
Sampai di panti asuhan Kasih Bunda. Mereka di sambut baik oleh Bu Norma dan anak-anak panti.
Anak-anak panti kegirangan melihat Axelle dan Irene datang. Mereka sudah sangat merindukan idola mereka. Beruntung sebelum tiba di panti, terlebih dahulu mereka singgah di sebuah mini market dan membeli banyak cemilan untuk anak-anak.
Mereka begitu antusias saat Axelle memberikan dua kantong besar yang berisi cemilan itu pada anak-anak. Mereka lantas membawanya ke meja makan dan saling berbagi. Sama-sama mereka menikmati cemilan itu.
Sementara Ranti dan Olivia tengah mengobrol dengan Bu Norma, Axelle dan Irene memilih duduk di bangku panjang di bawah pohon rindang yang ada di halaman panti.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu juga pernah tinggal di panti asuhan ini." Ujar Irene memulai obrolan.
"Aku juga baru tau." Axelle membuang napas pelan. Lalu menoleh. Menatap paras Irene yang jelita. Dan selalu membuat hatinya berdebar.
"Waktu kecil, aku punya seorang teman. Kita sering duduk di hamparan hamparan rumput ini sambil menghitung bintang. Dulu, bangku ini belum ada. Kadang kita berdua sering berbaring di rerumputan sambil menatap bintang-bintang. Sama seperti kamu, katanya ... Kelak dewasa nanti, dia ingin seperti bintang. Yang selalu bersinar terang diatas sana. Agar semua orang bisa melihatnya. Agar semua orang tau, dia juga sangat berarti." Tutur Irene panjang lebar mengingat kembali kenangan masa kecilnya bersama teman yang telah lama terpisah darinya.
Sekelebat bayangan masa-masa kecilnya melintas sekilas di benaknya. Setelah mendengar penuturan Irene. Axelle menatap Irene dengan seksama. Sorot matanya seakan tak ingin teralihkan dari paras manis Irene.
Kenangan masa kecil yang diceritakan Irene, seakan mengingatkannya pada masa kecilnya. Yang tak berbeda jauh dengan kenangan masa kecil Irene.
Sekelebat bayangan itu kini semakin jelas. Axelle menajamkan ingatan. Berusaha mengingat masa kecilnya di panti asuhan ini. Panti asuhan yang sama. Tempat ia tumbuh.
Axelle pun terhenyak. Seakan tersadar. Ingatan-ingatan itu membawanya kembali ke masa lalunya sesaat. Di tatapnya lekat-lekat sorot mata Irene, saat Irene menoleh dan membalas tatapannya.
Mulut masih terkatup rapat. Hanya sorot mata yang saling menatap, yang seakan berkata-kata. Baik Axelle maupun Irene semakin hanyut dan tenggelam. Dalam telaga rindu yang terpancar dari sorot mata masing-masing.
Sadar tak sadar, entah kenapa, hati kecilnya seakan berkata, ia telah mengenal Irene jauh sebelumnya. Sebelum mereka dipertemukan oleh situasi konyol. Yang akhirnya membuat mereka saling terikat satu sama lain.
"Irene ..." Axelle hendak mengatakan sesuatu, menuruti kata hati kecilnya.
Irene mengulum senyum. "Iya ..."
"Mungkinkah ... Kamu ... Kamu ad_" kalimat Axelle terpotong begitu saja. Sebab seorang gadis kecil datang mengganggu.
"Kak Irene ..." Panggil anak kecil itu sambil berlari-lari kecil menghampiri Irene dan Axelle.
"Hei ... Ada apa sayang. Hm?" Irene bertanya sembari mengelus lembut kedua pipi gembul gadis kecil itu.
"Kak Irene masih punya cokelat tidak?" Gadis kecil itu menekuk mukanya cemberut. Membuat Irene gemas lalu mencubit pelan kedua pipi gembulnya.
"Kenapa? Memangnya di dalam kamu tidak kebagian?"
Gadis kecil itu menggeleng sembari semakin memanyunkan bibirnya. "Sudah habis. Tapi aku masih mau lagi."
"Ya sudah, coba Kak Irene periksa dulu. Kak Irene masih punya cokelat tidak ya?" Lalu mengambil tas kecilnya yang tergeletak di sampingnya.
Irene mengobrak-abrik isi tasnya. Mencoba menemukan sesuatu yang bisa menghibur gadis kecil itu. Tetapi, hasilnya nihil. Tidak ada apapun di dalam tas itu selain ponsel, dompet, cermin kecil, lipstik, dan sebuah foto. Yang tanpa sengaja terjatuh keluar dari dalam tasnya.
"Sayang sekali, Kak Irene tidak punya cokelat. Gimana kalau besok Kak Irene datang lagi dan bawa cokelat yang banyak buat kamu. Hm?" Sambil menyentil manja hidung gadis kecil itu.
"Janji?"
"Iya. Janji."
__ADS_1
"Asiiik. Aku ke dalam dulu ya?"
Irene mengulas senyumnya melihat tingkah gadis kecil itu. Dipandanginya punggung gadis kecil itu yang semakin menjauh. Dengan senyum merekah yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Sementara Irene memandangi kepergian gadis kecil itu. Axelle mulai membungkuk, hendak meraih sebuah foto yang terjatuh dari tas Irene.
Axelle terpaku menatap sebuah foto di tangannya. Hanya sebuah foto lama, mamun mampu merebut perhatiannya detik itu juga. Ia terdiam dan tertegun menatap foto itu. Sedetik kemudian tatapannya bergulir pada Irene, yang kini berpaling dan membalas tatapannya.
"Axelle?" Panggil Irene lirih.
Axelle mendadak membisu. Menatapnya lekat tanpa berkedip. Jelas membuat Irene bertanya-tanya.
"Ini ..." Axelle menyodorkan foto itu pada Irene. Yang disambut sebuah senyum tipis Irene.
"Oooh ... Ini foto ku waktu kecil." Ucap Irene.
"Kamu dapat foto ini dari mana?" Irene malah bertanya.
"Jatuh dari tas kamu."
"Ya ampun, kok aku bisa ceroboh begini sih? Ini tuh foto ku dan teman kecilku yang aku ceritakan tadi sama kamu." Irene menyimpan kembali foto itu ke dalam tasnya.
"Ren ... Kamu masih ingat aku?" Pertanyaan Axelle memaksa Irene mengangkat pandangannya. Ditatapnya Axelle dengan kernyitan fi dahinya.
"Maksud kamu?" Irene malah balik bertanya.
"Kamu tidak mengenaliku?"
"Anak kecil yang sedang bersama kamu dalam foto itu ..." Axelle menjeda kalimatnya. Ia menghela napas sejenak.
Irene masih menanti. Menunggu apa yang ingin dikatakan Axelle. Sejujurnya ia penasaran. Dan hati pun mendadak berdebar aneh.
"Itu teman masa kecil kamu kan?" Tanya Axelle lagi.
Irene mengangguk. "Iya. Namanya Aldo. Aku tidak ingat lagi nama lengkapnya. Tapi aku sering memanggilnya Aldo."
"Kamu memanggilnya Aldo karena kamu kesulitan memanggil namanya kan?"
Irene kembali mengangguk. "Kok kamu tau?"
"Karena anak kecil itu adalah aku." Ujar Axelle mantap.
Irene pun tertegun. Sambil menatap lekat bola mata Axelle. Ada rasa tidak percaya, tapi itulah yang terdengar jelas di telinganya.
"Aku adalah teman masa kecilmu. Aldo. Axelle Allardo." Ujar Axelle sekali lagi untuk meyakinkan Irene.
"Ka_kamu sedang bercanda kan?" Irene berusaha mengusir rasa gugupnya. Ini terasa seperti mimpi.
Oh bukan!
Tetapi ini terasa seperti lelucon saja. Lelucon yang sedang dimainkan oleh takdir. Dua sahabat kecil yang terpisah jarak dan waktu, dipertemukan oleh takdir dalam sebuah lelucon aneh. Lelucon itu kini yang telah mengikat hati keduanya.
__ADS_1
Atau, mungkinkah ini yang dinamakan jodoh?
"Ha ha ha ..." Irene tertawa kecil. Seakan tengah menertawakan takdir yang telah mempertemukan mereka dengan cara yang konyol menurutnya.
"Ren ..." Panggil Axelle sangat lirih. Disertai tangannya yang mulai terulur meraih jemari Irene ke dalam genggamannya.
Irene kini menatap fokus pada bola mata Axelle. Yang memancarkan keyakinan dan ketulusan hatinya. Irene menghela napas pelan. Berusaha mengatur degup jantungnya yang kian berpacu.
"Kamu percaya takdir?" Pertanyaan konyol Axelle disahuti sebuah lengkungan indah terpatri di wajah Irene.
"Kamu percaya atau tidak, kamu lah yang selama ini selalu memberiku kekuatan. Untuk tetap bertahan menjalani hidupku. Kamu tau kenapa aku ingin seperti bintang di langit?"
"Karena kamu ingin semua orang melihat mu."
Axelle menggeleng pelan. "Saat itu, saat aku berkata seperti itu padamu, saat itu aku telah diadopsi. Dan aku akan pergi jauh dari panti asuhan ini. Pergi jauh dari mu. Aku ingin seperti bintang yang bersinar terang agar seseorang bisa mengenaliku dengan mudah."
Irene semakin terfokus menyelami sorot mata Axelle yang kini menampakkan binarnya.
"Aku bekerja keras menjadi seorang bintang. Hingga aku berada di titik ini sekarang, hanya agar seseorang bisa menemukan ku. Seseorang yang aku tinggalkan sejak kecil. Yaitu ... Kamu."
Irene terkesiap. Detak jantungnya seakan terhenti detik itu juga. Bernapas saja terasa sesak. Tenggorokannya seakan tercekat, tak mampu lagi ia berkata. Lidahnya mendadak kelu.
"Bukankah ini yang namanya takdir?" Tanya Axelle menatap semakin berbinar.
"Aku pernah kecelakaan sewaktu tinggal di luar negeri. Sebagian ingatanku hilang. Aku lupa dengan masa-masa kecilku. Tapi aku tidak pernah lupa dengan seorang gadis kecil yang selalu membuatku tersenyum. Gadis kecil itulah yang menjadi alasanku ingin menjadi seorang bintang. Aku berharap, saat dia mengenaliku, dia akan datang padaku. Tapi ternyata, takdir mempertemukan kita dengan cara yang unik." Ujar Axelle dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sama hal nya dengan Irene. Sebab rasa haru yang perlahan mulai menyelimuti, matanya pun mulai berkaca-kaca. Pandangannya menjadi kabur, tertutupi oleh genangan air di pelupuk matanya. Yang akhirnya, tertumpah ruah begitu saja. Tanpa mampu tertahan lagi.
"Tuhan mengabulkan doaku. Kamu lah hadiah terindah yang dikirim Tuhan untukku." Ucap Axelle lirih dengan tatapan yang semakin sendu.
Irene masih membisu. Dengan derai air mata yang semakin membanjiri wajahnya.
"Sekarang aku percaya, dan aku sangat yakin. Kamu tercipta hanya untukku. Kamu adalah takdir ku. Kamu milikku." Ujar Axelle mengekspresikan segenap rasa di jiwa.
Kini isak tangis Irene mulai terdengar. Ia begitu terharu dan tersentuh mendengar ungkapan hati Axelle. Sekarang ia percaya dan yakin, teman masa kecilnya adalah Axelle. Perasaan ini yang sempat mendera hatinya. Namun ia berusaha menghalau, sebab tak ada bukti yang bisa meyakinkannya saat itu.
Tetapi kini, Axelle sendirilah yang telah mengakuinya. Jadi kenapa ia harus ragu.
Sebab gerak refleks, terdorong oleh perasaan haru yang kian membuncah, Irene menghambur ke pelukan Axelle. Membenamkan wajahnya dalam-dalam di dada bidang itu. Menangis terisak mencurahkan kerinduan di dada.
Axelle membalas pelukan Irene dengan erat. Mengecupi puncak kepalanya dengan lembut. Disertai air mata yang luruh perlahan.
"Axelle, berjanjilah, jangan pernah pergi lagi dariku." Pinta Irene segenap jiwa raganya.
Axelle mengangguk. Sembari menyusut hidung lantaran air mata yang semakin deras berlinang.
"Aku janji. Aku tidak akan pernah pergi lagi darimu. Aku sangat mencintaimu." Balas Axelle dengan mempererat pelukannya.
Sementara Irene dan Axelle semakin larut dalam suasana haru. Di seberang, Olivia, Ranti, dan Bu Norma memperhatikan keduanya. Dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajah mereka.
TBC
__ADS_1