Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 36


__ADS_3

Pelan Irene membawa langkahnya masuk ke kamar Axelle. Ia biarkan pintu kamar itu sedikit terbuka.


"Tutup pintunya." Titah Axelle.


Meski sedikit was-was, Irene pun menutup pintu itu rapat.


"Kemari." Titah Axelle sekali lagi.


Irene menurut. Perlahan ia melangkah menghampiri Axelle yang sedang berbaring.


"Kemari." Axelle menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Irene belum menanggapi. Ia menatap Axelle bingung.


Kembali Axelle menepuk tempat kosong di sebelahnya sambil menatap Irene sendu.


"Berbaring di sampingku." Pinta Axelle.


Irene masih ragu menuruti permintaan Axelle. Sebab ada hal yang ia cemaskan.


"Apa aku harus memaksamu?" Pertanyaan Axelle bernada setengah mengancam.


"Kamu yang kesini atau aku yang kesitu?" Tambahnya.


Tak ingin timbul perdebatan di tengah malam buta, akhirnya Irene menuruti permintaan Axelle. Ia lantas mengitari sisi tempat tidur. Lalu naik dan membaringkan diri disamping Axelle.


Axelle lantas menarik selimut sampai batas dada. Diraihnya remote AC di nakas dan menaikkan suhunya lebih dingin.


"Aku tidak kuat jika terlalu dingin." Protes Irene.


"Kan ada aku." Axelle mengulum senyumnya.


Irene justru mengerutkan dahinya. Kini ia mengerti maksud Axelle. Tanpa menunggu reaksi berlebih Irene, Axelle langsung melingkarkan lengannya di pinggang Irene. Mendekapnya erat, memberinya kehangatan. Sengaja ia menaikkan suhu pendingin ruangan, agar Irene kedinginan. Hingga ia bisa mendekapnya sepanjang malam.


Irene berbaring kaku dalam dekapan Axelle. Perlahan, Axelle meraih tangan Irene. Ia lingkarkan tangan halus Irene pada pinggangnya. Lalu mempererat dekapannya sendiri. Irene pun membenamkan wajahnya di dada bidang Axelle.


"Kamu tau, sepanjang hari ini, aku sangat merindukanmu." Ucap Axelle lirih dalam dekapannya. Mengungkap segala rasa yang ada di hati.


"Kenapa kamu melakukan itu?" Irene malah mengajukan pertanyaan, alih-alih menanggapi ungkapan hati Axelle.


"Melakukan apa?"


"Clarissa. Kenapa semudah itu kamu mengakhirinya?"


"Karena aku mencintaimu."


Irene pun menadahkan pandangannya, bersamaan dengan Axelle yang menurunkan pandangannya.


Irene menatap lekat sorot mata itu. Mencoba menemukan keyakinan Axelle dalam ucapannya. Agar ia tak ragu, jika Axelle bersungguh-sungguh.


Sama halnya dengan Axelle. Ditatapnya lekat bola mata indah Irene. Mencoba menampakkan kesungguhan hatinya. Melalui binar di matanya, berharap dapat mengikis segala keraguan yang ada.

__ADS_1


"Jangan melakukan hal yang nantinya akan kamu sesali. Aku tidak pernah meminta kamu mengakhirinya." Ucap Irene.


"Aku lelah. Terlalu lelah menghadapinya. Aku harus selalu menuruti keinginannya tanpa dia peduli keadaanku. Apa aku bisa bertahan dengan orang egois seperti itu?"


"Kalau kamu lebih menunjukkan cintamu, lambat laun dia pasti akan berubah." Entah kenapa Irene jadi merasa bersalah dan tak enak hati. Penyebab Axelle mengakhiri hubungannya dengan Clarissa sudah jelas karena orang ketiga. Dan orang ketiga itu tidak lain adalah ia sendiri.


"Kamu mau aku kembali padanya?"


Irene terdiam. Jika ditanya lagi, ia sungguh tak ingin Axelle kembali ke pelukan Clarissa. Tapi sebagai sesama perempuan, tentu ia pun tak ingin menyakiti hati perempuan lain. Ia tahu seperti apa perasaan Clarissa saat ini.


"Bagaimana perasaanmu padaku? Apa hanya aku_"


"Axelle." Cepat Irene menyela. "Aku bisa merasakan seperti apa perasaan Clarissa. Saat ini dia pasti sedang terluka."


"Aku tidak ingin membahas hal ini. Sekarang katakan, kamu dari mana tadi? Kenapa bisa pulang bersama Zaky? Kenapa tidak minta ijin dulu padaku? Kamu tau kenapa hari ini aku pulang lebih awal padahal hari ini syutingnya sampai pagi." Cecar Axelle tanpa henti.


"Yang mana yang harus aku jawab?"


"Semuanya."


"Kelewatan." Irene menarik lengannya yang melingkari pinggang Axelle. Menggeser tubuhnya hingga menciptakan sedikit jarak diantara mereka. Seketika hawa dingin menusuk dari pendingin ruangan pun menyeruak. Hingga membuatnya kedinginan, meski sudah berada di bawah selimut yang tebal. Serasa tubuhnya akan membeku.


Axelle mengangsurkan tangan meraih pinggang Irene. Membawanya kembali ke dalam dekapan hangatnya.


"Makanya jangan jauh-jauh. Begini kan lebih hangat." Ucap Axelle sembari tersenyum.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Jawab sekarang atau aku akan menghukummu dalam tiga ronde."


Irene memukul pelan dada Axelle. Axelle malah semakin tersenyum lebar.


"Keterlaluan."


"Makanya di jawab."


"Pemotretan tadi tiga sesi. Setelah pemotretan sesi ketiga aku bersama Bu Olive di ruangannya. Dia mengajariku cara menggunakan high heels dan juga mengajariku cara berdandan."


"Oh ya? Lalu makan siang bersama Zaky gimana? Kenapa kalian bisa pulang bersama?"


Irene kembali menadahkan pandangannya. Memandangi Axelle yang kini pun menurunkan pandangannya, menatap lekat wajah Irene. Mencoba menunjukkan rasa cemburunya melalui sorot matanya.


"Kalian jadi pergi makan siang kan?" Tanya Axelle.


"I_iya. Tapi cuma sebentar."


"Aku tidak suka."


"Kenapa?"


"Karena aku cemburu."

__ADS_1


Irene tertawa renyah mendengarnya. "Kamu seperti anak kecil saja."


"Banyak yang bilang, Zaky lebih menarik dariku. Dia tampan, mapan, dewasa, berwibawa, pembawaannya tenang. Aku hanya takut kamu bisa jatuh hati padanya." Ungkap Axelle jujur.


Irene kembali tertawa. "Kamu benar-benar seperti anak kecil."


"Ada hal yang kamu tidak tau tentang Zaky. Dia itu tipe idaman banyak wanita."


"Oh ya? Bukannya kamu yang diidolakan banyak wanita?"


"Ada hal yang orang tidak tau tentang diriku."


Kini Irene mengerutkan dahinya. Tak bisa memahami maksud ucapan Axelle. Sedangkan Axelle malah semakin mendekatkan wajahnya. Refleks Irene membawa jemarinya menahan bibir Axelle.


"Jangan menolakku. Aku tidak suka." Kesal Axelle.


"Tapi, kamu__"


"Tidak usah takut. Aku tidak akan melakukannya. Hari ini aku sangat lelah."


Irene mengulum senyum tipisnya. Dan dalam sekejap mata bibir keduanya telah saling bertaut. Saling memagut mesra. Mencurahkan segenap rasa di jiwa.


Tidak seperti anak kemarin sore lagi, kini Irene berani membalas setiap lum *atan yang Axelle berikan. Bahkan disaat Axelle semakin rakus, Irene berusaha mengimbangi permainannya. Irene cukup cepat dalam mempelajari hal baru.


Axelle menekan tengkuk Irene, memberinya pagutan yang lebih dalam. Hingga meloloskan lenguhan lembut Irene yang membuat Axelle semakin bergairah.


Kini Axelle merubah posisinya, membuat Irene berada dibawah kungkungannya. Kalimat yang sempat terucap kini hilang tersapu gairah yang mulai menggebu-gebu. Perlahan Axelle mulai membuka satu per satu kancing piyama Irene hingga menyisakan kain berenda yang menutupi dua aset Irene.


Jemari Axelle kini menjelajah di punggung Irene, hendak melepas pengait kain berenda. Hingga dua aset mulus yang berdiri tegak menantang itu semakin membakar gejolaknya. Axelle mulai rakus menyesap dua aset itu bergantian. Membuat tubuh Irene menggelinjang tak tentu. Disertai lenguhan lembut penuh sejuta kenikmatan.


Axelle semakin tak sabar. Buru-buru ia melepas pakaian yang melekat di tubuhnya. Melemparnya asal, berserakan di lantai kamar bersama pakaian Irene. Dalam sekejap tubuh keduanya polos tanpa sehelai benang pun.


"Axelle ..." Irene tak bisa menolak kala Axelle kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher. Disertai kecupan-kecupan lembut. Sementara tangan Axelle menyentuh asetnya yang begitu pas dalam genggaman.


"Aku sangat mencintaimu, Irene." Ucap Axelle lirih sembari terus melancarkan aksinya.


Axelle semakin bersemangat kala terdengar rintihan Irene. Hanya dalam waktu singkat Irene sudah bisa mengimbangi permainannya. Hingga membakar gairahnya yang semakin menggebu-gebu. Dalam sekejap mata, Irene laksana candu bagi Axelle. Setiap saat ia selalu mendamba sentuhan hangatnya.


Hingga malam semakin larut, Axelle dan Irene masih bergelut dalam peluhnya. Semakin berlomba mencapai puncak asmara yang diinginkan. Raga yang lelah pun terlupakan. Terbuai oleh sejuta kenikmatan yang tersaji indah dihadapan. Hanya suara des *ahan dan rintihan saling bersahutan yang menggema di seisi ruangan.


Saat puncak asmara telah diraih, keduanya pun terlelap dalam dekapan hangat.


TBC


***Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya🙏☺️


Biar otor abal-abal ini makin semangat update.


Salam sayang untuk reader dimanapun berada😘***

__ADS_1


__ADS_2