Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 90


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Kepergian Clarissa menyisakan luka mendalam bagi kerabat, sahabat, dan bagi semua orang yang mengenal dan mengasihinya. Terlebih bagi Gina.


Tak hanya menyisakan luka yang mendalam. Akan tetapi, luka itu akan tetap membekas dihatinya. Luka atas kepergian putri tercintanya atas keserakahannya sendiri. Jika boleh meminta, mungkin lebih baik ia saja yang mati.


Sejak menerima putusan sidang atas hukumannya, dan sejak dipindahkan ke lapas khusus wanita, Gina selalu tampak murung. Tampilannya kini tak terawat lagi. Tidak seperti dulu, selalu berpenampilan rapi dan modis. Dengan pakaian branded. Bahkan setiap seminggu sekali ia mendatangi salon kecantikan.


Tetapi kini, yang terlihat, hanyalah wajah kusut dan tubuh kurus dalam balutan seragam tahanan lapas. Sungguh miris kondisi fisik dan psikis Gina saat ini.


Sementara Gina kian hari kian dirundung duka. Hadi dan Olivia justru berbahagia, setelah menerima putusan sidang bahwa Hadi dan Gina resmi bercerai.


Pesta pernikahan mereka yang digelar sederhana, atas permintaan Olivia sendiri, saat ini sedang berlangsung. Meski sederhana, tapi tak mengurangi rasa bahagia kedua mempelai.


Olivia tampak cantik dalam balutan gaun pengantin putih rancangannya sendiri. Terlihat serasi dengan setelan jas yang dikenakan Hadi yang berwarna senada.


Meski telah berusia paruh baya, tetapi kedua mempelai masih tampak cantik dan gagah. Layaknya sepasang pengantin remaja. Binar-binar bahagia terpancar jelas di wajah keduanya.


Kebahagiaan itu tak hanya dirasakan oleh kedua mempelai saja. Axelle, Irene, Ranti, Bu Norma, Zaky dan Vania, yang sedang duduk di meja VIP itu menyaksikan kedua mempelai yang tersenyum bahagia bersanding diatas pelaminan.


Banyak tamu yang hadir yang turut memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai. Tak lupa pula anak-anak panti turut diundang menghadiri pernikahan tersebut


.


.


"Selamat ya Mama, Papa. Semoga bulan madunya lancar." Ujar Irene saat mengantar ayah dan ibunya ke bandara. Dengan ditemani Axelle dan Irene.


"Makasih ya sayang." Balas Olivia sembari merangkul putri kesayangannya.


"Semoga sukses dengan bulan madunya. Papa Hadi dan Mama Olive tidak usah mengkhawatirkan keadaan disini. Aku dan Irene akan menanganinya dengan baik. Baik itu rumah produksi, maupun Galery. Papa Hadi dan Mama Olive cukup nikmati saja bulan madunya." Ujar Axelle menimpali.


Hadi menepuk pelan lengan Axelle. "Kamu bisa saja. Papa kan sudah menyerahkan sepenuhnya The One Production House ke tangan kamu dan Irene. Jadi, memang sudah seharusnya Papa tidak perlu mencemaskan apapun sekarang. Papa yakin, kamu pasti mampu. Kamu cukup berpengalaman dalam hal seperti ini. Papa cuma mau minta tolong, tolong kamu bimbing Irene." Tutur Hadi panjang lebar. Disertai senyum tulusnya.


"Tentu saja Pa. Aku akan selalu membimbing dan menjaga istri tercintaku ini." Axelle melingkarkan lengannya di pundak Irene.


Irene mendongak. Dan disajikan dengan wajah Axelle yang tersenyum usil. Lalu Axelle mendekatkan wajahnya, berbisik lembut di telinga Irene.


"Bimbingannya sebentar malam ya?" Bisik Axelle nakal di telinga Irene. Dan sukses mendapat satu cubitan kuat di pinggangnya. Hingga membuat Axelle meringis kesakitan.


"Pelan-pelan nyubitnya dong sayang. Sakit ini." Rengek Axelle sambil mengelus pinggangnya yang sakit. Lengannya yang melingkari pundak Irene pun ia turunkan.


"Makanya jangan mesum." Ketus Irene dengan kesalnya.

__ADS_1


Hadi dan Olivia hanya bisa tertawa melihat tingkah putri dan menantunya itu.


"Oh ya, apa kalian tidak ingin berbulan madu juga?" Tawar Hadi tiba-tiba.


"Bulan madu? Boleh juga." Sahut Axelle antusias.


"Kamu mau kita berbulan madu kemana sayang?" Axelle mengalihkan pertanyaan pada Irene. Disertai senyum nan menggoda. Membuat Irene memicing menatapnya.


"Aku tidak mau kemana-mana." Sahut Irene singkat.


"Jangan begitu dong. Coba lihat Papa sama Mama kamu. Jangan mau kalah dong sama yang tua." Kelakar Axelle untuk memancing Irene.


"Di rumah kan setiap hari malah kita berbulan madu. Memangnya mau berbulan madu kemana lagi?"


"Kemana saja yang kamu mau."


Irene tertawa kecil mendengarnya. "Nanti saja. Berikan kesempatan dulu sama Mama dan Papa. Kita nanti saja kalau ada waktu. Sekarang kan kamu makin sibuk sejak menggantikan Papa."


"Maaf ya jika Papa membebani kalian." Pinta Hadi. Yang merasa tak enak telah merepotkan putri dan menantunya itu.


"Papa jangan pikirkan soal itu. Sekarang waktunya Papa dan Mama yang menikmati hidup." Ujar Irene.


Berganti kini Irene memeluk Hadi. Hadi pun mengecup kening Irene setelah melepas pelukannya. Lalu beralih merangkul Axelle.


"Papa titip putri kesayangan Papa ya?" Pinta Hadi sambil menepuk lembut punggung Axelle.


"Iya, Pa. Aku pasti akan menjaganya dengan baik." Sahut Axelle.


Kepergian Hadi dan Olivia ke Paris untuk berbulan madu sudah direncanakan jauh-jauh hari. Semua itu mengikuti keinginan Olivia yang begitu ingin mengunjungi Paris bersama Hadi. Semoga saja perjalanannya lancar.


.


.


Hadi memang menyerahkan seluruh asetnya untuk putri kesayangannya. Akan tetapi, Irene dan Axelle tetap memilih tinggal di rumah Axelle. Rumah dimana tersimpan banyak kenangan. Rumah dimana hubungan mereka dimulai.


Di rumah ini kini mereka tak sendiri lagi. Ada Ranti yang menemani. Dan beberapa asisten rumah tangga yang baru saja mereka rekrut. Untuk membantu meringankan pekerjaan Irene.


Axelle tengah duduk berselonjoran di bangku panjang, di balkon kamarnya, sambil memangku laptop. Sepulang dari bandara, ia lantas menyibukkan diri dengan sejumlah pekerjaan yang tak bisa ia abaikan begitu saja.


Hingga malam menjelang pun, ia masih saja sibuk dengan pekerjannya. Ia hanya merasa sangat bertanggung jawab atas tugas yang diberikan oleh ayah mertuanya. Rumah produksi The One kini berada ditangannya. Ia harus bisa membuat rumah produksi itu lebih maju dari sebelumnya. Ia hanya tak ingin mengecewakan ayah mertuanya. Yang begitu mempercayainya.

__ADS_1


Axelle masih sibuk dengan laptopnya, sampai tiba-tiba Irene datang dan menutup laptop itu. Lantas mengambilnya dan menaruhnya di meja kecil di sebelah bangku.


"Kamu sekarang lebih perhatian dengan pekerjaan mu daripada istrimu ini." Kesal Irene. Lalu mengambil duduk di depan Axelle. Menyandarkan punggungnya di dada bidang Axelle.


Axelle melingkarkan kedua lengannya, mendekap sang istri. Memberikan kecupan lembut di puncak kepalanya.


"Kamu cemburu dengan pekerjaanku?" Axelle semakin mengeratkan dekapannya.


"Tentu saja aku cemburu. Belakangan ini kamu makin sibuk. Kamu sering lupa waktu. Bahkan kamu lupa dengan istri kamu ini."


"Maaf. Lain kali aku akan lebih memperhatikan kamu."


"Gitu dong. Aku bahkan sempat berpikir, kalau kamu punya selingkuhan sekarang."


Axelle tersentak. "Selingkuh? Jangan bercanda sayang. Mana mungkin aku bisa selingkuh dari kamu."


"Oh ya? Coba buktikan." Irene bangun dari sandaran. Memutar tubuhnya berhadapan dengan Axelle. Ditatapnya Axelle yang mulai tersenyum usil.


"Kamu menantang ku? Kamu sudah mulai berani sekarang ya?"


Irene tersenyum simpul. Lantas mendekatkan wajahnya. Berbisik mesra di telinga Axelle.


"Aku mau bimbingannya sekarang." Lirih Irene berbisik.


Axelle pun tak bisa menolak keinginan sang istri. Ia lantas mengangkat tubuh Irene. Membawanya masuk ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Lantas memulai aktifitas malam yang belakangan ini mereka abaikan. Lantaran kesibukan yang mulai melanda.


Sebab berhari-hari mereka tidak melakukannya, hingga mereka begitu menggila. Semakin menggebu, terbakar api asmara. Axelle memacu begitu buas, sementara Irene begitu liar membalas serangan Axelle.


Hingga malam semakin merangkak, keduanya masih melebur dalam satu rasa. Berlomba mendaki puncak asmara, dengan peluh yang semakin bercucuran.


Saling mendekap penuh kasih sudah menjadi kebiasaan saat melewati malam dengan sejuta mimpi indah. Saat lelah terasa lantaran aktifitas malam yang penuh kenikmatan.


.


Takdir tidak ada yang bisa menduganya. Siapa sangka, sebuah skandal memalukan yang menimpa Axelle dan Irene justru berbuah manis. Menguak segala rahasia yang tersembunyi. Mungkin, ini hanyalah satu cara takdir mempertemukan dan menyatukan mereka.


Jodoh tidak ada yang tahu. Tuhan selalu mempunyai cara yang unik untuk menyatukan setiap insan dalam ikatan jodoh. Begitupun dengan Axelle dan Irene.


Semoga bahagia ini untuk selamanya.


END

__ADS_1


__ADS_2