Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 78


__ADS_3

Takdir memang tidak ada yang bisa menebak. Jodoh masih selalu menjadi misteri. Kadang sudah berada dekat, namun waktu yang belum tepat.


Seperti hal nya Axelle dan Irene. Yang telah ditakdirkan berjodoh. Mereka yang sejak awalnya memang sudah dekat, harus terpisah oleh keadaan. Dan kini, mereka dipertemukan oleh takdir atas nama jodoh.


Bukan hanya Axelle dan Irene sendiri yang sangat terkejut bahkan hampir tidak percaya. Bu Norma yang juga mengenal Axelle sewaktu kecil, begitu terkejut. Mengetahui kenyataan bahwa Axelle adalah Aldo, teman masa kecil Irene.


Lebih terkejut lagi, saat mengetahui bahwa Ranti dan Olivia adalah ibu kandung dari Axelle dan Irene sendiri. Bukan hanya memberikan selamat, Bu Norma pun turut berbahagia. Akhirnya Axelle dan Irene bisa bertemu dengan orang tua kandungnya.


Kedatangan Ranti dan Olivia ke panti asuhan itu tak sekedar berkunjung semata. Akan tetapi, mereka memberikan santunan untuk perkembangan panti asuhan itu. Yang disambut baik oleh Bu Norma dan semua anak-anak panti. Dan atas kecelakaan yang menimpa Irene, hingga merenggut impiannya untuk menjadi seorang ibu, Bu Norma turut prihatin dan bersedih hati.


Namun berkat cinta Axelle dan Irene yang begitu dalam, hingga mereka mampu melewatinya dengan saling menguatkan.


Selesai dengan kunjungannya di panti, mereka pun memilih pulang.


Sebelum pulang ke rumah nya, Axelle dan Irene memilih mampir sebentar di rumah Olivia. Sumi datang menyajikan teh hangat untuk Axelle dan Irene.


ART yang satu ini heboh sendiri saat melihat Axelle berada di depan matanya. Entah sudah berapa banyak foto yang ia abadikan di ponsel pintarnya. Hingga akhirnya Olivia sendiri yang menghentikan kehebohannya.


"Sum ... Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" Olivia datang dengan menenteng sebuah paper bag di tangannya. Ia lantas mengambil duduk di samping Irene yang duduk di sofa panjang.


Sumi nyengir sambil menggaruk tengkuknya. "Belum sih Nya."


"Ya sudah, sana, selesaikan."


Wajah Sumi pun mendadak suram. "Baik Nya." Sambil sesekali melirik Axelle, Sumi pun beranjak ke dapur. Untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum terselesaikan.


Berpapasan dengan Sumi, Ranti datang dengan nampan kecil berisi cheese cake buatannya. Cheese cake itu ia letakkan di meja di depan Irene.


"Ini kue buatan Ibu. Di cicipi dulu, enak atau tidak. Ini tuh Ibu bikin spesial buat kalian berdua." Ujar Ranti dengan senyum di wajahnya.


"Kelihatannya enak nih. Makasih banyak ya Bu. Ibu kok malah repot-repot begini sih." Irene mengambil sepotong dan menaruhnya di piring kecil yang dibawa Ranti bersama kue.


Irene mencolek sepotong kecil dengan garpu, lalu hendak menyuapi Axelle. Axelle yang sedang asik dengan ponselnya tak menyadari sepotong kue berada di depan wajahnya.


"Ehem ..." Irene berdehem untuk mengalihkan perhatian Axelle dari ponselnya. Tetapi Axelle malah asik dengan media sosialnya yang menampilkan foto-foto wanita cantik. Irene bisa melihat itu. Hingga seketika wajah Irene cemberut.


"Axelle ..." Ranti memanggil pelan. Agar Axelle mengalihkan sejenak perhatiannya pada Irene yang ingin menyuapinya sepotong kue.


"Iya, Bu?" Perhatian Axelle teralihkan begitu mendengar ibunya memanggil. Namun disajikan dengan pemandangan wajah Irene yang suram dan cemberut. Dan tangan terulur dengan sepotong kue di garpu.


"Axelle, Irene ingin menyuapi kamu. Tapi kamu malah sibuk dengan handphone."


"Oh, ma_maaf, ini kuenya buat aku?" Axelle salah tingkah melihat Irene kesal.


Axelle pun membuka mulutnya. "Aaaa ... "


Bukannya menyuapi Axelle, Irene malah semakin kesal. Wajahnya semakin ditekuk cemberut. Irene kesal Axelle lebih memperhatikan foto wanita-wanita cantik itu ketimbang dirinya.


Ranti dan Olivia memperhatikan tingkah keduanya.

__ADS_1


"Kuenya buat aku kan? Aaaa ..." Axelle kembali membuka mulutnya.


Dengan kesal Irene hendak menyuapi Axelle. Namun saat sepotong kue itu hampir masuk ke mulut Axelle, dengan cepat malah berbalik arah. Irene memilih menyuapi dirinya sendiri dan membiarkan Axelle dengan mulut menganga lebar lantaran Irene tak jadi menyuapinya.


Ranti dan Olivia yang menyaksikan itu pun hanya bisa tertawa-tawa.


"Axelle, Irene kesal. Tuh ..." Ranti menunjuk ke arah ponsel Axelle yang masih menampilkan foto seorang wanita cantik.


Axelle pun terhenyak. Buru-buru ia mematikan layar ponselnya.


"Oh, i_ini bu_bukan apa-apa kok Bu. Ini hanya ..." Axelle tergagap. Bingung mau menjawab apa. Apalagi saat dilihatnya Irene malah semakin cemberut.


Saking kesalnya, Irene pun bangun dan memilih menjauh. Tak peduli meski Axelle memanggilnya berulang kali. Irene melangkah cepat tanpa tahu arah yang dituju. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di kolam renang. Ia lantas mengambil duduk di sofa bed yang tak jauh dari kolam renang itu.


"Sorry." Bisik Axelle lirih di telinga Irene begitu mengambil duduk di sebelahnya.


Irene tak menyahuti, apalagi menoleh.


"Sorry sayang." Kembali Axelle berbisik di telinga Irene. Dan Irene masih saja enggan menanggapi.


"Ren ... Sorry. Sesusah itukah memberi aku maaf?" Axelle masih berusaha meraih perhatian Irene.


"Apa yang membuat kamu marah? Hm?" Axelle bertanya sambil memiringkan wajahnya, mengintip wajah masam Irene.


"Banyak." Jawab Irene ketus.


"Maaf deh. Lain kali aku tidak akan membuat mu marah lagi."


Axelle pun terhenyak. Lalu ia tersenyum menyadari apa yang membuat Irene marah.


"Oooh ... Jadi kamu cemburu?" Axelle mulai usil menggoda Irene. Irene memilih memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan Axelle yang seakan tengah meledeknya.


"Kamu cemburu karena foto-foto itu?"


"Iih ... Siapa yang cemburu." Irene mengelak.


"Itu hanya tidak sengaja saja kebuka. Lewat begitu saja di halaman beranda."


"Alasan." Irene merubah posisi duduknya lebih menyamping dan membelakangi Axelle. Sejujurnya ia malu lantaran gelagatnya terbaca oleh Axelle. Gelagat istri yang sedang cemburu.


"Maaf ..." Axelle melingkarkan lengannya. Mendekap tubuh Irene dari belakang. Menopang dagunya di pundak Irene sembari kembali ia berbisik.


"Aku senang kamu cemburu. Itu tandanya kamu benar-benar mencintaiku. Kalau kamu mau, kamu juga bisa memukuliku, mencubit, atau apapun itu yang mau kamu lakukan. Untuk melampiaskan kekesalan kamu."


"Benar aku boleh memukul kamu?" Kini Irene menoleh. Ia tergoda dengan ucapan Axelle yang membolehkan ia menyakiti Axelle.


Axelle mengurai dekapannya. Lalu menganggukkan kepalanya.


"Kalau aku mau yang lain gimana?"

__ADS_1


Axelle kembali mengangguk. "Boleh."


"Aku tidak akan mencubit, memukul, atau apapun kalau aku kesal. Aku hanya mau ..." Irene menjeda kalimatnya sejenak.


"Kita tidur terpisah. Kalau aku kesal, aku tidak bisa dekat-dekat dengan orang yang membuat aku kesal. Gimana?"


Kini giliran Axelle yang berwajah masam.


"Yang lain saja. Kamu boleh menghukum ku dengan cara apapun. Tapi jangan yang satu itu. Aku tidak bisa." Protes Axelle. Jika Irene memilih tidur terpisah lalu bagaimana dengan ...


"Tapi sayangnya aku maunya yang itu." Irene merubah kembali posisi duduknya. Kini ia berhadapan dengan Axelle.


Axelle menggelengkan kepalanya. Masih tidak menyetujui usul Irene.


"Yang lain saja. Atau kamu mau aku melakukan apa untukmu." Tawar Axelle.


Sebenarnya Irene tak tega melihat Axelle merengek seperti anak kecil. Tapi ia sudah terlanjur kesal dengannya.


Irene membawa jemarinya mendekap rahang tegas Axelle. Terfokus menatap kedua bola matanya.


"Sebenarnya, aku juga tidak mau jauh-jauh dari kamu." Ucap Irene dengan senyum tipis di wajahnya. Sembari mengikis jarak diantara mereka sedikit demi sedikit. Sampai saat bibir keduanya hampir saja bersentuhan, Irene malah bangun dari duduknya. Lalu meninggalkan Axelle sembari berseru.


"Jangan harap aku ambil inisiatif lebih dulu." Irene membawa langkahnya semakin cepat kembali ke ruang tamu.


Axelle menyusulnya dari belakang. Tak ingin kehilangan kesempatan melihat Irene yang berinisiatif mengajaknya memadu kasih.


"Ayolah Ren, jangan seperti itu."


Irene tak menghiraukan. Ia memilih kembali duduk di samping Olivia.


.


.


Di lain tempat, Clarissa yang mulai merasa gelisah, teringat akan ucapan Zaky kemarin, memilih datang meredakan kegelisahannya untuk menemui ibunya. Zaky berkata bahwa Axelle sebelumnya berniat melaporkan kecelakaan yang menimpa Irene ke pihak yang berwajib.


Meski mereka membatalkan niatnya, akan tetapi tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu mereka bisa saja berubah pikiran. Hal itulah yang membuatnya resah dan gelisah belakangan ini. Lantaran takut perbuatannya diketahui.


Clarissa tidak menemukan ibunya di ruang tengah, di sofa bed tempatnya berleha-leha. Ia lantas membawa langkahnya menuju kamar ibunya.


Handel pintu ia putar pelan. Mendorong daun pintu itu pun perlahan. Belum sempat pintu itu terbuka lebar, indera pendengarannya menangkap suara Hadi tengah mengobrol dengan seseorang via telepon.


"Aku minta tolong sama kamu, tolong urus semuanya. Acara ini akan di buat secara besar-besaran. Hubungi semua stasiun TV untuk menyiarkan ini secara langsung. Putriku harus di kenal oleh semua orang." Ujar Hadi.


Clarissa semakin menajamkan pendengaran. Menyimak obrolan Hadi dengan rasa penasaran.


"Putriku akan kembali ke tempat yang seharusnya. Putriku Nadine ..."


Clarissa tersentak detik itu juga mendengar sebuah nama. Yang tentu saja itu bukan namanya. Dan Hadi menyebutnya putriku.

__ADS_1


"Daddy punya anak selain aku?" Gumam Clarissa dengan ekspresi keterkejutannya.


TBC


__ADS_2