
"Daddy?" Clarissa kaget melihat Hadi sudah kembali dan berdiri menatapnya dingin.
Dadang menyodorkan kunci mobil ke Clarissa. Ia lalu meninggalkan majikannya itu setelah kunci mobilnya berpindah tangan.
"Daddy sudah pulang? Mommy sejak tadi menunggu Daddy pulang." Ujar Clarissa menutupi kegugupannya.
"Bukankah Daddy sudah pernah bilang, kalau Daddy tidak suka kamu bersikap seenaknya di rumah Daddy. Daddy sudah membelikan mu apartemen. Jika mau berbuat seenaknya, sebaiknya di tempatmu saja. Jangan di rumah Daddy. Apalagi jika tanpa seijin Daddy." Ujar Hadi memperingatkan Clarissa.
"Sorry Dad. Tadi aku kurang enak badan. Jadi aku minta tolong Dadang."
"Kata Dadang di mobil kamu ada noda darah. Boleh Daddy tau kenapa?"
Seketika Clarissa gugup. Bahkan terlihat salah tingkah.
"Emm ... Emm ... Itu ..." Clarissa bingung harus menjawab apa. Mendadak ia gugup setengah mati. Rona wajahnya memucat, dahinya pun tampak mulai berkeringat.
"Clarissa, kenapa bisa ada noda darah di mobil kamu?"
Clarissa tak bisa menjawab pertanyaan Hadi. Tenggorokannya terasa tercekat. Bahkan untuk menelan saliva saja terasa susah.
"Kamu menabrak orang?" Tebak Hadi. Disertai tatapan tajam menyelidik.
Clarissa semakin gugup. Bahkan kini sekujur tubuhnya mulai gemetaran. Ia masih bingung harus menjawab apa. Tatapan Hadi terasa kian tajam bagai menembus jantung. Menelisik parasnya yang kian memucat. Hingga keringat dingin pun kian mengucur deras.
Ia bagai tersangka yang sedang diinterogasi. Suasana mendadak tegang. Ia terpaku di tempat. Tubuhnya terasa kaku. Tidak bisa maju ataupun mundur. Ditambah lagi, Hadi yang perlahan mulai menghampirinya. Membuat seluruh urat sarafnya menegang.
"Clarissa ... Jawab pertanyaan Daddy." Ujar Hadi.
Clarissa menelan saliva dalam-dalam. Meski dengan bersusah payah.
"Kamu habis menabrak orang kan?" Tanya Hadi sekali lagi.
"Ti_tidak Dad. Itu bu_bukan darah." Jawab Clarissa tergagap.
"Oh ya? Lalu itu apa kalau bukan darah?"
"I_itu cat kok Dad. Iya, cat."
Hadi mengerutkan dahi tanpa melepaskan tatapannya dari Clarissa.
"Kamu bohong."
"Aku serius Daddy. Itu cat. Tadinya aku mau mengganti warna mobilku dengan warna merah. Tapi, aku berubah pikiran." Dari yang tampak dari raut wajah Clarissa, wanita itu seakan tengah berkilah.
"Benar?"
"Iya." Sambil mengangguk.
"Tapi, kalau memang kamu ingin mengganti warna mobil kamu, seharusnya kamu bawa ke bengkel. Memangnya kamu mau mengecatnya sendiri?"
Clarissa kembali menelan saliva. Bingung harus menjawab apa.
"Dengar Clarissa. Daddy memang tidak tahu apapun dengan kehidupan pribadi mu. Tapi Daddy bukan orang kolot yang tidak mengikuti perkembangan teknologi. Daddy tahu gosip yang sempat viral tentang kamu dan Axelle. Dan istrinya Axelle, baru-baru ini mengalami kecelakaan."
"Ma_maksud Daddy apa sih?" Clarissa mulai tampak ketakutan.
Insting seorang Hadi Irawan tidak pernah meleset. Pria paruh baya itu sering mengaitkan segala sesuatu. Nalurinya bak seorang detektif. Hal itulah yang membuat Clarissa sedikit merasa takut padanya. Untuk itulah ia memilih tinggal di apartemen. Sebab ia menginginkan kebebasan.
Dan Hadi pun tidak pernah melarangnya melakukan apapun yang diinginkannya. Bahkan Hadi terkesan seakan tak peduli padanya. Materi, ia penuhi. Tapi kasih sayang sebagai seorang ayah, tak pernah tampak dari sikapnya terhadap Clarissa. Karena memang sejak awal, Hadi tahu betul, Clarissa bukan putrinya.
"Kamu tau Daddy tidak suka dibohongi. Dalam hal apapun." Tegas Hadi dengan penuh penekanan. Lalu ia beranjak masuk ke dalam rumah.
Clarissa menghembuskan napasnya lega sembari mengelus-elus dadanya memandangi punggung Hadi yang semakin menjauh.
Di dalam rumah, di sofa panjang tempat khusus ia berleha-leha, Gina tengah asik bermain ponsel. Melihat Hadi datang, ia bergegas beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Hadi.
"Pah ... Papah dari mana saja?" Tanya Gina. Meski sebenarnya ia tahu suaminya itu baru saja pergi bersama mantan istri keduanya.
__ADS_1
Langkah lebar Hadi pun terhenti. Lalu memandangi Gina dengan tatapan yang tak biasa.
"Papah dari mana saja dengan Olivia?" Tanya Gina lagi.
"Bukan urusan kamu." Kembali beranjak meninggalkan Gina.
Gina tidak terima Hadi mengacuhkannya begitu saja. Ia berusaha mengikuti langkah Hadi.
"Pah ... Papah ... Mamah mau bicara dengan Papah." Cecar Gina.
"Olivia pasti berusaha merayu Papah lagi kan? Mamah tidak suka wanita itu kembali mengganggu rumah tangga kita Pah. Wanita pembawa sial itu, benar-benar tidak punya malu. Beraninya dia kembali merayu suami orang." Cecarnya lagi. Hingga Hadi pun kembali menghentikan langkahnya.
"Sebaiknya kalian bersiap-siap." Ujar Hadi.
Gina mengernyit. Tak tahu maksud ucapan Hadi. Apakah Hadi berniat mengusirnya dari rumah?
"Ma_maksud Papah?"
"Dalam waktu dekat, aku akan memperkenalkan putriku pada semua orang. Putri kandungku yang hilang secara misterius."
Gina pun terbelalak dengan mulut menganga. Seketika pikirannya kembali ke masa lalu. Masa beberapa tahun silam. Saat putri kesayangan Olivia menghilang.
Tidak mungkin! Bagaimana bisa?
Gina hanya bisa membatin. Bagaimana mungkin Nadine masih hidup. Tidak sedikit nominal yang ia keluarkan untuk menyingkirkan bayi yang dianggapnya pembawa sial itu. Selama ini ia mengira bayinya Olivia sudah mati. Tapi kenyataannya justru mengejutkan.
Tanpa sadar Gina menggelengkan kepalanya. Hadi pun menampakkan seringai tipis di wajahnya.
Tanpa menunggu reaksi berlebih Gina, Hadi kembali beranjak pergi. Membawa langkahnya cepat menuju kamarnya.
Sementara Gina masih berdiri mematung di tempatnya. Hatinya mendadak diliputi kecemasan dan ketakutan luar biasa.
Ia ingat, Hadi pernah berkata dengan lantang, bahwa seluruh harta kekayaanya hanya milik putri kandungnya.
Gina pun terhenyak. Seakan dipaksa tersadar dari mimpi indahnya. Jika Hadi berkata demikian, itu artinya Hadi sudah tahu bahwa Clarissa bukan putri kandungnya.
Gina pun mendadak panik.
Ia yang selama ini terbiasa hidup mewah. Ia yang selama ini terbiasa hidup dari penghasilan suaminya. Kini ia dipaksa harus melepas segala kemewahan yang ia miliki. Selama ini ia hidup enak, semua kebutuhannya terpenuhi tanpa harus bersusah payah. Apapun yang diinginkannya, tinggal minta.
Sekarang, apa yang harus ia lakukan jika seluruh harta kekayaanya jatuh ke tangan Nadine. Ia tidak ingin hidupnya dan Clarissa terlunta-lunta di jalanan.
Tidak!
Ini tidak boleh terjadi!
Tekadnya dalam hati. Sambil mengepalkan tinjunya erat. Dengan tatapan penuh aura kebencian.
.
.
Lantaran rasa lelah karena aktifitasnya dalam sehari ini, Axelle pun tak bisa menahan rasa kantuknya. Ia tertidur pulas di sofa di sudut ruang rawat VIP itu.
Irene yang masih belum bisa memejamkan matanya, memilih memandangi Axelle yang sedang terlelap. Tanpa sadar, senyum tipis mengembang begitu saja di wajahnya. Menatap paras tampan Axelle membuat hatinya sedikit tenang.
Sekilas, ingatannya kembali ke saat-saat pertama kali mereka bertemu. Dimana saat itu ia sangat kesal dan tidak menyukai Axelle yang menurutnya sangat menyebalkan.
Hingga saat kejadian tak terduga yang menimpa. Dan membuatnya terikat dalam satu hubungan sakral bersama Axelle.
Awalnya hubungan itu tidak berarti. Namun seiring berjalannya waktu, hubungan itu kini sangat berarti baginya.
Rasanya seperti mimpi, seorang Axelle mencintainya dengan sepenuh hati. Ia merasa sangat bersyukur, Tuhan menghadirkan Axelle dalam hidupnya. Mereka yang awalnya berlatar belakang sama. Sama-sama tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Menjadikan mereka saling memahami satu sama lain.
Tersentak dari lamunannya, Irene kini merasa tenggorokannya kering. Ia baru sadar, sejak tadi ia belum membasahi tenggorokannya.
Dengan sekuat tenaga, ia berusaha bangun untuk duduk. Tangannya pun mulai terulur, hendak meraih segelas air minum di nakas.
__ADS_1
Namun sebab pinggangnya yang masih terasa sakit akibat benturan keras saat kecelakaan itu, membuat ia sedikit kesulitan.
"Aw!" Pekik Irene sambil meringis kesakitan memegangi pinggangnya.
Sontak suara rintihan kesakitan Irene pun membangunkan Axelle dari tidurnya. Buru-buru Axelle bangun dan menghampiri Irene.
"Ren, kamu kenapa? Ada yang sakit?" Cemas Axelle sembari meneliti seluruh bagian tubuh Irene.
Irene pun tersenyum. Lalu mengangguk pelan.
"Pinggangku." Ucap Irene manja sambil mengelus pinggangnya.
"Kenapa kamu bangun sayang. Memangnya kamu mau ke mana? Ke kamar mandi? Sini, aku temani." Cecar Axelle mirip ibu-ibu bawel.
"Bukan. Aku haus."
"Oooh ..." Lalu meraih segelas air putih di nakas. Dan memberikannya pada Irene. Irene pun meneguk air minum itu hingga tandas. Lalu memberikan gelas kosong kepada Axelle.
Axelle menaruh kembali gelas itu ke tempatnya semula. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur berhadapan dengan Irene.
"Sejak tadi kamu belum juga tidur?" Tanya Axelle.
Irene mengangguk. "Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
Irene mengendikkan bahunya. "Entahlah."
"Kalau kamu tidak tidur, tidak beristirahat yang cukup, lalu kapan kamu sembuhnya." Omel Axelle.
"Kamu seperti ibu-ibu kalau sedang mengomel." Kelakar Irene sambil tersenyum simpul.
"Aku bukan mengomel. Tapi aku sangat mencemaskan kamu. Sekarang kamu tidur, ya?"
Irene menggeleng. Axelle pun bergegas naik ke atas tempat tidur.
"Geser sedikit." Titahnya.
"Kamu mau ngapain Axelle."
"Menidurkanmu."
"Aku bukan anak kecil lagi Axelle. Aku bisa tidur sendiri."
Axelle tak mempedulikan ocehan Irene. Ia lantas berbaring. Lalu meraih tubuh Irene dan memintanya berbaring.
"Jadilah anak penurut kali ini. Ayo tidur."
Irene pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia menuruti perintah Axelle dan segera merebahkan diri di samping Axelle.
Axelle melingkarkan lengannya di pinggang Irene. Sedikit menekannya agar tubuh mereka saling menempel.
"Aw! Pinggangku sakit." Rengek Irene.
"Tempat tidurnya sempit. Kalau kamu jatuh gimana?"
"Alasan kamu saja." Sambil memukul pelan dada bidang Axelle.
"Begini kan lebih enak. Sekarang kamu bisa tidur dengan nyaman." Axelle semakin mempererat rangkulannya.
"Bukan nyaman lagi Axelle, tapi sesak. Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu memelukku seerat ini?"
"Agar kamu tidak terlepas dariku. Hm?" Sembari memberikan satu kecupan singkat di kening Irene.
"Selamat malam sayang. Mimpi yang indah." Lirih Axelle seiring matanya yang mulai terpejam.
Irene pun hanya bisa menurut. Ia coba memejamkan matanya.
__ADS_1
Memang benar kata Axelle, tidur dalam pelukannya rasanya sangat nyaman. Hingga dalam sekejap, Irene pun akhirnya terlelap.
TBC