Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 73


__ADS_3

Irene masih enggan memalingkan wajahnya. Bola matanya masih setia menatap Axelle lekat-lekat. Ia berharap Axelle tidak serius dengan ucapannya.


"Irene ..." Panggil Olivia lirih, saat isak tangisnya mulai mereda.


Irene tak menoleh sedikitpun.


"Nadine ..." Panggil Hadi.


Namun Irene masih saja enggan berpaling.


"Ren ... Aku tau, kamu sangat merindukan orang tuamu. Walaupun kamu tidak pernah mengatakannya, tapi aku tau, kamu ingin bertemu dengan orang tuamu." Tutur Axelle lembut sambil mengelus puncak kepala Irene. Lalu mengurai senyum manisnya.


"Dengar, kamu pernah berkata seperti ini padaku ... Jangan sampai kamu menyesal nanti. Mungkin sudah saatnya Tuhan mempertemukan kalian. Hilangkan prasangka buruk di hatimu. Sama seperti orang tuaku, orang tua kamu pun pasti punya alasan tersendiri. Yang kadang sulit kita pahami. Hm? Jadi, jangan sampai kamu menyesal." Tambahnya.


Irene tertegun mendengar ucapan Axelle yang begitu bijak. Dalam sekejap mampu membuat hatinya tersentuh. Dan apa yang dikatakan Axelle itu ada benarnya.


Mungkin memang, inilah saatnya Tuhan mempertemukannya dengan orang tua yang begitu dirindukannya. Orang tua yang tak pernah ada untuknya.


Mungkin juga, Tuhan memberi kesempatan kepada orang tuanya untuk menebus kesalahannya di masa lalu.


"Irene ... Ma_maafkan Mama." Ucap Olivia lirih. Dengan hati pilu. Air matanya kembali berderai.


Hadi pun mencoba menenangkannya dengan mengusap lembut punggungnya. Namun justru tangisnya malah semakin menjadi.


Mendengar tangis Olivia, akhirnya Irene pun menoleh. Memandangi Olivia yang semakin terisak dalam tangisnya.


Dengan sisa tenaga yang ada, Irene mencoba bangun dengan dibantu Axelle untuk duduk menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Dilepasnya selang oksigen yang terpasang di hidungnya.


"Jangan di lepas Ren." Cegah Axelle.


"Aku sudah tidak apa-apa." Sembari mengulum senyum tipis. Ada rasa bahagia dihatinya atas perhatian Axelle. Kembali ia menoleh, memandangi Olivia dan Hadi bergantian.


"Bu Olive ..." Panggil Irene.


Olivia mengangkat wajahnya, lalu menghapus air mata di pipinya.


Irene menghela napas sebentar. Lalu menghembuskannya perlahan. Jujur ia masih belum bisa percaya bahwa Olivia adalah ibu kandungnya.


"Benarkah anda ibu kandung saya?" Tanya Irene lirih.


Olivia mengangguk cepat mendengar pertanyaan itu. Hadi kembali mengusap punggungnya.


"Bagaimana saya bisa percaya?"


Bergegas Olivia membuka tas nya dan merogoh sesuatu dari dalam sana. Sejurus kemudian, sebuah foto bayi perempuan mungil dan sebuah kalung berada di tangannya. Foto dan kalung itu ia sodorkan ke tangan Irene.


Irene menerimanya dengan kernyitan di dahinya. Diamatinya foto dan kalung itu baik-baik. Meski ia sendiri masih tak bisa mempercayainya.


Sementara Axelle dan Zaky menyaksikan. Dengan perasaan yang sama. Sama-sama penasaran, sama-sama ingin tahu. Jika benar pria dan wanita paruh baya yang berdiri di seberang itu adalah orang tua kandung Irene. Dan jika memang benar, itu artinya Irene bukan orang sembarangan. Dia adalah putri seorang produser nomor satu di negeri ini dan juga putri seorang desainer ternama.


"Itu adalah foto kamu saat kamu masih berusia tiga bulan. Dan itu adalah kalung kamu yang kamu titip ke Bu Ranti saat pemotretan beberapa hari lalu. Mama mengenali kamu dari kalung itu. Dan inisial yang ada di kalung itu adalah inisial nama kamu. Nadine Jovanka." Terang Olivia menjawab pertanyaan Irene.


"Nadine ... Papa juga minta maaf sama kamu." Ujar Hadi dengan nada pelan.

__ADS_1


"Sejujurnya, selama bertahun-tahun Mama dan Papa terus mencari keberadaan kamu. Kamu hilang waktu kamu masih berusia tiga bulan." Tambahnya.


Irene pun menyimak dengan seksama apa yang disampaikan Hadi.


Olivia lalu mengambil duduk di tepian tempat tidur. Perlahan diraihnya jemari Irene ke dalam genggamannya. Ditatapnya lembut sepasang mata Irene yang menatapnya dingin.


"Mama benar-benar minta maaf sama kamu. Mama akui semua ini kesalahan Mama. Mama yang tidak bisa menjagamu dengan baik saat itu. Sekali lagi Mama minta maaf sudah membuat hidup kamu menderita." Ucap Ranti lembut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Mengingat saat itu menghadirkan kembali rasa bersalah Olivia terhadap putri semata wayangnya. Saat itu, sore hari, ia membawa Irene kecil berjalan-jalan di taman dengan menggunakan kereta bayi.


Saat itu, ada seorang anak kecil yang hampir saja tertabrak pengendara motor. Karena ia yang berada paling dekat, ia lantas bergegas menolong anak kecil itu. Saat ia kembali hendak mengajak Irene kecil berjalan-jalan, ia malah mendapati kereta bayinya dalam keadaan kosong. Irene kecil tidak ada dalam kereta bayi tersebut.


Seperti orang gila, Olivia histeris dan terus mencari-cari keberadaan putrinya. Hingga ia pun menyimpulkan kalau putrinya diculik. Ia sudah melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwajib. Bahkan sudah memasang iklan dimana-mana. Namun sayangnya tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan putrinya.


"Jujur, saat pertama kali melihat kamu, Mama merasa seakan sudah sangat mengenalmu. Ada perasaan yang tidak bisa Mama ungkapkan saat itu. Setiap kali melihat kamu, ada rasa rindu di hati Mama. Mama sudah punya firasat kalau kamu adalah putri Mama. Tapi saat itu Mama tidak punya bukti yang bisa menguatkan firasat Mama." Tambahnya.


Irene menatap Olivia intens. Sejujurnya, ia masih sulit mempercayainya. Akan tetapi, melihat kesungguhan Olivia, perlahan ia mulai percaya. Bahkan ia memaksa hati untuk bisa menerimanya. Seperti kata Axelle, jangan sampai ia menyesal nanti.


Mungkin ini saatnya Tuhan mengganti penderitaannya dengan kebahagiaan yang diimpikannya. Selama ini ia hanya bermimpi, punya kehidupan seperti orang lain. Yang hidup bahagia di tengah-tengah keluarga yang mencintainya setulus hati.


"Sekali lagi Mama minta maaf sama kamu." Lirih Olivia dengan air mata yang kembali berderai.


Melihat Olivia bersungguh-sungguh dengan ucapannya, bahkan setulus hati meminta maaf. Akhirnya Irene pun menganggukkan kepalanya, sembari mengurai senyumnya.


"Ka_kamu memaafkan Mama?" Olivia bahkan tak percaya saking terharu Irene menerima permintaan maafnya. Deraian air matanya semakin deras membasahi pipinya.


"Maafkan aku Ma." Ucap Irene lirih akhirnya.


"Kamu bilang apa tadi?" Olivia semakin terharu mendengar Irene memanggilnya Mama.


"Iya, Mama memaafkan kamu. Mama tidak marah walaupun kamu membenci Mama. Bolehkah Mama memeluk kamu?"


Irene mengangguk disertai air mata yang mulai berlinang. Cepat ia menghambur ke pelukan Olivia. Menumpahkan tangis kerinduan dalam pelukan ibunya.


Hadi yang ikut terharu menyaksikan pemandangan itu pun memilih lebih mendekat. Diusapnya lembut punggung Irene. Sekedar memberi ketenangan dan kehangatan melalui sentuhan lembutnya.


Sementara Axelle dan Zaky yang menyaksikan pemandangan itu pun ikut terharu dan bahagia. Akhirnya Irene bisa bertemu kembali dengan orang tua kandungnya.


Akhirnya Irene mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Yang sebelumnya ia mengira bahwa ia hanyalah seorang anak yatim piatu. Yang mungkin kelahirannya tidak diinginkan.


Namun nyatanya, ia adalah putri yang begitu berharga bagi kedua orang tuanya. Sungguh ia sangat bahagia. Kebahagiaanya tak mampu ia lukiskan dengan kata-kata. Kebahagiaan yang bertahun-tahun lamanya ia impikan.


Setelah Olivia melepas pelukannya, kini berganti ia menghambur ke pelukan ayahnya. Sambil menangis tersedu-sedu.


"Maafkan Papa Nak. Papa sangat bersalah padamu." Ucap Hadi ditengah rasa haru yang mewarnai.


"Papa ..." Ucap Irene lirih dalam pelukan ayahnya.


Malam itu, tangis haru terdengar memenuhi ruangan itu. Pertemuan kembali keluarga kecil yang sempat terpisah hingga bertahun-tahun lamanya menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Semoga saja ini menjadi awal yang baik bagi mereka.


.


.

__ADS_1


Setelah saling menumpahkan rindu, Olivia mengantar Hadi sampai ke tempat parkir. Tangan Hadi telah bersiap membuka pintu mobil.


"Hati-hati di jalan." Ucap Olivia.


Mendengar ucapan Olivia, Hadi pun menurunkan kembali tangannya. Lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan Olivia yang tertunduk, seakan tak ingin melihat kepergian mantan suaminya itu.


"Liv ... Aku ..." Hadi ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi lidahnya terasa kelu.


"Pulanglah. Istri dan putrimu sedang menunggu." Ujar Olivia masih dengan wajah tertunduk.


"Aku sudah bilang, Clarissa bukan putriku. Putriku hanya Nadine."


"Sudahlah. Aku tau kenapa kamu tidak mau mengakui Clarissa. Sudah bertahun-tahun lamanya, seharusnya kamu bisa menerima mereka sebagai istri dan anakmu."


Hadi menyeringai tipis.


"Clarissa memang bukan putriku. Kamu tidak tau apa-apa tentang Gina. Saat aku menikahinya, dia sudah dalam keadaan hamil. Mana mungkin anak dalam kandungannya itu adalah anakku, sedangkan aku tidak pernah menyentuhnya."


"Liv ... Jika di beri kesempatan, aku ingin kita berkumpul kembali seperti dulu. Aku, kamu, dan Nadine, putri kita." Ujar Hadi bersungguh-sungguh.


"Lalu istri dan anakmu mau kamu kemanakan? Kamu mau mencampakkan mereka?"


"Sebenarnya sudah lama aku ingin menceraikan Gina."


Olivia pun tertegun. Perlahan ia mengangkat wajahnya. Ia tatap Hadi dengan seksama. Ia terkejut mendengar ucapan Hadi yang seakan tak peduli pada istri yang telah bertahun-tahun lamanya mendampinginya.


Jika Hadi serius dengan ucapannya, ia harus berbuat apa. Ia hanya tak ingin kembali dikatai sebagai perebut suami orang. Sungguh ia tak ingin lagi mencoreng nama baiknya sendiri.


.


.


Hadi melangkah gontai hendak memasuki rumahnya. Langkahnya terhenti saat melihat mobil Clarissa baru saja tiba. Akan tetapi yang mengendarai mobil itu bukan Clarissa sendiri. Melainkan supir pribadinya. Pantas saja saat ia membutuhkan supirnya itu, si supir malah keluar rumah.


"Dari mana kamu Dadang?" Tanya Hadi begitu Dadang turun dari mobil Clarissa.


"Maaf Tuan. Tadi saat Tuan menelpon, saya sedang di tempat pencucian mobil." Jawab Dadang takut.


"Pencucian mobil? Memangnya Clarissa tidak bisa membawa sendiri mobilnya ke tempat pencucian?"


"Saya cuma menuruti perintah Tuan. Tadi katanya Non Clarissa sedang kurang enak badan. Saya lihat wajah Non Clarissa juga pucat tadi."


"Oh ya?" Hadi mengerutkan dahinya.


"Apa mobilnya sekotor itu sampai-sampai harus kamu yang membawanya ke tempat pencucian? Kamu tau kan saya sering ada urusan mendadak, dan saya membutuhkan kamu. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa saya memecat kamu."


"Sekali lagi maafkan saya Tuan. Saya cuma menuruti perintah. Tadi juga saya lihat di bumper mobil Non, ada noda darahnya. Jadi, saya ..."


"Tunggu. Ada noda darah kamu bilang?" Hadi semakin mengerutkan dahinya.


"I--" belum sempat Dadang menjawab, tiba-tiba Clarissa datang.


"Dadang ... Sudah selesai mobilnya?" Tanya Clarissa setengah berteriak. Langkahnya pun terhenti saat melihat Hadi.

__ADS_1


"Daddy?"


TBC


__ADS_2