lagi.
Di ruang tengah rumah itu, di sofa panjang, keduanya duduk berselonjoran sambil menonton TV. Irene menyandarkan kepalanya di dada bidang Axelle. Sementara Axelle sendiri mengusap-usap lembut puncak kepala Irene. Sambil sesekali mengecupnya.
"Kamu ngobrol apa tadi dengan Zaky?" Tanya Axelle.
"Tidak ada." Jawab Irene singkat.
"Jangan bohong."
"Maksud kamu apa sih?"
"Waktu aku ke toilet, Zaky bilang apa sama kamu?"
"Ti_tidak ada." Irene berbohong. Ia hanya tak mau membuat Axelle marah. Jika ia jujur bahwa Zaky telah menyatakan perasaannya, lantas bagaimana reaksi Axelle nanti. Lebih baik ia berbohong saja. Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang nantinya akan berakibat buruk.
"Ren ... Aku tidak mau kita saling menyembunyikan sesuatu. Aku ingin kita saling terbuka, saling jujur, dan saling percaya."
"Kamu tidak percaya padaku?"
"Bukannya aku tidak percaya padamu. Aku hanya tidak ingin ada rahasia diantara kita."
Irene bangun dari posisi bersandar. Ia merubah posisi duduknya menghadap Axelle. Menatap lekat bola mata Axelle, lalu memberanikan diri mengecup lembut pipi Axelle.
"Aku mencintaimu." Ucap Irene tanpa ragu.
"Benarkah?" Axelle seakan meragukan perasaan Irene. Bola matanya liar menelisik lekuk paras Irene. Mencoba menangkap raut berbeda dari paras itu.
Seketika Irene pun gugup. Ia teringat kembali akan pernyataan cinta Zaky di restoran sore tadi. Zaky begitu bernyali. Bahkan Zaky bersedia menunggu jawabannya sampai kapanpun. Namun ia sendiri tak berniat memberikan jawaban. Sebab hatinya hanya untuk Axelle seorang.
"Kamu yakin dengan perasaanmu padaku?" Tanya Axelle sekali lagi. Kini ia menatap serius. Seakan menuntut kejujuran Irene.
Irene pun mengangguk yakin. Sembari mengulas senyum manisnya.
"Yakin tidak ada yang kamu sembunyikan dariku?" Sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah Irene. Ia berharap Irene jujur padanya. Meskipun ia telah mengetahui hal yang berusaha disembunyikan Irene. Ia hanya ingin mendengarnya langsung dari mulut Irene.
__ADS_1
Irene menelan salivanya dalam-dalam. Axelle benar-benar membuatnya gugup. Jika ia jujur, apakah Axelle akan marah?
"Axelle, kamu ..." Irene bingung harus berkata apa lagi. Ia hanya bisa menatap lekat Axelle. Sejurus kemudian Axelle mendaratkan satu kecupan di keningnya. Lalu meraihnya ke dalam pelukan. Memberinya kehangatan dan kenyamanan.
"Maaf, aku meragukan mu." Ucap Axelle lirih. Disusul satu kecupan di puncak kepala Irene.
Irene pun melingkarkan kedua lengannya di pinggang Axelle. Dalam hati ia merasa bersalah, sebab telah merahasiakan sesuatu dari Axelle. Akan tetapi, ia tak tahu, jika Axelle mengetahui apa yang ia sembunyikan. Hanya saja Axelle tak ingin menimbulkan perdebatan yang tak berarti dengan Irene. Yang nantinya akan menimbulkan kesalahpahaman. Dan akan membuat hubungan mereka semakin menjauh.
Axelle berusaha memahami mengapa Irene memilih merahasiakannya daripada memberitahunya langsung. Mungkin Irene tak ingin terjadi pertengkaran diantara mereka. Tetapi ia pun tak bisa membiarkan hal ini terjadi. Ia masih tak bisa percaya, ternyata Zaky punya keberanian besar untuk mendekati Irene. Dengan alasan Irene tak terikat dengan siapapun. Apakah mungkin, sudah saatnya ia memberitahu Zaky tentang kehamilan Irene, agar Zaky menghentikan upayanya mendekati Irene?
.
.
Sementara itu, di lain tempat, Olivia tengah duduk di sofa bed di pinggiran kolam renangnya. Di atas pangkuannya, terbuka lebar sebuah album foto. Ia memandangi album foto itu dengan mata sembab. Membuka lembar demi lembar album foto itu sembari mengusap wajahnya. Butiran-butiran air bening mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Liv ..." Panggilan lirih Ranti membuat Olivia terhenyak. Buru-buru ia menghapus air matanya.
"Foto siapa? Boleh aku lihat?" Tanya Ranti sembari mengambil duduk di samping Olivia. Ia memanjangkan leher, mengamati foto-foto yang sedang dipandangi Olivia.
"Ini putrimu?" Tanya Olivia saat melihat foto seorang gadis kecil yang masih berusia beberapa bulan.
"Namanya Nadine." Ucap Olivia lirih. Bersamaan dengan kesedihan yang kian mendera hati.
"Nadine? Dia sangat cantik. Sama seperti ibunya. Aku yakin, dia pasti secantik ibunya sekarang." Ranti mencoba menghibur Olivia agar tak berlarut-larut dalam kesedihannya.
"Aku sangat berharap, Nadine ku masih hidup."
"Jangan berpikiran yang bukan-bukan Liv. Aku yakin, putrimu dalam keadaan sehat walafiat. Aku akan terus berdoa, agar suatu saat nanti kalian akan dipertemukan."
"Makasih Ran. Dan kamu sendiri?"
Ranti menghela napas sejenak. Raut wajahnya pun mendadak murung. Bayangan pertemuannya dengan Axelle di depan Galery melintas di benaknya.
"Aku hanya bisa berharap, dia hidup bahagia. Tidak kekurangan apapun. Aku berharap, gadis itu bisa memberinya cinta yang tidak pernah bisa aku berikan untuknya selama ini." Gumam Ranti tanpa sadar.
__ADS_1
"Maksud kamu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?"
Ranti pun terhenyak. "Oh ... Ma_maksudku, aku sangat berharap dia hidup bahagia seperti orang lain. Aku juga berharap dia bisa mendapatkan seorang gadis yang mencintainya dengan tulus dan memberinya cinta yang berlimpah. Itu maksudku."'
"Oooh ... Aku pikir kamu sudah bertemu dengan putramu."
"Belum Liv. Aku berharap seperti itu. Aku sangat ingin bertemu dengannya." Ranti kembali menghela napas. Lalu menghembuskannya pelan. Sekedar meluruhkan beban yang mengganjal di relung hatinya selama ini.
Selama bertahun-tahun ia memendam rasa bersalah terhadap putra semata wayangnya. Sebab telah menelantarkannya sejak kecil. Ia yang saat itu tak tahu harus berbuat apa, ia yang saat itu tidak punya apa-apa, hanya bisa menitipkan putranya di panti asuhan. Akan tetapi ia telah berjanji, suatu saat nanti ia akan datang menjemput putranya kembali.
Namun saat ia kembali ke panti asuhan, putranya justru telah diadopsi. Bukan oleh orang lain, melainkan oleh ayah kandungnya sendiri. Kini ia hanya bisa menyesali, mengapa waktu itu ia memberitahu dimana ia menitipkan putranya. Bahkan ia memberitahu nama lengkap putranya. Hingga saat ia kembali ke panti asuhan, ia justru terlambat. Putranya telah dibawa pergi entah kemana.
.
.
Masih di malam yang sama, di satu sudut kota. Di sebuah kafe bernuansa estetik, dengan cahaya remang, tampak seorang wanita tengah berbincang dengan seorang pria. Cahaya temaram kafe itu tak menampakkan dengan jelas siapa wanita yang tengah berbincang dengan seorang pria yang dikenal sebagai wartawan nakal. Yang suka mengambil berita dari sumber manapun. Bahkan terkadang pria itu sering tak pandang bulu dalam memuat satu berita. Kebanyakan berita yang dimuat pria itu terkait dengan isu atau skandal seseorang.
"Pastikan tidak ada yang tahu darimana sumbernya." Ucap wanita itu.
"Beres. Aku selalu melindungi informan ku." Balas pria itu.
"Ingat, sebut saja namanya dengan jelas. Agar orang-orang tidak lagi menebak-nebak siapa yang berada dalam berita itu."
"Beres. Percaya saja padaku. Besok berita ini akan viral. Tunggu saja." Ucap pria itu meyakinkan.
"Bagus." Wanita itu pun tampak menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat.
"Apapun yang akan terjadi nanti, aku tidak bertanggung jawab. Jika mereka menuntut, aku tidak terlibat."
"Tenang saja. Aku pastikan, mereka tidak akan menuntut."
Wanita itu pun beranjak pergi setelah urusannya telah selesai. Sebuah senyuman sinis pun terukir di wajahnya.
TBC
__ADS_1
Mohon maaf jika author sering telat mampir di karya-karya hebat author² kece. Mohon maaf juga jika author abal-abal ini tak bisa membalas komen reader yang budiman. Dikarenakan kesibukan di real life yang tidak pernah ada habisnya. Meski lelet, author akan berusaha up setiap hari.
Semoga karya receh ini masih bisa menghibur reader dimanapun berada. Salam sayang dari author abal-abalš