Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 86


__ADS_3

Gina mematung di tempatnya, masih dengan ekspresi yang sama. Dengan amarah yang mulai membakar hati dan shock luar biasa.


Sama halnya dengan Clarissa. Yang kesal setengah mati. Lantaran menyaksikan pemandangan yang membuat darahnya mendidih.


Di atas panggung sana, Axelle dan Irene saling bergandengan tangan mesra. Ditambah lagi Hadi terkadang merangkul Irene penuh kasih. Terlebih saat Hadi mengumumkan akan rehat dari posisinya saat ini. Dan menyerahkan rumah produksinya untuk Axelle dan Irene kelola.


Axelle adalah artis yang cukup berpengalaman. Karenanya Hadi yakin dan mempercayakan rumah produksinya dibawah kepemimpinan Axelle dan Irene. Hadi mengumumkan itu tanpa keraguan sedikitpun. Hingga membuat Gina dan Clarissa semakin geram.


"Seharusnya posisi itu untuk Clarissa. Hadi, kamu memang keterlaluan. Aku yang sudah mendampingi mu selama bertahun-tahun. Tapi kamu malah menyerahkan semuanya pada perempuan kampungan itu." Geram Gina dalam amarahnya yang tertahan.


Akhirnya, Gina memilih meninggalkan ballroom itu. Disusul oleh Clarissa, mengekor di belakangnya.


Sekilas Hadi sempat melihat kepergian Gina dan Clarissa. Hadi hanya bisa menyeringai tipis menyaksikan hal itu. Ia tahu, Gina pasti shock mengetahui bahwa rencananya gagal total.


Hadi sudah bisa menebak, Gina pasti akan menculik Nadine kembali seperti beberapa tahun silam. Rencana yang sungguh murahan. Untuk itulah Hadi sudah menyiapkan segalanya. Ia biarkan Herman menculik Olivia dan Nadine kawe. Sebab mereka tidak sendiri. Ada beberapa petugas kepolisian yang sedang dalam penyamaran, tengah mengawasi mereka dari kejauhan.


"Mom ... Mommy!" Seru Clarissa mengekori langkah Gina sampai di depan ballroom.


Gina kelabakan. Panik, emosi, bahkan meradang. Berkali-kali ia menghubungi ponsel Herman, tapi tak kunjung ada jawaban.


"Sialan. Kemana si Herman. Kenapa teleponku tidak dijawab sih? Bikin aku kesal saja." Gerutu Gina dalam geramnya.


"Mommy!" Clarissa menepuk pundak Gina pelan. Hingga Gina tersentak.


"Mommy kenapa sih? Ada apa?" Tanya Clarissa penasaran.


"Mommy harus ke sana sekarang. Akan Mommy pastikan sendiri, kalau si Herman brengsek itu tidak melakukan kesalahan."


"Herman? Siapa itu Herman? Apa yang Mommy lakukan dengan Herman sih Mom?"


Gina tak langsung menanggapi pertanyaan Clarissa. Kembali ia menghubungi ponsel Herman. Kali ini langsung ada jawaban.


"Halo ... Kamu ini gimana sih? Kamu bilang kamu sudah menyekap Olivia dan Nadine. Tapi kenapa Nadine ada di tempat ini sekarang?" Kesal Gina pada Herman dalam sambungan telepon.


"Aku sudah menyekap mereka berdua. Sekarang aku sedang berdiri di depan mereka. Coba beralih ke video call saja. Dan kamu lihat sendiri siapa yang sedang bersamaku sekarang." Sahut Herman dari seberang.


Dengan cepat Gina mengalihkan panggilan ke dalam panggilan video call. Begitu beralih, dalam layar ponselnya menampilkan Olivia dan Nadine kawe yang sedang terikat kedua tangannya di di belakang kursi yang mereka duduki. Dengan mulut yang ikut disumpal dengan kain.


"Kamu yakin itu Nadine?" Tanya Gina.


"Iya. Aku yakin. Bagaimana mungkin aku salah."


"Cepat share lokasinya. Aku akan ke sana sekarang."


Gina mengakhiri panggilan telepon. Lalu bergegas keluar dari hotel. Dengan Clarissa masih mengekor di belakangnya.


"Kamu bawa mobil kan?" Tanya Gina sambil melangkah cepat.


"Iya. Memangnya Mommy mau ke mana sih?"

__ADS_1


"Antar Mommy dulu. Nanti Mommy cerita semuanya sama kamu begitu kita sampai di sana."


Sampai di parkiran,buru-buru Gina dan Clarissa naik ke mobil. Detik berikutnya mobil Clarissa melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan pelataran parkir hotel.


.


.


Di sebuah gudang kosong, tempat Herman menyekap Olivia dan Nadine kawe.


Tampak Herman tengah berkacak pinggang, memandang garang ke arah Olivia dan Nadine kawe.


Tak berapa lama, Gina dan Clarissa datang.


"Herman!" Seru Gina begitu mereka masuk ke dalam gudang tersebut.


Herman tersentak kaget. Memalingkan wajahnya dengan cepat. Dan mendapati Gina datang menghampiri dengan raut wajah menyeramkan.


"Kamu yakin, kamu tidak melakukan kesalahan?" Tanya Gina geram


Herman menyeringai. "Salah bagaimana. Silahkan kamu lihat sendiri." Herman menunjuk Olivia dan Nadine kawe yang sedang terikat di kursi dengan mulut disumpal.


"Kalau yang perempuan ini adalah Nadine, lalu siapa perempuan yang sedang bersama Hadi sekarang?"


"Maksud kamu?"


"Mommy ..." Clarissa menatap tajam Gina. Lalu mengalihkan pandangannya pada Olivia dan Nadine kawe.


Olivia dan Nadine kawe justru terlihat santai. Sedikitpun tidak memberikan perlawanan. Meski saat ini nyawa mereka dalam bahaya.


Sebelumnya, Hadi sudah memberitahu bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada mereka. Sebab yang sedang bersama Olivia saat ini adalah seorang petugas kepolisian yang sedang menyamar. Untuk itulah, mereka sedikitpun tidak memberikan perlawanan. Bahkan tidak terlihat takut.


"Jadi ini yang Mommy lakukan?" Tanya Clarissa kemudian.


"Iya. Mommy sudah bilang kan. Mommy akan melakukan apapun untukmu."


Gina berjalan menghampiri Olivia. Lalu membuka sumpalan mulut Olivia dengan kasar. Sembari memasang senyum sinisnya.


"Jadi hanya ini yang bisa kamu lakukan? Cara yang murahan, sama seperti mu." Umpat Olivia kesal.


Gina terkekeh. Dengan cepat tangannya menjambak rambut belakang Olivia. Hingga kepala Olivia otomatis mendongak.


"Sangat disayangkan, kamu kembali hanya untuk mengantar nyawamu saja. Selama ini, hidupku dan Hadi baik-baik saja. Tapi sejak kamu kembali menemui Hadi, kamu mulai merusak segalanya. Aku akan membuatmu menghilang dari dunia ini untuk selamanya. Bersama putri mu yang tercinta ini." Gina melirik Nadine kawe.


"Silahkan saja kalau kamu bisa." Tantang Olivia.


"Aku tau, Hadi berusaha mengelabuiku. Yang sedang bersamanya saat ini bukan Nadine yang asli. Hal itu sengaja dia lakukan agar aku melepaskan perempuan ini. Nadine yang asli."


"Ternyata kamu tidak secerdik itu." Ledek Olivia.

__ADS_1


"Herman." Panggil Gina. Herman pun mendekat.


Gina mengulurkan tangannya. "Berikan."


Herman merogoh kantong celananya, mengambil belati dari dalam sana. Dan memberikan belati itu ke tangan Gina.


Gina memperlihatkan belati itu untuk menakut-nakuti Olivia. Tapi Olivia, sedikitpun tidak memperlihatkan wajah ketakutannya. Olivia justru memasang senyum mengejek.


"Mommy. Apa yang Mommy lakukan? Resikonya besar kalau Mommy sampai menghabisi nyawa orang." Ujar Clarissa.


"Mommy tidak peduli. Asalkan perempuan ini lenyap dari dunia ini untuk selamanya."


Gina kemudian melepas sumpalan mulut Nadine kawe. Jemarinya meremas pipi Nadine kawe dengan kuat. Hingga Nadine kawe meringis kesakitan.


"Kalian pasti sangat menyayangi putri kalian ini. Bagaimana kalau dia yang pergi lebih dulu." Gina kembali menakut-nakuti Olivia. Dengan mengancam akan menghabisi Nadine kawe lebih dulu.


"Silahkan!" Bukan Olivia, justru Nadine kawe yang kini menantang keberanian Gina untuk menghabisinya.


Gina tertawa lepas. "Baiklah. Aku pastikan kali ini aku tidak akan gagal. Setelah dulu aku gagal menghabisimu. Kali ini kamu pasti akan menemui ajalmu."


Gina semakin geram. Tangannya yang sedang memegang belati perlahan mulai terangkat. Hendak menyakiti Nadine kawe. Saat tiba-tiba ...


Brakkk


Pintu terbuka kasar, hingga menghasilkan bunyi dentam kencang yang mengagetkan mereka. Teman preman Herman datang dengan wajah ketakutan dan panik luar biasa.


"Bos, Bos, gawat Bos." Kata preman itu bergegas menghampiri Herman.


"Ada apa?"


"Di_di luar a_ada polisi Bos." Ujar preman itu terbata saking paniknya.


Bukan hanya Herman, bahkan Gina dan Clarissa pun mulai panik.


"Polisi? Bagaimana bisa?" Gina mulai geram karena Herman lagi-lagi melakukan kesalahan.


"Kamu ini bagaimana sih? Kenapa baru bilang sekarang? Memangnya apa yang kamu lakukan di luar sana? Aku sudah memintamu berjaga dengan benar." Kesal Herman dalam amarahnya.


"Mom ... Gimana ini Mom? Kok bisa ada polisi sih?" Panik Clarissa.


"Herman. Bagaiman bisa ada polisi. Memangnya apa yang kamu lakukan? Aku sudah memberimu uang uang yang banyak. Mengurus hal seperti ini saja kamu tidak becus. Cepat periksa." Titah Gina geram.


"Tenang saja. Aku akan membereskannya. Mungkin saja si tolol ini salah mengenali orang."


Belum sempat Herman melangkahkan kakinya, tiga orang petugas kepolisian dalam penyamaran datang sambil menodongkan pistol ke arah Herman, Gina, dan Clarissa.


"Angkat tangan kalian. Jangan bergerak."


Baik Gina, Herman, Clarissa, dan preman itu terkesiap. Petugas kepolisian itu datang menghampiri. Dengan pistol mengarah pada mereka.

__ADS_1


"Sialan kamu Herman. Tidak becus kamu." Geram Gina kesal setengah mati.


TBC


__ADS_2