Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 44


__ADS_3

Zaky menarik sudut bibirnya. Menganggap Axelle hanya sekedar bercanda. "Axelle, kamu lupa siapa yang membuat kalian berada dalam ikatan itu? Ikatan kalian tidak nyata."


"Aku mencintainya." Tegas Axelle tanpa basa-basi lagi. Hingga Zaky pun tertegun dan terpaku menatap Axelle yang tampak serius dengan ucapannya.


Tanpa menunggu tanggapan Zaky, Axelle langsung menarik pergelangan tangan Irene. Mengajaknya keluar dari ballroom hotel. Zaky hanya bisa memandangi kepergian mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.


Sementara di seberang, Clarissa tengah memperhatikan dengan raut wajah yang sulit diartikan. Seakan tengah menahan amarahnya setengah mati. Rahangnya tampak mengetat, tatapannya begitu tajam.


Akhirnya, Zaky pun memilih meninggalkan ballroom setelah berpamitan dengan Olivia serta menyampaikan permintaan maafnya. Sebab Irene telah lebih dulu meninggalkan ballroom. Hingga Olivia pun tak bisa bertemu Irene.


.


Sampai di rumah, Irene kesulitan berjalan menggunakan high heels. Lantaran ia belum terbiasa menggunakannya dalam waktu lama. Hingga jalannya pun sedikit terseok-seok. Sampai tiba-tiba, tubuhnya terangkat. Melayang di udara. Ia terkejut, cepat memalingkan wajahnya. Dalam sekejap, wajahnya telah berada dekat dengan wajah Axelle.


Axelle mengangkat tubuh Irene ala bridal. Lalu membawanya ke sofa, mendudukkannya di sana. Kemudian ia berjongkok, mulai melepas high heels dari kaki Irene.


"Kamu tidak perlu melakukan ini. Aku bisa melepasnya sendiri." Tolak Irene halus. Namun telat, hells telah terlepas dari kakinya.


Axelle lantas mengambil duduk di sebelah Irene. Mengamati tampilan Irene yang sejak tadi begitu menggodanya. Dress hitam bertali, dengan punggung yang sedikit terekspose. Membuatnya menelan saliva susah payah berkali-kali. Jiwa lelakinya yang tenang pun terusik. Irene sungguh cantik dalam balutan busana itu.


"Kamu pergi bersama Zaky tadi?" Tanya Axelle tiba-tiba.


"Iya. Bu Olive memintanya menjemputku."


"Kamu kan bisa naik taksi."


"Iya sih. Tapi aku tidak enak hati. Zaky sudah jauh-jauh kemari datang menjemputku. Masa aku tolak begitu saja. Lagipula dia itu kan manajer kamu."


"Jauh apanya. Tempat tinggalnya tidak jauh kok dari sini." Axelle mulai tampak kesal.


"Maaf."


"Kamu ..." Axelle kembali menelan saliva. Sembari melirik punggung mulus Irene.


"Masalah kamu dengan Clarissa gimana? Aku jadi tidak enak hati padanya. Gara-gara aku hubungan kalian jadi renggang." Sembari menoleh, menatap Axelle.


"Maaf, aku sudah jadi penyebab keretakan hubungan kalian." Ucap Irene dengan polosnya.

__ADS_1


"Bukan salah kamu. Sebenarnya sudah lama hubungan kami renggang. Karena keegoisan masing-masing. Bukan karena kamu."


"Iya. Tapi tetap saja aku__"


"Ren, stop membahas soal aku dan Clarissa. Sekarang, hanya ada aku dan kamu. Kenapa kita tidak membahas hubungan kita." Sela Axelle cepat. Sebab tak ingin lagi Irene mengungkit masa lalunya.


"Maksud kamu?"


Axelle mengulas senyum tipisnya. Sembari tatapannya mulai menelisik lekuk paras Irene. Menatapnya sendu namun penuh damba. Hatinya yang semula baik-baik saja, kini berdebar-debar. Jantungnya yang semula berdetak seirama, kini mulai tak berirama. Jantung itu berdetak lebih kencang. Laksana genderang yang bertalu-talu.


Lautan yang semula tampak tenang itu pun, kini terusik ombak yang bergulung. Ibarat angin kencang yang bertiup, pesona Irene malam ini membuat hasrat di jiwanya kembali bergejolak. Ia tak mampu menahan angin yang berhembus kencang. Ia tak mampu menenangkan badai.


Hingga perlahan, tangannya mulai terulur. Jemari kokoh nya mulai menyentuh wajah Irene, membelainya lembut. Napasnya mulai terasa sesak. Lantaran hasrat yang kian membuncah.


"Axelle ..." Racau Irene saat Axelle mulai membenamkan wajah di ceruk lehernya. Mengecupnya lembut di sepanjang leher. Sementara satu tangan Axelle mulai melepas ikatan tali di punggungnya. Irene menengadah saat Axelle terus melakukan aksinya.


"Axelle, stop." Irene tersentak saat Axelle mulai menurunkan gaunnya yang tanpa lengan. Ia bahkan tak mengenakan kain berenda penyangga dua asetnya saat ini.


Axelle pun menghentikan aksinya ditengah napas yang masih memburu. Menatap Irene penuh damba dengan hati berdebar kencang.


"Kenapa? Kamu menolakku? Aku sudah bilang, aku tidak suka jika kamu menolakku seperti ini."


"Kamu meragukan ku? Aku mencintaimu Ren. Sangat mencintaimu. Haruskah aku buktikan padamu?" Axelle tampak kecewa dengan penolakan Irene.


Irene menggeleng pelan. "Bukan. Bukan itu maksudku. Aku hanya ..." Mungkin itu hanya perasaan Irene saja. Melihat kesungguhan Axelle, ia pun jadi tak tega.


"Maaf. Maafkan atas sikapku." Ucap Irene lirih.


Axelle menghembuskan napasnya lega. Lalu menarik pergelangan Irene, membawa Irene duduk di pangkuannya. Irene pun melingkarkan kedua lengannya di pundak Axelle. Axelle lantas meraih tengkuk Irene, memagut bibir Irene lembut. Irene tak ingin membuat Axelle kecewa. Dengan berani ia membalas setiap lum *atan Axelle. Bahkan ia kembali menengadah saat Axelle perlahan mulai menurunkan kecupannya menyusuri leher jenjangnya. Irene pun tak menolak saat Axelle mulai rakus memberikan kecupan di dua asetnya, bahkan menyesapnya dalam-dalam.


Lenguhan lembut yang lolos dari mulut Irene membuat Axelle semakin terbakar gairah. Ia semakin bersemangat mencumbu Irene dalam pangkuannya.


"Axelle ..." Racau Irene lagi saat Axelle mulai melepas seluruh gaunnya.


Seakan tahu maksud Irene, Axelle pun kembali mengangkat tubuh Irene ala bridal. Membawanya naik menuju kamarnya di lantai dua.


Perlahan Axelle membaringkan Irene di tempat tidurnya. Buru-buru ia menanggalkan satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya. Lalu bergegas naik ke tempat tidur. Mengungkung tubuh Irene, menguncinya sempurna di bawahnya. Lalu kembali ia melancarkan aksinya. Menyatukan diri, membawa Irene terbang melayang menuju puncak asmara.

__ADS_1


Malam semakin merangkak, peluh kian deras bercucuran. Napas memburu, erangan saling bersahutan, membuat keduanya semakin berlomba dan berpacu mencapai puncaknya. Tak peduli peluh yang bercucuran, tak peduli raga yang lelah. Sampai erangan panjang pun terdengar, kala puncak asmara diraih.


Di tengah napasnya yang masih memburu, tersengal lantaran kelelahan. Axelle tersenyum puas, lalu mengecup lembut kening Irene. Sembari berucap lirih nan merdu. "Aku sangat mencintaimu."


Irene pun mengulas senyum manisnya. "Aku juga mencintaimu."


"Hanya seperti itu?"


"Sangat. Sangat mencintaimu." Ucap Irene mengulangi lagi kalimatnya.


"Apa boleh aku meminta satu hal darimu?"


Irene mengangguk pelan. "Boleh."


"Jangan tinggalkan aku. Hanya kamu yang aku miliki. Aku mungkin tidak akan sanggup bila tidak ada kamu di sisiku." Ungkap Axelle sepenuh hati. Membuat Irene tak kuasa menahan butiran air mata yang mulai luruh dari pelupuk matanya.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Aku sudah menyerahkan segalanya untukmu. Aku takut suatu hari nanti kamu akan pergi meninggalkanku." Akhirnya Irene pun mengungkap kecemasannya yang selalu membuatnya resah.


"Kamu percaya padaku?"


"Entahlah."


"Jangan seperti itu. Percayalah padaku. Sampai kapanpun, aku tidak akan meninggalkanmu. Hm?"


Irene kembali tersenyum manis. Satu kecupan lembut pun kembali mendarat di keningnya. Berharap semua ini bukanlah mimpi. Hatinya tak henti berharap, semoga aral tak kan melintang hingga membentangkan jarak yang memisahkan. Semoga hubungan mereka akan berjalan seperti apa yang diimpikan.


Setelah bersih-bersih, keduanya pun tidur dengan saling mendekap. Menyatukan rasa yang semakin syahdu. Mengarungi malam dengan sejuta mimpi indah.


Good night!


TBC


***Gimana? Masih kurang🤭🤭


Tetap semangat ya reader. Semoga semangat reader nular ke author☺️


Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Kasih bunga tang banyak biar author makin semangat update☺️

__ADS_1


Ngarep aja nih author gaje🤭***


__ADS_2