Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 66


__ADS_3

Ucapan Zaky terasa bagai petir yang menyambar di siang bolong. Membuat Axelle mematung seketika, dengan perasaan tak karuan, dan terdiam seribu bahasa.


Ibu?


Perlahan Axelle memalingkan wajahnya, memandangi Ranti dengan tatapan dingin. Menelisik paras paruh baya itu. Mencoba menemukan kembali ingatan masa kecilnya.


Satu per satu bayangan masa kecilnya berkelebat dalam ingatannya. Ia ingat, pernah sekali ada seorang wanita yang datang mengunjunginya di panti asuhan. Tetapi ia tak tahu siapa wanita itu. Dan paras wanita itu mirip dengan Ranti.


Sementara Axelle tengah kembali ke masa lalunya, Ranti justru mulai menitikkan air matanya. Air mata itu kini mulai deras seiring dengan isak tangisnya yang terdengar pilu.


Ucapan Zaky itu tidak hanya mengejutkan Axelle. Yang lain pun sangat terkejut mendengarnya. Terlebih lagi Olivia.


Mungkin hal inilah yang sejak tadi ingin diberitahukan Ranti padanya. Akan tetapi karena situasi dan kondisi yang kacau, akhirnya menggagalkan niatnya.


"Oh my god ... Situasi apa ini? Eike sampai bingung. Ternyata di dalam sini lebih kacau." Gumam Boni sembari memanjangkan leher, melihat-lihat keadaan di luar Galery melalui jendela kaca.


Di luar, tampak orang-orang satu per satu mulai meninggalkan Galery karena tak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Zaky sudah memberikan penjelasannya, akan tetapi mereka sendiri yang tidak percaya. Zaky telah menjanjikan satu hal, bahwa secepatnya ia akan melakukan jumpa pers terkait masalah yang menimpa Axelle. Yaitu tentang skandal pernikahannya. Hingga wartawan dan reporter pun memutuskan membubarkan diri.


"Dia ibu kandung kamu Axelle. Aku pernah melihat foto ibumu. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ayah yang menunjukkannya padaku saat aku pergi menemuinya beberapa minggu lalu." Ujar Zaky meyakinkan Axelle.


Axelle masih saja diam membisu. Sambil terus menatap Ranti. Sampai tiba-tiba, tanpa ia menyadari, air matanya pun berderai begitu saja membasahi pipinya.


Irene yang tak kalah terkejutnya pun menghampiri Axelle. Lalu meraih jemari Axelle ke dalam genggamannya.


"Axelle ... Kamu tau, aku turut berbahagia, akhirnya kamu bisa bertemu dengan ibu kandung kamu." Ucap Irene dengan nada pelan. Lalu satu tangannya mendekap wajah Axelle.


Axelle kini mengalihkan tatapannya pada Irene. Ia lalu menghapus air matanya.


"Dengar. Masalah kita, nanti saja kita bicarakan di rumah. Sekarang, yang paling penting adalah ibumu. Ayo, mendekatlah pada ibumu. Minta maaf padanya atas sikap kasar kamu. Mungkin ini sudah saatnya Tuhan mempertemukan kalian."


Axelle belum menanggapi ucapan Irene. Ditatapnya Irene lekat-lekat. Dalam hati ia merasa bersyukur memiliki Irene dalam hidupnya. Akan tetapi, ia pun tak bisa memungkiri, bahwa selama ini ia begitu merindukan sosok seorang ibu. Ia rindu kasih sayang seorang ibu yang tak pernah ia dapatkan sejak kecil.


"Jangan sampai kamu menyesal nanti." Ucap Irene sekali lagi.


"Lupakanlah kesalahan yang pernah dilakukan ibumu. Mungkin saat itu dia tidak punya pilihan lain. Apa yang dikatakan Irene benar. Jangan sampai kamu menyesal nanti. Aku tau kamu sangat merindukan ibumu." Zaky ikut menimpali sembari menepuk lembut pundak Axelle.


Axelle masih diam membisu. Menatap Zaky dan Irene bergantian.


Sementara di seberang, Ranti masih menitikkan air matanya. Olivia yang tak tega pun menghampirinya. Membelai lembut pundaknya, mencoba memberinya kekuatan.


"Aku ikut senang Ran. Akhirnya kamu bisa bertemu dengan putramu." Ucap Olivia dengan nada pelan dan lembut.

__ADS_1


"Makasih Liv. Maaf aku tidak pernah memberitahumu tentang ini."


"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti kok. Kamu pasti punya alasan sendiri, kenapa kamu merahasiakan ini dariku."


Ranti mencoba tersenyum. Meski sejujurnya hatinya masih terasa pilu. Sebab putra semata wayang yang sangat dirindukannya masih enggan mengakuinya sebagai ibunya. Bahkan masih enggan menghampirinya dan memanggilnya IBU.


Akhirnya, berkat Irene yang selalu meyakinkannya, Axelle pun perlahan mulai menghampiri Ranti. Dengan tatapan yang tak teralihkan dari wajah Ranti.


Langkah Axelle terhenti tepat di hadapan Ranti. Menyisakan jarak beberapa senti saja.


"Maafkan saya ..." Ucap Ranti lirih sambil menatap Axelle dengan derai air matanya.


"Ibu?" Ucap Axelle parau, menahan getir di dada.


Ranti pun tertegun. Menatap lekat Axelle.


"Benarkah anda ibuku?"


"Ma_maafkan Ibu Nak. I_ibu tidak bermakaud_"


Tanpa aba-aba, dan tanpa terduga, dengan cepat Axelle menghambur ke pelukan Ranti. Ranti pun membalas pelukannya, meski ia masih tak bisa mempercayainya.


"Maafkan aku Ibu. Aku sangat merindukan Ibu." Lirih Axelle sendu. Dan terdengar pilu.


Ranti pun mencoba mengusap-usap lembut punggung Axelle. Agar Axelle merasa sedikit lebih baik.


Sementara yang lain, yang menyaksikan pertemuan kembali seorang anak dan ibunya, hanya bisa ikut terharu.


Terlebih lagi Irene. Ia bahkan sampai ikut menangis. Ia pun merasa bahagia. Meski sejujurnya, ia merasa iri. Axelle sudah bertemu dengan ibunya. Sedangkan ia sendiri?


Irene pun hanya bisa berharap, semoga suatu hari nanti, ia pun akan dipertemukan kembali dengan orang tua yang sangat dirindukannya. Segala prasangka, coba ia tepis. Agar tidak menimbulkan kebencian di hati.


.


.


Setelah pertemuan yang mengharukan tadi, kini Axelle dan Ranti tengah mengobrol di satu ruangan khusus tamu di Galery itu. Olivia memberi Ranti ruang untuk ia dan Axelle saling mencurahkan rindu.


Ibu dan anak itu sedang duduk di sofa panjang. Dengan posisi Axelle berbaring di paha Ranti. Sedang Ranti membelai-belai lembut puncak kepalanya.


"Maafkan Ibu ya Nak. Ibu tidak pernah bermaksud meninggalkan kamu di panti asuhan itu. Ibu tidak punya pilihan lain saat itu. Ibu tidak tau harus berbuat apa. Terpaksa Ibu menitipkan kamu di panti asuhan. Dan Ibu berniat mengambil kamu kembali dari panti asuhan itu setelah Ibu mendapatkan uang agar kita bisa hidup bersama." Ucap Ranti lembut, mengingat-ingat kembali masa lalunya.

__ADS_1


Axelle yang mendengarnya hanya bisa kembali menitikkan air mata.


"Saat Ibu kembali hendak mengambil kamu, kamu malah telah di adopsi oleh ayah mu sendiri. Mereka membawa mu ke luar negeri. Jadi Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu hanya bisa pasrah. Dan berharap, semoga suatu hari nanti kita akan bertemu kembali. Dan Ibu berharap, saat kita bertemu, kamu tidak membenci Ibu." Tambahnya.


Axelle mengusap air matanya yang semakin berderai. Kemudian ia bangun. Ditatapnya Ranti dengan seksama.


"Ibu tinggal di mana? Ikutlah bersamaku." Pinta Axelle.


Ranti tersenyum. "Ibu tinggal di rumahnya Bu Olive. Selama ini dialah yang membantu Ibu."


"Kalau begitu, mulai sekarang, tinggallah bersamaku. Aku ingin Ibu selalu berada di sisiku."


Ranti pun mengangguk. "Iya. Ibu akan coba bicara dengan Bu Olive. Oh ya, kebetulan sudah sangat lama. Ibu ingin sekali mengunjungi panti asuhan tempat Ibu menitipkan kamu dulu. Apa kamu bisa menemani Ibu?"


"Bisa. Aku akan menemani kemanapun Ibu pergi." Sembari menganggukkan kepalanya.


"Oh ya, satu lagi. Istri kamu. Ibu sangat berterima kasih padanya. Karena dia memberimu cinta yang tidak bisa Ibu berikan selama ini."


Axelle pun terhenyak. Ia sedikit telah melupakan Irene. Lantaran pertemuannya dengan ibunya.


Panjang umur, baru saja Axelle dan Ranti membicarakannya, Irene datang dengan sebuah nampan berisi dua cangkir teh hangat di tangannya. Nampan itu ia letakkan di meja sofa.


"Silahkan di minum dulu teh nya." Ucap Irene sembari menyodorkan satu cangkir ke tangan Ranti. Ranti pun menerimanya sambil tersenyum.


"Tidak perlu repot-repot Nak. Ibu bisa bikin sendiri kok kalau Ibu mau." Ujar Ranti lembut.


Irene pun tersenyum. "Tidak apa-apa Bu. Oh ya, ini ..." Hendak mengambil satu cangkir lagi untuk Axelle. Namun Axelle mencegahnya. Lalu menariknya agar duduk di sampingnya.


Axelle meraih jemari Irene ke dalam genggamannya. Menatapnya lekat kedua bola mata indah Irene.


"Banyak hal yang tidak bisa aku ungkap begitu saja. Aku hanya ingin kamu tahu, betapa bahagianya aku memilikimu dalam hidupku." Ucap Axelle parau. Ia mencoba mencurahkan segala rasa di hati.


Irene pun tersenyum manis. Axelle mengecup lembut punggung jemari Irene. Lalu hendak berpindah. Diraihnya tengkuk Irene. Dan perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya, sampai tiba-tiba ...


"Ehem ... Ehem ..." Deheman Ranti pun menghentikan Axelle.


"Apa perlu Ibu keluar dulu. Agar kalian bisa lebih leluasa mengobrol berdua?" Kelakar Ranti sambil tersenyum simpul.


Irene pun tersipu malu. Sedangkan Axelle dan Ranti tertawa-tawa melihat tingkah Irene yang malu-malu kucing. Bahkan wajahnya kini bersemu merah.


"Nanti kita lanjutkan di rumah ya?" Bisik Axelle nakal di telinga Irene. Hingga Irene pun semakin tersipu malu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2