
Olivia masih menatap penasaran ke arah Ranti. Sementara Ranti terlihat gugup. Diremasnya kuat kepalan tangannya sendiri. Sesekali lirikan matanya mengarah pada Shelly yang sibuk dengan layar ponselnya.
Seakan mengerti maksud Ranti, Olivia pun memberinya ruang.
"Shelly ..." Panggil Olivia.
Shelly mengangkat pandangannya. "Ada apa Bu Olive? Ada yang bisa saya bantu?"
"Boleh tolong kamu tinggalkan kami berdua?"
"Oh, boleh, boleh, Bu Olive. Kalau begitu saya permisi dulu." Shelly pun bergegas keluar dari ruangan Olivia.
Kini tinggallah Olivia dan Ranti berdua.
"Silahkan duduk dulu Ran." Titah Olivia.
Ranti menurut. Ia lantas mengambil duduk di depan Olivia.
"Apa yang ingin kamu katakan padaku Ran?" Tanya Olivia ingin tahu. Kira-kira apa yang ingin diberitahu Ranti tentang Axelle.
Sebab sejujurnya, ia tak tahu banyak tentang Axelle. Ia hanya tahu, Axelle adalah seorang entertainer yang nama dan karirnya tengah melejit belakangan ini. Namun mendadak hancur hanya karena satu kesalahan. Kini nama Axelle pun dikenal sebagai artis yang sering terlibat skandal.
Ranti tampak gugup. Mendadak pias wajahnya pun memucat. Disertai keringat dingin yang mulai mengucur dari penulisnya.
"Ranti ..." Panggil Olivia lembut.
"Aku akan mencoba jujur tentang sesuatu yang selama ini aku sembunyikan dari mu. Tapi tolong, setelah kamu mendengar ini, aku harap kamu tidak akan mengatakannya pada siapa pun."
"Maksud kamu?"
"Tolong tetap rahasiakan ini. Bahkan dari Axelle sendiri."
"Sebenarnya apa sih maksud kamu Ran?"
"Tolong berjanjilah padaku." Desak Ranti cemas.
"Iya, baiklah. Aku akan tetap merahasiakan ini dari siapapun."
"Makasih Liv." Ranti menghela napas sejenak. Sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
"Sebenarnya, selama ini, aku sering melihat putraku." Ujar Ranti hati-hati.
"Oh ya? Lalu apa kamu sudah bertemu dengannya?"
Ranti mengangguk. "Iya. Aku baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Tapi dia tidak mengenaliku."
"Lalu?"
"Selama ini aku hanya melihatnya dari layar kaca saja. Dia sudah dewasa. Dan tumbuh menjadi pria yang tampan. Sejak dia terkenal, sejak saat itulah aku sering melihatnya."
Olivia mengerutkan dahinya. "Jadi selama ini kamu ..."
"Aku hanya melihatnya dari TV, sosmed, iklan-iklan, dan ... Aku baru saja bertemu muka dengannya. Di tempat ini." Sela Ranti.
__ADS_1
Olivia menatap Ranti serius. Ia masih belum mengerti maksud sebenarnya dari ucapan Ranti.
"Putraku adalah ..." Ranti menghela napas dalam-dalam. Mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkap yang sebenarnya.
"Sebenarnya putraku adalah ... A ... Ax__" namun ucapan Ranti terhenti. Sebab tiba-tiba Shelly datang tanpa permisi.
Pintu ruangan Olivia ia buka lebar-lebar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Shelly datang dengan wajah panik luar biasa. Hingga membuat Olivia cemas seketika.
"Maaf Bu Olive." Ucap Shelly di sela napasnya yang tersengal.
"Kamu kenapa Shell? Kenapa panik begitu?" Tanya Olivia.
"Di luar ada banyak wartawan. Keadaan di luar kacau. Bukan hanya wartawan saja. Tapi ada banyak orang, mungkin fans nya Axelle yang kecewa. Mereka menuntut Axelle memberikan penjelasan. Tapi sebaiknya, Bu Olive lihat sendiri saja."
"Lalu Axelle dan Irene di mana?"
"Mereka ada di bawah. Hanya Pak Zaky yang keluar untuk menghadapi wartawan-wartawan itu."
"Iya, iya, baiklah. Maaf Ran, aku tinggal sebentar." Olivia pun bergegas keluar dari ruangannya bersama Shelly menuju lantai bawah.
.
Di lantai bawah tampak ada sedikit keributan. Banyak yang menyayangkan perbuatan Axelle sebagai publik figur yang memberi contoh tidak baik kepada para penggemarnya. Mereka menuntut Axelle dan Irene sebaiknya dipisahkan atau mungkin lebih baik keduanya di usir dari kota ini.
Axelle dan Irene duduk di sofa di sudut ruangan, diantara pakaian-pakaian yang dipajang di ruangan itu. Axelle tampak sedang menenangkan Irene.
Sementara di luar Galery, di depan pintu utama yang ditutup rapat dan di jaga oleh dua orang satpam. Zaky berdiri, menerima berbagai pertanyaan yang dilontarkan wartawan. Bahkan kadang ada dari penggemar yang melayangkan umpatan kekesalan.
"Itu tidak benar." Sahut Zaky singkat.
"Katanya mereka adalah pasangan selingkuh. Pacar Axelle yang sebenarnya adalah Clarissa. Ataukah ada persaingan antara Clarissa dan Irene? Karena Irene adalah model baru. Ataukah Irene hanya memanfaatkan Axelle demi kepentingannya?" Tanya seorang wartawan lain.
"Itu tidak benar." Ujar Zaky sekali lagi.
"Mereka berdua sangat tidak bermoral. Sebagai publik figur tidak seharusnya Axelle melakukan hal itu. Perbuatan mereka sangat memalukan. Apa susahnya menikah secara resmi, bukan malah berpura-pura seperti ini. Itu artinya mereka lebih senang berzina." Ujar salah seorang penggemar yang berada di tempat itu.
"Iya. Bikin malu saja. Lebih baik usir saja mereka dari kota ini." Ujar seorang lagi ikut menimpali.
"Itu semua tidak benar. Mereka bukan pasangan kumpul kebo. Mereka tidak berzina." Ujar Zaky lantang.
"Tidak berzina bagaimana. Lah pernikahan mereka itu hanya sandiwara. Mereka cuma nikah bohongan. Apa itu namanya bukan kumpul kebo?" Salah seorang warga pun turut menimpali.
"Apa maksud anda? Bukankah anda ini manajernya Axelle. Berarti anda tahu semuanya. Tolong berikan penjelasannya." Ujar salah seorang wartawan.
Zaky menghela napas sejenak. Sebelum akhirnya memberikan penjelasannya.
"Semua yang kalian tuduhkan itu tidak benar. Pernikahan mereka adalah pernikahan yang sah menurut hukum dan agama." Ujar Zaky.
"Mana buktinya?" Pinta salah seorang warga.
"Saya punya buktinya."
"Coba tunjukkan buktinya. Jika tidak ada buktinya, kami tidak percaya."
__ADS_1
"Saat ini saya memang tidak membawa buktinya. Tapi akan saya perlihatkan buktinya nanti."
"Alaaah ... Itu hanya akal-akalan kalian saja. Pasti kalian juga akan merekayasa buktinya kan?"
"Saya tidak berbohong. Saya punya semua bukti-buktinya. Tapi maaf, saat ini saya tidak membawanya."
"Alaaah ... Kami tidak percaya. Bilang saja kalau anda mau melindungi mereka berdua. Kalau seperti ini, lebih baik kita laporkan saja mereka. Biar mereka mendapat sanksi atas perbuatan mereka." Para warga tidak mudah mempercayai penjelasan Zaky.
"Iya, benar. Pasti. Buktinya juga hanya rekayasa. Bukti palsu. Lebih baik kita laporkan saja mereka."
Zaky menghembuskan napasnya kasar berkali-kali. Ia pikir bisa mengatasinya dengan mudah. Tapi nyatanya begitu sulit mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap Axelle. Kenapa juga ia malah tak membawa buktinya. Seharusnya ia sudah mempersiapkan ini sejak awal. Seharusnya ia bisa memperkirakan hal ini akan terjadi setelah pertemuannya dengan Clarissa beberapa jam lalu.
Tidak ada cara lain lagi. Ia harus menunjukkan bukti itu secepatnya. Semoga saja orang-orang percaya jika bukti yang akan ia tunjukkan nanti bukan rekayasa, melainkan bukti asli.
Sementara keadaan kacau, di seberang, dari balik jendela mobil, Clarissa memperhatikan semuanya. Ia terkejut mendengar Zaky berkata bahwa pernikahan Axelle dan Irene adalah pernikahan yang sah. Zaky bahkan berkata kalau dia memiliki buktinya.
Kini yang ada dalam benaknya adalah, apakah bukti itu memang benar ada. Atau itu hanya akal-akalan Zaky untuk melindungi Axelle dan Irene?
Clarissa menyeringai, hingga menampakkan kilatan amarah yang tertahan.
"Kamu tidak bisa dipercaya Zaky." Gumamnya geram. Sambil mengepalkan tinjunya kuat.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Aku harus bertindak cepat, sebelum semuanya terlambat. Akan aku rebut kembali apa yang seharusnya jadi milikku." Gumam Clarissa disertai seringai di wajahnya.
.
.
Sementara itu, di dalam Galery, Irene dan Axelle masih terduduk di sofa di sudut ruangan itu. Axelle mencoba meyakinkan Irene bahwa semua akan baik-baik saja. Keadaan akan kembali seperti semula. Situasi ini pasti akan teratasi. Dan mereka pasti bisa melaluinya bersama.
"Bos Axe, sepertinya Pak Zaky gagal meyakinkan warga." Ujar Boni yang tiba-tiba datang menghampiri.
Atensi Axelle dan Irene pun teralihkan.
"Maksud kamu?" Tanya Axelle.
"Pak Zaky sudah mengklarifikasi bahwa pernikahan Bos Axe dan Irene bukan sandiwara, tapi pernikahan resmi. Pernikahan yang sah. Tapi mereka tidak percaya dan malah meminta buktinya."
"Lalu?"
"Pak Zaky berjanji akan menunjukkan buktinya nanti. Tapi mereka tetap saja tidak percaya. Dan menganggap bukti itu juga pasti hasil rekayasa."
"Bukti? Bukti kamu bilang?"
"Iya. Bukti kalau pernikahan Bos dan Irene adalah pernikahan yang sah."
"Zaky benar bilang begitu?"
Boni mengangguk cepat. "Iya Bos."
Axelle terdiam. Memikirkan perkataan Boni. Apakah pernyataan Zaky itu memang benar, atau hanya akal-akalan Zaky saja? Axelle pun sungguh ingin tahu.
TBC
__ADS_1