Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 35


__ADS_3

"Tunggu."


Clarissa melepaskan cekalan tangannya dari lengan Axelle. Lalu menghampiri Irene yang telah menghentikan langkahnya.


Irene berdiri dengan wajah tertunduk. Sementara diseberang, Axelle dan Zaky memperhatikan. Zaky mungkin belum paham situasi saat ini. Yang ia pahami, hubungan Axelle dan Irene masih sebatas sandiwara.


Begitu pun dengan Clarissa. Meski ia tahu hubungan Axelle dan Irene hanya pura-pura, tetapi ia tak bisa menerima begitu saja. Terlebih lagi mereka tinggal dalam satu atap. Ia akui, meski dimatanya Irene adalah gadis kampungan, tapi tak bisa memungkiri Irene memiliki paras yang cantik. Ia hanya takut Axelle akan mudah jatuh hati.


Namun berbeda dengan Axelle. Rasa cemas, amarah, serta cemburu menyelimuti hati saat ini. Ia kesal Irene sedang bersama Zaky. Bahkan mereka pulang larut. Hingga menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benaknya. Yang memicu kekesalan dan amarah yang terasa kian menyesakkan dada. Ingin menumpahkannya segera, namun situasi dan kondisinya saat ini tak memungkinkan.


"Ternyata gadis kampungan yang sok polos, sok lugu, cukup berani juga merayu pria." Ucap Clarissa dengan tatapan remeh.


Irene masih tertunduk. Bahkan disaat Clarissa makin mencecarnya hingga serasa menyudutkannya.


"Apa motivasi mu mau melakukan sandiwara ini? Uang? Numpang tenar? Atau ... Kamu memang gadis murahan yang menghalalkan segala cara untuk popularitas kamu. Itu bisa saja, karena kamu hanya model kampungan yang butuh ketenaran. Model kelas rendahan."


"Rissa!" Hardik Axelle sembari menghampiri.


Di seberang, Zaky masih senantiasa mengawasi drama yang terjadi di rumah itu. Jujur, ucapan Clarissa pun membuatnya marah. Namun, masih ada Axelle yang seharusnya menanganinya. Karena Clarissa adalah kekasihnya.


"Aku minta kamu pulang. Sekarang juga!" Tegas Axelle yang makin menampakkan kilatan amarahnya.


Namun Clarissa malah menanggapinya santai. Bahkan terkesan meremehkannya.


"Honey ... Aku hanya ingin memastikan sandiwara yang kalian lakukan ini tidak akan melenceng kemana-mana. Kamu paham maksudku kan?"


"Aku paham. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu."


"Honey ..."Clarissa semakin mendekat. Lalu mengalungkan lengannya mesra di pundak Axelle. Memberinya kecupan singkat di pipi bahkan di bibir Axelle. Dan Axelle diam saja menerima perlakuan itu.


Sekilas, Irene mengangkat pandangannya. Sempat ia menyaksikan sikap mesra Clarissa terhadap Axelle. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, selain menguatkan hati melihat pemandangan yang terasa menyesakkan dada. Hal yang wajar terjadi diantara sepasang kekasih. Akan tetapi hal itu serasa menyayat hatinya. Memberinya rasa perih dalam diam. Sakit namun tak terlihat. Terluka namun tak berdarah.


Teringat janji Axelle beberapa saat berlalu. Axelle berjanji akan mengakhiri hubungannya dengan Clarissa. Tetapi dari yang terlihat, mungkin akan terasa sulit bagi Axelle. Sebab Clarissa adalah wanita pertama yang mengisi hatinya.

__ADS_1


"Aku lelah. Kamu pulang sekarang juga." Axelle melepas lengan Clarissa yang melingkari pundaknya. Membuat Clarissa menampakkan pias kekecewaannya.


"Sejak kapan alasan lelah selalu kamu gunakan untuk menghindariku? Biasanya juga kamu_" kalimat Clarissa terputus. Sebab dengan cepat Axelle menyela.


"Dulu." Sela Axelle dengan nada meninggi. Bahkan terkesan membentak.


"Dulu aku tidak peduli keadaanku. Meskipun aku lelah, aku selalu menuruti keinginan kamu. Bahkan aku mengabaikan kondisiku. Sejak kapan kamu peduli padaku?" Tambahnya.


"Dan sekarang, aku lelah. Aku lelah menghadapi keegoisan kamu. Sekarang kamu pulang, dan sebaiknya kita akhiri hubungan kita. Aku sudah tidak sanggup lagi menghadapimu."  Setelah mengungkapkan kekesalannya, Axelle kemudian beranjak meninggalkan Clarissa yang terperangah saking terkejutnya mendengar keputusan Axelle.


Sama hal nya dengan Irene. Yang begitu terkejut mendengar Axelle begitu mudahnya mengakhiri hubungannya dengan Clarissa. Wajahnya yang semula tertunduk, kini menadahkan pandangannya silih berganti. Memandangi Clarissa yang semakin menampakkan amarahnya. Lalu memandangi Axelle yang kini mulai menapakkan kakinya menaiki anak tangga dengan lesu dan tak bertenaga. Sungguh ini diluar perkiraannya.


Sementara bagi Zaky, hal seperti ini sudah biasa. Memang sejak awal Zaky sudah memperingatkan Axelle. Bahkan meminta Axelle mengakhiri hubungannya dengan Clarissa. Sebab ada satu hal yang tidak AXelle ketahui hingga detik ini tentang Clarissa.


"Axelle." Clarissa tak bisa menerimanya begitu saja. Ia menyusul langkah Axelle cepat.


"Axelle, tunggu." Seru Clarissa dengan nada tinggi tak kalah menantang. Sebab telah dikuasai emosi yang meledak-ledak.


Axelle tak menanggapi. Ia melangkah lesu menaiki anak tangga satu per satu. Bahkan ia hampir saja terjatuh. Dan Clarissa tak peduli bagaimanpun kondisi Axelle saat ini. Ia bersikeras meminta jawabannya.


"Axelle. Jelaskan padaku kenapa?" Clarissa mulai menaiki anak tangga, hendak menyusul Axelle. Axelle mengangkat tangannya, agar Clarissa tidak mengikutinya.


Zaky dan Irene masih mengawasi. Seketika timbul kekhawatiran Irene melihat kondisi Axelle yang tampak lesu. Bahkan hampir saja terjatuh dari tangga. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa selama masih ada Clarissa.


"Clarissa." Panggil Zaky sembari menghampiri Clarissa.


Brakkk


Terdengar suara dentam pintu yang dibanting keras. Hingga membuat ketiganya tersentak. Clarissa hendak ke kamar Axelle. Belum sempat kakinya menapaki anak tangga, Zaky justru mencegahnya.


"Clarissa."


Niatnya pun urung. Clarissa menatap tajam Zaky. Tatapan itu begitu tajam bagai menembus jantung.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu pulang dulu. Axelle mungkin sedang tidak enak badan. Sebagai manajernya, aku tidak ingin ada yang mengganggu istirahatnya. Aku tidak ingin meminta berulang kali. Kamu pasti sudah paham apa maksudku. Masalah diantara kalian, lain waktu kalian selesaikan. Untuk sekarang, Axelle butuh istirahat." Terang Zaky panjang lebar.


Clarissa pun tak bisa berkutik. Terpaksa ia menuruti ucapan Zaky. Lalu beranjak pergi dengan hati menahan kesal dan amarah.


Setelah Clarissa pergi, Irene memilih masuk ke kamarnya. Meski hati dilanda cemas akan kondisi Axelle yang tampak lesu tak bertenaga. Sementara Zaky bergegas ke kamar Axelle untuk memastikan keadaannya.


Di kamarnya, Axelle berbaring tengkurap. Tanpa melepas sepatu dan jaketnya. Hal seperti ini sudah biasa di saksikan Zaky jika Axelle kelelahan. Dan seperti biasanya, Zaky lah yang akan melepas sepatu dan jaketnya. Seperti yang saat ini tengah ia lakukan. Axelle sudah seperti adiknya sendiri. Ada satu rahasia tentang Axelle yang tidak diketahui banyak orang.


Seorang idola akan selalu dituntut sempurna. Tak peduli bagaimanapun keadaannya. Axelle memang selalu tampil sempurna di depan penggemarnya. Akan tetapi, Axelle pun hanyalah seorang manusia biasa yang punya kekurangan. Dan kekurangan Axelle, yang membuat Zaky menyayanginya seperti adik sendiri.


Setelah memastikan keadaan Axelle, Zaky pun bergegas pergi. Ingin menitipkan pesan pada Irene agar memperhatikan kesehatan Axelle, namun tak enak hati rasanya harus merepotkan Irene. Terlebih lagi, sangat tak etis jika ia mengetuk pintu kamar Irene. Dan mengganggu istirahatnya. Hingga ia pun memilih pulang.


.


.


Irene masih tak bisa memejamkan matanya. Kondisi Axelle yang terlihat lemah menimbulkan kecemasan dihatinya. Hal itulah yang kini membawa langkahnya dan memberanikan diri ke kamar Axelle.


Pelan ia mendorong daun pintu hingga membuat sedikit cela untuk ia bisa mengintip keadaan dalam kamar itu. Dilihatnya Axelle tertidur lelap. Tak tega jika ia harus membangunkannya hanya untuk menanyakan kondisinya. Ia pun memilih menutup kembali pintu itu.


Namun belum sempat pintu itu menutup sempurna, terdengar seruan dari dalam kamar. Axelle terbangun.


"Masuk." Seru Axelle.


"Bukannya kamu__"


"Masuklah."


"Tapi__"


"Aku bilang masuk." Tegas Axelle. Irene pun tak bisa menolak.


TBC

__ADS_1


__ADS_2