Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 56


__ADS_3

Di depan Olive Galery, Zaky sudah bersiap membuka pintu mobil. Namun dikagetkan oleh kehadiran seseorang. Yang entah darimana datangnya, tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya dan menyapanya lembut.


"Hai ... Kenapa buru-buru?" Sapa Clarissa.


Zaky pun menoleh ke belakang. Lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan Clarissa yang memandanginya dengan senyum merekah.


"Kenapa buru-buru sekali? Temani aku ngobrol dulu dong." Ujar Clarissa.


Zaky tersenyum miring. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Kamu hanya membuang-buang waktuku saja."


"Oh ya? Kira-kira jika aku katakan sesuatu tentang gadis kampungan itu, apa kamu masih tidak tertarik?"


Zaky mengernyit. "Maksud kamu?"


Clarissa maju beberapa langkah lebih mendekati Zaky. "Ada sesuatu yang terjadi antara Axelle dan gadis kampungan itu."


"Sudahlah. Kamu hanya membuang-buang waktuku saja."


"Yakin kamu tidak mau tau?"


"Cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu."


"Akan aku katakan, tapi nanti. Kita bicara di tempatmu saja. Aku akan datang ke tempatmu jam tujuh malam. Oke?"


Zaky menggelengkan kepalanya. Menganggap Clarissa hanya membual saja.


"Kamu sudah membuang waktuku." Zaky pun bergegas naik ke mobilnya. Lalu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Olive Galery.


Di tempatnya, Clarissa masih berdiri dengan senyum sinisnya.


"Anggap saja aku hanya membuang waktu mu. Tapi setelah hal ini terkuak ke publik, akan aku lihat, apakah kamu dan Axelle masih bisa tidur nyenyak." Sinis Clarissa. Kemudian beranjak memasuki Olive Galery.


.


Olivia sedang berkonsentrasi dengan gambar yang sedang ia buat. Akan tetapi, konsentrasinya buyar akan kedatangan seseorang yang tak ia harapkan sama sekali.


"Apa kabar Bu Olive. Lama kita tidak bertemu." Sapa Clarissa tanpa permisi. Bahkan tanpa dipersilahkan sebelumnya, ia langsung mengambil duduk begitu saja di depan Olivia. Duduk dengan berpangku kaki dan meletakkan tas branded nya sembarangan di meja kerja Olivia.


Olivia membuang napasnya kasar, sembari memalingkan wajahnya sejenak. Sebelum akhirnya menjawab datar sapaan Clarissa.


"Langsung saja, apa maksud kedatangan mu kemari. Kamu lihat sendiri kan, saya sedang sibuk. Saya tidak punya waktu melayani obrolan yang tidak berguna." Tandas Olivia tanpa basa-basi lagi. Sebab ia telah  kehilangan simpati nya terhadap Clarissa.


"Saya perhatikan Bu Olive sepertinya makin sukses saja."


"Makasih."

__ADS_1


"Saya lihat Bu Olive punya model baru. Kalau boleh tau, modelnya dari agensi mana?"


"Saya rasa itu bukan urusan kamu."


"Tapi sepertinya ada sesuatu yang Bu Olive tidak tau tentang model kampungan itu."


"Jaga bicaramu Clarissa."


"Saya hanya ingin memberitahu Bu Olive, sebelum Bu Olive nantinya yang akan dirugikan."


"Apa maksud kamu?"


Clarissa menurunkan kakinya yang berpangku, diraihnya tas branded di atas meja, lalu bergegas bangun dari duduknya. Tanpa menghiraukan Olivia yang merasa penasaran dengan apa yang ingin diberitahukannya, ia lantas beranjak meninggalkan ruangan Olivia. Namun dengan cepat Olivia menghentikan langkahnya.


"Tunggu Clarissa." Olivia pun bangun dari duduknya. Dan melangkah menghampiri Clarissa yang sudah berada di depan pintu, dan bersiap memutar handel pintu.


"Katakan apa maksud kamu. Apa yang kamu tahu tentang Irene." Olivia berpikir, mungkin ia bisa mendapatkan informasi lain mengenai identitas Irene.


Clarissa tersenyum sinis. "Bu Olive sungguh ingin tahu?"


"Apa yang mau kamu beritahu ke saya."


"Saya akan beritahu, tapi dengan satu syarat."


"Axelle dan Irene bukan sepasang suami istri." Ujar Clarissa tiba-tiba. Hingga Olivia pun menghentikan langkahnya. Lalu kembali berbalik berhadapan dengan Clarissa yang memandanginya dengan tatapan sinis.


"Apa maksud kamu? Apa kamu mau memfitnah mereka?" Olivia tidak mempercayai ucapan Clarissa begitu saja.


"Sebaiknya Bu Olive berpikir dua kali memakai model pembohong seperti itu. Sekarang hanya ada dua pilihan. Dan itu terserah Bu Olive. Mau tetap memakai gadis kampungan itu atau menggantinya. Karena bisa saya pastikan, tidak lama lagi publik akan mengetahui sandiwara pernikahan mereka." Clarissa berusaha menggoyahkan pendirian Olivia. Dan berusaha membuat Olivia kehilangan kepercayaan dan simpatinya terhadap Irene.


Olivia terdiam sejenak. Menelaah setiap kalimat yang terlontar dari mulut Clarissa. Ada rasa tidak percaya mendengarnya. Namun rasa penasarannya akan identitas Irene masih begitu besar. Hingga Olivia tak ingin mempercayainya begitu saja. Sebab bisa saja Clarissa hanya berusaha memprovokasinya demi menjatuhkan nama baik Irene.


"Jangan coba-coba mempermainkan saya. Saya bukan orang yang mudah ditipu. Apalagi oleh orang seperti kamu. Dengar ya Clarissa ... Saya mau memakai siapapun menjadi model brand saya, itu urusan saya.


Salahmu sendiri memutuskan kontrak kita begitu saja hanya demi mimpi kamu berkarir di negeri orang. Lalu, apa saya harus menunggu kamu pulang untuk meluncurkan produk baru? Tidak kan? Dan sudah menjadi keputusan yang tepat untuk memakai model lain, ketimbang memakai model yang tidak profesional dan tidak punya etos kerja." Tandas Olivia panjang lebar yang mulai tak suka dengan cara murahan Clarissa untuk menjatuhkan orang lain.


"Terserah Bu Olive percaya atau tidak. Tapi satu hal yang perlu Bu Olive tau, tidak akan mungkin Bu Olive bisa menggunakan model yang sedang hamil untuk waktu yang lama. Karena lama-kelamaan, perutnya itu akan semakin membesar."


Olivia pun tersentak. Ia masih belum bisa mempercayai ucapan Clarissa. Mana mungkin Irene sedang hamil sekarang. Sementara pernikahannya dengan Axelle, kata Clarissa hanyalah sandiwara.


Clarissa tertawa sinis. "Mana ada gadis baik-baik yang suka kumpul kebo. Pelacur saja masih lebih bermartabat dibanding gadis kampungan itu." Lalu bergegas keluar dari ruangan Olivia. Tanpa mempedulikan Olivia yang masih berdiri mematung di tempatnya lantaran shock mendengar ucapan Clarissa.


"Mana mungkin Irene seperti itu. Clarissa pasti berbohong. Dia hanya iri karena posisinya sudah digantikan oleh Irene." Gumam Olivia lirih berusaha menepis kabar tak sedap itu. Ia sungguh berharap ini hanyalah fitnah Clarissa.


Jika memang ini benar adanya, mengapa Irene tak jujur padanya dan memilih menyembunyikan hal ini darinya. Lalu hal apa gerangan yang melatar belakangi Irene mau bersandiwara sebagai istri Axelle. Apakah Irene butuh popularitas? Ataukah Irene melakukannya demi uang? Sungguh ia tak menyangka gadis sepolos Irene melakukan hal serendah itu.

__ADS_1


.


.


Sementara itu Irene dan Axelle memilih menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di taman, berdua, sambil bergandengan tangan. Sementara beberapa pengunjung tampak sedang mengabadikan gambar keduanya dengan kamera ponsel mereka. Bahkan beberapa ada yang meminta berfoto bersama.


Setelah melayani beberapa fans untuk berswafoto, Axelle dan Irene pun memilih duduk di sebuah bangku kecil di taman itu, di bawah pepohonan rindang.


"Ternyata jalan-jalan berdua seperti ini sangat menyenangkan. Apalagi jalan-jalannya bersama kamu." Gombal Axelle.


Irene tertawa kecil mendengarnya.


"Kok malah tertawa? Eh, aku serius." Sungut Axelle yang merasa Irene sedang meledeknya.


"Memangnya kamu belum pernah jalan-jalan seperti ini? Hal seperti ini saja kamu tidak pernah melakukannya?"


"Bukan tidak pernah. Tapi tidak lagi. Sejak aku pindah ke luar negeri. Aku ingat, dulu waktu kecil, aku punya teman yang super imut. Setiap malam kami selalu duduk di taman sambil menghitung bintang-bintang. Selebihnya aku lupa dengan masa kecilku. Hanya itu saja yang bisa aku ingat."


"Teman kamu itu perempuan atau laki-laki?" Irene mengerutkan dahi. Mungkin hanya perasaannya saja, sebab kenangan masa kecilnya sama persis dengan yang diceritakan Axelle. Atau jangan-jangan ...


Tidak!


Tidak mungkin!


Kata Bu Norma, teman masa kecilnya sudah diadopsi. Dia mungkin sekarang sudah hidup berbahagia dengan orang tua yang mengadopsinya. Mana mungkin itu Axelle. Sebab Axelle hidup sebatang kara.


Irene mencoba menepis prasangka yang tiba-tiba datang mengganggu.


"Anehnya, setiap kali aku menatap langit malam, bayangan gadis kecil itu selalu saja datang mengganggu." Ujar Axelle.


"Oh ya? Siapa namanya?"


"Aku lupa. Yang aku ingat dia itu sangat lucu. Sama persis seperti kamu." Ujar Axelle gemas sembari mencubit kedua pipi Irene.


"Awww! Axelle sakit." Rengek Irene sambil mengusap pipinya begitu Axelle melepaskan cubitannya.


"Oh ya, apa kamu tidak lapar? Aku sangat lapar sekarang. Kita cari makan dulu yuk." Ajak Axelle sembari bangun dari duduknya. Irene pun bangun. Dan menggandeng lengan Axelle.


Bersama mereka hendak melangkah, namun sesosok yang tiba-tiba saja telah berdiri di hadapan, membuat mereka mengurungkan niatnya.


Zaky memandangi Axelle dan Irene bergantian dengan tatapan kurang menyenangkan. Lalu pandangannya bergulir ke pergelangan tangan Irene yang tampak polos, tanpa perhiasan apa pun. Kecuali cincin pernikahan di jari manisnya. Lalu kemana jam tangan mewah pemberiannya?


"Kalian mau kemana?" Tanya Zaky.


TBC

__ADS_1


__ADS_2