Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 87


__ADS_3

Situasi tak terduga yang membuat Gina meradang. Lagi-lagi rencananya gagal total. Bukan hanya gagal, bahkan mungkin ia terancam akan mendapat hukuman. Sebab telah melakukan perbuatan percobaan pembunuhan.


Tak butuh bukti lagi, seorang petugas polisi wanita yang menyamar menjadi Nadine sudah cukup menjadi saksi. Atas usaha penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap Olivia dan putrinya.


Dengan begini, kemungkinan Gina akan dijerat pasal berlapis. Yang pertama adalah kasus penculikan.


Barangsiapa melarikan orang dari tempat kediamannya atau tempat tinggalnya sementara. Dengan maksud melawan hak, akan membawa orang itu dibawah kekuasaan sendiri atau dibawah kekuasaan orang lain, atau akan menjadikan dia jatuh terlantar, dihukum karena melarikan (menculik) orang, akan dijatuhi hukuman penjara selama 12 tahun. (K. U. H. P. 37,52).


Yang kedua adalah kasus pembunuhan berencana. Gina sudah merencanakan hal itu jauh-jauh sebelumnya. Gina berencana menghabisi nyawa orang lain.


Atas perbuatannya ini Gina bisa dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Perbuatan pembunuhan merupakan perbuatan yang dilakukan dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain. Pasal dasar pembunuhan adalah pasal 338 KUHP yang kemudian ditambah unsur direncanakan terlebih dahulu dalam pasal 340 KUHP.


Berdasarkan pasal-pasal KUHP diatas, maka tamatlah riwayat Gina kali ini. Ia akan mendekam di penjara belasan atau mungkin puluhan tahun lamanya. Sengaja Hadi menjebak Gina, agar ia tak perlu repot-repot lagi mengumpulkan bukti. Polisi sudah menjadi saksi mata atas perbuatan Gina.


"Angkat tangan. Jangan coba-coba melarikan diri." Seru lantang seorang petugas. Dan seorang petugas lainnya bergegas menghampiri Olivia dan Nadine kawe untuk melepas ikatan tali dipergelangan mereka.


Setelah ikatan tali terlepas, Nadine kawe pun melepas wig yang ia kenakan. Lalu berjalan menghampiri Gina dan Clarissa. Sementara Herman dan temannya diborgol petugas.


"Tahan perempuan ini. Dia adalah otak dari kejahatan ini." Ujar si Nadine kawe yang tidak lain adalah seorang petugas kepolisian yang sedang menyamar.


"Tunggu dulu." Cegah Gina saat seorang petugas hendak memborgolnya.


"Kalian tidak bisa seenaknya menahan orang. Bagaimana aku bisa percaya kalau kalian benar polisi. Bagaimana kalau kalian ini hanya orang-orang suruhan." Protesnya tak terima mereka mau memborgol tangannya.


"Kami ini petugas. Pak Hadi sudah melaporkan kalian jauh-jauh hari. Karena belum cukup bukti, maka sandiwara ini sengaja dilakukan untuk mengumpulkan bukti yang cukup. Sudahlah, kalian tidak bisa mengelak lagi. Anda pikir saya Nadine? Bukan, saya juga seorang petugas." Ujar petugas wanita yang menyamar sebagai Nadine. Hingga Gina pun tercengang. Ternyata Hadi sudah merencanakan sandiwara ini untuk menjebaknya.


Seorang petugas lagi hendak memborgol Clarissa. Cepat Gina kembali mencegahnya.


"Tunggu dulu. Putriku tidak bersalah. Jangan coba-coba menyentuhnya."


"Mom ..." Clarissa mulai ketakutan saat seorang petugas hendak memborgolnya.


Disaat bersamaan, seseorang datang. Serentak mereka mengalihkan pandangan pada Hadi yang datang seorang diri. Hadi mengetahui lokasi ini dari salah seorang petugas yang memberitahunya soal penggerebekan di sebuah gudang kosong. Dimana Olivia sedang disekap.


Hadi langsung menghampiri Olivia dan meraih Olivia ke dalam dekapannya. Hal itu jelas membuat Gina geram dan cemburu.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Hadi begitu mengurai dekapannya.


Olivia mengangguk sembari tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah melakukan ini untukku dan putri kita."


"Sekarang kamu sudah percaya kan apa yang pernah aku katakan padamu?"

__ADS_1


Olivia kembali mengangguk.


"Daddy ..." Panggil Clarissa dengan wajah ketakutan sekaligus kecewa. Karena semua ini adalah ternyata rencana ayahnya.


"Daddy ... Daddy tega menjebak Mommy. Aku sangat kecewa padamu Dad." Clarissa tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ayah yang selama ini ia sayangi dan menjadi kebanggaannya, begitu tega mengkhianati ibunya.


"Maafkan Daddy Clarissa. Tapi Daddy juga tidak bisa membiarkan kamu menyakiti putri kandung Daddy. Kamu yang sudah menabrak Nadine sampai dia keguguran kan?"


Clarissa mengerutkan dahinya. Mencoba memahami arah pembicaraan Hadi.


"Irene itu adalah Nadine. Putri kandung Daddy yang Mommy culik sejak bayi."


Clarissa tercengang. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut ayahnya.


"Putri kandung Daddy? Lalu aku? Aku ini siapa bagi Daddy?" Clarissa shock.


"Maaf, kamu bukan putri kandung Daddy. Daddy harus mengatakan ini agar kamu tau yang sebenarnya. Tapi meskipun begitu, Daddy tetap menyayangi kamu seperti putri Daddy sendiri."


"Hadi!" Sentak Gina geram. Dengan amarah yang tak tertahan lagi. Susah payah ia menyembunyikan hal itu dari Clarissa. Jika Clarissa tau ayahnya hanyalah seorang preman pengangguran, Clarissa pasti akan sangat kecewa.


Clarissa mulai berkaca-kaca. Sungguh ia tak menyangka, selama bertahun-tahun ibunya Gina membohonginya. Bahkan untuk hal sebesar itu. Ia sangat kecewa terhadap ibunya sendiri. Ia tak bisa menahan kekecewaan ini, yang begitu dalam. Meluluh lantakkan segala rasa yang ada.


"Clarissa ... Maafkan Mommy." Pinta Gina memohon.


"Hadi. Kamu sungguh keterlaluan. Tidak seharusnya kamu mengatakan itu di depan Clarissa. Kamu benar-benar jahat Hadi." Umpat Gina dalam kekesalannya.


"Sudah saatnya putrimu tau tentang kejahatanmu. Putrimu harus tau seperti apa ibunya yang sebenarnya." Lalu Hadi kembali merangkul Olivia. Hingga membuat Gina semakin meradang.


"Aku akan menceraikanmu. Dan secepatnya aku akan menikah kembali dengan Olivia." Ujar Hadi tak tahan lagi.


Gina semakin geram. Guratan amarah semakin tampak di wajahnya. Api amarah yang kian membara itu kini semakin membakar hatinya. Tanpa ada yang menyadari, lengah, hingga pistol yang ada dalam genggaman seorang petugas kepolisian berhasil di rebutnya. Dengan cepat pistol itu ia arahkan pada Hadi.


"Mommy!" Pekik Clarissa cemas. Takut kalau Gina kehilangan kendali dan akan menyakiti Hadi.


"Turunkan pistol itu. Atau kami tidak segan-segan akan mengambil tindakan lebih dulu." Seru petugas wanita.


"Gina. Jangan gila kamu!" Seru Herman yang juga panik. Herman tau betul, jika Gina telah dikuasai amarah, dia tidak akan berpikir panjang lagi.


"Diam kamu. Semua ini juga gara-gara kamu. Gara-gara kamu tidak becus, masa depan putri kita jadi taruhannya. Dasar sialan kamu." Umpat Gina kesal.


Ucapan Gina siapa sangka justru menghadirkan kembali luka baru di hati Clarissa. Dan semakin menambah kekecewaannya terhadap Gina.

__ADS_1


"Ja_jadi ayah kandungku adalah ..." Clarissa tak tahan lagi. Ia hanya bisa meneteskan air mata yang semakin tertumpah ruah. Ia tak menyangkan ayah kandungnya hanyalah seorang preman.


"Mommy jahat. Mommy sudah membohongiku selama bertahun-tahun." Clarissa semakin menitikkan air mata sakit hatinya.


"Maafkan Mommy." Gina kembali menodongkan pistol itu ke arah Hadi. Sementara petugas tampak waspada.


"Turunkan pistol itu. Kalau tidak kami akan menembak anda." Ancam seorang petugas.


Gina menggeleng diiringi air mata. "Tidak. Tidak akan. Hadi harus menerima balasan pengkhianatannya padaku."


"Mommy. Please Mom, buang pistol itu." Pinta Clarissa dalam tangisnya.


Sementara Hadi justru mendekap Olivia. Berusaha melindungi Olivia. Karena Gina kini mengarahkan pistol itu kepada Olivia.


"Kalian berdua harus mati di tanganku." Gina semakin dibutakan amarah. Hingga ia nekat. Detik berikutnya ...


DOR!


Terdengar suara pistol. Diiringi suara pekikan kencang seseorang yang berlari ke arah Hadi dan Olivia.


"Daddy ..."


Bersamaan dengan suara pistol, Clarissa terjatuh ke dalam dekapan Hadi. Dengan tubuh bersimbah darah di punggungnya.


Serentak semua yang ada di tempat itu terkejut. Seorang petugas langsung merebut pistol itu dari tangan Gina. Dan menahan Gina agar tak berbuat lebih.


"Clarissa!" Pekik Herman sekencangnya menyaksikan putrinya jatuh bersimbah darah.


Detik itu juga, Gina terpaku seribu bahasa. Serasa detak jantungnya berhenti saat itu juga. Saat kedua matanya menyaksikan langsung putrinya terluka. Terlebih lagi, yang melukai putrinya tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri.


"Cla_Clarissa ... Putriku ..." Gina tak kuasa membendung air matanya. Ia hanya bisa menyesali dan merutuki kebodohannya sendiri. Yang begitu tega menyakiti putri kesayangannya.


Clarissa jatuh tak berdaya dalam dekapan Hadi. Bermandikan darah.


TBC


Sebentar lagi cerita ini mau ending. Pelan-pelan author akan menyelesaikannya.


Mohon maaf belum sempat balas komenan reader. Dan mohon maaf belum sempat mampir di karya hebat author lain. Jika sempat, author akan mampir memberi dukungan buat karya hebat kalian.


Salam ❤️

__ADS_1


Othor Kawe


__ADS_2