Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 69


__ADS_3

Axelle melangkah panjang dan tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit menuju  Unit Gawat Darurat. Dimana Irene kini tengah ditangani. Menyusul Boni di belakangnya, sambil melakukan panggilan telepon. Memberitahukan kecelakaan yang menimpa Irene kepada Zaky.


Sampai di depan UGD langkah Axelle terhenti. Napasnya tersengal. Axelle cemas, panik, dan takut luar biasa. Lantaran kehamilan Irene yang masih begitu rentan. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada kandungannya.


Berkat postingan seseorang di media sosial, yang memberitakan bahwa Irene kecelakaan, dari situlah ia mengetahuinya. Hingga secepat kilat ia membelah jalanan ibukota untuk sampai ke rumah sakit ini.


Di tengah kecemasannya, datang Bu Norma. Yang juga mengetahui keadaan Irene dari postingan seseorang yang telah dibagikan hingga ribuan kali. Orang-orang mengenalinya sebagai istri Axelle.


"Gimana keadaan Irene Nak?" Tanya Bu Norma cemas.


Axelle menggeleng. Disertai bulir-bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Aku tidak tau, Bu. Dokter belum juga keluar dari ruangan itu."


"Semoga Irene baik-baik saja. Gimana ceritanya dia bisa sampai kecelakaan?"


"Aku juga tidak tau. Aku sedang tidak ada rumah."


Tak berapa lama, pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan itu diikuti seorang perawat.


"Suster, Jangan lupa, pantau terus keadaannya. Oh ya, apa pihak keluarganya sudah dihubungi" Tanya dokter.


"Belum Dok."


Melihat dokter itu, cepat Axelle menghampirinya.


"Dokter, Dokter. Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Axelle cemas.


"Anda suaminya?"


Axelle mengangguk cepat. "Iya, saya suaminya. Istri saya sedang mengandung. Gimana dengan kandungannya Dok?"


Dokter itu tampak menghela napas panjang.


"Beruntung istri anda cepat di bawa ke rumah sakit. Tapi istri anda kehilangan banyak darah. Dan dia membutuhkan donor darah secepatnya."


"Do_donor darah?"


"Iya. Kebetulan di rumah sakit kami persediaan darahnya habis. Jadi istri anda membutuhkan pendonor secepatnya."


"Apa golongan darah istri saya?"


"Golongan darahnya O negatif. Dan hanya bisa menerima donor dari orang yang bergolongan darah sama."


Axelle pun terdiam sejenak. Bagaimana ia bisa mendapatkan golongan darah itu. Sementara ia sendiri golongan darahnya berbeda dengan Irene.


"Apa ada keluarganya yang lain? Misalnya ayah atau ibunya. Karena hanya mereka yang bisa menjadi pendonor. Jika tidak, mungkin ada yang bergolongan darah yang sama yang bisa jadi pendonor. Tapi mungkin, membutuhkan waktu lama mencari pendonornya. Sementara pasien sudah sangat membutuhkan pendonor."


"Lalu kandungannya bagaimana Dok?"


Raut wajah dokter itu terlihat suram.


"Kami minta maaf. Karena tidak bisa menyelamatkan bayinya. Istri anda keguguran akibat benturan keras di bagian perutnya. Itulah sebabnya kenapa pasien kehilangan banyak darah. Sekali lagi kami minta maaf."


Bagai tersambar petir di siang bolong. Detik itu juga Axelle kembali terdiam. Jantungnya serasa telah berhenti berdetak saat itu juga. Dadanya pun terasa kian sesak.


Tak tahu harus bagaimana, tak tahu harus berbuat apa. Seketika dunianya hancur lebur. Kini ia hanya bisa menyesali, kenapa ia meninggalkan Irene sendirian. Sebagai seorang suami, seharusnya ia selalu berada di dekat istrinya. Menemaninya, mendampinginya setiap saat.


Akan tetapi, siapa yang bisa menduga semua ini akan terjadi begitu cepat. Bahkan hanya dalam sekejap, impiannya hancur. Sirna tak berbekas.


"Maaf saya tinggal sebentar. Tolong secepatnya cari pendonor untuk pasien. Oh ya Suster, pantau terus kondisi pasien. Jika kondisinya memburuk, cepat beritahu saya."

__ADS_1


"Baik, Dok."


"Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter pun beranjak pergi.


"Suster." Panggil Axelle mencegah suster beranjak dari tempat itu.


"Iya."


"Apa boleh saya melihat keadaan istri saya?" Pinta Axelle.


"Boleh. Tapi jangan lama-lama. Karena pasien harus beristirahat." Kemudian suster pun beranjak dari tempat itu.


"Nak Axelle, gimana keadaan Irene?" Tanya Bu Norma menghampiri Axelle.


"Irene membutuhkan donor darah secepatnya." Jawab Axelle.


"Donor darah? Kalau begitu ambil darah Ibu saja. Ibu bersedia jadi pendonornya."


"Golongan darah Bu Norma O negatif?"


Bu Norma hanya bisa ternganga. Lalu menggelengkan kepalanya.


"Bos, gimana keadaan Irene Bos?" Tanya Boni sembari menghampiri. Boni pun tampak diliputi kecemasan.


"Bon, apa kamu bisa mencari pendonor untuk Irene?" Pinta Axelle meski tidak mungkin. Tapi apa salahnya jika mencoba. Jika mereka berusaha, pasti akan ada jalan keluarnya.


"Tapi gimana caranya?"


"Pakai cara apa pun. Bikin saja pengumuman kalau kita membutuhkan pendonor segera. Dan aku bersedia memberi imbalan berapapun."


"Ba_baik Bos." Boni pun mengambil ponselnya. Dan mulai mengerjakan perintah Axelle.


.


.


Olivia dan Ranti baru saja pulang ke rumah. Bersama mereka melangkah memasuki rumah besar nan megah itu.


"Aku tidak menyangka, ternyata Axelle itu adalah putramu. Padahal, aku sudah lama mengenalnya. Kadang takdir itu memang lucu ya." Ujar Olivia.


"Sekali lagi maaf ya Liv. Aku terpaksa menyembunyikan hal ini darimu. Aku hanya takut, jika Axelle tidak mau mengakui ku sebagai ibunya. Oh ya, aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan mu."


"Apa itu?"


"Sebenarnya, Axelle memintaku tinggal bersamanya. Aku tidak enak menyampaikan ini pada mu."


"Tidak apa-apa Ran. Axelle itu kan putra mu. Aku juga tidak berhak melarang kamu untuk tinggal bersamanya."


"Makasih loh Liv. Aku akan terus berdoa, agar secepatnya kamu menemukan putrimu."


"Makasih Ran." Ucap Olivia lesu.


"Oh ya, aku dan Axelle berencana mengunjungi panti asuhan tempat aku menitipkan Axelle dulu. Apa kamu mau ikut? Siapa tau saja itu bisa sedikit membantu menghibur kamu."


"Boleh. Panti asuhan mana?"


"Seingat ku nama panti asuhan itu Kasih Bunda kalau tidak salah."


"Kasih Bunda?" Olivia mengernyit.

__ADS_1


"Iya. Kamu tahu tempat itu?"


"Tidak. Hanya saja, kebetulan aku juga punya rencana mau ke sana."


"Oh ya? Kalau begitu sama-sama saja kita ke sana."


Olivia menyunggingkan senyumnya.


Sampai di ruang tengah, tampak salah satu ART tengah asik dengan ponselnya sambil mulutnya tak hentinya berbicara pada dirinya sendiri.


"Kasihan sekali dia. Semoga saja dia cepat mendapatkan pendonor. Sayang kan, suami setampan itu kalau harus ditinggal sendiri?" Gumam ART itu sambil pandangannya terfokus pada layar ponselnya.


Merasa penasaran, Olivia dan Ranti pun menghampiri ART itu yang sedang asik nangkring di sofa sambil bermain ponsel.


"Heboh sendiri. Ada apa Sum?" Tanya Ranti.


ART yang bernama Sumi pun tersentak kaget melihat majikannya tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.


"Eh Bu Ranti, Nyonya. Sudah pulang Nyonya?" Sumi bergegas bangun dan tampak salah tingkah.


"Memangnya pekerjaan kamu sudah selesai sampai kamu punya waktu duduk bersantai di sofa sambil main handphone seperti itu?" Kelakar Olivia.


Sumi pun tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuknya.


"A_anu Nya ... Be_belum sih. Saya sedang mencuci pakaian tadi. Dan saya menemukan ini di kantong bajunya Bu Ranti."  Ujar Sumi sembari menyodorkan sebuah kalung.


"Ini punya Bu Ranti kan?" Tanya Sumi.


"Oooh ... Bukan. Ini memang ada di kantong baju saya. Tapi bukan punya saya." Sembari meraih kalung itu dari tangan Sumi.


"Loh, trus itu punya siapa?"


"Kalung ini punya Irene."


Mendengar ucapan Ranti, saat itu juga Olivia terdiam. Tatapannya terpaku pada kalung di tangan Ranti. Sebuah kalung yang berinisial NJ.


Kalung itu seakan tak asing dimatanya. Sebab dulu ia memiliki kalung yang sama, sebelum kalung itu menghilang bersama putri semata wayangnya.


Kalung seperti itu ia pesan khusus di toko perhiasan langganannya. Dan inisial kalung itu juga mengingatkannya pada kalungnya yang berikan untuk putrinya.


Nadine Jovanka.


Inisial yang sama. Dan kalung yang sama.


"I_itu kalung siapa Ran?" Tanya Olivia ingin memastikan.


"Ini punya Irene. Aku menyimpannya saat pemotretan kemarin. Karena kita sudah menyediakan aksesoris tersendiri, jadi aku meminta Irene melepas sebentar kalungnya. Tapi aku malah lupa mengembalikannya." Jawab Olivia sembari tersenyum kecil. Lantaran ia merasa sudah mulai pikun. Kalung menantunya saja ia sampai lupa mengembalikannya.


Olivia pun semakin terpaku di tempatnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Dadanya pun mulai terasa sesak. Jadi, perasaannya selama ini terhadap Irene itu tidak salah. Jika itu kalung Irene, itu artinya Irene adalah ...


"Tadi kamu heboh sendiri, ada apa Sum?" Tanya Ranti penasaran, hal apa gerangan yang membuat Sumi komat-kamit sendiri sejak tadi.


"Oooh ... Ini Bu Ranti. Lagi heboh di medsos. Bu Ranti kenal Axelle kan? Artis terkenal itu?"


"Iya. Memangnya ada apa dengan Axelle." Sembari mengerutkan dahinya.


"Istrinya kecelakaan. Dan membutuhkan donor darah secepatnya."


"Apa?" Seketika Ranti dan Olivia pun terperanjat kaget. Bahkan shock.

__ADS_1


TBC


__ADS_2