Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 53


__ADS_3

Pagi yang cerah di sebuah hunian mewah.


Tampak Olivia tengah bersiap-siap melakukan aktifitas kesehariannya. Sembari menerima panggilan telepon, ia melangkah perlahan menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah.


Namun langkahnya harus terhenti sebab seseorang telah berdiri di sisi mobilnya dengan penampilan tak seperti biasanya. Olivia pun mengakhiri panggilannya.


"Ranti?" Sapa Olivia kagum melihat penampilan Ranti yang tampak anggun mengenakan busana yang pernah diberikannya pada Ranti beberapa waktu lalu.


Ranti tersenyum manis sembari merapikan sedikit pakaiannya.


"Aku sudah memikirkan tawaran kamu soal bantu-bantu di Galery." Ucap Ranti.


"Oh ya? Lalu apa keputusan kamu?"


"Sudah aku putuskan menerima tawaran kamu. Aku akan bekerja bersamamu di Galery. Tapi mohon maaf sebelumnya, jika seandainya hasil kerjaku tidak memuaskan, kamu bisa langsung memecat ku."


"Ha ha ha ..." Olivia tergelak mendengar penuturan Ranti yang terkesan begitu merendahkan diri.


"Ya ampun Ran. Aku percaya sama kamu kok. Aku yakin kamu pasti bisa bekerja dengan baik. Lagipula, aku tidak terlalu menuntut hasil kerjamu kok. Kamu mau ikut aku ke Galery saja aku sudah sangat senang." Ujar Olivia sembari menuruni anak tangga. Lalu bergegas membuka pintu mobil.


"Ayo, Ran. Nanti kita telat lagi." Titah Olivia yang lebih dulu naik ke mobilnya. Kemudian disusul oleh Ranti.


.


Sementara di lain tempat, di sebuah hunian lainnya. Axelle terbangun dari tidur lelapnya. Matanya nanar memandangi jam kecil di nakas. Sudah pukul 08.00 pagi.


"Astaga." Ia terlonjak, lalu buru-buru turun dari tempat tidur.


Ia lantas keluar kamar, menuruni anak tangga secepat mungkin. Ia menyapukan pandangannya ke setiap penjuru rumah dengan hati gelisah, hanya untuk mencari keberadaan Irene.


Ia pun mempercepat langkahnya menuju kamar Irene. Namun, kamar itu telah kosong. Irene tidak berada di kamarnya. Ia lalu bergegas ke dapur. Hal yang sama pun ia temui. Irene tidak berada di dapur. Hanya meja makan yang telah tertata rapi yang Irene tinggalkan untuknya.


"Irene ... Kenapa kamu pergi begitu saja. Setidaknya kamu bangunkan aku. Jika kamu mau ke panti, aku bisa mengantar kamu ke sana." Gumam Axelle kesal.


Ia lalu bergegas ke kamarnya. Menyambar ponselnya cepat di nakas. Lalu mulai menghubungi Irene.


"Kenapa kamu tidak membangunkan aku. Kenapa pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu. Apa kamu tahu seperti apa kondisimu sekarang ini? Kamu sedang hamil, Ren. Apa kamu tidak tahu kalau aku sangat mencemaskan kamu?" Cecar Axelle begitu panggilannya tersambung.


"Honey ..." Sapa sebuah suara lembut dari seberang. Hingga Axelle pun tersentak. Kesadarannya baru terkumpul penuh saat terdengar suara yang menyahuti dari seberang bukan suara Irene. Melainkan Clarissa.


"Honey ... Apa katamu tadi? Coba diulangi lagi. Aku tidak mendengarnya dengan jelas. Disini sangat bising. Aku sedang lari pagi loh Honey. Apa kamu mau ikut?" Ujar Clarissa lembut dari seberang.


Axelle pun menghembuskan napasnya kasar. Ia baru menyadari, saking terburu-buru sampai-sampai ia salah menekan nomor yang diinginkannya. Kenapa juga harus Clarissa. Apa ia blokir saja nomor Clarissa dari ponselnya?


"Sudah berapa kali aku bilang, stop memanggilku dengan sebutan itu. Aku benar-benar tidak suka. Paham kamu?" Tegas Axelle kesal.


"Sepertinya ada hal yang aku lewatkan antara kamu dan gadis kampungan itu. Ternyata dugaan ku benar. Gadis kampungan itu adalah penyebab hubungan kita putus."


"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar apa pun lagi darimu. Sebaiknya mulai sekarang, jangan pernah mengganggu hidupku lagi."


Tut

__ADS_1


Axelle memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak dengan kasar. Baru beberapa detik berlalu, ponselnya kembali berdering.


"Ada apa lagi." Kasar Axelle menjawab panggilan masuk. Saking kesalnya.


Namun seketika raut wajahnya pun kembali berubah. Setelah mendengar suara yang menjawab dari seberang justru berbeda.


"Apa kamu bisa datang menemui ku di kantor hari ini?" Tanya Zaky dari seberang.


Axelle memijat pelipisnya lembut. Sebenarnya hari ini ia enggan keluar rumah. Tapi berhubung Zaky yang meminta, di tambah lagi Irene sedang keluar rumah. Mau tidak mau, ia harus menuruti permintaan Zaky.


"Iya, baiklah." Kemudian memutus sambungan telepon.


.


.


Irene membuka lemari pakaiannya, di kamar lamanya. Ia keluarkan sebuah kotak kecil dari lemari itu. Ia lantas mengambil duduk di tepian tempat tidur. Pelan ia mulai membuka kotak itu. Diambilnya sebuah foto masa kecilnya. Ia pindahkan foto itu ke dalam tas kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Kemudian ia mengambil sebuah kalung. Ia pakaikan kalung itu di lehernya. Sudah bertahun-tahun lamanya, entah kenapa tiba-tiba saja ia ingin memakai kalung itu.


"Ren ..." Sapa sebuah suara lembut, membuat Irene sedikit tersentak.


Bu Norma pun masuk dan mengambil duduk di sampingnya.


"Aku datang untuk mengambil beberapa barang ku, Bu." Ucap Irene sembari menutup kembali kotak kecil itu. Lalu memasukkannya kembali ke dalam lemari.


"Oh ... Oh ya, apa kamu sudah makan?"


"Sudah, Bu. Aku sudah sarapan dari rumah."


"Ti_tidak Bu. Aku tidak sakit. Mungkin aku hanya kurang tidur saja." Kilah Irene yang mulai gugup. Bagaimanapun, ia takut jika sampai Bu Norma tahu bahwa ia sedang hamil saat ini. Apalagi, pernikahannya dengan Axelle hanya sandiwara. Ia hanya tak ingin mengecewakan Bu Norma.


"Oooh ... Ya sudah. Kalau begitu kamu harus istirahat yang cukup. Jangan keseringan tidur terlalu larut. Itu tidak baik untuk kesehatan kamu."


Irene tersenyum kikuk. "I_iya Bu. Mulai sekarang, aku akan tidur lebih awal."


"Ibu tinggal dulu ya, Ibu mau menyiapkan makan siang untuk anak-anak."


Irene kembali tersenyum sembari memandangi kepergian Bu Norma.


.


.


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mengalihkan atensi Zaky sejenak dari beberapa lembar kertas yang sedang ia baca.


"Masuk." Ujarnya mempersilahkan.


Pintu terbuka, tampak Axelle melangkah masuk ke ruangan Zaky. Sedikit terkejut dengan kedatangan  Axelle tiba-tiba, hingga Zaky kelabakan. Buru-buru ia memasukkan lembaran kertas itu ke dalam laci mejanya. Sikapnya pun terlihat seperti salah tingkah. Sepintas Zaky tampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Axelle ... Kamu sudah datang?" Zaky berusaha mengusir rasa gugupnya.

__ADS_1


Tanpa dipersilahkan Axelle langsung mengambil duduk di depan meja kerja Zaky.


"Apa itu?" Tanya Axelle mengarahkan pandangannya pada laci meja Zaky.


"Oh, bu_bukan apa-apa." Entah kenapa Zaky terlihat gugup.


"Langsung saja, kenapa kamu memintaku datang kemari." Ujar Axelle to the poin.


"Sebenarnya banyak hal yang ingin aku bicarakan. Tapi sepertinya lain kali saja. Aku hanya membicarakan soal tawaran Bu Olive padamu."


"Tawaran mengenai apa?"


"Dia sangat tertarik menjadikan kamu sebagai model katalog terbarunya. Gimana, kamu mau?"


"Aku pikir-pikir dulu. Masalahnya aku ingin mengambil cuti dulu. Aku ingin rehat sebentar."


"Bersama Irene."


Axelle terdiam sejenak. Menimbang-nimbang tawaran yang diajukan Zaky. Akan tetapi masalahnya sekarang adalah Irene sedang hamil. Lama kelamaan perutnya akan semakin membesar. Bagaimana bisa dia masih bekerja untuk Olivia.


"Ini hanya tawaran. Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Tapi Irene mungkin sudah menerima tawarannya." Ucap Zaky.


"Baiklah."


"Jadi kamu ..."


"Iya, aku terima tawarannya." Kemudian Axelle bangun dari duduknya.


"Kalau begitu sebaiknya aku pulang." Tambahnya. Lalu beranjak pergi. Belum sempat tangannya memutar handel pintu, ia kembali memutar tubuhnya.


"Oh ya, aku mungkin membutuhkan bantuan mu." Ujar Axelle.


"Bantuan? Bantuan apa?"


Axelle menghela napas sejenak. Lalu kembali berkata, "aku ingin menikahi Irene secara sah."


Detik itu juga Zaky terdiam. Sejurus kemudian gelagatnya tampak aneh. Sesekali matanya melirik laci mejanya. Seakan ia tengah menyembunyikan sesuatu.


"Satu lagi, aku minta tolong kamu carikan aku pembantu rumah tangga. Aku membutuhkannya untuk membantu pekerjaan Irene di rumah." Tambah Axelle.


"Ba_baiklah." Sahut Zaky singkat.


"Thanks." Tanpa perlu berlama-lama lagi Axelle pun bergegas keluar dari ruangan Zaky.


Zaky bernapas lega begitu Axelle keluar dari ruangannya. Dibukanya lagi laci mejanya. Diambilnya kembali lembaran kertas yang ia baca sebelumnya. Sembari menghela napas dalam-dalam, tangannya kembali bergerak, mengeluarkan sesuatu dari dalam laci mejanya.


Dipandanginya gelisah dua lembar buku kecil di tangannya, yang bertuliskan Buku Nikah Suami dan Buku Nikah Istri. Sedetik kemudian ia letakkan kembali buku itu di laci mejanya, menumpuknya bersama lembaran kertas di tangannya.


"Aku harap Axelle tidak akan pernah mengetahui ini." Gumamnya lirih, lalu mengunci laci itu rapat. Dan menyembunyikan kuncinya diantara buku-buku yang tertata rapi di rak bukunya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2