Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 43


__ADS_3

Ballroom Hotel Paradise tampak mulai dihadiri para tamu undangan. Panggung catwalk telah siap. Tamu undangan mulai berjejer rapi di tempatnya masing-masing di depan panggung catwalk. Yang dihiasi oleh lampu warna-warni.


Sementara di belakang panggung, Olivia dan Shelly tampak sibuk mempersiapkan para model yang akan memperagakan busana rancangannya.


Di seberang, Irene tengah di dandani oleh seorang MUA. Rencananya, Irene akan bersiap-siap sendiri. Tetapi Olivia memintanya datang lebih awal. Sebab Irene harus berlatih berjalan di catwalk untuk pertamakali nya. Para model lain telah selesai didandani. Dan kini mereka tengah bersiap memasuki panggung catwalk.


Sementara Irene sedang di dandani, di seberang Olivia tengah mengobrol dengan Zaky. Irene datang bersama Zaky. Meski tak ada jawaban persetujuan dari Axelle, tapi ia juga tak bisa menolak. Sebab Zaky adalah manajer Axelle.


"Terima kasih sudah mau saya buat repot untuk menjemput Irene." Ucap Olivia.


Zaky tersenyum. "Tidak apa-apa Bu Olive. Justru saya senang bisa membantu Bu Olive.


"Entah kenapa saya sangat tertarik dengan Irene. Melihatnya membuat saya teringat seseorang. Putri tercinta saya." Tanpa sadar kalimat itu terucap dari mulut Olivia.


"Apa? Siapa?" Mungkin karena keadaan yang bising, sebab musik yang mulai terdengar di putar kencang, membuat pendengaran Zaky sedikit terganggu. Hingga tak menyimak dengan baik ucapan Olivia.


"Siapa maksud Bu Olive?" Tanya Zaky sekali lagi begitu keadaan memungkinkan.


Olivia pun tersentak. Seakan tersadar dari lamunannya.


"Oh, itu ... Maksud saya, Irene adalah anak yang baik. Dia cantik, ramah, saya suka melihat kepolosannya." Olivia mencoba menutupi sikapnya yang sempat salah tingkah.


Zaky kembali tersenyum sembari melayangkan pandangannya ke seberang. Memandangi Irene yang terlihat cantik dalam balutan gaun berwarna hitam. Irene begitu anggun saat telah selesai di dandani. Membuat Zaky terpana seketika.


"Oh ya, silahkan kamu mengambil duduk. Saya harus mempersiapkan Irene masuk ke panggung ke catwalk. Soalnya ini pertama kali buat dia. Jadi saya harus mendampinginya." Ucap Olivia kemudian.


"Oh, iya, iya. Silahkan Bu Olive. Kalau begitu saya ke depan saja. Mari ..." Zaky pun beranjak dan mengambil duduk di deretan kursi yang telah tersedia di setiap sisi panggung.


Setelah para model usai menampilkan busana rancangan Olivia. Kini, giliran Irene yang akan tampil sebagai penutup.


Gugup, demam panggung ...


Iya.


Sebab ini pertamakali nya Irene tampil di depan banyak orang. Keringat dingin mulai mengucur, gemetaran pun mendadak terasa. Tapi, berkat Olivia, ia pun akhirnya memberanikan diri berjalan di atas panggung catwalk. Dengan mengenakan gaun terbaik rancangan Olivia dalam koleksi katalog yang dipamerkan malam ini.


Banyak mata yang terpukau akan penampilannya. Gaun hitam nan elegan dan seksi itu terlihat cocok dikenakan Irene. Tak terkecuali dengan Zaky. Senyum manisnya tak pernah lepas dari wajahnya saat menyaksikan penampilan Irene.


Sementara di seberang, tampak seorang wanita cantik berjalan dengan anggunnya memasuki ballroom. Lalu mengambil duduk di tempat yang masih kosong. Tak seperti Zaky yang tersenyum manis, bahkan kagum. Wanita itu justru tersenyum sinis melihat penampilan Irene. Terlebih saat acara itu usai. Di tutup dengan kehadiran Olivia sebagai perancang busana.


Clarissa.


Wanita itu memandang remeh Irene. Dari tatapannya saja sangat terlihat jelas rasa tak sukanya terhadap Irene.


Suara tepukan tangan tamu undangan pun terdengar riuh memenuhi aula itu. Sebagai pertanda acara pameran busana telah usai.


Di belakang panggung, keadaan terlihat sama seperti saat persiapan tadi. Olivia dan Shelly sibuk mengatur para model.


"Terima kasih banyak semuanya atas kerja keras kalian. Kalian luar biasa malam ini." Ungkapan terima kasih Olivia kepada para model yang telah tampil memamerkan busana rancangannya.


Sementara di seberang, tampak Irene berjalan dengan sangat hati-hati. Sebab gaun panjang yang ia kenakan dan high heels di kakinya membuat ia sedikit kesulitan. Ia bersusah payah melangkahkan kakinya yang mulai terasa pegal lantaran tak terbiasa menggunakan high heels terlalu lama. Sampai tiba-tiba seseorang menyodorkan sebelah kakinya, menghalangi jalannya. Hingga ia pun tak bisa lagi menjaga keseimbangan tubuhnya.

__ADS_1


Tubuh Irene pun oleng. Mungkin akan terjatuh menyentuh lantai. Tiga detik ... Dua detik ... Satu detik ...


HAP


Dengan sigap, dalam sekejap mata, seseorang menangkap tubuhnya di saat yang tepat. Hingga Irene pun tertolong dari keadaan yang mungkin akan membuatnya malu.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya seseorang yang menolong Irene. Irene pun terbelalak menatap orang itu.


"Axelle?" Irene hampir tak percaya. Bagaimana bisa Axelle berada di sini. Sedangkan katanya, ia tak bisa hadir lantaran syutingnya yang panjang.


Axelle tersenyum sembari membantu Irene berdiri dengan benar. Ia lantas menyapukan pandangannya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Memandangi Irene dengan penuh kekaguman.


"Kamu sangat cantik." Puji Axelle. Dengan tatapan kagum dan penuh cinta.


Irene mengulas senyum manisnya sembari malu-malu. "Makasih."


"Ini kamu dandan sendiri?"


"Tidak. Ada MUA yang mendandani. Kalau aku dandan sendiri, nanti malah mirip badut. Seperti yang kamu bilang." Irene merengut sebal, mengerucutkan bibirnya.


Axelle justru terkekeh. Gemas dengan tingkah Irene.


"Bercanda. Kamu kalau cemberut begitu jadi benar-benar mirip badut, tau ..." Sambil mencubit gemas pipi Irene. Hingga membuat seseorang yang sedang memperhatikan mereka jadi gerah. Bahkan tidak suka melihat kedekatan mereka berdua.


Clarissa.


Rencananya untuk membuat Irene jatuh, gagal sudah. Siapa sangka Axelle justru datang di waktu yang tepat. Yang ia tahu, Axelle tidak akan bisa datang kemari, lantaran syutingnya yang padat. Banyak adegan yang harus Axelle selesaikan hari ini. Tapi, bagaimana bisa Axelle berada di tempat ini. Apakah sutradara memberinya ijin sekali lagi?


"Hai ..." Sapa Clarissa.


Seketika, wajah ceria Axelle suram. Begitu pun dengan Irene. Bahkan Irene mulai merasa tak nyaman berada di antara Axelle dan Clarissa, mantan kekasih Axelle.


"Wow ... Penampilanmu cukup bagus. Lumayan." Ucap Clarissa melempar pujian renyah.


"Makasih." Balas Irene datar.


"Tapi, tetap saja, kampungan." Tandasnya dengan senyum sinis khas. Clarissa bahkan memandang remeh Irene dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Membuat Irene semakin tak nyaman dan canggung.


"Rissa, jaga mulut kamu." Hardik Axelle tak suka mendengar hinaan Clarissa terhadap Irene.


"Came on Axelle. Kamu bisa lihat sendiri kan, gimana kampungannya gadis ini. Apa penyebab kamu mengakhiri hubungan kita karena gadis kampungan ini?"


Axelle tak menanggapi. Setengah mati ia menahan amarahnya. Terlebih lagi saat melihat Irene semakin tertunduk malu.


"Yang benar saja. Pernikahan kalian bahkan hanya sandiwara."


"Rissa." Hardik Axelle sekali lagi. Lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Takut jika ada orang yang sempat mendengar ucapan Clarissa.


"Sekali lagi kamu bicara soal sandiwara, maka aku__"


"Maka aku apa, Honey?" Sela Clarissa cepat.

__ADS_1


"Mulai sekarang, stop memanggilku Honey. Oke?"


"No, no. Hubungan kita berakhir tanpa alasan yang jelas. Jika semua ini karena gadis kampungan ini, aku tidak terima. Sangat tidak pantas jika kamu membandingkan aku dengannya."


Irene masih tertunduk malu. Rasa tak nyaman, rasa tak enak hati, rasa terinjak-injak harga diri, berbaur menjadi satu rasa yang bahkan sulit ia jabarkan. Yang kian terasa hanyalah rasa sakit yang semakin menusuk hingga ke dasar sukma.


"Axelle ... Irene ..." Ditengah ocehan yang semakin panas, tiba-tiba Zaky datang menghampiri.


"Clarissa?" Zaky mengernyit memandangi Clarissa. Lalu pandangannya bergulir pada Irene yang tertunduk. Enggan mengangkat wajahnya, walau sekedar menatapnya sejenak.


"Bukannya kamu di lokasi syuting Axelle?" Tanya Zaky beralih menatap Axelle.


"Sudah aku selesaikan. Oh ya, banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Salah satunya, tentang pendatang baru yang sembarangan kamu rekrut. Aku sungguh tidak suka." Tegas Axelle dengan tatapan tajamnya.


"Aku punya alasan sendiri untuk itu."


Merasa tak nyaman berada di antara mereka, Irene pun memilih menjauh. Mengambil langkah cepat meninggalkan mereka bertiga.


Melihat hal itu, dengan cepat Zaky menyusul langkah Irene.


"Irene ..." Panggil Zaky.


Irene tak menghiraukan. Ia terus melangkah cepat meski sedikit terseok-seok lantaran high heels yang ia kenakan.


"Irene, tunggu." Panggil Zaky sekali lagi. Sembari terus berusaha mengikuti langkah Irene. Sampai akhirnya, Zaky berhasil menyusulnya. Ia lantas menahan pergelangan tangan Irene. Hingga Irene pun terpaksa menghentikan langkahnya.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Zaky.


"Aku mau pulang. Acaranya sudah selesai."


"Tapi Bu Olive ingin bertemu kamu."


"Maaf, lain kali saja. Aku ingin pulang sekarang."


"Ya sudah, aku antar pulang ya?" Tawar Zaky.


"Tidak perlu. Dia akan pulang bersamaku." Belum sempat Irene menyahuti, Axelle telah lebih dulu menjawab tawaran Zaky. Dengan ketusnya.


Pelan, Axelle melepas tangan Zaky dari pergelangan Irene. Disertai dengan tatapan tajamnya.


"Selesaikan dulu masalah kamu dengan Clarissa. Irene biar aku yang mengantarnya pulang." Ucap Zaky.


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Karena dia isteriku."


Zaky menarik sudut bibirnya. Menganggap Axelle hanya sekedar bercanda. "Axelle, kamu lupa siapa yang membuat kalian berada dalam ikatan itu? Ikatan kalian tidak nyata."


"Aku mencintainya." Tegas Axelle tanpa basa-basi lagi. Hingga Zaky pun tertegun dan terpaku menatap Axelle yang tampak serius dengan ucapannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2