Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 38


__ADS_3

Hari yang sama, di lain tempat.


Clarissa sudah bersiap dengan dandanan terbaiknya. Sudah tentu modis nan elegan. Sejak Axelle memutuskan mengakhiri hubungannya, Clarissa tak bisa menerimanya begitu saja.


Clarissa bergegas keluar dari unit apartemennya. Di depan pintu, dilihatnya Zaky baru saja kembali.


"Pagi ..." Sapa Clarissa.


Zaky pun menghentikan langkahnya. Lalu menoleh, memandangi Clarissa.


"Aku mau makan di luar, apa kamu bersedia menemaniku makan?" Tanya Clarissa sembari perlahan menghampiri.


"Aku sudah kenyang. Maaf."


"Oh begitu ya. Rencananya hari ini aku mau menemui Axelle. Banyak hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Aku tidak mengerti, kenapa dia mengakhiri hubungan kami begitu saja. Aku tidak bisa percaya ini. Aku penasaran apa yang membuatnya berubah. Apakah karena gadis kampungan itu." Sinis Clarissa.


Zaky menarik sudut bibirnya mendengar keluhan Clarissa. "Axelle sudah mengambil keputusan yang tepat."


"Oh ya? Menurut kamu begitu?" Sembari lebih mendekat. Lalu mengalungkan lengannya mesra di pundak Zaky. Jemarinya mulai menyusuri lekuk paras Zaky. Dan terhenti di bibirnya. Di usapnya lembut bibir itu. Sembari tersenyum genit.


"Bukankah ini kesempatan yang bagus untuk kita?" Tambahnya genit.


Zaky menurunkan lengan Clarissa dari pundaknya.


"Aku bukan tipe pria yang menyukai wanita sepertimu."


"Aku tidak percaya semudah itu kamu melupakan apa yang sudah terjadi. Bahkan kamu lebih tangguh dari Axelle. Aku menyukainya."


Clarissa mulai melancarkan aksinya menggoda Zaky. Mencoba mengingatkannya tentang malam panas yang pernah mereka lalui. Disaat keduanya sama-sama kehilangan kendali.


Zaky terkekeh. Menanggap ucapan Clarissa hanyalah bualan semata. Bualan seorang wanita penggoda.


"Kamu pikir aku tidak tau apa-apa tentangmu? Karirmu di luar negeri sebenarnya tidak sesukses seperti katamu. Sejak awal niat kamu hanya untuk memanfaatkan Axelle. Karirmu redup. Dan kamu kembali untuk memanfaatkan Axelle demi popularitas mu. Tapi sayangnya, sebelum kamu menguak ke publik soal hubungan kalian, Axelle lebih dulu mengakhirinya. Bagaimana? Aku benar kan?" Cibir Zaky dengan tatapan sinis dan terkesan meremehkan Clarissa.


Clarissa mencoba bersikap santai, meski kini amarah mulai merasukinya. Tak terima harga dirinya diinjak-injak seperti itu.


"Bisa saja kamu benar, dan bisa saja kamu salah. Aku kembali memang karena karirku redup. Tidak seperti yang aku inginkan. Sebenarnya aku gagal meraih impianku. Aku kembali karena memang kota ini adalah tempat yang ternyaman untukku."


Zaky kembali terkekeh. "Jika mau numpang tenar, kamu salah orang. Cari saja orang lain yang bisa kamu manfaatkan. Jangan Axelle. Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


"Apa karena dia adalah mesin pencetak uang bagimu?"


"Anggap saja begitu." Kemudian memilih meninggalkan Clarissa. Dan bergegas masuk ke apartemennya.


"Aku tau seperti hubungan kamu dengan Axelle. Kalian bukan hanya sekedar artis dan manajer." Gumam Clarissa lirih disertai seringai tipisnya.


Ada hal yang tidak diketahui banyak orang tentang Zaky dan Axelle. Dan hal itu diketahui Clarissa saat ia tinggal di luar negeri. Itu sebabnya ia kembali. Selain sebab karirnya yang sebenarnya telah meredup. Bahkan gagal meraih impiannya di negeri orang.


.


.


Hari ini hingga beberapa hari kedepannya, jadwal pemotretan Irene kosong. Lain halnya dengan Axelle. Hari ini ia tak berangkat syuting, dikarenakan kondisi kesehatannya yang kurang fit. Namun beberapa hari kedepannya jadwalnya akan lebih padat.

__ADS_1


Axelle menuruni anak tangga perlahan. Lalu menghampiri Irene yang sedang duduk di depan TV. Ia lantas mengambil duduk di sebelah Irene, sambil melingkarkan lengannya di pundak Irene.


Irene tersentak. Sontak ia menoleh, dan mendapat sambutan senyuman hangat Axelle. Ia membuang napas kasar, lalu menurunkan lengan Axelle dari pundaknya. Hal itu malah membuat Axelle kesal. Raut wajahnya semakin masam saat Irene sedikit menggeser duduknya. Menciptakan jarak yang memisahkan. Seakan Irene enggan berada dekat dengan Axelle.


"Kemari. Jangan menjauh. Aku tidak suka." Desis Axelle sembari memasang wajah masam.


"Kamu bau." Kilah Irene yang sejujurnya tak nyaman.


"Masa sih? Padahal aku sudah mandi. Masa bau." Sambil menghirup aroma tubuhnya sendiri.


"Kapan mandinya?"


"Kemarin."


"Astaga." Irene menggeleng tak percaya. "Ternyata kamu jorok juga ya."


"Jangan sembarangan ya. Begini-begini aku idola banyak wanita."


"Sayang saja mereka tida tau kalau kamu itu jorok. Jarang mandi pula."


"Tapi ganteng kan? Ayo kemari, aku peluk." Axelle membuka kedua tangannya lebar-lebar.


"Aku tidak mau. Kamu bau."


"Ayolah. Aku ingin memelukmu." Sembari mendekat. Irene semakin beringsut menjauhi Axelle.


"Axelle, apa-apaan sih? Mandi dulu sana." Irene semakin menggeser duduknya disaat Axelle semakin mendekat.


"Yang itu apalagi. Aku tidak mau." Irene semakin menekankan.


"Ayolah, Ren. Jangan seperti anak kecil." Rengek Axelle.


"Kamu yang seperti anak kecil. Artis apaan jorok begini."


"Tapi kamu suka kan?"


"Tidak."


Secepat kilat jemari Axelle menggelitik pinggang Irene, hingga Irene tak kuasa menahan tawanya.


"Axelle, hentikan." Pinta Irene sambil berusaha mengelak.


"Tidak sampai kamu mau mandi bersamaku."


"Dasar otak mesum. Axelle ..."


Axelle masih saja menggelitik Irene. Hingga tawa keduanya menggema memenuhi ruangan itu. Saat tiba-tiba ...


Ting Tong ...


Terdengar bunyi bel pintu dari depan. Aksi Axelle pun terhenti. Kini dahinya mengerut. Mengira-ngira siapa tamu yang datang. Sengaja ia mengunci pintu rumahnya, agar Clarissa atau Zaky tak sembarangan masuk.


"Biar aku buka pintunya." Ucap Irene. Bergegas ia bangun dari sofa menuju ke ruang tamu.

__ADS_1


Saat pintu terbuka lebar, tampak tamu tak asing sudah berdiri di depan pintu dengan wajah angkuhnya.


"Aku mau bertemu Axelle. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya." Tanpa menunggu di persilahkan masuk, Clarissa langsung membawa langkahnya memasuki rumah itu. Di susul Irene dari belakang. Yang sama sekali tak bisa mencegah wanita itu.


Di ruang tengah Axelle duduk. Di raihnya remote TV lantas mematikan layar TV. Ia bangun dan hendak menyusul Irene ke ruang tamu. Namun langkahnya terhenti saat Clarissa kini berdiri di hadapannya dengan raut masam.


Tak ingin berada di antara Axelle dan Clarissa, Irene memilih masuk ke kamarnya. Ia hanya tak ingin memperkeruh suasana. Kedatangan Clarissa saat ini sudah tentu ingin mempertanyakan perihal hubungan mereka yang berakhir tanpa alasan yang jelas dan pasti. Clarissa tentu tak bisa menerimanya begitu saja. Mengingat hubungan mereka selama tiga tahun baik-baik saja. Sampai tiba-tiba Axelle mengambil keputusan yang tak bisa ia terima begitu saja.


"Axelle. Aku ingin bicara." Pinta Clarissa.


"Aku tidak punya waktu. Sebaiknya kamu pulang."


"Kamu belum memberiku penjelasan, kenapa kamu mengakhiri hubungan kita begitu saja. Aku ingin tau apa alasannya. Jelaskan padaku." Guratan amarah mulai tampak di wajah Clarissa.


"Kita sudah tidak ada kecocokan lagi. Jadi untuk apa mempertahankan hubungan seperti itu."


"Alasan kamu tidak masuk akal."


"Sudahlah. Aku tidak ingin membahas ini lagi." Axelle hendak berlalu meninggalkan Clarissa. Akan tetapi Clarissa mencekal lengannya kuat. Mau tak mau Axelle ia pun menghentikan langkahnya.


Di seberang, tampak Irene berjalan dengan wajah tertunduk. Seakan tak ingin menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia melenggang begitu saja melewati Axelle dan Clarissa. Sampai akhirnya Axelle menghentikan langkahnya.


"Tunggu." Seru Axelle. Di hempasnya tangan Clarissa dari lengannya. Lalu beranjak menghampiri Irene.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Axelle ingin tahu. Sebab Irene sudah dalam tampilan rapi.


"Aku ijin ke panti sebentar. Aku kangen anak-anak." Alasan yang paling tepat saat ini untuk meninggalkan Axelle dan Clarissa berdua.


"Aku ikut."


"Tapi__"


"Axelle." Pekik Clarissa sembari menghampiri.


Axelle menghembuskan napas panjang. Kekesalan kian membuncah di dadanya. Sungguh ia tak mengharapkan kehadiran Clarissa saat ini.


"Biarkan saja dia pergi." Ucap Clarissa disertai tatapan tak suka terhadap Irene.


Tanpa menunggu perdebatan semakin panjang, Irene pun tergesa-gesa membawa langkahnya meninggalkan Axelle dan Clarissa. Tanpa menghiraukan Axelle yang memanggilnya.


"Irene ..." Panggil Axelle.


Axelle hendak menyusul langkah Irene. Saat tiba-tiba ucapan Clarissa menghentikan langkahnya.


"Aku bisa saja memberitahu media tentang sandiwara kalian. Kamu bisa membayangkan seperti apa karirmu nanti, jika semua orang tau pernikahan kalian hanyalah sandiwara. Kamu sudah membohongi banyak orang." Ucap Clarissa demi menghentikan langkah Axelle.


Axelle berbalik, lalu menatap tajam Clarissa. Memang seperti itulah Clarissa. Ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Silahkan. Aku tidak peduli." Axelle tak gentar dengan ancaman murahan Clarissa.


"Aku tau satu hal yang tidak semua orang tau tentang dirimu. Aib yang selama ini kalian tutup rapat-rapat." Tambah Clarissa. Membuat Axelle geram. Hingga guratan amarah pun semakin tampak di wajahnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2