Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 52


__ADS_3

Axelle kembali memutar tubuhnya berhadapan dengan Zaky. Menatap Zaky tajam sembari lebih mendekat.


"Ibu kamu masih hidup." Zaky mengulangi kalimatnya.


Kali ini Axelle tertawa kecil. Sembari memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Untuk menyembunyikan matanya yang mulai tampak berkaca-kaca.


"Aku juga baru tahu, ayah baru mengatakan ini padaku." Tambah Zaky.


"Lalu kenapa kamu mengatakan ini padaku?" Axelle seakan tak ingin mendengar kabar itu.


"Mungkin sudah saatnya kamu tahu."


"Kenapa sekarang ayah peduli padaku?"


"Axelle. Sejak kamu kecil, ayah sudah sangat menyayangimu."


"Lalu kenapa dia tidak pernah mencari keberadaan ibuku. Kenapa mereka malah meninggalkanku di panti asuhan?"


"Kamu tahu betul seperti apa kondisi ayah saat itu. Dia berada dalam posisi tidak bisa memilih antara ibu kamu atau ibuku. Ayah saat itu__"


"Karena mereka tidak menginginkan aku lahir ke dunia ini. Itu sebabnya mereka membuangku ke panti asuhan. Aku hanya aib bagi ayah. Karena aku hanya seorang anak haram." Sela Axelle cepat sebelum Zaky menyelesaikan kalimatnya.


"Jangan pernah berkata seperti itu lagi Axelle. Bagi ayah kamu juga sama. Sama-sama berharga, kamu sangat berarti baginya. Ayah hanya tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaan."


"Aku tidak percaya kamu masih membelanya setelah kamu tahu dan mengerti kesalahan apa yang dilakukan ayah."


"Axelle, aku tahu apa yang dilakukan ayah salah. Tapi kamu juga tidak tahu seperti apa keadaan ayah."


"Aku masih belum bisa percaya kalau kamu menganggap ku adik mu. Bagimu aku sama saja. Kehadiranku seperti luka bagi mu dan juga ibu mu. Aku benar kan? Mana mungkin seorang anak bisa menerima begitu saja pengkhianatan ayahnya yang jelas-jelas menyakiti ibunya." Axelle menghela napas dalam-dalam.


"Sudah larut malam, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat. Aku tahu kamu capek. Oh ya, sebaiknya mulai sekarang, jangan menemui Irene lagi. Apalagi memberinya hadiah seperti itu. Aku tidak suka." Tambahnya sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Zaky yang masih berdiri mematung memandangi punggungnya yang kian menjauh.


"Axelle." Panggil Zaky yang masih ingin menjelaskan kesalahpahaman diantara mereka.


"Jangan lupa tutup pintunya." Seru Axelle tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun.


Brakkk


Terdengar dentam pintu yang di banting keras. Zaky pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa memaksa Axelle merubah pola pikirnya. Ia juga tak bisa memaksa Axelle untuk mempercayainya sepenuhnya. Axelle hanya tidak mengetahui kondisi ayahnya yang saat itu benar-benar serba salah. Bahkan Axelle tidak tahu apa yang mendorong ayahnya hingga sampai berselingkuh.


Sifat ibunya Zaky yang begitu dominan bahkan terkesan angkuhlah yang membuat ayahnya tak pernah merasakan kebahagiaan dalam rumah tangganya. Ayahnya memang seorang pemimpin sebuah perusahaan besar. Akan tetapi perusahaan itu adalah perusahaan keluarga ibunya Zaky. Dan ayahnya hanya dipercayakan memimpin perusahaan itu. Bukan memilikinya. Sehingga yang pantas mewarisinya hanyalah Zaky seorang.


Berkaca dari rumah tangga ayahnya, itulah kenapa sebabnya Zaky tidak menyukai tipe wanita seperti Clarissa. Wanita yang memiliki sifat dominan, angkuh, bahkan egois. Ia tak ingin hidupnya berakhir seperti ayahnya.


Akhirnya, Zaky pun memilih pulang. Meski sebenarnya ia sangat ingin berbincang dari hati ke hati bersama Axelle. Namun Axelle sama sekali tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Bahkan ia tak sempat memberitahu Axelle bahwa ibunya tinggal di kota ini, menurut informasi yang ia dapat.


.


.


Di kamarnya, Axelle menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Sembari pikirannya mulai melayang jauh. Mengingat-ingat kembali masa kecilnya yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.

__ADS_1


Jika di tanya, sungguh ia pun ingin merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap. Ia ingin hidup di tengah-tengah keluarga yang menginginkannya. Namun nasib dan takdir seakan enggan berpihak padanya.


Sejujurnya, ia tak menaruh benci pada ayah dan ibunya yang telah mencampakkannya. Hanya saja ia masih sulit menerima semua ini. Mengingat hari-hari yang dilaluinya begitu miris.


Ceklek


Bunyi decitan pintu terbuka membuyarkan lamunannya seketika.


Dari balik pintu menyembul kepala Irene. Memandanginya gelisah, seperi tengah mencemaskan sesuatu.


"Masuk." Titah Axelle.


Irene menurut. Ia lantas melangkah masuk dan menutup pintunya. Perlahan dihampirinya Axelle yang tengah duduk selonjoran di atas tempat tidur, menatapnya sendu.


"Aku hanya mau bertanya, apa kamu sudah makan?" Tanya Irene hati-hati.


Axelle menggeleng pelan.


"Kamu mau makan apa? Biar aku siapkan."


Axelle menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu tidak makan, nanti kamu sakit."


"Kesini." Pinta Axelle sambil mengulurkan tangannya.


"Tapi__"


Irene tak bisa membantah lagi. Ia pun naik ke tempat tidur, lalu menyandarkan punggungnya di dada bidang Axelle. Sementara Axelle merangkulnya dari belakang.


"Kamu dapat bingkisan apa dari Zaky?" Tanya Axelle kemudian.


"Aku tidak tahu. Aku belum membukanya."


"Bagus. Tidak usah dibuka. Kalau perlu dibuang saja sekalian." Tampaknya Axelle masih kesal.Bahkan cemburu mungkin. Sebab pria manapun tidak senang jika wanitanya menerima hadiah dari pria lain. Terlebih lagi, ia tahu seperti apa perasaan pria itu terhadap wanitanya.


"Kenapa? Sayang loh, Zaky sud__"


"Sudah, jangan banyak tanya. Buang saja bingkisan itu." Sela Axelle cepat.


"Tapi__"


"Apa karena itu merek luar negeri, makanya kamu tidak mau membuangnya? Aku juga bisa membelikan mu merek yang lebih mahal lagi."


Irene tertawa kecil mendengar kalimat Axelle yang begitu mirip seorang anak kecil yang sedang merajuk.


"Kamu itu seperti anak kecil saja. Aku hanya tidak enak hati pada Zaky. Kalau aku membuang bingkisan darinya, itu sama saja aku tidak menghargainya. Kesannya seperti aku meremehkannya."


"Siapa peduli soal itu. Pokoknya buang. Aku tidak mau tau." Kekeh Axelle saking kesalnya.


"Iya, iya. Besok aku kasih Boni saja."

__ADS_1


"Bagus." Sembari mengecup puncak kepala Irene.


"Kamu bilang kamu belum makan kan, mau aku buatkan sesuatu? Atau ada yang ingin kamu makan?" Tanya Irene sembari menoleh kebelakang, menatap Axelle.


"Aku ingin makan kamu."


"Jangan bercanda, aku serius. Kamu mau makan apa?"


"Aku tidak bercanda, aku serius. Aku mau makan kamu, sekarang."


"Axelle ..." Irene sungguh tak bisa berbuat apa-apa jika Axelle sudah menuntut.


"Mulai sekarang, kita tidak akan tidur terpisah lagi. Kita akan tidur bersama di kamar ini." Lirih Axelle di tengah napasnya yang mulai memburu. Sembari memberikan kecupan-kecupan lembut di sepanjang leher jenjang Irene. Sementara kedua tangannya mulai berkeliaran kemana-mana.


Irene tak mampu menolak. Ia hanya bisa memejamkan matanya, merasakan sentuhan lembut Axelle di sekujur tubuhnya. Bahkan ketika Axelle mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu, ia tak menolak. Perlahan pun Axelle membaringkannya.


"Aku akan melakukannya pelan." Lirih Axelle berbisik di telinga Irene. Hingga membuat bulu romanya meremang. Jantung semakin berdetak kencang, hati berdebar-debar.


Dalam sekejap, Axelle mampu membawanya terbang melayang. Menyentuh sejuta kenikmatan dalam dawai asmara.


Lenguhan lembut pun menjadi saksi betapa ia menikmati permainan Axelle yang sudah begitu lihai memberinya kenikmatan yang tiada tara. Kecupan-kecupan lembut di sekujur tubuhnya membuatnya menggelinjang tak tentu.


"Axelle ..." Pekik Irene halus saat Axelle mulai menyatukan diri. Bersamaan dengan gelenyar aneh yang mulai merambat di sekujur tubuhnya.


Axelle mulai bergerak lembut. Irene hanya bisa terus memejamkan matanya. Merasakan sejuta rasa yang Axelle persembahkan untuknya. Axelle terus memacu perlahan tanpa melepaskan pagutannya dari bibir Irene.


Hingga beberapa menit kemudian terdengar erangan panjang keduanya. Sebagai pertanda puncak asmara telah di raih dengan peluh bercucuran. Satu kecupan lembut pun mendarat di kening Irene.


"Aku mencintaimu." Ucap Axelle lirih sebelum akhirnya menjatuhkan diri di samping Irene. Sembari melingkarkan lengannya di perut Irene.


Napasnya yang tersengal lantaran kelelahan, terdengar jelas di telinga Irene. Sebab Axelle membenamkan wajah di ceruk lehernya.


"Axelle ..." Panggil Irene lirih sembari membelai lembut wajah Axelle.


"Hm?" Sahut Axelle singkat.


"Besok aku ijin ke panti ya?"


"Hm?"


"Setelah itu aku ke Olive Galery. Sudah ada janji dengan Bu Olive. Boleh kan?"


"Hm?"


"Makasih."


"Hm?"


Irene pun tak bertanya apa pun lagi. Karena mungkin Axelle sangat lelah. Ia pun memejamkan matanya. Mengistirahatkan raga yang terasa lelah dalam pelukan hangat Axelle.


TBC

__ADS_1


__ADS_2