
Pulang ke rumah, Hadi tak langsung masuk ke kamarnya. Ia duduk sejenak di ruang tengah. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdenting. Pertanda sebuah pesan masuk.
Hadi pun merogoh kantongnya, mengambil ponsel dari dalam sana. Detik berikutnya ia membuka pesan yang tertera nama pengirimnya adalah Nadine, putrinya sendiri.
Dari isi pesan itu, yang menampilkan sebuah video dimana Clarissa tampak panik dan ketakutan, serta meracau tak tentu. Hadi sudah bisa menyimpulkan bahwa yang menabrak Irene tempo hari adalah Clarissa. Sebab hari dan tanggalnya sama saat Irene kecelakaan. Hadi masih mengingat jelas waktu nya.
Dugaannya tepat, saat pesan kedua dari Irene yang mengatakan bahwa kemungkinan besar Clarissa yang menabraknya tempo hari.
Hadi pun menyeringai tipis. Kini, bukti apalagi yang ia butuhkan. Bahkan rekaman percakapan Gina dengan Herman di kafe tempo hari sudah ada ditangannya. Ditambah lagi rekaman percakapan Gina dengan Clarissa beberapa jam lalu.
Sementara Hadi saling berkirim pesan dengan Irene, di kamarnya, Gina justru dibuat kesal setengah mati. Sebuah pesan dari Herman yang berisi foto-foto Hadi yang sedang berpelukan dengan Olivia itu membuatnya meradang.
"Awas kamu Olivia. Secepatnya aku akan menyingkirkan mu dari hidup Hadi. Bukan hanya kamu, putri mu pun akan aku lenyapkan. Tidak ada yang boleh merebut posisi Clarissa. Sekalipun itu putri kandung Hadi." Geram Gina dalam api kemarahannya.
"Ehem ..." Suara deheman yang tiba-tiba saja terdengar, sontak mengangetkan Gina. Hingga ia terlonjak dan buru-buru bangun dari tepian tempat tidur. Menghampiri Hadi yang ia tak tahu entah sudah berapa lama berdiri di ambang pintu.
Gina mendadak gugup. Sebab ia tak menyadari kecerobohannya, membiarkan pintu kamarnya terbuka.
"Pah ... Papah sudah pulang?" Pertanyaan konyol Gina demi menutupi rasa gugupnya. Hampir saja Hadi mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulutnya.
"Hmm ..." Hadi cukup bergumam menjawab pertanyaan konyol Gina. Sembari berjalan ke arah lemari untuk mengambil piyama tidurnya.
"Biar Mamah ambilkan Pah." Tawar Gina buru-buru menghampiri Hadi yang sudah membuka lemari pakaian.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Kemudian beranjak ke kamar mandi setelah mengambil setelan piyamanya.
Gina pun geram begitu Hadi menghilang di balik pintu kamar mandi yang menutup. Amarahnya yang kian memuncak itu tak tertahan lagi. Ingin rasanya ia melenyapkan Olivia sekarang juga.
Susah payah ia bertahan mendampingi Hadi yang bahkan menganggapnya tak ada. Susah payah ia melakukan segala macam cara agar Hadi tidak mencampakkannya begitu saja. Kini dengan kehadiran Olivia dan Nadine, telah mengacaukan segalanya. Bahkan menghancurkan impiannya. Melihat Clarissa menjadi pewaris tunggal harta kekayaan Hadi Irawan.
"Tunggu saja tanggal mainnya Olivia. Tidak lama lagi, kalian akan lenyap dari dunia ini." Geram Gina sinis.
Sementara di dalam kamar mandi, Hadi tersenyum sinis. Sebab ia sempat mendengar ucapan Gina dari balik pintu. Ia berdehem setelah ia mendengar semuanya.
.
.
Hari yang dinanti pun tiba. Malam hari di sebuah hotel berbintang.
Ballroom Hotel Royal tampak ramai dengan para tamu undangan yang mulai berdatangan. Serta para awak media yang telah bersiap sejam sebelumnya.
Pengamanan super ketat terlihat di setiap sudut hotel. Bahkan untuk setiap tamu undangan akan melewati pemeriksaan ketat sebelum memasuki ballroom.
Semua telah diatur sesuai rencana Hadi. Para staf pegawainya turut membantu mempersiapkan segalanya. Axelle dan Irene berangkat dari rumah beberapa jam sebelumnya, hanya dengan mengenakan pakaian seadanya.
Di salah satu kamar VIP hotel itu, mereka berdua tengah bersiap-siap dengan didandani oleh seorang MUA. Boni selalu setia mendampingi, menyiapkan segala kebutuhan Axelle dan Irene.
__ADS_1
Sementara Axelle dan Irene tengah bersiap menghadiri acara yang telah dipersiapkan ayahnya khusus untuknya. Olivia dan Nadine kawe baru saja keluar dari rumah.
Olivia memilih menyetir sendiri tanpa seorang supir. Sengaja hal itu ia lakukan atas perintah Hadi. Karena Hadi tahu, Herman pasti akan membuntuti Olivia.
Dugaan Hadi tidak meleset. Begitu Olivia dan Nadine kawe keluar dari rumah, Herman mengikuti mobil mereka diam-diam.
Tiba di jalanan yang gelap dan sepi, dengan cepat Herman mencegat mobil Olivia. Hingga Olivia pun terpaksa menghentikan mobilnya. Mengerem mendadak, membuat kepalanya hampir saja membentur setir mobil.
Herman tidak sendiri. Dia bersama seorang rekan premannya. Dengan kasar Herman mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Olivia. Meminta Olivia turun dari mobil.
Dengan tenang, Olivia dan Nadine kawe pun turun dari mobil. Herman dan temannya langsung mengikat tangan keduanya dan membawa mereka paksa naik ke mobilnya. Detik berikutnya, mobil Herman melaju meninggalkan jalanan yang sepi itu.
Di ballroom Hotel Royal.
Gina dan Clarissa baru saja tiba dengan tampilan terbaik mereka. Yang mampu memukau setiap mata yang memandang.
Gina mengedarkan pandangan, mencari sosok yang dikenalnya di antara para tamu yang hadir. Senyum di wajahnya terukir, saat sosok yang ia cari tak jua muncul di hadapannya. Ia merasa yakin, rencananya malam ini berjalan dengan sempurna.
"Mom ... Daddy ke mana ya?" Tanya Clarissa sambil menyapukan pandangannya mencari sosok sang ayah diantara banyaknya tamu undangan.
Tapi Hadi, tidak ada diantara tamu-tamu yang hadir. Begitu pun dengan Olivia dan Nadine kawe. Hal itu membuat Gina senang.
"Mana Mommy tahu. Mungkin Daddy sedang bersama koleganya."
"Bu Olive dan Nadine belum juga kelihatan."
Apa yang diyakini Gina terbukti. Herman mengirim pesan padanya yang mengabarkan bahwa ia telah menyekap Olivia dan Nadine di sebuah gudang kosong.
Gina pun semakin tersenyum lebar. Lantaran bahagia akan rencananya yang berjalan mulus.
Waktu yang telah ditentukan untuk pesta malam ini telah tiba. Seorang MC mengucapkan beberapa patah kata sambutan. Sementara para awak media sibuk meliput pesta malam itu. Bahkan pesta malam itu disiarkan secara langsung di beberapa stasiun televisi.
"Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran rekan, teman, saudara, dan para kru media di acara malam hari ini. Tidak ada kata yang mampu melukiskan kebahagiaan saya, atas anugerah yang telah diberikan Tuhan.
Sebetulnya, acara pada malam hari ini, saya adakan secara kecil-kecilan sebagai wujud rasa bahagia dan terima kasih saya, atas hadirnya kembali seseorang di tengah-tengah keluarga saya. Seseorang yang begitu berarti dalam hidup saya." Tutur Hadi panjang lebar di atas panggung, melalui pengeras suara. Di depan sorotan banyak kamera.
"Acara malam hari ini sengaja saya adakan untuk memperkenalkan putri tercinta saya. Yang Tuhan hadirkan kembali, setelah bertahun-tahun lamanya kami terpisah." Tambahnya.
Di tempatnya, Gina dan Clarissa duduk tenang diantara tamu-tamu yang lain.
Berbeda dengan Clarissa yang duduk dengan wajah masam. Gina justru tersenyum bahagia. Sebab ia tahu, Nadine tidak akan mungkin bisa hadir di tempat ini.
"Mom ... Mommy kok kelihatannya senang sekali. Ada apa sih Mom?" Tanya Clarissa setengah berbisik.
"Coba kamu lihat. Diantara semua orang yang ada di ruangan ini, apa kamu melihat Olivia dan Nadine?"
Clarissa pun menyapukan pandangannya. Mengamati semua yang hadir. Dari sekian banyak tamu undangan, ia tidak melihat sosok Olivia dan Nadine kawe, yang ia yakini sebagai Nadine asli. Pandangannya justru tertumbuk pada sosok pria yang yang baru saja memasuki ballroom dengan dikawal beberapa bodyguard. Dan mengambil duduk di meja VIP yang telah tersedia.
__ADS_1
Axelle.
Yang membuat Clarissa heran, dan bertanya-tanya, kenapa Axelle datang seorang diri. Tanpa Irene mendampinginya.
"Cla, Mommy sudah pernah bilang kan, kalau Mommy ak_" ucapan Gina terputus karena Clarissa lebih fokus memandangi Axelle di seberang.
"Kenapa sayang? Siapa yang kamu perhatikan?" Tanya Gina sambil mengikuti arah pandang Axelle.
"Sudahlah sayang. Laki-laki seperti Axelle banyak di luaran sana. Bahkan kamu bisa mendapatkan yang lebih kalau kamu mau." Ujar Gina menghibur Clarissa.
"Tidak Mommy. Axelle berbeda."
"Apanya yang beda. Sama saja dengan laki-laki lain. Buktinya dia berpaling dari kamu kan? Dia lebih memilih perempuan kampungan itu daripada kamu. Yang seorang model cantik, profesional, bahkan putri seorang produser nomor satu. Laki-laki seperti Axelle tidak pantas untuk kamu pertahankan. Sudahlah."
Clarissa membuang napas berat. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Memperhatikan Hadi yang tengah berbicara di atas panggung.
"Baiklah. Saya tidak ingin menyita waktu kalian lebih lama lagi. Kalau begitu, kita langsung saja. Saya ingin memperkenalkan putri saya. Dengan identitas barunya. Mari kita sambut dia, Nadine Jovanka Irawan." Ujar Hadi dengan wajah sumringah.
Serentak, semua yang hadir dalam ruangan itu memalingkan wajahnya. Sorotan kamera beralih pada sesosok wanita anggun yang berjalan diatas karpet merah, membelah diantara di antara tamu-tamu yang hadir. Menuju panggung utama. Dimana Hadi Irawan, sang ayah telah menunggu.
Irene naik ke atas panggung diiringi riuh tepukan tangan semua yang hadir. Diantara semua yang hadir, mungkin hanya Clarissa dan Gina yang terkejut luar biasa.
Pasalnya, wanita yang disebut Hadi sebagai Nadine adalah Irene. Sedangkan Gina terkejut, sebab Nadine yang ada dalam foto di ponselnya memiliki wajah yang berbeda.
"Tu_tunggu dulu. Perempuan itu yang bernama Nadine? Bukankah Nadine ... Nadine ..." Gina mengambil ponselnya dari dompet kecil ditangannya. Dengan wajah tegang, diperhatikannya baik-baik foto yang dikirim Herman ke ponselnya.
Ia perhatikan dengan teliti foto itu. Membandingkan Nadine yang ada dalam foto dengan Nadine yang berdiri di atas panggung saat ini.
"Gadis kampungan itu, sedang apa dia disini?" Gumam Clarissa kesal sekaligus penasaran.
"Kamu kenal perempuan itu?" Tanya Gina.
"Dia yang telah merebut Axelle dariku. Dia Irene, istrinya Axelle."
"Irene? Ta_tapi perempuan itu ... Apa yang dilakukannya diatas panggung bersama Daddy?" Gina shock melihat Hadi merangkul mesra Irene diatas panggung. Dihadapan berpasang-pasang mata. Di depan sorotan banyak kamera. Bahkan Hadi meminta Axelle ikut naik ke atas panggung.
"Inilah putri saya tercinta. Yang sempat terpisah bertahun-tahun lamanya dari saya. Namanya adalah Nadine." Ujar Hadi sekali lagi.
Bukan hanya shock. Bahkan saat ini Gina dan Clarissa tampak menahan amarah. Ternyata rencana Gina gagal total.
Jika yang berdiri di atas panggung saat ini adalah Nadine, lalu siapa yang di sekap Herman sekarang?
Apakah Hadi mengetahui rencananya?
Gina menggeleng tak percaya. Dengan ekspresi yang sulit diartikan. Antara shock dan amarah yang kian membara.
TBC
__ADS_1