
Di lokasi syuting. Seperti biasa, Axelle duduk di kursi peristirahatannya sambil membaca ulang naskah yang baru saja diberikan sutradara padanya. Memang benar apa kata Boni, ada penambahan karakter dadakan. Alasannya kenapa, ia tak tahu. Sebab ia hanyalah seorang aktor yang mengikuti arahan sutradara.
"Axelle, hari ini syutingnya lama. Kamu bisa kan? Kemarin kamu sempat ijin, jadi hari ini kita kejar ketinggalan kamu." Ucap sutradara saat menghampiri Axelle.
"Ini kenapa ada penambahan karakter ya? Kok aku tidak diberitahu Bang?" Tanya Axelle alih-alih menanggapi ucapan sutradara.
"Ada perubahan skenario dadakan."
"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, siapa yang akan mengisi karakter itu?"
"Ada. Entertaint juga. Cuma, terjun ke dunia akting, baru kali ini. Tapi, semoga saja dia bisa mengimbangi akting mu dengan baik. Orangnya cantik."
"Aku tidak tanya dia cantik atau tidak. Tapi, siapa orangnya."
Sutradara tersenyum lebar sambil pandangannya tertuju pada sosok wanita cantik yang tengah berjalan dengan anggunnya ke arah mereka saat ini.
"Itu dia orangnya. Artis pendatang baru. Kayaknya satu manajemen dengan mu." Sutradara menunjuk wanita yang berjalan menghampiri itu dengan dagunya.
Axelle pun mengerutkan dahinya. Setahunya, artis yang berada dibawah manajemen Zaky hanya dirinya seorang. Lalu siapa lagi yang direkrut Zaky masuk ke dalam manajemen nya? Kenapa Zaky tidak memberitahunya soal ini?
"Hai ..." Suara lembut seorang wanita menyapa.
Dahi Axelle semakin mengerut. Sebab suara itu sangat tak asing di telinganya.
"Tidak susah kan cari lokasinya?" Tanya sutradara.
Wanita itu tersenyum, lalu melepas kacamata hitam yang membingkai wajahnya.
"Sedikit kesusahan sih. Malah sempat kesasar." Jawab wanita itu.
"Oh ya? Tapi sekarang kamu ada disini kan?"
Wanita itu tertawa kecil.
"Oh iya, sampai lupa. Kenalkan, ini Axelle. Lawan main kamu." Sutradara menunjuk Axelle yang sedang duduk terpaku menatap wanita itu. Bahkan kaget bukan kepalang.
Wanita itu tersenyum memandangi Axelle. Lalu melambaikan tangannya.
"Hai ..."
Sontak Axelle bangun dari duduknya. Sembari menatap tak percaya wanita yang berdiri di hadapannya saat ini. Wanita yang akan beradu akting dengannya. Wanita yang tak asing lagi baginya.
"Axelle, ini Clarissa. Pendatang baru kita. Dia ini model yang cukup terkenal. Sekarang kalian ngobrol dulu. Saling tukar pikiran. Bangun chemistry diantara kalian. Soalnya kalian akan berperan sebagai sepasang kekasih. Oke? Aku tinggal sebentar ya?" Sutradara itu pun beranjak meninggalkan Clarissa dan Axelle berdua.
Axelle terkekeh sembari memalingkan wajahnya. Ia menggeleng tak percaya. Entah ini kebetulan atau memang sudah diatur sebelumnya.
"Kenapa? Kaget?" Tanya Clarissa sembari mengulas senyumnya menatap Axelle.
"Kapan Zaky merekrut kamu ke dalam manajemennya?" Tanya Axelle remeh.
"Kemarin. Kenapa?"
"Kok bisa? Secepat itu juga kamu dapat peran ini?" Axelle dibuat bingung. Tak percaya dengan apa yang terjadi.
Clarissa mengendikkan bahunya. "Kamu tahu Zaky kan?"
Axelle menyeringai tipis. Kembali menggelengkan kepalanya tak percaya. Bisa-bisanya Zaky melakukan ini. Padahal Zaky sendiri yang berulang kali memintanya menjauhi Clarissa. Tapi sekarang, mereka justru dipertemukan pada satu keadaan yang tak bisa dihindari.
__ADS_1
Sementara Clarissa tersenyum penuh kemenangan. Merasa ini adalah kesempatan baginya untuk merebut kembali hati Axelle. Kesempatan besar untuk membuat Axelle kembali jatuh ke dalam pelukannya.
.
.
"Action!" Pekik sutradara memberi perintah untuk memulai adegannya.
Adegan dimulai dari sebuah pertemuan awal antara protagonis pria dan wanita. Dimana Axelle harus menolong Clarissa yang hampir tertabrak mobil yang melintas dengan cepat.
Tadinya Axelle mengira, Clarissa akan sulit melakukannya. Namun tak disangka, Clarissa justru menyelesaikannya dengan baik. Hingga membuat sutradara kagum padanya. Ia bahkan bisa mengimbangi akting Axelle yang sudah lama malang melintang di dunia akting.
Namun ada sedikit kecelakaan kecil. Tiba-tiba saja kaki Clarissa terkilir lantaran heels yang dikenakannya. Hingga syuting pun di tunda sejenak.
"Cut. Kita istirahat sebentar. Kamu tidak apa-apa Clarissa?" Tanya sutradara cemas.
"It's okay. Cuma terkilir." Jawab Clarissa.
"Mau dipanggilkan dokter? Atau ..."
"I am fine. Tidak apa-apa. Palingan dipijat sebentar juga pasti sembuh." Sembari mulai melangkahkan kakinya. Namun ia tak sanggup.
"Aw!" Pekik Clarissa merintih kesakitan. Hampir saja ia terjatuh jika bukan karena Axelle yang dengan sigap menopang tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Axelle cemas melihat keadaan Clarissa yang tampak meringis kesakitan sambil memegangi kaki kanannya.
"Tidak apa-apa. Makasih ya Axelle." Jawab Clarissa sembari mengulas senyum manisnya.
"Tapi kamu masih bisa jalan kan?"
"Kayaknya, tidak bisa. Kakiku rasanya sakit sekali. Bisa tolong bantu aku duduk?" Clarissa meminta sembari menatap Axelle lekat. Seakan tengah berusaha memikat hati Axelle kembali.
"Aw!" Clarissa kembali meringis kesakitan. Hingga Axelle pun semakin cemas dibuatnya.
Axelle menurunkan pandangannya, melihat sejenak kaki Clarissa.
"Sepatu nya terlalu tinggi. Apa tidak bisa kamu merubah sedikit kebiasaan kamu itu? Banyak kan sepatu yang rendah tapi bagus?" Ketus Axelle mengingatkan kebiasaan buruk Clarissa yang sering menggunakan high heels.
Clarissa kembali tersenyum. Ternyata Axelle masih menaruh perhatian padanya. Apa yang ia lakukan dengan sengaja, siapa sangka menimbulkan kecemasan bagi Axelle. Ia sudah terbiasa menggunakan high heels seperti ini. Mana mungkin dia bisa terkilir hanya karena heels yang terlampau tinggi.
"Makasih atas perhatiannya."
"Ya sudah, kita ke sana. Kamu bisa kan jalan sendiri?" Tanya Axelle meski ia tahu Clarissa tak mungkin bisa berjalan sendiri di saat kakinya kesakitan.
Clarissa menggelengkan kepalanya, sembari menatap lekat Axelle.
Axelle memalingkan wajah sejenak sambil membuang napas panjang. Lalu hal yang tak terduga pun Axelle lakukan, membuat Clarissa semakin senang. Axelle mengangkat tubuhnya ala bridal, dan membawanya ke tempat istirahat. Mendudukkannya di kursi nya. Sedangkan Axelle sendiri mengambil sebuah bangku kecil untuk ia duduk.
"Makasih ya Axelle." Ucap Clarissa.
Axelle tak menanggapi. Sikapnya benar-benar dingin terhadap Clarissa. Tak seperti dulu lagi.
Tak lama berselang, Boni datang. Lalu memberikan sebotol air dingin pada Axelle.
"Boni, bisa kamu tolong panggilkan tukang pijat?" Pinta Axelle tiba-tiba.
"Bisa, Bos. Memangnya Bos Axe kenapa? Ada yang sakit?"
__ADS_1
"Bukan. Bukan aku. Tuh." Axelle menunjuk Clarissa.
"Oh wow ... Nona Clarissa?" Boni pun terkejut melihat Clarissa berada di lokasi syuting.
"Tidak usah kaget. Dia pemeran karakter tambahan."
"Kok, bisa?"
"Bisa lah Boni. Cepat tolong panggilkan tukang pijat. Sebentar malam aku ada acara penting. Acara peluncuran katalog terbaru Olive Fashion diadakan sebentar malam. Aku harus menghadirinya. Bagaimana aku bisa tampil maksimal jika kakiku terkilir seperti ini." Sungut Clarissa.
"Oke. Eike panggilkan sekarang juga." Kemudian mengambil ponsel dari tas kecil yang selalu bertengger di pundaknya.
Mendengar ucapan Clarissa, seketika Axelle terdiam. Tiba-tiba saja ia teringat Irene. Yang katanya juga akan menghadiri acara peluncuran produk baru yang diadakan Olivia.
"Acaranya di mana?" Tanya Axelle tiba-tiba.
"Di Hotel Paradise. Kalau tidak salah."
Hotel itu lagi. Mengingatkan Axelle akan pertemuan pertamanya dengan Irene.
"Boni." Axelle membuka tangannya di depan wajah Boni. Boni justru mengerutkan dahinya menatap tangan Axelle.
"Air minumnya kan sudah eike kasih ke Bos Axe." Ucap Boni kebingungan.
"Bukan tolol. Handphone."
"Oh iya. Sorry Bos. Eike lupa." Dengan malu-malu Boni pun memberikan ponsel Axelle.
Axelle mulai sibuk mencari nomor kontak yang ingin ia hubungi. Sembari bangun dari duduknya dan memilih sedikit menjauh dari Clarissa dan Boni.
Saat ini, yang ada dalam benaknya hanyalah Irene. Sekali, panggilannya tak mendapat jawaban. Untuk kedua kalinya, Irene pun menjawab panggilannya.
"Halo ..." Sapa Irene dari seberang.
"Kamu sedang apa sekarang?"
"Sedang siap-siap."
"Siap-siap mau ke mana?"
"Mau menghadiri undangan dari Bu Olive. Katanya aku harus hadir. Karena aku model katalognya."
"Bukannya nanti malam?"
"Iya sih." Jawaban Irene malah terkesan santai. Ia tak tahu kalau Axelle dilanda cemas mendadak saat ini.
"Lalu kamu sedang apa sekarang?"
"Sedang belajar dandan. Mengikuti tutorial yang ada di youtube."
Axelle pun terkekeh. "Sudah, panggil MUA saja. Kalau dandanan kamu mirip badut, gimana? Nanti aku minta tolong Boni memanggil teman MUA nya. Apa sekalian aku minta Boni yang mengantar kamu ke sana?"
"Emm ... Tidak perlu. Soalnya Zaky yang akan datang menjemput ku. Boleh kan?"
"Apa? Zaky?" Axelle terkejut setengah mati.
Bukan hanya cemas, tapi ia kesal sekarang. Mana syutingnya masih lama. Sekarang ia menyesal kenapa sempat menolak ajakan Irene. Lalu sekarang, ia harus bagaimana? Apa mungkin sutradara mengijinkan jika ia meminta ijin sekali lagi?
__ADS_1
TBC