
"Sebaiknya kita gugurkan saja bayi ini."
"Apa?" Axelle terperanjat kaget mendengar kalimat yang meluncur begitu saja dari mulut Irene tanpa ia berpikir dahulu.
"Apa kamu sudah gila?" Axelle mulai naik pitam atas keputusan konyol Irene.
"Dengarkan aku ..." Diraihnya jemari Irene ke dalam genggamannya. "Aku akan bertanggung jawab atas bayi itu. Kita akan merawatnya bersama-sama sebagai ayah dan ibunya. Apa kamu mau anak itu bernasib sama seperti kita? Tumbuh tanpa kasih sayang dari orang tua."
Axelle menghela napas sejenak. Lalu membelai lembut wajah Irene.
"Asal kamu tau, aku sangat bahagia. Anak itu adalah bukti cinta kita berdua. Sekarang, bukan hanya kamu saja. Tapi kalian berdua adalah hal yang terpenting dalam hidupku. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua. Paham?"
Irene hanya bisa tersenyum melihat kesungguhan Axelle. Semoga saja Axelle benar-benar serius dan yakin dengan ucapannya.
"Sekarang aku antar kamu pulang. Kamu istirahat di rumah. Jangan mengerjakan apapun. Kalau aku lapar, aku tinggal beli makanan dari luar. Aku ingin kamu beristirahat yang cukup. Kamu sudah dengar kan apa kata dokter? Aku janji, aku akan segera menyelesaikan semua pekerjaanku. Oke?"
Irene kembali tersenyum sembari mengangguk pelan. Satu kecupan singkat pun mendarat di keningnya.
.
.
Untungnya, proses syuting telah ramoung. Axelle sudah melakukan pekerjaannya sebaik mungkin, sebaik yang ia bisa. Tampak para pemeran pendukung serta para kru saling bersenda gurau, saling memberikan salam perpisahan, dan saling menyemangati.
Axelle tengah bersiap-siap. Ingin secepatnya ia pulang ke rumah, sebab mengingat Irene yang sedang sendirian. Ditambah lagi Irene saat ini sedang hamil.
"Boni, semua barang ku sudah dikemas?" Tanya Axelle sembari merapikan pakaiannya di kamar tempat biasanya ia tidur jika kelelahan dan menunggu syuting berikutnya.
"Sudah Bos. Eike langsung bawa saja ke mobil ya?"
"Ya sudah."
Boni pun bergegas membawa barang-barang Axelle ke mobilnya. Meninggalkan Axelle yang sedang bersiap-siap. Lantaran begitu mencemaskan Irene, membuat Axelle tak sabar ingin segera menemuinya. Rindu pun tak tertahankan.
Dengan langkah tergesa-gesa Axelle meninggalkan lokasi. Bergegas menuju mobilnya yang terparkir. Namun langkahnya harus terhenti sebab sutradara yang datang menghampirinya.
"Axelle." Panggil sutradara sembari menghampiri Axelle.
"Makasih atas kerja keras kamu. Akhirnya film ini rampung dan akan segera di tayangkan." Ucap sutradara.
"Sama-sama Bang."
"Oh ya, kamu mau ke mana?"
"Pulang Bang."
"Kenapa buru-buru pulang. Ikut kita-kita dulu. Rencananya kita mau ke club untuk merayakan keberhasilan syuting kita. Kamu harus ikut Axelle. Kamu kan bintangnya."
"Maaf Bang, aku tidak bisa. Aku harus segera pulang. Istriku sedang menunggu di rumah."
__ADS_1
"Minta ijin dong sama istri kamu. Aku yakin, istri kamu pasti mengijinkan."
"Maaf Bang, aku pamit dulu." Tanpa menghiraukan sutradara Axelle kembali hendak melangkahkan kakinya. Namun lagi-lagi harus terhenti karena Clarissa yang entah datang darimana tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya.
"Kenapa buru-buru mau pulang? Kita rayakan dulu dong keberhasilan kita bersama yang lain. Kita mau ke club. Kamu ikut ya?" Pinta Clarissa.
"Aku tidak bisa." Tolak Axelle tegas.
"Came on Axelle. Biasanya juga kamu yang paling antusias kalau soal yang begini. Malah kamu sering mengajakku. Kenapa sekarang kamu jadi kolot begini?"
"Sekarang keadaannya berbeda. Dulu memang dengan senang hati aku ikut. Karena dulu tidak ada orang yang mencemaskan aku, tidak ada orang yang peduli padaku. Tapi sekarang, semuanya berbeda."
"Karena gadis kampungan itu kamu jadi seperti ini?" Clarissa menyeringai tipis.
Axelle tak menggubris tanggapan Clarissa. Kembali ia melanjutkan langkahnya menuju mobilnya yang terparkir di mana Boni telah menunggu di dalam. Sementara malam mulai merangkak.
"Bon, cepat sedikit." Titah Axelle tak sabar dalam perjalanan pulang.
"Iya Bos. Ini eike sudah yang paling cepat. Kenapa sih Bos kok buru-buru pulang?"
"Jangan banyak tanya. Menyetir saja yang benar."
"Oke Bos."
"Oh ya, Bon. Belakangan ini Zaky jarang lagi datang ke rumah? Ke lokasi pun kadang."
"Oh ya?" Axelle mengernyit. Kenapa Zaky tidak memberitahunya kalau dia mau ke luar negeri. Untuk apa lagi dia ke sana kalau bukan untuk menemui orang tuanya. Tapi ada kenapa? Biasanya juga mereka berhubungan via telepon. Kecuali jika ada hal yang mendesak.
"Memangnya Bos tidak tahu?"
"Dia tidak pernah memberitahuku soal apa pun."
Pikiran Axelle semakin bercabang. Belakangan ini ia merasa Zaky mulai berubah. Zaky tampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Axelle hanya bisa menghembuskan napasnya panjang. Lagipula buat apa ia memikirkan Zaky. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah Irene.
Mungkin sudah saatnya ia juga harus memikirkan masa depannya. Sandiwara pernikahan ini harus segera diakhiri, sebelum semuanya terlambat. Secepatnya ia harus menikahi Irene secara sah, bukan pura-pura lagi. Lagipula, ia sudah memantapkan hatinya untuk Irene. Ia tak ingin ada kepalsuan lagi diantara mereka. Mungkin Irene adalah jodoh yang dikirim Tuhan untuknya.
Apalagi sekarang Irene sedang mengandung anaknya. Jika boleh jujur, ia sungguh bahagia. Tuhan telah memberinya hadiah terindah dalam hidupnya. Ia bahkan telah bertekad tidak akan membiarkan anak itu bernasib sama seperti dirinya. Tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.
Axelle memalingkan wajahnya. Memandangi setiap objek yang mereka lewati dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya.
.
.
Sampai di rumah, pemandangan yang tak seharusnya ia saksikan justru tersaji di depan matanya saat ini. Axelle pun bergegas turun dari mobil dan menghampiri Zaky yang sedang mengobrol dengan Irene di depan rumah. Di tangan Irene menggelantung paper bag kecil berlabel merek luar negeri.
"Axelle, kamu sudah pulang?" Pertanyaan Zaky sekaligus sebagai sapaan.
Raut wajah Axelle berubah seketika. Kesal melihat pemandangan itu. Tak seharusnya Zaky melakukan ini. Ia bahkan sudah mengakui perasaannya pada Irene. Kenapa Zaky masih saja gigih berusaha mendekati Irene. Apa Zaky menganggapnya hanya bermain-main saja?
__ADS_1
"Aku dapat kabar, bukannya seharusnya kamu ada di luar negeri?" Tanya Axelle menyelidik. Ia sungguh penasaran dengan maksud kedatangan Zaky.
"Aku baru saja kembali."
"Seharusnya kamu istirahat. Kamu pasti capek. Iya kan?"
"Tidak juga." Zaky terkekeh. Ia tahu Axelle sedang menyindirnya. Secara tidak langsung Axelle menyuruhnya pulang. Kasarnya, Axelle mengusirnya. Namun tak mengatakannya secara langsung. Axelle menunjukkannya lewat sindiran halus.
"Apa itu?" Tanya Axelle kemudian sembari menunjuk paper bag di tangan Irene.
"Oh ... Ini hadiah kecil dari Zaky." Jawab Irene. Padahal sebenarnya pertanyaan itu Axelle ajukan untuk Zaky.
"Senang ya dapat oleh-oleh dari laki-laki lain?" Axelle malah jadi kesal melihat wajah sumringah Irene.
"Maksud kamu apa Axelle?" Irene menatap Axelle dengan dahi mengerut.
"Sudah larut malam. Sebaiknya kita masuk." Tak peduli situasi, Axelle menarik pergelangan tangan Irene, mengajaknya masuk. Namun langkahnya terhenti saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Zaky.
"Ayah sakit."
Seketika langkah Axelle terhenti. Lalu memutar tubuhnya, memandangi Zaky yang masih berdiri di ambang pintu dan menatapnya serius.
Axelle melepaskan genggamannya dari pergelangan Irene.
"Kamu masuk dulu. Ada hal yang harus aku bicarakan dengannya." Titah Axelle.
Meski ada rasa cemas dan sedikit rasa penasaran di hatinya, namun Irene tak bisa membantah ucapan Axelle. Ia pun beranjak ke kamarnya.
"Ayah kita sedang sakit." Ucap Zaky sekali lagi sembari melangkah menghampiri.
"Aku turut prihatin."
"Hanya itu?"
"Lalu aku harus bilang apa?"
"Ayah sangat merindukanmu."
"Jika dia benar merindukan ku, tidak seharusnya dia mencampakkan aku seperti ini."
"Seharusnya kamu mengerti posisi ayah seperti apa."
"Ya. Seharusnya seperti itu. Harusnya aku mengerti posisi seorang suami yang selalu berada di bawah ketiak istrinya. Berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab." Geram Axelle menahan amarah. Kemudian ia berbalik hendak meninggalkan Zaky.
"Ibu mu masih hidup." Ucap Zaky tiba-tiba. Hingga detik itu juga, sekali lagi langkahnya terhenti.
TBC
Sedih deh😔 cuma bisa dapat se bab gara² kesibukan di real life. Tapi yang terpenting bisa update. Thankyou 🙏 buat yang masih mampir di cerita receh ini.
__ADS_1