
Zaky menghempas kasar tubuhnya ke sofa apartemennya. Menyandarkan punggungnya, lalu mengusap kasar wajahnya. Pikirannya kembali ke saat ia berada di restoran tadi bersama Axelle dan Irene. Ia memikirkan kembali pernyataan cintanya terhadap Irene.
Ia bahkan sulit percaya, kenapa ia sampai senekat itu. Perasaannya terhadap Irene yang tak terbendung lagi, semakin lama semakin kuat, hingga menumbuhkan keberaniannya mengakui perasaannya. Bahkan ia tak peduli akan peringatan Axelle berkali-kali terhadapnya. Jika dibiarkan, lama kelamaan ia tak tahan lagi.
Irene telah menguasai hati dan pikirannya dalam sekejap. Hingga ia pun terasa sulit menjalani harinya, sebab perasaan yang tak mampu ia bendung lagi.
Ting Tong ...
Terdengar bel pintu. Dengan malas Zaky bangun dari duduknya menuju pintu. Namun sebelum membuka pintunya, terlebih dahulu ia melihat layar monitor.
Tampak Clarissa sedang memasang senyum manisnya. Sambil melambaikan tangannya.
"Buka dong pintunya." Pinta Clarissa manja.
Sejujurnya Zaky enggan menerima kedatangan Clarissa. Akan tetapi, ia teringat akan perkataan Clarissa di depan Olive Galery beberapa jam lalu. Terpaksa, meski berat hati, ia lantas membukakan pintu untuk Clarissa.
Tanpa di persilahkan pun, Clarissa masuk begitu saja. Lalu mengambil duduk di sofa dengan berpangku kaki. Rok mini yang ia kenakan malam ini cukup menampilkan paha putih mulusnya nan menggoda. Namun Zaky justru mengambil jaketnya dari tempat gantungan di sudut ruangan dan melemparnya ke paha Clarissa.
"Lain kali kalau datang menemui ku, jangan kenakan pakaian seperti itu." Tandas Zaky tajam.
"Kenapa?" Sembari bangun dari duduknya lalu menghampiri Zaky.
Clarissa mulai mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Zaky. Namun Zaky menghindarinya dengan mengambil duduk di sofa.
"Katakan apa keperluan mu datang kemari. Aku tidak punya banyak waktu untuk mu." Ujar Zaky.
Clarissa tertawa kecil sembari mengambil duduk. Bukan di sofa melainkan di pangkuan Zaky. Serta jemarinya mulai nakal menyusuri lekuk paras tampan Zaky. Dan berhenti sejenak di bibir Zaky.
"Untukku kamu tidak punya banyak waktu. Tapi kalau untuk gadis kampungan itu, kamu selalu berusaha meluangkan waktu." Ucap Clarissa mulai kecentilan.
"Aku tahu kamu menyukai gadis kampungan itu kan?" Tambahnya sembari mengusap bibir Zaky.
Zaky pun terhenyak. Darimana Clarissa tahu seperti apa perasaannya terhadap Irene?
"Kenapa? Penasaran?" Clarissa kembali tertawa kecil.
"Turun." Titah Zaky tegas.
__ADS_1
"Saat kamu menyatakan cintamu pada gadis kampungan itu, aku ada di restoran itu. Aku mendengar semuanya." Tanpa Zaky ketahui, kebetulan Clarissa pun sedang makan di restoran yang sama saat itu. Tanpa sengaja ia pun mendengar pengakuan Zaky.
"Kamu yakin tidak mau tahu tentang gadis kampungan itu?" Tambahnya.
"Clarissa, aku bilang turun dari pangkuanku. Atau aku_"
"Atau aku apa?" Sela Clarissa cepat.
"Kamu tahu kan kalau aku menyukaimu. Axelle tidak terlalu penting bagiku. Yang aku cintai, bukan Axelle. Tapi kamu." Tanpa aba-aba, dengan cepat Clarissa membenamkan bibirnya. Memagut liar bibir Zaky. Sembari jemarinya mulai membuka satu per satu kancing kemeja Zaky.
Clarissa semakin lupa diri. Ia semakin buas menyerang Zaky secara sepihak. Hingga Zaky pun menghentikan aksi Clarissa yang semakin tak tahu diri. Dengan kasar Zaky mendorong tubuh Clarissa. Hingga Clarissa pun terjatuh ke lantai.
"Awww!" Pekik Clarissa sembari meringis kesakitan. Sambil mengelus bokongnya yang terasa sakit lantaran mendarat kuat di lantai, ia bangkit dan kembali mendekati Zaky.
"Kamu memang gila." Zaky memilih bangun dari duduknya untuk menghindari Clarissa.
"Aku gila karena dirimu. Kamu yang membuatku jadi seperti ini. Aku mencintaimu." Dengan berani Clarissa mengakui perasaannya. Bahkan ia tak peduli meski kerap kali mendapat penolakan dari Zaky.
Zaky menggeleng tak percaya dengan kelakuan Clarissa. Ia tahu benar Clarissa wanita seperti apa. Bahkan ia tak mempercayai pengakuan cinta wanita itu.
"Came on baby ..." Clarissa kembali mendekati Zaky. Lalu mengalungkan kedua tangannya di pundak Zaky.
"Kamu tau tidak, kamu lebih menarik dari Axelle. Kamu membuatku penasaran. Sikap dingin kamu ini yang selalu membuatku tertantang untuk menaklukkan mu. Jangan bohong padaku, aku tau kamu menikmati setiap sentuhan ku. Kamu hanya tidak mau mengakuinya. Karena itu bertentangan dengan ego mu."
"Kamu ngaco. Benar-benar wanita gila." Sembari menurunkan kedua tangan Clarissa yang melingkari pundaknya. Lalu ditariknya pergelangan Clarissa dan membawanya sampai ke pintu.
"Keluar kamu." Ujarnya kasar.
"Came on Zaky. Aku tau kamu itu tidak lebih dari pria yang kesepian. Kamu butuh sentuhan hangat seorang wanita. Aku bisa memberi mu apa yang kamu mau. Untuk apa mengharapkan gadis kampungan itu."
Zaky menarik sudut bibirnya, memandang remeh Clarissa. "Jangan samakan Irene dengan dirimu. Irene berbeda."
Clarissa pun terkekeh mendengar ucapan Zaky yang begitu mengagumi Irene.
"Apa bedanya aku dan dia?"
"Dia gadis baik-baik. Berbeda dengan dirimu yang tidak punya malu."
__ADS_1
"Oh ya?" Clarissa kembali terkekeh. Seakan meremehkan ucapan Zaky.
Zaky pun lantas membuka pintunya lebar-lebar. Lalu melayangkan tatapan tajamnya terhadap Clarissa.
"Silahkan keluar, selagi aku masih memintanya baik-baik." Ujar Zaky yang mulai emosi.
"Apa aku sudah memberitahumu apa yang disembunyikan gadis kampungan itu?" Clarissa tak menghiraukan ucapan Zaky.
"Jangan coba-coba memfitnahnya."
"Aku bukan mau memfitnah dia. Tapi ini kenyataan. Gadis kampungan itu sedang hamil."
Zaky terdiam. Terkejut bukan main. Tetapi apakah ucapan Clarissa bisa dipercaya?
"Sudahlah Clarissa. Aku tau kamu tidak suka padanya. Jadi jangan mengarang cerita konyol hanya untuk menjatuhkan orang lain."
"Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi aku mendengarnya sendiri dari mulut Axelle. Dan itu artinya, dia sedang mengandung anaknya Axelle. Silahkan tanyakan sendiri pada adikmu itu jika kamu memang tidak percaya." Kemudian Clarissa pun membawa langkahnya keluar dari apartemennya Zaky. Tanpa menghiraukan ekspresi Zaky yang terkejut bukan kepalang. Bahkan seakan tak percaya.
Pikiran Zaky pun kembali menerawang. Ia mulai mengait-ngaitkan antara ucapan Clarissa dan ucapan Axelle. Yang berulang-ulang kali menunjukkan soal kedekatannya dengan Irene. Ia hanya tak percaya, apakah hubungan Axelle dan Irene sudah sampai sejauh itu? Bahkan Axelle telah mengutarakan niatnya untuk menikahi Irene secara sah.
Jika memang apa yang dikatakan Clarissa benar adanya, lalu bagaimana dengannya? Haruskah ia mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap Irene? Haruskah ia mengalah demi Axelle?
Masih dengan ekspresi tak percaya, bahkan shock, Zaky pun menutup kembali pintu apartemennya. Ia membawa langkahnya gontai masuk ke kamarnya. Ia menghempas tubuhnya di tepian tempat tidur. Tangannya pun mulai terulur, membuka laci sebuah nakas kecil di sisi tempat tidur.
Diambilnya dua buah buku kecil dari laci itu. Buku yang sempat ia simpan rapi di laci meja kerjanya. Sengaja ia membawanya pulang agar tidak diketahui oleh siapapun. Termasuk Axelle sendiri. Sebab buku kecil itu, adalah buku nikah asli Axelle dan Irene. Yang mereka tanda tangani saat akad nikah beberapa bulan lalu.
Sebelumnya, ia sudah mengatur pernikahan itu agar tampak seperti sandiwara. Akan tetapi, yang sesungguhnya terjadi, pernikahan itu adalah pernikahan yang sah di mata hukum dan agama. Ia terpaksa membohongi Axelle, agar Axelle mau mengikuti sarannya untuk bersandiwara demi menyelamatkan reputasinya.
Axelle yang saat itu belum memiliki perasaan terhadap Irene pun menerimanya begitu saja. Sebab ia yakin, pernikahan itu hanyalah sandiwara. Dan Axelle pun tak menaruh curiga sama sekali.
"Demi kamu, aku bahkan harus mengubah diriku menjadi seorang penipu." Ucapan Zaky kala itu teringat kembali. Bukan menipu banyak orang, melainkan menipu Axelle sendiri. Pernikahan yang disangka Axelle sandiwara, nyatanya adalah sebuah pernikahan yang sah.
Dan disaat ia telah memiliki perasaan terhadap Irene, ia pun terpaksa menyembunyikan kenyataan itu dari Axelle. Bahkan ia telah menyiapkan skenario perpisahan Axelle dan Irene, agar ia bisa mendekati Irene. Bahkan memiliki Irene.
"Apa yang harus aku lakukan?" Lirih Zaky bergumam sembari meremas dua buku kecil itu.
TBC
__ADS_1