Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 55


__ADS_3

Irene melangkah panjang memasuki rumah. Ia tak menghiraukan Axelle yang mengikutinya dari belakang. Bahkan ia tak menyahuti Axelle yang memanggil-manggil namanya berulang kali. Ia terus saja melangkah semakin cepat. Sampai akhirnya langkahnya terhenti sebab Axelle mencekal lengannya kuat.


"Ren, kamu kenapa sih?" Tanya Axelle ingin kejelasan sikap Irene yang mendadak berubah.


Irene menghela napas dalam-dalam.


"Aku tidak suka dengan sifat kamu yang suka seenaknya." Sahut Irene.


"Maksud kamu? Aku tidak mengerti."


"Kamu orangnya gampangan. Dan aku tidak suka dengan orang seperti itu."


"Tunggu, tunggu. Jangan bilang kamu marah soal jam tangan itu." Axelle menerka-nerka alasan kekesalan Irene.


"Bukan masalah jam tangannya, tapi aku tidak suka sifat kamu yang tidak menghargai privasi orang lain."


"Sama saja Ren. Itu artinya kamu marah padaku gara-gara jam tangan itu. Aku bisa kok membelikan mu yang lebih bagus lagi."


"Susah ya bicara sama kamu." Irene kembali melenggang, meninggalkan Axelle. Axelle tak terima begitu saja kekesalan Irene. Kembali ia mencekal lengan Irene, hingga langkah Irene terhenti.


"Tunggu dulu. Masalah kita belum selesai." Ujar Axelle.


"Masalah apa sih?" Irene menghempas tangannya dari cengkeraman Axelle.


"Bos ... Tas nya eike taruh di sini ya?" Boni datang dengan menenteng beberapa paper bag. Ia menaruh paper bag itu di meja sofa di ruang tengah.


"Bos, eike pulang dulu ya? Ren, makasih loh jam tangannya." Boni pun lantas bergegas meninggalkan Axelle dan Irene yang masih berdebat.


"Sorry." Ucap Axelle singkat.


"Kamu marah karena jam tangan itu merek luar negeri atau karena itu adalah pemberian Zaky?" Tambahnya hingga membuat Irene makin kesal.


"Bukan karena itu Axelle. Kamu menyebalkan. Aku hanya ingin kita bisa saling menghargai privasi masing-masing. Bukan malah seenaknya." Irene kesal, lantas kembali hendak melangkahkan kakinya. Namun dengan cepat Axelle meraih pinggangnya. Irene meronta. Hingga akhirnya mereka terjatuh bersamaan di sofa yang tak jauh.


"Awww!" Axelle meringis kesakitan. Sebab mereka jatuh dengan posisi Irene berada diatasnya.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Panik Irene.


"Awww! Pinggangku sakit. Kamu berat sekali Ren." Kelakar Axelle.


Irene cemberut. "Dasar. Bilang dong dari tadi. Memangnya aku segendut itu apa."


Irene hendak bangun dari posisinya yang menindih Axelle. Namun Axelle malah merangkul pinggangnya erat.


"Katanya pinggangnya sakit." Keluh Irene. Sebab Axelle seakan enggan melepasnya.


Axelle tersenyum licik. "Posisi ini rasanya sangat nyaman bagiku."

__ADS_1


Irene malah memukul pelan dada Axelle, sambil memasang wajah cemberut.


"Sangat nyaman atau sangat menguntungkan bagimu." Irene merengut sebal. Membuat Axelle makin gemas jadinya.


"That's right. Kamu benar." Axelle semakin tersenyum licik. Dengan cepat, tanpa Irene mampu menghindarinya, ia telah lebih dulu mendaratkan bibirnya. Menyesap lembut bibir Irene. Mencurahkan segenap rasa di hatinya. Semakin lama pagutannya semakin dalam. Seiring dengan rangkulannya yang semakin erat.


Semakin lama Axelle justru semakin menggebu. Ia lantas menarik Irene agar duduk di pangkuannya. Sementara sapuan bibirnya semakin menjalar kemana-mana. Bahkan ia semakin lupa diri. Sampai tiba-tiba Irene menghentikan aksinya yang semakin tak peduli keadaan.


"Axelle, hentikan." Pekik Irene di sela napasnya yang memburu.


Axelle pun menghentikan aksinya. Ia tersengal, menahan hasrat yang semakin naik ke ubun-ubun. Bahkan jantungnya semakin berpacu. Hati berdebar-debar, lantaran gejolak yang tertahan.


"Kenapa?" Axelle kecewa dengan penolakan Irene.


"Kamu kelewatan." Sembari turun dari pangkuan Axelle. Lantas mengambil duduk di sampingnya.


"Bukan kelewatan, Ren. Aku hanya terlalu mencintaimu."


"Gombal."


"Aku serius, Ren. Bukan gombal, tapi ungkapan hati yang terdalam."


"Sama saja."


"Beda sayang." Sembari mulai kembali mendekatkan wajahnya. Namun terhenti saat pandangan matanya menangkap suatu benda yang menggantung di leher Irene. Axelle pun meraih benda itu.


"Ini juga pemberian dari Zaky?" Tanyanya curiga.


"Oh ya?" Axelle memicing curiga. Ia masih belum mempercayai Irene.


"Ya ampun. Benar. Ini peninggalan dari orang tuaku. Sejak bayi aku sudah memakai kalung ini."


"Jangan bohong. Ini pemberian dari Zaky kan?"


"Terserah kamu deh. Makin lama kamu makin menyebalkan." Irene lalu bangun dari duduknya, hendak meninggalkan Axelle. Namun tiba-tiba tubuhnya melayang di udara. Axelle menggendong nya ala bridal dan membawanya masuk ke kamarnya.


"Axelle, turunkan aku." Rengek Irene meronta.


Akan tetapi Axelle tak menghiraukan. Ia justru merebahkan Irene perlahan di atas tempat tidur.


"Sekarang tidak akan menyebalkan lagi." Sembari mulai melancarkan aksinya. Untuk selanjutnya hanya mereka berdua yang tahu apa yang terjadi.


.


.


Zaky mengetuk pintu ruangan Olivia. Ia lalu memutar handel pintu begitu terdengar sahutan dari dalam.

__ADS_1


"Selamat siang Bu Olive." Sapa Zaky sembari menghampiri.


"Mari Zaky, silahkan duduk."


Zaky pun mengambil duduk di depan Olivia. Sengaja Olivia meminta Zaky datang untuk membicarakan perihal pemotretan untuk katalog terbarunya.


"Apa saya tidak merepotkan kamu?" Tanya Olivia memulai obrolan.


"Tidak Bu Olive. Mohon maaf sebelumnya, jika saya terkesan kurang sopan. Karena saya mengabari Bu Olive via telepon. Axelle sudah menerima tawaran Bu Olive."


"Untuk itulah saya meminta kamu datang. Saya hanya ingin mengkonfirmasi mengenai jadwal pemotretannya. Selebihnya bisa kamu bicarakan dengan Shelly. Sebenarnya, ada hal lain yang ingin saya bicarakan dengan kamu."


Zaky mengerutkan dahinya. "Tentang apa Bu Olive?"


"Eummm ... Kamu pernah bilang kalau Irene itu sejak kecil tinggal di panti asuhan. Kalau boleh, saya ingin tahu di mana alamat panti asuhan itu." Ucap Olivia hati-hati. Sebab ia begitu penasaran dengan identitas Irene yang kabarnya seorang anak yatim piatu. Pasalnya, setiap kali bertemu muka dengan Irene, ia selalu merasakan ada getaran berbeda di hatinya.


"Alamat panti asuhan?" Zaky memastikan.


Olivia mengangguk. "Iya. Saya hanya ingin berkunjung untuk memberikan sedikit santunan."


"Oooh ... Boleh, boleh. Saya akan berikan alamatnya."


Dengan cepat Olivia memberikan secarik kertas dan pena ke tangan Zaky. Zaky pun meraihnya lalu mulai menuliskan alamat panti asuhan Kasih Bunda.


.


Zaky melangkah lebar menyusuri koridor, setelah perbincangan singkat dengan Olivia, Zaky memutuskan pulang. Mungkin sebab pandangannya terlalu fokus pada layar ponselnya, hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Sampai-sampai beberapa barang jatuh berserakan.


Seorang wanita paruh baya berjongkok memungut barang-barang yang terjatuh, lantaran tanpa sengaja tertabrak oleh Zaky.


"Maaf, maafkan saya." Ujar Zaky cepat begitu menyadari tanpa sengaja ia menabrak seseorang.


Wanita paruh baya itu, yang tidak lain adalah Ranti, berdiri setelah memungut barangnya.


"Maafkan saya Bu. Saya tidak sengaja." Ucap Zaky sekali lagi.


Ranti tersenyum. "Iya, tidak apa-apa." Lalu beranjak meninggalkan Zaky. Namun langkahnya terhenti saat terdengar seruan dari Zaky.


"Tunggu." Zaky menatap Ranti dengan seksama begitu Ranti berbalik, berhadapan dengannya. Entah kenapa, rasanya seperti ia mengenal Ranti. Rasanya ia pernah melihat wajah Ranti sebelumnya. Tapi ia tak tahu entah dimana. Bahkan ia sulit mengingatnya.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu Nak?" Tanya Ranti.


Zaky menggelengkan kepalanya. "Tidak. Maaf, mungkin saya salah mengenali orang. Sekali lagi maafkan saya."


"Iya, tidak apa-apa." Ranti pun kembali berbalik. Lalu beranjak pergi meninggalkan Zaky yang masih berdiri mematung, memandangi punggungnya dengan kernyitan di dahinya.


"Rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?" Zaky tampak sedang mengingat-ingat sesuatu. Raut wajah itu seakan ia mengenalnya. Sampai tiba-tiba, entah sadar atau tidak sadar, ia menyebut satu nama.

__ADS_1


"Axelle ..."


TBC


__ADS_2