
"Clarissa ..." Gina memekik histeris. Disertai isak tangis pilunya. Meraung-raung semakin menjadi. Sambil terus menggoyang tubuh Clarissa yang entah kenapa mendadak terasa kaku.
"Clarissa ..." Panggil Hadi sembari menepuk lembut pipi Clarissa. Tetapi Clarissa tak menggubris. Ia seakan pulas dalam tidurnya. Dengan wajah pucat pasi. Hal itu jelas membuat Hadi panik seketika.
"Tolong panggil dokter sekarang juga!" Pekik Hadi lantaran diserang panik luar biasa.
Axelle bergegas ke luar ruangan itu untuk memanggil dokter. Sementara yang lain terus memanggil-manggil Clarissa. Berusaha membangunkannya. Dengan harapan Clarissa hanya pingsan. Dan akan bangun lagi begitu mendengar ada yang memanggil namanya.
Namun, Clarissa masih saja tertidur pulas. Sekujur tubuhnya terasa dingin dan kaku.
"Clarissa ... Bangun sayang. Jangan tinggalkan Mommy. Ayo bangun sayang ... Mommy disini bersamamu. Mommy akan selalu menjagamu. Clarissa, ayo bangun sayang." Ratap pilu Gina masih dengan isak tangisnya yang terdengar semakin menyayat hati.
Clarissa masih saja tak menggubris. Ia terbujur kaku diatas tempat tidur itu.
Tak berapa lama Axelle kembali bersama seorang dokter. Dokter itu bergegas memeriksa Clarissa. Mulai dari pernapasannya, detak jantungnya, bahkan denyut nadinya.
Sembari menekan denyut nadi di pergelangan tangan Clarissa, dokter itu menggeleng pelan. Diikuti hembusan napas panjang. Dokter itu pun melepas pelan tangan Clarissa. Ditatapnya bergantian semua yang ada dalam ruangan itu.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya ..." Dokter menghela napas sejenak. Sebelum melanjutkan kalimatnya. Sementara Gina dan Hadi menunggu cemas.
"Ada apa Dok?" Tanya Axelle ikut cemas.
"Pasien sudah menghembuskan napas terakhir beberapa menit yang lalu." Ujar sang dokter dengan berat hati. Sebab tak enak memberitahu hal itu kepada keluarga pasien. Yang tentu saja begitu mengharapkan kesembuhannya.
"Ma_maksud Dokter? Pu_putri saya ... Putri saya ..." Gina hampir tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa memegangi dadanya. Meremasnya kuat, menahan sakit lantaran kepergian putri kesayangannya.
Bagi seorang ibu, anak adalah segalanya. Harta yang paling berharga di dunia melebihi apapun. Tak terkecuali dengan Gina.
Clarissa adalah satu-satunya putri kesayangannya, kebanggaannya melebihi apapun. Kepergian Clarissa membuat dunianya berhenti berputar seketika. Hatinya tersayat pilu. Perih tak terkira.
Gina hanya bisa meneteskan air mata, bagai air bah yang semakin tertumpah ruah. Sukses membanjiri wajahnya. Ia membisu seribu bahasa seketika. Hanya bisa terpaku menatap putrinya dengan derai air mata.
Menyesal, tiada guna lagi. Putri tercintanya meregang nyawa ditangannya sendiri. Lantaran keserakahan yang tak mampu ia kendalikan. Ia mungkin telah kehilangan akal sehatnya saat ini.
Waras, tidak lagi.
Sebab satu-satunya orang yang bisa membuatnya waras hanyalah putri tercintanya seorang. Dan kini putri tercintanya telah pergi jauh meninggalkannya.
"Maksud Dokter, putri saya ..." Hadi sudah mengetahuinya. Hanya saja ini terasa bagai mimpi baginya. Terlalu cepat ini terjadi.
"Putri Bapak sudah meninggal dunia." Ujar dokter.
__ADS_1
Bukan hanya Hadi, bahkan Axelle dan Irene terkejut bukan kepalang. Clarissa telah pergi untuk selama-lamanya.
Irene pun tak kuasa menahan air matanya. Axelle lantas meraihnya kedalam dekapan hangatnya. Memberinya kekuatan atas musibah yang menimpa.
Clarissa memang tak sedarah dengan Irene. Akan tetapi, Clarissa pun adalah putri ayahnya. Seorang putri kecil yang telah menemani dan mengisi hari-hari ayahnya disaat ia tak berada disisi.
Kepergian Clarissa meninggalkan luka bagi mereka yang mengasihinya.
.
.
Suasana duka begitu kentara tengah menyelimuti keluarga Hadi Irawan. Tampak begitu banyak pelayat yang datang turut berbelasungkawa atas kepergian Clarissa Margaretha.
Banyak dari kalangan selebriti, teman-teman almarhumah sesama model, bahkan dari masyarakat sekitar. Tak terkecuali Zaky dan Vania. Mereka pun turut hadir berbelasungkawa atas kepergian Clarissa.
Gina yang dikawal ketat oleh dua orang petugas kepolisian, menangis meraung-raung diatas pusara putrinya. Menumpahkan segala perih, duka nestapa yang menyelimuti hatinya. Kepergian Clarissa adalah mimpi terburuk dalam hidupnya.
Gina pun kembali dibawa oleh petugas kepolisian setelah beberapa jam diberi ijin. Tanpa berpamitan ia pergi begitu saja. Masih ada rasa sakit dihatinya melihat Hadi dan Olivia bersama. Hadi tampak merangkul Olivia mesra. Hal itu masih membuat Gina meradang. Hingga ia enggan untuk berpamitan. Baginya Hadi bukan siapa-siapa lagi kini. Sebab Hadi begitu tega menjebaknya dan menjebloskannya ke bui.
Gugatan cerai telah Hadi layangkan ke pengadilan agama setempat. Tinggal menunggu sidang saja. Dan untuk hal itu, Gina tidak bisa berbuat apa-apa. Selain pasrah dan menerimanya, meski dengan berat hati.
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini sekarang. Karena kita masih dalam suasana berduka. Tapi, Papa sudah tidak sabar ingin mengabarkan ini pada kalian." Ucap Hadi sembari menatap Axelle dan Irene bergantian.
"Soal apa itu Papa?" Tanya Irene penasaran.
Hadi menoleh sejenak. Menatap Olivia yang duduk di sampingnya dengan senyum berbinar nan merekah. Olivia tersipu malu. Reflek ia menundukkan wajahnya. Sebab hal yang akan diberitahu Hadi sungguh akan membuatnya malu.
"Begini ..." Hadi menghela napas sejenak. Sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.
"Papa berniat akan menikah kembali." Ujar Hadi singkat.
Irene dan Axelle terkejut mendengarnya. Sejenak mereka saling pandang.
"Menikah lagi? Dengan siapa?" Irene masih penasaran.
"Ya jelas dengan Mama kamu lah. Masa dengan orang lain."
Irene dan Axelle tersenyum manis memandangi Olivia dan Hadi bergantian.
"Lalu Papa butuh apa dari kami?"
__ADS_1
"Papa butuh dukungan kalian."
"Dengan senang hati Pa. Kami setuju dan mendukung Mama Olive dan Papa Hadi menikah kembali. Iya kan Ren?" Ujar Axelle mendahului Irene. Sebagai ungkapan bahagia atas niat baik ayah mertuanya.
"Iya. Axelle benar. Tapi, dengan satu syarat."
Mereka tersentak mendengar Irene mengajukan syarat. Serentak pandangan tegang mereka tertuju pada Irene.
Irene justru memasang senyum usilnya melihat ekspresi tegang mereka saat ini.
"Kamu mau mengajukan syarat apa buat Mama dan Papa? Syaratnya tidak aneh-aneh kan?" Tanya Axelle.
"Tentu saja tidak sayang. Masa aku setega itu sama Mama dan Papa."
"Kalau begitu syaratnya apa?"
Hadi dan Olivia masih menunggu syarat yang akan diajukan Irene dengan wajah penasaran. Sekaligus cemas, jika Irene akan mengajukan syarat yang aneh atau mungkin sulit nanti.
"Syaratnya gampang kok. Aku hanya minta, agar Mama dan Papa setuju, jika aku tetap menggunakan nama Irene. Gimana?" Tanya Irene.
Hadi, Olivia, dan Axelle pun bernapas lega. Tadinya mereka sempat berpikir yang aneh-aneh.
"Tentu saja boleh sayang. Kalau soal itu, Mama dan Papa tidak masalah." Sahut Olivia. Hadi pun menganggukkan kepalanya. Menyetujui ucapan Olivia.
"Kalau begitu, secepatnya Papa akan menikahi Mama kamu."
"Jangan terburu-buru. Kita masih punya banyak waktu." Kelakar Olivia.
"Tapi aku sudah tidak sabar lagi. Aku sudah sangat ingin ..." Hadi tak melanjutkan kalimatnya. Lantaran mendapat pelototan kesal dari Olivia. Olivia mengerti dengan maksud Hadi. Ia hanya merasa malu saja di depan putri dan menantunya itu.
Axelle dan Irene pun tergelak melihat tingkah dua sejoli yang sudah sama-sama dewasa itu. Irene menggamit mesra lengan Axelle. Lalu menyandarkan kepalanya di pundak Axelle. Sambil memandangi ayah dan ibunya yang tampak malu-malu.
Betapa bahagianya hati Irene melihat ayah dan ibunya bisa bersatu kembali seperti dulu. Sungguh ini jauh dari harapan dan impiannya.
Ia hanya berharap bisa menemukan kebahagiaan dalam bentuk apapun. Ia hanya bermimpi, punya keluarga kecil yang bahagia.
Namun ia tak menyangka, Tuhan justru memberinya hadiah terbesar dan terindah dalam hidupnya. Tiada kata yang mampu melukiskan kebahagiaannya saat ini.
Tak henti-hentinya ia bersyukur atas nikmat yang Tuhan beri untuknya. Nikmat yang sungguh luar biasa. Terlebih lagi, Tuhan memberinya teman hidup seperti Axelle. Yang mencintainya tulus, sepenuh hati, dan tanpa syarat. Sungguh, itulah nikmat yang tak tergantikan.
TBC
__ADS_1