Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 41


__ADS_3

Mendengar bualan Clarissa, sontak Zaky bangun dari duduknya. Lalu menatap tajam Clarissa. Sedangkan Clarissa justru memasang senyum sinis nya membalas tatapan Zaky.


"Aku benar-benar lelah. Sekarang kamu keluar. Aku mau istirahat." Tegas Zaky sembari menunjuk arah pintu.


Clarissa bangun dari duduknya. Bukan untuk menuruti perintah Zaky, melainkan semakin mendekati Zaky.


Zaky memalingkan wajahnya saat jemari lentik Clarissa mulai menyusuri parasnya. Sengaja Clarissa berpakaian minim hanya untuk menggoda Zaky. Bukan tanpa alasan, ia punya maksud dan tujuannya sendiri datang menemui Zaky.


"Kamu pasti bertanya-tanya, aku mengetahui hal ini dari mana. Mau aku beritahu satu hal lagi yang aku tau?" Clarissa seakan menantang Zaky.


"Mungkin image Axelle akan jatuh jika orang-orang tau tentang ini." Tambahnya.


Zaky menarik sudut bibirnya. "Kamu tau aku kan? Bisa saja keadaan justru akan berbalik. Hal yang bisa menjatuhkan Axelle, bisa aku buat menjadi hal yang menguntungkan bagi Axelle. Kamu paham maksudku?" Zaky tak gentar oleh ancaman Clarissa.


"Aku tidak akan mengungkap hal ini ke publik, tapi dengan syarat. Biarkan aku masuk manajemen mu." Tawar Clarissa sekali lagi.


"Silahkan pergi dari sini. Aku tidak punya waktu untuk ocehan konyol seperti ini." Titah Zaky tegas.


Clarissa pun akhirnya mulai melangkahkan kakinya menuju pintu. Namun sejenak ia kembali berbalik disertai ocehan konyol nya.


"Apakah seorang anak ha__" ucapan Clarissa terpotong.


"Baiklah." Sela Zaky cepat memotong ucapan Clarissa.


"Tapi jangan membuat kekacauan." Tambahnya.


Clarissa tersenyum lebar. "Thankyou Beb." Kemudian bergegas keluar dari apartemen itu.


Zaky menghempaskan tubuhnya di sofa. Membuang napas panjang. Lalu menyandarkan punggungnya. Pikirannya mulai melambung jauh, kembali ke beberapa tahun silam. Permintaan sang ayah masih terngiang jelas di telinganya.


"Dia adalah adikmu. Tolong jaga dia baik-baik. Hanya kamu satu-satunya yang dia miliki."


Zaky masih ingat betul beberapa tahun yang lalu, ayahnya pernah mengajaknya ke satu panti asuhan untuk menjemput seseorang. Seorang anak kecil, yang saat itu penampilannya sangat lusuh. Saat itulah sang ayah memberitahunya bahwa anak kecil itu adalah adiknya. Mereka lantas membawa anak itu serta ke luar negeri. Dan menyekolahkannya di sekolah yang sama dengannya.


Namun sayangnya, kehadiran anak itu tak diinginkan seseorang. Anak itu bagaikan aib baginya.


Ya.


Ibunya Zaky sama sekali tak pernah menganggap anak itu adalah anaknya. Wanita mana yang mau menerima seorang anak dari hasil perselingkuhan suaminya. Anak yang lahir di luar ikatan pernikahan yang sah.


Kasih sayang yang tak di dapatkan anak itu dari seorang ibu, yang membuat Zaky mengasihaninya. Akhirnya mau menerimanya sebagai adiknya. Dan menyayanginya selayaknya saudara.


.


.


Mentari pagi mulai meninggi. Irene terbangun, masih dalam dekapan hangat Axelle. Ia mengerjap, menatap nanar pada jam kecil di nakas. Pukul 07.00 pagi.


Perlahan ia menurunkan tangan Axelle yang melingkari pinggangnya. Lalu beringsut pelan, turun dari tempat tidur. Pelan ia menutup pintu kamar agar tak menimbulkan bunyi yang bisa membangunkan Axelle.


Sudah menjadi tugasnya menyiapkan sarapan untuk Axelle. Irene pun bergegas ke dapur. Ia lantas membuka kulkas. Detik itu juga ia dibuat terpukau oleh isi kulkas yang begitu lengkap dan tertata rapi. Ia bahkan sampai menganga. Setahunya, ia dan Axelle belum berbelanja bahan dapur. Lalu siapa yang membeli semua itu. Apakah Boni? Ataukah ...

__ADS_1


"Jangan kaget seperti itu." Suara Axelle mengagetkan Irene. Ia menutup kembali kulkas itu dan membuka lemari kitchen set. Hal yang sama pun ia dapati. Banyak bahan makanan siap saji yang telah tertata rapi.


"Kapan kamu belanja semua ini?" Tanya Irene penasaran.


Axelle menuang air dari ceret ke dalam gelas, lalu meneguknya sampai habis.


"Bukan aku yang beli."


"Boni?"


"Bukan."


"Lalu siapa?" Irene semakin penasaran.


"Zaky. Siapa lagi."


"Oh ya?" Irene sumringah. Membuat Axelle sedikit kesal melihat ekspresinya.


"Waaah ... Aku tidak menyangka, meskipun dia laki-laki tapi dia sangat memperhatikan nutrisi. Bahkan dia sangat pandai memasak. Dia terlalu sempurna sebagai laki-laki. Dia juga lumayan tampan."


Bukan sedikit kesal lagi, tapi sangat kesal. Bisa-bisanya Irene memuji Zaky di depannya seperti itu. Axelle tak henti-hentinya melayangkan tatapan tajamnya pada Irene. Pandangan matanya senantiasa mengikuti gerik Irene. Akan tetapi Irene tak menyadarinya. Irene masih saja mengoceh tentang Zaky.


"Betapa beruntungnya wanita yang bisa mendapatkan Zaky. Dia pasti akan menjadi seorang suami yang baik jika sudah menikah nanti. Suami yang sempurna."


Irene kembali membuka kulkas. Mengambil beberapa bahan dari dalam untuk menu sarapan mereka pagi ini. Ia lalu mengikat rambutnya tinggi, mencepolnya asal. Hingga menampakkan lehernya yang jenjang dan putih mulus. Dan pandangan Axelle masih mengawasi geriknya.


"Aku lihat di laci atas ada spaghetti, kapan-kapan aku akan meminta dia mengajariku cara memasak spaghetti." Tambahnya lagi hingga membuat Axelle semakin kesal.


"Axelle, apaan sih ..." Irene mendorong pelan kepala Axelle. Memintanya menghentikan aksinya yang nantinya malah akan melenceng kemana-mana.


"Berhenti memuji-muji Zaky." Ucap Axelle kesal tanpa melepaskan rangkulannya.


"Bukan memuji, aku hanya mengutarakan pendapatku tentang Zaky. Itu saja." Protes Irene.


"Tetap saja aku tidak suka. Kalau cuma masak spaghetti, aku juga bisa mengajarimu."


"Oh ya?" Sembari memutar tubuhnya berhadapan dengan Axelle. Sementara kedua lengan Axelle masih melingkari pinggangnya.


"Kenapa? Tidak percaya aku bisa masak spaghetti?"


Irene tersenyum. Ucapan Axelle terasa menggelitik hatinya. Bikin telur ceplok saja tidak bisa. Lalu bagaimana dia bisa memasak spaghetti?


"Mau aku ajari sekarang?" Tantang Axelle.


"Memangnya bisa?" Irene malah semakin menantang Axelle.


"Bisa dong." Axelle tak ingin terlihat seperti orang yang tidak bisa melakukan apapun di depan Irene.


"Coba."


"Boleh. Tapi sebelum itu ..." Diraihnya kedua tangan Irene. Ia lingkarkan tangan itu di pundaknya. Sembari menatap sendu penuh damba.

__ADS_1


"Begini cara memasak spaghetti?" Irene merasa Axelle hanya bermain-main saja. Axelle tidak serius dengan ucapannya. Buktinya, perlahan ia malah mulai mendekatkan wajahnya.


"Memasak spaghetti itu ada ritualnya." Kilah Axelle. Napasnya terasa memburu, menahan hasrat yang mulai bergejolak.


Astaga!


Tidak salah lagi kecurigaan Irene. Ternyata Axelle hanya mempermainkannya. Irene pun dibuat kesal. Namun tak bisa menolak saat tiba-tiba Axelle mendaratkan bibirnya. Memagutnya lembut, penuh perasaan.


Rencana memasak sarapan pagi pun jadi kacau. Axelle malah lupa diri. Sejak tadi ia berusaha menahan saat Irene menampakkan lehernya. Degup jantungnya semakin tak berirama. Axelle memagut bibir manis Irene semakin rakus. Dan Irene berusaha mengimbangi meski ia mulai dibuat kewalahan.


Axelle semakin menggebu, saat tiba-tiba ...


"Wow ... Pemandangan yang menakjubkan." Seru Boni yang sudah berdiri di seberang dengan wajah tercengang.


Seketika, Aksi Axelle pun terhenti. Lalu melepaskan rangkulannya dari Irene. Lalu berbalik dan menghampiri Boni.


"Lain kali, tutup matamu." Axelle mengusap wajah Boni yang tampak tercengang dengan mata melotot.


Sementara Irene membenahi rambut dan pakaiannya. Lalu memulai kembali kegiatannya yang sempat terhenti.


"Kok sarapannya belum siap sih Bos? Eike kan lapar." Sungut Boni sembari menarik satu kursi di depan Axelle.


"Kita pesan makanan saja."


"Bos sih ... Orang mau masak malah di gangguin. Jadinya begini kan? Nanti kita bisa terlambat ke lokasi nanti."


"Sudah, jangan cerewet. Pesan saja dari resto langganan. Ayo cepat." Titah Axelle kesal.


"Irene, tidak usah masak hari ini. Kita pesan saja dari luar." Seru Axelle. "Ayo kemari."


Irene menurut. Lalu beranjak ke meja makan dan mengambil duduk di samping Boni.


"Oh ya, apa Bos sudah membaca naskah yang baru?" Tanya Boni sambil jemarinya sibuk mengetik pesanan melalui aplikasi.


"Belum. Memangnya kenapa?"


"Kata sutradara, ada penambahan karakter."


Axelle mengernyit. "Oh ya? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?"


"Bos kemarin susah dihubungi. Eike juga baru dapat infonya."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan."


Axelle menghembuskan napasnya kasar. Lalu menggaruk kepalanya. Yang begini nih yang bikin Axelle kesal. Sutrada tak pernah memberikan konfirmasi jika ada penambahan karakter dalam film nya. Mana karakter tambahan adalah perempuan lagi. Ia hanya tak suka jika harus beradu akting dengan pendatang baru. Sebab akan membuat proses syuting semakin lama karena pengambilan gambar yang berulang-ulang. Ia lebih suka beradu akting dengan artis yang sudah berpengalaman.


Tapi mau bagaimana lagi. Ia sudah terlanjur tanda tangan kontrak. Mau tidak mau, ia hanya bisa menurut saja.


TBC

__ADS_1


__ADS_2