Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 81


__ADS_3

Pulang ke rumah, Gina mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Celingukan ke kanan dan ke kiri, seakan takut jika ada yang melihat kedatangannya.


Sampai di kamar, ia justru terkejut melihat Hadi tengah duduk berselonjoran diatas tempat tidur sambil sibuk dengan tablet pintar di tangannya.


"Pah? Papah belum tidur?" Tanya Gina untuk menutupi keterkejutannya. Ia pikir Hadi sedang tidak ada di rumah. Sebelum keluar rumah, sempat ia bertanya pada salah satu ART nya, katanya Hadi sedang ada urusan mendadak.


"Dari mana saja kamu dengan pakaian seperti itu?" Hadi mengamati tampilan Gina dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Yang tampak mirip dengan ibu-ibu yang baru saja pulang dari pemakaman. Dengan pakaian serba hitam, penutup kepala hitam, dan kacamata hitam pula di tengah malam buta.


Gina salah tingkah. Bergegas ia ke arah lemari untuk segera berganti pakaian.


"Aku dari apartemennya Clarissa. Dia mengajak ku nonton di bioskop." Kilah Gina.


"Dengan pakaian seperti itu?"


"I_iya. Kebetulan Clarissa lagi pengen nonton film horor. Jadi, aku hanya menyesuaikan saja. Biar lebih dapat horornya." Alasan Gina sungguh tak masuk akal.


"Oh ya?"


"Iya Pah." Lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Tak berapa lama Gina telah selesai dengan urusannya. Ia berjalan ke meja rias. Setelah memakai pelembap dan menyisir rambutnya, ia lantas mengambil ponsel dari dalam tas nya. Lalu beranjak ke tempat tidur.


Belum sempat ia naik ke tempat tidur, dilihatnya Hadi tengah memijit-mijit pelipisnya.


"Kenapa Pah?" Cemas Gina.


"Kepalaku rasanya pusing."


"Mau Mamah ambilkan obat?"


"Tidak usah. Tolong kamu buatkan saja aku teh herbal yang biasa aku minum."


"Ya sudah. Tunggu sebentar ya Pah."


Bergegas Gina keluar kamar setelah meletakkan ponselnya di nakas.


Begitu Gina menghilang dari pandangan. Dengan cepat Hadi mengambil ponsel Gina. Mengutak-atiknya sebentar. Beruntung Gina masih menggunakan password yang sama, yaitu tanggal lahir Clarissa. Hingga dengan mudah Hadi bisa membuka ponsel Gina.


Buru-buru Hadi menaruh kembali ponsel Gina di nakas saat terdengar bunyi decitan pintu terbuka. Ia  kembali ke posisinya semula secepat mungkin.


"Ini Pah tehnya. Di minum dulu." Gina menghampiri Hadi dengan secangkir teh hangat di tangannya. Teh itu ia sodorkan ke tangan Hadi.


Hadi menyeruput teh itu sedikit demi sedikit. Setelahnya, ia berikan cangkir teh yang telah kosong ke tangan Gina. Gina menaruh cangkir teh itu di nakas. Lalu mengitari tempat tidur.


Gina menyambar ponselnya di nakas, sebelum ia naik ke tempat tidur. Ia tampak sedang memeriksa isi ponselnya, menghapus beberapa pesan masuk, bahkan beberapa panggilan keluar.


Sementara Hadi kembali memfokuskan pandangan pada layar tablet pintarnya. Sambil sesekali melirik Gina yang masih sibuk memeriksa ponselnya.


.


.


Esok hari, di sebuah restoran berbintang, di salah satu meja VIP, Hadi duduk seorang diri. Dengan raut gelisah, menunggu kedatangan seseorang.


Tak berapa lama, seseorang yang sedang ia nantikan, datang dan menghampirinya.


Olivia.


"Maaf aku sedikit terlambat. Di galery ada banyak pekerjaan." Ujar Olivia sembari mengambil duduk di depan Hadi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kamu makin sibuk saja."


"Ada beberapa pemotretan. Aku terpaksa meninggalkan Axelle dan Irene di galery. Mereka sedang ada pemotretan hari ini."


"Bagaimana keadaan putri kita?"


"Dia sudah lebih baik. Yah, meski kadang dia masih merasa sedih atas kehilangan calon bayinya. Oh ya, langsung saja, ada keperluan apa kamu memintaku datang kemari? Jujur saja, aku tidak punya banyak waktu."


"Kamu masih mempekerjakan putri kita?"


"Dia sendiri yang minta. Aku sempat memintanya berhenti. Tapi dia menolak. Yah, hitung-hitung agar dia punya kegiatan. Dan itu bisa sedikit menghiburnya. Langsung saja, apa yang ingin kamu bicarakan."


"Ini tentang putri kita."


Olivia tampak mengerutkan dahi.


"Kenapa dengan Irene?"


"Untuk sementara ini, panggil dia dengan nama itu. Aku hanya ingin meminta bantuanmu ..." Hadi pun mengutarakan rencananya panjang lebar.


Olivia menyimak dengan baik.


Setelah pertemuannya dengan Hadi di restoran siang tadi, Olivia bergegas kembali ke galery.


Di ruang pemotretan galery itu, Axelle dan Irene telah menyelesaikan pemotretannya.


"Mama?" Panggil Irene begitu melihat Olivia datang. Irene menghampiri Olivia, lalu menghambur ke pelukannya mesra.


"Kalian sudah makan?" Tanya Olivia.


"Belum Ma."


"Oh ya, Mama perlu bicara dengan kamu dan Axelle. Kalian ada waktu kan?"


"Kita bicara di ruangan Mama saja. Ayo, ajak Axelle."


"Iya Ma."


Olivia bergegas mengambil langkah lebih dulu menuju ke ruangannya. Disusul oleh Irene setelah mengajak Axelle ikut bersamanya.


Di ruangan Olivia, Irene dan Axelle hanya bisa termangu mendengar permintaan Olivia. Di detik berikutnya, keduanya mengangguk pertanda menyetujui permintaan Olivia yang menurut Irene sedikit konyol.


.


.


Setelah pemotretan usai, Irene dan Axelle tengah bersiap pulang. Di mobil, Boni sudah siap di balik kemudi.


Di depan Galery mereka berpamitan. Olivia dan Ranti sama-sama melepas kepergian anak-anaknya seakan mereka akan pergi jauh saja.


"Hati-hati di jalan ya?" Ujar Olivia.


"Hati-hati Axelle. Jangan suka ngebut." Ujar Ranti menimpali.


"Iya. Makasih Ibu dan Bu Olive sudah memberi kami perhatian yang lebih." Ujar Axelle.


Atas permintaan Olivia, untuk sementara ini Axelle dan Irene harus memanggil Olivia seperti biasanya. Bukan dengan sebutan Mama.


"Ya sudah, kalau begitu, kami pulang dulu ya? Mari Bu Olive." Pamit Irene.

__ADS_1


"Hati-hati ya ..." Mereka saling melambaikan tangan. baru saja mereka berbalik, di seberang, tampak Clarissa yang baru saja tiba. Entah untuk apa tujuannya datang ke galery.


Otomatis, langkah Axelle dan Irene pun terhenti. Sementara Clarissa datang menghampiri.


Clarissa melepas kacamata hitam yang membingkai wajahnya. Ditatapnya sinis Irene yang menggelayut mesra di lengan Axelle. Sementara Olivia dan Ranti memperhatikan.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang? Sorry aku tidak datang menjenguk kamu di rumah sakit." Ujar Clarissa memulai.


"Kami juga tidak menginginkan kedatangan kamu." Sahut Axelle datar.


"Aku turut prihatin atas apa yang menimpa Irene."


"Makasih atas simpatinya."


Clarissa lantas mengalihkan pandangannya pada Olivia yang masih berdiri di seberang. Rasa penasaran akan sosok Nadine lah yang membawa langkahnya ke Olive Galery. Ia begitu ingin tahu siapa dan seperti apa Nadine. Putri Hadi dan Olivia.


Clarissa melangkah menghampiri Olivia yang menatapnya dingin.


"Apa kabar Bu Olive." Sapa Clarissa.


"Kabar baik." Sahut Olivia datar. Sama datarnya dengan caranya menatap Clarissa.


Clarissa tampak celingukan. Seakan pandangannya sedang mencari seseorang.


"Kamu sedang mencari siapa?" Tanya Olivia.


Clarissa tak menggubris pertanyaan Olivia. Ia masih saja menyapukan pandangannya. Sampai tiba-tiba seorang wanita muda datang dan langsung menghambur ke pelukan Olivia sembari berseru,


"Halo Ma ... Aku kangen Mama." Ujar wanita muda tersebut. Yang tentu saja Olivia tidak mengenalinya.


Olivia mengernyit menatap wanita itu setelah mengurai pelukannya.


"Maafin Nadine ya Ma. Tadi aku terjebak macet. Jadinya aku datang terlambat. Jadi kan kita makan siang bareng?" Wanita yang menyebut dirinya Nadine menggelayut mesra di lengan Olivia.


Olivia mengernyit kebingungan. Disaat bersamaan, sebuah pesan chat masuk di ponselnya. Segera Olivia mengambil ponselnya dari kantong blazer nya.


Untuk sementara ini wanita itu yang akan menjadi Nadine. Dia akan tinggal di rumah mu sampai batas waktu yang aku tentukan.


Begitulah isi pesan chat dari Hadi.


Kini Olivia mengerti. Seperti permintaan Hadi, yang memintanya untuk sementara ini merahasiakan identitas putri mereka.


Olivia pun mengulas senyum manisnya.


"Tentu saja jadi sayang. Kamu kan putri kesayangan Mama." Sahut Olivia.


Mungkin hanya Axelle dan Irene yang mengerti. Sebab sebelumnya, Olivia pun telah meminta Axelle dan Irene untuk tidak memanggilnya Mama. Sebab ada alasan yang tak bisa ia jelaskan. Sedangkan Ranti kebingungan melihat drama yang terjadi di depannya.


Clarissa semakin tersenyum sinis memandangi Nadine kawe. Kini rasa penasarannya terobati. Ia sudah melihat dengan jelas tampang Nadine.


Tanpa sepengetahuan siapapun, di seberang jalan, dari balik jendela mobil yang terparkir, seseorang tengah memperhatikan apa yang terjadi.


Herman.


Pria itu lantas mengambil ponselnya dan memotret ke arah Olivia dan Nadine kawe. Foto-foto itu ia kirim segera kepada Gina.


Sementara di lain tempat, Gina tampak tersenyum puas saat menerima foto yang dikirim Herman ke ponselnya.


"Ternyata kamu Nadine. Tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu." Gumam Gina dengan seringai tipis di wajahnya.

__ADS_1


Dan tanpa sepengetahuan Gina, Hadi memperhatikannya dari balik dinding dengan ekspresi yang sama.


TBC


__ADS_2