Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 82


__ADS_3

Sepulang dari Olive Galery, Axelle dan Irene memilih pulang ke rumah. Dan memesan makanan via online. Mereka tak ingin kemana-mana lagi hari ini. Dan untuk jadwal undangan talk show, ada beberapa yang Axelle tolak. Sebab tak ingin lagi meninggalkan Irene sendirian.


Sebetulnya, bisa saja ia membawa Irene serta. Akan tetapi Irene terus menolak, dengan alasan tak nyaman.


Setelah mengantar Axelle dan Irene, Boni pun memilih pulang. Sebab jadwal Axelle tak terlalu padat seperti saat syuting kemarin. Kali ini ada beberapa tawaran syuting yang Axelle tolak dengan sengaja. Seperti ucapannya tempo hari pada Zaky, bahwa ia ingin rehat sejenak dari dunia entertaint. Ia hanya ingin meluangkan lebih banyak waktu untuk Irene.


Makanan yang mereka pesan via online telah sampai. Axelle dan Irene tampak lahap menikmati makan siangnya kali ini, dengan saling menyuapi penuh kasih.


"Mama kamu kok aneh ya hari ini. Kenapa dia meminta kamu agar tidak memanggilnya Mama untuk sementara waktu ini." Ujar Axelle di sela mengunyah makanan.


"Aku juga tidak tau. Tapi Mama sudah berjanji, akan memberikan penjelasan nanti, saat waktunya tiba."


"Perempuan yang tadi kamu kenal tidak? Kenapa dia memanggil Mama kamu dengan sebutan Mama. Trus, dia juga mengaku sebagai Nadine."


Irene mengendik. "Aku juga tidak tau. Yang pasti, kita turuti saja permintaan Mama dan Papa." Kembali menyuapi mulutnya dengan sesuap nasi.


"Oh ya, Ren. Tentang kecelakaan kamu tempo hari ..."


"Soal itu Papa yang akan mengurusnya." Sela Irene memotong ucapan Axelle.


"Maksud kamu?"


"Sebenarnya, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Tapi Papa memaksa ingin menyelidiki soal kecelakaan itu. Aku bisa berbuat apa? Jadi, terserah Papa mau melakukan apa."


"Sebenarnya itu yang mau aku bicarakan. Aku ingin melaporkannya ke pihak yang berwajib sebagai kasus tabrak lari."


"Sudah. Tidak perlu. Sudah ada Papa yang mengurus itu. Kita hanya diminta untuk menikmati hidup saja."


Axelle langsung memasang senyum selebar mungkin. Membuat Irene menatapnya dengan dahi mengerut.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Irene merasa ada yang aneh dengan Axelle. Cara Axelle menatapnya mendadak tampak berbeda.


"Papa kamu cerdas. Kita disuruh menikmati hidup. Itu artinya ..." Senyum Axelle terasa berbeda kali ini.


Bukan senyum manis nan tulus. Tetapi senyum yang tampak usil. Disertai wajahnya yang semakin mendekat.


Dengan sigap, Irene menepuk dahi Axelle.


"Aw!" Pekik Axelle sambil mengelus dahinya.


"Sakit Ren." Keluh Axelle.


"Makanya jangan macam-macam. Kamu pikir aku tidak tau apa yang ada dalam benak kamu sekarang ini?" Irene berdecak kesal sembari mengerling. Ia sudah bisa mencium aroma-aroma mesum dari tingkah Axelle.


"Yang kemarin masih menggantung. Sebenarnya aku belum puas." Goda Axelle lirih.


"Ish." Kembali Irene menepuk dahi Axelle.


"Habiskan dulu makanannya." Gerutu Irene.


"Berarti setelah ini__"

__ADS_1


"Tidak akan. Aku lelah." Irene bangun dari duduknya setelah meneguk minumnya hingga tandas.


Ia melangkah lebar menuju anak tangga. Mulai menapaki anak tangga itu dengan langkah gontai. Seakan Irene tengah menunjukkan bahwa hari ini ia benar-benar lelah.


Setelah meneguk minumnya, Axelle bergegas menyusul Irene.


"Tidak baik habis makan langsung tidur." Ujar Axelle menghampiri Irene yang berdiri di sisi tempat tidur. Irene lantas mengambil duduk di tepian tempat tidur. Diraihnya ponselnya yang tergeletak di nakas.


Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Olivia.


"Astaga. Sebanyak ini Mama menghubungiku?" Gumam Irene.


Axelle mengambil duduk di samping Irene.


"Ada apa?" Axelle mengamati raut wajah Irene yang mendadak tampak gelisah. Detik berikutnya ia mengintip ke layar ponsel Irene.


"Telepon balik saja. Siapa tau ada yang penting."


Baru saja Irene hendak menghubungi Olivia, sebuah pesan chat dari Olivia telah lebih dulu masuk ke ponselnya.


Mama cuma mau bilang, jangan heran tadi ada yang mengaku sebagai dirimu. Itu adalah orang suruhannya Papa. Papa yang akan menjelaskan semuanya sama kamu nanti.


"Aku rasa tidak perlu. Mama sudah mengirimiku pesan." Ujar Irene


"Ya sudah. Kalau begitu aku mandi dulu. Mau ikut mandi bersamaku?" Axelle mulai lagi dengan keusilannya. Irene menatapnya kesal.


"Ha ha ha ... Bercanda." Axelle bergegas ke kamar mandi tanpa menunggu reaksi kesal Irene yang berlebih.


.


.


Berbeda dengan Nadine kawe, wanita berambut panjang itu justru memasang senyum manisnya menatap Clarissa. Sementara Olivia kembali ke dalam Galery untuk mengambil tas nya. Mereka rencananya akan pergi makan siang bersama.


"Jadi kamu yang bernama Nadine?" Tanya Clarissa memulai.


"Iya. Apa kamu mengenalku?" Nadine kawe berusaha berakting sebaik mungkin.


"Benar kamu putrinya Olivia dan Hadi Irawan?"


"Iya. Aku terpisah dari orang tuaku sejak bayi. Selama ini aku hidup dengan orang tua angkat ku. Aku sangat bersyukur, akhirnya Tuhan mempertemukan aku kembali dengan Mama dan Papa. Mungkin sudah saatnya aku mengambil kembali semua hak ku."


Clarissa menyeringai tipis. Ia masih sulit mempercayai ini. Kenapa ia baru mengetahui hal ini sekarang. Selama ini ia berpikir, ia adalah satu-satunya putri kesayangan Hadi. Tetapi ternyata, begitu banyak hal yang dirahasiakan sang ayah darinya. Termasuk pernikahannya dengan Olivia.


Lalu kenapa pula, Gina, ibunya tidak pernah menceritakan hal ini padanya. Kenapa mereka merahasiakan hal ini darinya.


Nadine bahkan sudah bertahun-tahun lamanya menghilang. Dalam sekejap, kehadirannya justru telah menghancurkan semua impiannya. Telah merampas kebahagiaannya.


Clarissa merasa terpukul dan sakit hati. Irene telah merebut Axelle darinya. Dan sekarang ada Nadine yang akan merebut hak nya.


"Nadine sayang, ayo kita pergi." Seru Olivia begitu keluar dari galery dan menghampiri Nadine kawe.

__ADS_1


"Ayo Ma. Aku sudah sangat lapar." Nadine kawe lantas menggandeng lengan Olivia.


"Kami pergi dulu ya Clarissa." Ujar Olivia sembari berlalu dari hadapan Clarissa yang tampak geram.


Saat mobil Olivia mulai melaju meninggalkan pelataran parkir gedung Olive Galery, di belakang mobilnya, dari jarak yang cukup jauh, ada mobil lain yang mengikuti.


Sebelumnya Hadi sudah memberitahu hal itu pada Olivia. Untuk itulah, Hadi meminta agar Olivia dan Nadine bersikap selayaknya ibu dan anak.


Olivia yang sedang menyetir bisa melihat mobil yang mengikutinya dari kaca spion. Sengaja Olivia memelankan laju mobilnya.


Tiba di restoran, Olivia dan Nadine kawe mengambil duduk di pojok ruangan. Sementara di seberang, di salah satu meja yang tak jauh dari tempat mereka duduk, seseorang tengah mengawasi.


Olivia bisa mengetahui itu dari gelagat orang itu yang tampak mencurigakan. Siapa lagi orang itu kalau bukan Herman.


.


.


Clarissa melangkah panjang memasuki rumah dengan kesalnya. Sambil berteriak memanggil-manggil Gina.


"Mom ... Mommy ..." Panggil Clarissa. Lalu menghempas tubuhnya di sofa pribadi Gina.


"Mommy ..." Panggil Clarissa sekali lagi, lantaran ibunya yang tak kunjung datang.


"Mommy ... Are you at home?" Teriak Clarissa kesal.


Dengan tergesa-gesa Gina datang menghampiri saat mendengar teriakan putrinya.


"Tentu saja Mommy ada di rumah sayang. Kenapa harus teriak-teriak seperti itu sih? Daddy sedang tidur. Pelankan sedikit suara mu." Ujar Gina sembari mengambil duduk di samping Clarissa.


"Kamu kenapa sih. Datang-datang mukanya jutek begitu. Ada apa? Apa yang membuat mu kesal. Hm?" Tanya Gina sambil mengusap lembut lengan Clarissa.


"Aku sangat kesal. Aku sudah bertemu dengan Nadine, putrinya Bu Olive."


"Oh ya?"


Clarissa mengangguk. "Aku kesal karena wanita itu akan merebut segalanya dariku. Aku sudah kehilangan banyak hal. Termasuk Axelle." Keluh Clarissa menahan geram.


"Sabar sayang. Mommy tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kamu tidak akan kehilangan apapun. Kamu dengar itu? Karena Mommy akan melakukan apapun untuk kamu."


"Aku harus mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Termasuk Axelle. Kenapa juga gadis kampungan itu masih hidup. Kenapa dia tidak mati saja saat aku menabraknya." Clarissa semakin geram. Hingga guratan amarah tampak sangat jelas di raut wajahnya.


"Clarissa?" Tiba-tiba terdengar suara berat sorang pria memanggil.


Serentak, Gina dan Clarissa pun menoleh ke arah sumber suara.


"Daddy?"


"Papah?"


Gina dan Clarissa tersentak kaget melihat Hadi sudah berdiri di seberang, menatap mereka dingin.

__ADS_1


TBC


__ADS_2