Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 79


__ADS_3

Olivia menyodorkan sebuah paper bag ke tangan Irene. Yang disambut Irene dengan senyum manisnya. Irene dan Axelle berpamitan hendak pulang ke rumahnya.


"Makasih Ma. Mama terlalu sering memberiku hadiah." Ucap Irene.


Olivia membawa satu tangannya mengelus lembut lengan Irene.


"Mama turut bersedih atas apa yang terjadi sama kamu. Mama tau kamu sangat terpukul atas kehilangan calon bayi kamu. Tapi Mama yakin, Tuhan pasti akan memberi kalian kesempatan lagi untuk menjadi seorang ayah dan ibu."


Irene mengulas senyum getir. Mengingat kembali kejadian naas yang menimpanya beberapa hari lalu.


"Begitu sampai rumah, dipakai ya?" Bisik Olivia di telinga Irene.


"Makasih Ma." Ucap Irene.


"Mama ... Ibu ... Kalau gitu kami pulang dulu ya?" Pamit Irene kemudian.


"Iya. Hati-hati di jalan ya Axelle, Irene." Ujar Ranti disertai senyum yang mengembang.


"Iya, Ibu. Ibu dan Mama Olive jaga diri baik-baik ya? Kami pamit dulu." Ujar Axelle lalu menyalimi Ibu dan mertuanya tersebut. Di susul oleh Irene kemudian.


.


.


Pulang dari rumah Olivia, Axelle dan Irene memilih berdiam diri di rumah. Tak ingin kemana-mana lagi. Menghabiskan waktu dengan membaca buku Axelle pilih untuk menahan diri dari keinginan yang tertahan sejak beberapa hari kemarin. Ia tak ingin memaksa Irene yang nantinya malah akan merusak hubungan mereka. Ia akan bersabar menunggu sampai Irene merasa nyaman.


Ceklek


Suara decitan pintu kamar terbuka mengalihkan perhatian Axelle dari buku yang sedang ia baca.


Irene datang dengan paper bag menggelantung di tangannya. Lalu mengambil duduk di sofa, di samping Axelle.


"Mama mu memberimu hadiah apa lagi?" Tanya Axelle. "Coba dibuka."


"Mama terlalu banyak memberiku hadiah. Baju, tas, sepatu, entah apa lagi kali ini." Keluh Irene sembari merogoh ke dalam paper bag.


Sebuah lingerie hitam terpampang jelas di depan wajah Irene. Irene tertegun melihat hadiah dari ibunya yang membuatnya harus menelan saliva berkali-kali.


Sedangkan Axelle justru tersenyum melihat hadiah dari mertuanya yang baginya itu adalah hadiah paling tepat saat ini.


"Mama kamu ternyata pengertian juga ya?" Gumam Axelle sambil menahan senyum lantaran Irene menatapnya kesal.


"Mungkin Mama salah ngasih hadiahnya."


"Tapi menurutku Mama kamu tidak salah. Baju ini sesuai dengan apa yang aku inginkan saat ini. Coba kamu pakai. Kamu pasti terlihat sangat cantik." Axelle mulai menyindir Irene.


Irene menatap Axelle kesal. Lingerie itu ia masukkan kembali ke dalam paper bag. Ia tak menghiraukan sindiran Axelle bahkan raut wajah Axelle yang mendadak suram.


"Bajunya aku simpan saja." Ucap Irene. Lalu bangun dari duduknya dan berjalan menuju lemari pakaian.


Axelle menghembuskan napasnya kasar. Ia menyandarkan kembali punggungnya lalu mulai fokus pada buku yang terbuka lebar di tangannya. Ia tak ingin memaksakan keinginannya pada Irene. Ia lebih memilih bersabar dan menahan diri.


Irene mengerti arti perubahan wajah Axelle. Ia tahu Axelle kecewa. Ia tahu apa yang ada dalam benak Axelle saat ini. Ia tahu betul apa yang diinginkan Axelle.


Klek


Terdengar bunyi pintu kamar mandi yang dikunci rapat. Axelle kembali menghembuskan napasnya yang entah kenapa malah terasa semakin berat saja. Ia buang jauh-jauh imajinasi-imajinasi nakal yang mulai merayu pikirannya. Yang akan meruntuhkan benteng kokoh kesabarannya.


Axelle semakin menunduk dalam. Buku yang terbuka lebar diatas pahanya ia tutup kembali. Berkali-kali ia menghembuskan napasnya panjang. Mencoba mengatur detak jantung yang terasa mulai berpacu.


Klek

__ADS_1


Bunyi pintu kamar mandi yang dibuka terdengar. Axelle tahu Irene mungkin sedang bersih-bersih untuk bersiap tidur. Tak bisa menampik, Axelle sedikit kecewa. Sebab Irene tak memahami perasaannya saat ini.


Kini terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat. Dan terhenti tepat di depannya yang masih saja menunduk.


Sedikit penasaran, Axelle pun mengangkat wajahnya perlahan. Pandangannya menyusuri mulai dari sepasang kaki jenjang putih mulus. Perlahan naik semakin ke atas. Hingga pandangannya terhenti pada sepasang mata indah yang menatapnya sendu.


Axelle tertegun. Sekaligus kagum akan tampilan Irene kini di depan matanya. Dalam balutan lingerie berbahan tipis yang diberikan Olivia sebagai hadiah. Setiap lekuk tubuh indah Irene begitu kentara. Membuat Axelle harus menahan napas. Lantaran keinginan yang kian membuncah. Terasa menggetarkan sukma.


Tadinya Axelle berpikir Irene tidak akan mau memakainya. Tapi nyatanya kini Irene terlihat begitu cantik dan seksi. Memukaunya dengan keindahan daksa yang ditampilkan Irene secara cuma-cuma hanya untuknya.


Debaran jantung yang coba ia netralkan, kini kembali berdetak kencang. Axelle tak kuasa melihat Irene dalam tampilan seperti itu. Akan tetapi ia masih berusaha menahan diri. Tak ingin memaksakan keinginannya.


Axelle menatap lurus Irene yang masih berdiri di hadapannya. Tak ada tanda-tanda Axelle akan mendekatinya.


Irene mengerti. Sebelumnya ia yang menolak lantaran rasa tak nyaman. Akan tetapi, sejujurnya ia merasa kasihan. Dan tak ingin mengecewakan Axelle. Axelle sudah banyak bersabar dan mengalah untuknya.


Tanpa menunggu pergerakan dari Axelle, Irene memberanikan diri mendekat. Diraihnya buku dari tangan Axelle. Melemparnya asal ke lantai. Lalu ia duduk diatas pangkuan Axelle tanpa Axelle yang memintanya lebih dulu.


"Ren ..." Gumam Axelle parau. Menahan hasratnya yang kian bergelora.


Irene mengulum senyum tipis. "Aku tau apa yang kamu pikirkan saat ini. Maaf jika aku kadang membuatmu kecewa."


Irene membawa satu tangannya mendekap rahang tegas Axelle. Axelle mengulum senyum.


Sembari fokus menatap lekat bola mata Axelle, ada jarak yang mulai terkikis sedikit demi sedikit. Perlahan Irene mendekatkan wajahnya. Mengambil inisiatif lebih dulu mengulum lembut bibir Axelle. Dengan sangat lembutnya Irene bermain di bibir itu hingga membuat Axelle terhanyut.


Irene tak menolak saat perlahan tangan Axelle mulai bergerilya di setiap lekuk tubuhnya. Irene terus saja memagut bibir Axelle. Mencerup semakin dalam. Saling bertukar saliva.


Rasa malu Irene kesampingkan demi menyenangkan hati Axelle. Ia bahkan dengan berani menanggalkan kaus oblong yang melekat di tubuh Axelle. Lalu kembali menyergap bibir Axelle dengan rakusnya.


Axelle semakin terbawa permainan Irene. Ini yang sejak tadi begitu diinginkannya. Tak ingin kehilangan kesempatan, Axelle membalas setiap pagutan Irene. Dan membiarkan jemari Irene menyapu di setiap lekuk tubuh kekarnya.


"Ahh Ren ..." Axelle tak kuasa menahan kenikmatan saat perlahan Irene menurunkan kecupannya di sepanjang leher Axelle. Mengikuti apa yang sering Axelle lakukan padanya.


Irene semakin nakal bermain-main di dada bidangnya. Mengeksplore bagian dada itu dengan lembut.


Tak tahan lagi, Axelle pun mengangkat tubuh Irene. Membawanya ke tempat tidur. Mengambil alih permainan dengan membabi buta. Lantaran hasrat yang semakin bergelora. Rasa dahaga yang kian tak terkendali.


Irene mendongak, menjambak kuat rambut Axelle, diiringi erangan merdu saat puncak terindah dalam percintaan telah diraih.


"Axelle ..." Erangan nikmat lolos tak terkendali. Irene terengah-engah di bawah kungkungan Axelle.


"Kamu luar biasa sayang." Axelle memberikan kecupan singkat di kening Irene. Puas dengan persembahan sang istri. Sebelum akhirnya menjatuhkan diri di samping Irene. Dengan napas yang masih memburu.


Irene melingkarkan lengannya di perut Axelle.


"Kamu senang?" Tanya Irene.


Axelle tersenyum. Kembali dikecupnya kening Irene.


"Makasih sayang."


Axelle menarik selimut sampai batas dada untuk menutupi tubuh polos keduanya. Bukan hanya puas, tapi Axelle begitu bahagia Irene menuruti permintaannya.


.


.


Dimotivasi oleh rasa penasaran yang kian melanda hati, hingga memberanikan Clarissa menemui Hadi yang kini tengah duduk di halaman belakang sambil fokus pada layar tablet dalam genggamannya.


Seperti inilah keseharian seorang Hadi Irawan. Jika di kantor disibukkan oleh pekerjaannya, di rumah pun tak kalah sibuknya.

__ADS_1


Namun sibuknya Hadi di rumah semata-mata untuk mengusir kejenuhannya. Rumah tangganya yang tak harmonis dengan Gina membuatnya sedikit tak betah berada di rumah. Hingga ia memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu penting.


"Daddy." Panggil Clarissa sembari menghampiri.


"Ada apa?" Hadi tak mengalihkan perhatiannya dari layar tablet.


"Aku mau bertanya."


"Silahkan."


"Siapa Nadine?" Clarissa to the poin. Tak berbasa-basi lagi.


Hadi menghentikan kesibukannya. Ditatapnya Clarissa yang berdiri memandanginya.


"Kenapa kamu ingin tahu?"


"Daddy jawab saja pertanyaanku. Siapa itu Nadine?"


Bukannya menjawab pertanyaan Clarissa, Hadi memilih bangun dari duduknya. Beranjak pergi meninggalkan Clarissa mematung sendiri di tempatnya.


"Sebaiknya kamu tanyakan saja pada ibumu." Ujar Hadi saat berlalu dari hadapan Clarissa.


Di ambang pintu Hadi berpapasan dengan Gina. Namun Hadi tak menghiraukan Gina sedikit pun. Ia berlalu begitu saja.


Melihat Clarissa berdiri mematung dengan raut wajah berbeda, Gina memilih menghampirinya.


"Cla, kamu sudah makan?" Tanya Gina penuh kasih sayang.


Clarissa menghela napas sejenak. Lalu beralih menatap dingin ibunya. Tatapan yang semula dingin dan datar itu kini berubah menjadi tatapan tajam. Yang kian diliputi rasa penasaran, bahkan amarah yang menyelimutinya.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu melihat Mommy seperti itu?"


"Mom ... Daddy tidak menjawab pertanyaan ku."


"Memangnya kamu bertanya apa pada Daddy. Kamu tidak minta macam-macam lagi kan? Sebaiknya kamu tahan dulu keinginan kamu untuk membeli barang-barang mewah. Daddy tidak suka. Pantas saja Daddy tidak menjawab pertanyaan kamu."


"Bukan itu yang aku tanyakan."


"Lalu apa?"


"Mommy jawab saja yang jujur."


"Iya. Apa itu?"


"Siapa Nadine?"


Gina pun terdiam.


TBC


...----------------...


Mohon maaf baru bisa update🙏


Kabar baik kan readers🤗


Author cuma maun ngucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya udah ngikutin cerita receh author abal-abal ini.


Dan terima kasih banyak untuk semua dukungannya, terima kasih untuk jejak yang kalian tinggalkan☺️


Selamat tahun baru buat readers dimanapun berada. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya🤗

__ADS_1


__ADS_2