
Mungkin memang, sampai kapanpun Irene tak kan pernah bisa menggantikan Clarissa di hati Axelle. Jadi mungkin lebih baik, ia akan mengambil langkah mundur sebelum semuanya terlambat.
Irene masih menatap Axelle dengan derai air mata. Tetapi sejurus kemudian, ia menghapus air mata itu. Lantas mengurai senyum manisnya. Agar terlihat tegar di depan Axelle.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Mungkin aku yang salah, karena terlalu percaya padamu." Ucap Irene lirih.
"Aku minta waktumu sebentar. Kita bicarakan ini baik-baik. Kamu hanya salah paham." Pinta Axelle memelas.
"Aku harap juga begitu. Tapi dari yang aku lihat tadi, kamu__"
"Please, kamu makin salah paham. Ikut aku sebentar." Axelle meraih pergelangan Irene. Lalu menariknya kasar, memaksanya ikut dengannya menjauh dari Zaky.
Irene meronta. Tak ingin Axelle memaksakan kehendaknya seperti ini.
"Axelle, lepaskan. Tanganku sakit." Pinta Irene memelas.
Namun Axelle tak menghiraukan. Meski Irene meringis kesakitan. Ia terus saja menarik pergelangan tangan Irene. Sampai tiba-tiba Zaky dengan cepat menyusul. Lalu mencekal lengan Axelle.
"Axelle. Lepaskan tangannya. Kamu tidak lihat dia kesakitan?" Pinta Zaky tegas.
"Tolong jangan ikut campur dulu. Oke?" Axelle pun tak kalah tegasnya meminta.
"Ada apa sebenarnya diantara kalian berdua? Kenapa aku merasa sikapmu belakangan ini aneh."
"Aku sudah bilang, aku mencintainya. Hubungan diantara kami sekarang bukan hanya sekedar sandiwara."
"Maksud kamu?"
"Masih belum paham juga kakak ku?" Axelle kini mulai emosi. Ia hanya tak suka ada yang ikut campur dalam urusan pribadinya. Termasuk Zaky.
Tak ingin menyaksikan perdebatan diantara Axelle dan Zaky, Irene memilih menjauhi mereka berdua. Irene menarik paksa tangannya dari genggaman Axelle. Lalu kembali ke mobil Zaky yang terparkir.
"Irene, tunggu." Pekik Axelle yang hendak menyusul Irene. Akan tetapi, lagi-lagi, Zaky mencekal lengannya. Hingga menghentikan langkahnya.
"Axelle, jelaskan dulu apa maksudmu." Pinta Zaky sekali lagi.
__ADS_1
"Aku rasa apa yang aku katakan tadi sudah cukup jelas. Aku mencintai Irene. Oh, bukan. Tapi kami saling mencintai." Tegas Axelle tanpa basa-basi lagi.
Zaky melepas cekalan tangannya dari lengan Axelle. Ucapan Axelle terasa bagai petir yang menyambar di siang bolong. Terkejut, iya. Bahkan hampir tak bisa mempercayainya. Ini terdengar seperti lelucon baginya. Bagaimana mungkin seorang Axelle bisa jatuh hati pada wanita yang bukan tipe nya.
"Aku sedang tidak ingin bercanda." Ucap Zaky singkat. Masih tak bisa mempercayai ucapan Axelle.
"Aku serius."
"Ayolah Axelle. Kamu sedang bercanda. Dengar, sandiwara kalian akan segera berakhir. Dan aku yang akan mengakhirinya. Aku minta maaf karena sudah membuat kalian berada dalam situasi ini. Secepatnya, akan aku akhiri. Agar tidak ada lagi kesalahpahaman diantara kalian berdua. Aku akan bertanggung jawab."
"Apanya yang akan berakhir?"
"Sandiwara kalian. Apa lagi?"
Axelle tertawa kecil sembari memalingkan wajahnya sejenak. Memandangi Irene yang masih berdiri di sisi mobil, menunggu Zaky.
"Apa kamu menyukainya?" Tanya Axelle tiba-tiba. Kembali ia memalingkan wajahnya, menatap Zaky dengan seksama. Menelisik perubahan raut wajah Zaky akan reaksi atas pertanyaan yang ia lontarkan tanpa basa-basi lagi.
Zaky terdiam sejenak. Tetapi kemudian berusaha menepis kecurigaan Axelle atas sikapnya.
"Maksud kamu?"
"Aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan. Dan aku hanya ingin memenuhi janjiku pada Irene untuk membebaskannya dari sandiwara ini."
Axelle menggeleng. "Bukan. Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar. Katakan padaku, apa kamu menyukai Irene?" Kali ini Axelle menatap Zaky serius. Hingga Zaky terlihat salah tingkah.
"A_apa maksudmu?" Zaky salah tingkah. Pertanyaan Axelle benar-benar membuatnya bingung harus menjawab apa.
"Dengarkan aku, kakak." Axelle menghela napas sejenak. "Tolong jauhi Irene. Dia bukan Clarissa yang begitu mudahnya memberikan tubuhnya pada setiap pria. Irene berbeda."
"Tunggu, tunggu. Aku tidak mengerti maksudmu."
"Saat itu aku masih menghargai mu sebagai kakak ku. Aku hanya bisa bersabar dan menahan sakit saat menyaksikan perbuatan kalian berdua." Axelle mulai mengungkap masa lalu yang menyakitkan hatinya. Namun tak bisa berbuat apa-apa.
Ada satu hal yang ia ketahui, tetapi tak bisa mengungkapnya. Sebab ia masih menghargai persaudaraan diantara mereka. Zaky satu-satunya keluarganya, selain ayah kandungnya. Karena hal itulah ia masih bisa bersabar saat menyaksikan pemandangan yang benar-benar membuatnya terluka.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Aku tahu apa yang pernah terjadi diantara kamu dan Clarissa. Perlu aku jelaskan lebih rinci lagi?"
Zaky terdiam. Menunggu apa yang ingin dikatakan Axelle selanjutnya.
Sementara Axelle, membuang napas pelan. Mengingat pemandangan itu, menghadirkan kembali luka lama yang telah ia kubur dalam-dalam. Malam itu, sepulang syuting, ia bermaksud menemui Zaky. Untuk membicarakan perihal cuti yang ingin diambilnya untuk rehat sejenak. Akan tetapi, siapa sangka, justru ia datang di waktu yang salah.
Tanpa sengaja, ia melihat Clarissa dan Zaky yang saling bercumbu mesra. Entah apa yang terjadi saat itu, tapi itulah pemandangan menyakitkan yang ia saksikan malam itu.
Sakit hati, sudah tentu.
Bahkan rasanya lebih sakit dari tersayat sembilu. Menyaksikan pengkhianatan kekasih dan kakaknya membuatnya hampir hilang akal saat itu. Tetapi, untungnya, ia masih menganggap Zaky kakaknya. Sebab hanya Zaky keluarganya satu-satunya. Hanya Zaky yang tak menganggapnya anak haram, selain ayah mereka.
Itulah sebabnya kenapa ia tak menghalangi apapun yang dilakukan Clarissa. Bahkan saat Clarissa memutuskan pindah ke luar negeri demi mengejar mimpinya pun, ia tak menghalangi. Sejujurnya, saat itu ia telah kehilangan kepercayaannya terhadap Clarissa dan Zaky. Namun ia berusaha tetap bersikap seperti biasanya. Seakan tidak terjadi apa-apa.
Ia tahu kenapa Zaky selalu memintanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Clarissa. Sebab Clarissa wanita yang tak pantas untuknya. Ia yang semula bermaksud ingin meminta Clarissa menjadi bagian dari hidupnya, niatnya pun urung. Akan tetapi, ia tak mengakhiri hubungannya dengan Clarissa lantaran ia masih membutuhkan Clarissa sebagai pemuas hasratnya.
"Kamu salah paham Axelle. Saat itu aku sedang mabuk." Ucap Zaky hati-hati. Ia tak menyangka ternyata Axelle menyaksikan apa yang ia lakukan bersama Clarissa malam itu. Ia yang tengah mabuk saat itu, didatangi Clarissa. Bukan salahnya, Clarissa yang lebih dulu menggodanya. Hingga tanpa disadari, kekhilafan itu pun terjadi begitu saja.
Clarissa mungkin saat itu sudah tahu siapa dirinya dan Axelle, seperti apa hubungannya dengan Axelle. Axelle hanyalah seorang anak hasil perselingkuhan ayahnya, yang semua orang pasti akan menganggapnya sebagai anak haram. Sementara ia sendiri adalah seorang anak yang dipersiapkan ayahnya untuk menggantikan posisinya kelak dalam memimpin sebuah perusahaan besar di luar negeri. Itulah sebabnya kenapa Clarissa mendekatinya. Karena Clarissa pada dasarnya hanyalah seorang perempuan materialistis.
"Anggap saja seperti itu. Aku tau, Clarissa bukan tipe mu. Aku juga tau Clarissa wanita seperti apa. Dan untuk kali ini, aku minta, tolong jauhi Irene."
Zaky memalingkan wajahnya sejenak. Memandangi Irene di seberang yang masih berdiri menunggunya.
"Maaf, aku tidak bisa." Ucap Zaky tiba-tiba. Sembari memalingkan kembali wajahnya, menatap Axelle dengan seksama.
"Kamu benar. Aku tertarik padanya. Aku menyukai Irene. Sejak pertama kali melihatnya." Tambahnya. Hingga guratan amarah pun mulai tampak. Emosi mulai menguasai Axelle.
TBC
***Mohon maaf atas jadwal update yang tidak menentu🙏 dikarenakan kesibukan author di real life sebagai ibu rumah tangga. Belum lagi kalau mau nulis, harus berebutan HP dulu sama bocil😭. Jadinya nulis cuma setengah-setengah😭
Semoga reader tetap semangat, biar semangatnya nular ke author gaje ini.
__ADS_1
Thankyou 🙏 atas dukungannya. Thankyou juga buat jejak yang kalian tinggalkan.
Salam sayang dari author abal-abal😘***