
Demi menyenangkan Irene, akhirnya Axelle pun menuruti permintaannya. Perlahan ia melangkahkan kakinya menghampiri Ranti. Menatapnya dingin dan datar.
Berbeda dengan Ranti. Ia justru menatap Axelle dengan tatapan berbinar. Ada rasa rindu yang teramat dalam di hatinya. Namun tak sanggup ia ungkapkan. Rasa rindu itu kian menyeruak. Ingin segera berbalas. Namun hati tak mampu berharap lebih. Hanya dengan menatapnya dari dekat seperti ini saja sudah cukup membuatnya bahagia.
"Ehem ..." Axelle berdehem sebentar. Diliriknya kembali Irene yang masih berdiri di seberang.
"Emm ..." Axelle seakan tengah memilih kata yang tepat untuk memulai ungkapan permintaan maafnya.
Ranti dengan sabar menunggu. Ditatapnya lekat-lekat wajah Axelle. Sekedar mengobati rasa rindu di dada. Berharap akan meluruh, namun nyatanya malah semakin rindu. Hingga tanpa sadar, matanya pun mulai berkaca-kaca.
Ingin raga saling memeluk. Saling menumpahkan kerinduan yang lama terpendam. Namun apa daya, jarak telah terlanjur membentang. Hingga memisahkan pertalian yang seharusnya saling bertaut. Hubungan darah yang tak kan mungkin bisa tergantikan.
Ranti menghela napas dalam-dalam.
"Silahkan Nak. Apa yang ingin kamu katakan." Ucap Ranti lembut.
Axelle pun menghela napas dalam-dalam. Sebelum akhirnya berani mengutarakan permintaan maafnya. Meski sebelumnya ia enggan.
"Eee ... Maafkan aku. Oh bukan, bukan. Maksudnya, aku minta maaf atas sikap kasar ku tadi kepada ..." Kini Axelle membuang napas nya kasar. Kemudian melanjutkan kembali kalimatnya.
"Maafkan aku Bu." Ucap Axelle singkat dan cepat.
Seketika Ranti tertegun menatap Axelle. Kalimat itu terasa menyentuh relung hatinya.
Bu ...
"Ibu ..." Ucap Axelle menggantung. Hingga Ranti pun semakin tertegun. Matanya kembali mulai berkaca-kaca, sambil menatap lekat Axelle.
Axelle menggaruk tengkuknya, dan kembali berkata.
"Maafkan aku Ibu ..." Ucapan Axelle kembali menggantung. Namun berhasil membuat hati Ranti menghangat. Hingga tanpa disadarinya, butiran-butiran air bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Ranti. Namanya Bu Ranti, Axelle." Ujar Irene sembari menghampiri.
"Oh iya, Bu Ranti. Maafkan atas sikapku Bu Ranti." Ucap Axelle gamblang.
Ranti pun mengangguk. Lalu menghapus air mata di pipinya
"Bu Ranti kenapa? Bu Ranti tidak apa-apa kan?" Tanya Irene lembut.
__ADS_1
Ranti pun menggeleng. Sembari mengulas senyumnya. "Tidak apa-apa Nak."
"Oooh ... Saya pikir Bu Ranti mungkin sakit. Atau ..."
"Tidak apa-apa. Saya hanya teringat pada putra saya yang berada di tempat yang sangat jauh. Saya sangat rindu padanya."
"Oooh ... Begitu ya. Sekali lagi maafkan sikap Axelle ya Bu?"
Ranti mengangguk. "Iya. Tidak apa-apa."
Kembali Ranti melayangkan pandangannya pada Axelle, yang kini telah menjauhi mereka. Ia berjalan ke meja rias untuk memperbaiki tatanan rambutnya. MUA pun memintanya duduk untuk di rias. Axelle pun mengambil duduk di bangku kecil itu.
.
.
Klik ... Klik ...
Beberapa pose Axelle dan Irene berhasil diabadikan. Meski Irene baru dalam hal seperti ini, namun Irene berusaha memberikan yang terbaik. Dibawah arahan fotografer, Irene berusaha sebisa mungkin berpose. Meski terkadang Axelle sering mengerjainya.
Semisal, menggelitik pinggangnya, kadang Axelle juga mencuri-curi kesempatan mencium pipi Irene. Hingga membuat Irene kesal, lantaran pengambilan gambar yang harus diulang-ulang.
Di seberang, di belakang kamera, Ranti dan Olivia tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Axelle dan Irene yang terlihat seperti anak kecil sedang bercanda.
Dan seketika, ucapan Clarissa tempo hari terngiang kembali di telinganya. Di perhatikan nya lagi gelagat Axelle dan Irene yang memang terlihat sangat akrab.
Benarkah hubungan Axelle dan Irene sudah sampai sejauh itu, hingga Irene saat ini tengah mengandung anaknya Axelle?
Apakah ia harus memberitahu Axelle tentang kenyataan pernikahan mereka?
Tidak!
Hati kecil Zaky menolak. Jika ia beritahu, lalu bagaimana dengan perasaannya terhadap Irene?
"Mereka berdua memang sangat serasi ya Liv?" Ujar Ranti yang sedang berdiri di samping Olivia dan Shelly.
"Iya. Tidak salah Shelly mengusulkan mereka. Makasih ya Shell?" Ucap Olivia.
"Bu Olive bisa saja."
__ADS_1
Di seberang, Boni tengah asik bermain ponsel. Berselancar di dunia maya, mengintip sebentar akun sosial medianya. Sampai tiba-tiba matanya terbelalak, sambil mulutnya menganga. Tak percaya dengan salah satu berita online yang lagi viral, yang sepintas lewat di beranda akun sosial medianya.
Dibacanya lagi berita itu. Bahkan berulang-ulang kali. Kemudian ia menghampiri Zaky. Tak ingin berbuat heboh, ia memperlihatkan pada Zaky layar ponselnya yang menampilkan berita itu. Hingga Zaky pun sama terkejutnya.
Cepat Zaky mengambil ponselnya dari saku. Lalu mencari berita yang sama. Ia memilih menjauh sejenak. Bahkan ia keluar dari ruang pemotretan. Diikuti oleh Boni yang mengekor di belakangnya.
"Kapan berita ini tersebar?" Tanya Zaky sembari sibuk menggulir layar ponselnya. Membaca komentar-komentar netizen yang kebanyakan berisi komentar pedas.
"Baru beberapa jam lalu Pak Zaky." Jawab Boni.
Seketika Zaky terlihat panik. Mendadak ia diliputi rasa gelisah yang tak menentu. Ditengah kepanikannya, tanpa sengaja, pandangan matanya terhenti pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Boni. Jam tangan itu baru saja dipakai Boni saat di ruang pemotretan tadi.
"Jam tangan itu punya kamu Bon?" Tanya Zaky penasaran.
"Ooh ini ... Ini dikasih Irene Pak Zaky. Katanya Irene tidak suka dengan jam tangan ini. Padahal jam tangan ini tuh sangat mahal. Pasti Bos Axe yang membelikan ini untuk Irene. Karena Irene menolak, jadi Bos Axe memberikannya ke eike."
"Kamu bilang Irene yang memberikannya."
"Bos Axe yang kasih ini ke eike. Katanya Irene tidak suka. Makanya di kasih ke eike."
Zaky pun hanya bisa membuang napasnya kasar. Bisa-bisanya Axelle berbuat semaunya. Jika Axelle tidak suka ia memberikan hadiah untuk Irene, tidak seharusnya juga dia berbuat seperti itu. Seharusnya Axelle mengembalikan jam tangan itu padanya. Bukan malah seenaknya memberikannya pada orang lain. Axelle benar-benar keterlaluan.
Sekarang, apa yang harus Zaky lakukan. Meski ia kesal setengah mati terhadap Axelle, namun ia pun tak bisa membiarkan berita yang telah tersebar luas itu menjatuhkan Axelle dan Irene.
Entah darimana datangnya berita itu. Dan entah siapa pula sumbernya. Hingga dalam sekejap telah mencemarkan nama baik Axelle dan Irene. Dan ada satu nama yang diuntungkan dalam berita itu. Yang disebut-sebut sebagai korban pengkhianatan kekasihnya.
Yaitu Clarissa.
Atau jangan-jangan sumber berita itu berasal dari Clarissa?
Pasalnya, selain ia sendiri, Boni, Axelle dan Irene, tidak satu pun yang mengetahui sandiwara pernikahan mereka. Selain Clarissa.
Dalam berita itu dikatakan, bahwa Axelle dan Clarissa adalah sepasang kekasih. Namun Axelle berselingkuh di belakangnya. Dan memilih melakukan sandiwara pernikahan dengan Irene.
Kini publik telah mengetahui, bahwa pernikahan Axelle dan Irene hanya sandiwara. Untuk menutupi perselingkuhan mereka berdua. Sangat disayangkan, artis idola mereka lebih memilih kumpul kebo, kata kasarnya berzina, daripada menikah secara sah.
Dan banyak dari para netizen yang tidak terima. Bahkan mengusulkan agar mereka dipisahkan. Di usir dari kota ini. Karena apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang sangat memalukan. Jika dibiarkan mereka bisa-bisa terkena pasal undang-undang tentang perzinahan.
Lalu apa yang harus dilakukan Zaky sekarang? Haruskah ia mengungkap kenyataan pernikahan Axelle dan Irene? Pernikahan yang dianggap sandiwara itu nyatanya adalah pernikahan yang sah.
__ADS_1
Zaky menghembuskan napasnya kasar berkali-kali. Sembari mengusap kasar wajahnya. Keadaan akan semakin kacau. Tentu saja ia harus bertindak cepat, sebelum semuanya terlambat.
TBC