
Malam kian larut. Clarissa tak ingin lagi berlama-lama di rumah. Apartemen adalah tempat ternyaman baginya. Dibandingkan di rumah, dimana ia harus sering melihat ayah dan ibunya yang kadang tak akur. Bahkan ayahnya terkesan mengabaikan ibunya selama ini. Entah apa yang terjadi dengan rumah tangga mereka.
Namun itulah pemandangan yang sering terpampang di depan matanya. Seperti saat ini, saat ia memasuki rumah hendak berpamitan dengan ibunya, ia malah mendapati ibunya sedang duduk termenung di sofa santai pribadinya.
"Mom ..." Seru Clarissa sembari menghampiri. Lalu mengambil duduk di sebelah Gina.
Gina terhenyak. "Cla? Kamu masih disini? Mommy pikir kamu sudah kembali ke apartemen."
"Mommy kenapa sih? Kok murung lagi?"
"Tidak apa-apa. Mommy hanya mulai mengantuk."
"Mommy bohong." Memicingkan matanya curiga.
Clarissa selama ini tidak tahu menahu perihal rumah tangga ayah dan ibunya yang sebetulnya tidak harmonis.
Gina, begitu pandai menutupi hal itu dari Clarissa. Bahkan hingga detik ini, Clarissa tidak tahu bahwa ia bukanlah putri kandung Hadi Irawan.
Sejak kecil, Clarissa tak pernah mendapatkan kasih sayang lebih dari Hadi yang ia tahu adalah ayah kandungnya. Semua materi dipenuhi Hadi, bahkan ia tak kekurangan satu pun. Namun kasih sayang, ia kekurangan akan satu hal tersebut.
Tidak mau munafik, terkadang ia sering merasa iri hati saat melihat orang lain, bahkan teman-temannya sendiri yang dilimpahi kasih sayang dari orang tuanya. Terlebih lagi kasih sayang dari seorang ayah. Sungguh ia merasa iri.
"Mom ... Are you hiding something from me?" Tanya Clarissa ingin tahu.
Gina mengulum senyum. Sembari menggeleng pelan. "Tidak, Mommy tidak menyembunyikan apa pun dari mu." Kilah Gina.
Namun sesungguhnya, ada banyak hal yang ia sembunyikan dari putrinya itu. Salah satunya adalah kebenaran tentang Hadi yang bukan merupakan ayah kandungnya.
Bukan hanya itu, ia bahkan menyembunyikan kenyataan bahwa ia yang telah menculik Nadine beberapa tahun silam. Ia sengaja melakukan hal itu untuk memisahkan Hadi dan Olivia. Dan juga demi putrinya. Agar putrinya bisa hidup dengan nyaman bergelimang harta.
"Mom?"
"Hm?"
"Kenapa ya aku merasa Daddy tidak pernah menyayangiku." Keluh Clarissa dengan wajah suram.
"Jangan berpikiran seperti itu. Daddy sangat menyayangi kamu. Kamu bisa lihat sendiri kan, apapun yang kamu minta, Daddy selalu mengabulkannya."
"Tapi ada satu hal yang aku minta dan Daddy tidak pernah mengabulkannya."
"Apa Cla?."
"Kasih sayang."
Gina terdiam. Dengan hati miris dan perih seketika.
"Kamu jangan konyol. Daddy itu sangat menyayangi mu. Kamu adalah satu-satunya putri kesayangannya. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi."
"Apa aku ini bukan anak kandungnya Daddy?"
Gina pun tersentak mendengar pertanyaan Clarissa. Seketika wajahnya terlihat tegang.
__ADS_1
"Kamu ini bicara apa sih? Jangan pernah kamu bicara seperti itu lagi. Kamu adalah putri kesayangannya Daddy. Sampai kapanpun. Dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa merebut itu dari mu. Kamu dengar?" Cecar Gina dalam kemarahan.
"Kenapa Mommy jadi semarah ini sih? Memangnya Daddy punya anak lain yang akan merebut posisiku?"
Gina menelan saliva dalam-dalam. Selama ini Clarissa tidak tahu menahu tentang Nadine, putri kandung Hadi. Selama ini Clarissa hanya tahu bahwa hanya dirinya lah satu-satunya putri seorang Hadi Irawan.
Seketika itu juga, Gina mendadak gugup. Ia teringat akan perkataan Hadi beberapa saat lalu. Bahwa Hadi akan memperkenalkan putrinya kepada semua orang. Ketakutan pun mulai menyelimuti.
Gina takut Clarissa akan mengetahui semuanya. Gina takut Clarissa akan kecewa dan terluka. Ia tahu seperti apa tabiat putrinya itu. Dan ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Clarissa nanti.
"Sudahlah Mom. Aku pulang dulu. Jaga diri Mommy baik-baik ya?" Ucap Clarissa sembari bangun dari duduknya.
"Oh ya, aku hampir lupa menanyakan hal ini." Tiba-tiba Clarissa teringat sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Apa hubungan Daddy dengan Bu Olive?" Tanya Clarissa tiba-tiba. Hingga membuta Gina tersentak. Lalu bangun dari duduknya.
"Ti_tidak ada. Mereka kebetulan hanya saling kenal saja. Siapa sih yang tidak kenal Daddy kamu itu?" Kilah Gina.
"Oh ya? Lalu hubungannya dengan Mommy gimana? Mommy kenal Bu Olive juga?"
"I_iya sih, Mommy kenal. Olivia itu kan desainer terkenal, kadang Mommy membeli pakaian rancangannya." Gina kembali berkilah.
"Benarkah? Tapi setahu aku, Mommy tidak pernah memakai brand Bu Olive. Malah yang aku lihat Mommy justru lebih senang dengan brand-brand luar negeri."
"Ah, siapa bilang. Kamu saja yang kurang perhatian."
"Oooh ... Ya sudah, aku pulang dulu Mom. Bye ..." Clarissa pun beranjak pergi meninggalkan Gina yang masih berdiri dengan kegugupannya.
Gina pun bernapas lega setelah kepergian Clarissa. Sekarang yang harus ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar Hadi tidak akan memperkenalkan putrinya pada semua orang. Ia harus menggagalkan rencana Hadi yang nantinya malah akan menyakiti Clarissa.
.
.
Tampak Zaky berdiri di ambang pintu apartemennya yang terbuka lebar. Dari penampilannya, mungkin Zaky hendak keluar.
Clarissa mengamati tampilan Zaky dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Yang baginya begitu maskulin dan terlihat dewasa. Tidak salah jika ia menaruh hati padanya sejak awal. Namun tak menampik, jika Axelle juga membuatnya tertarik.
Clarissa memang wanita angkuh dan terkesan serakah. Ingin memiliki dua pria itu sekaligus. Tetapi keinginannya tak pernah terwujud semenjak ada Irene diantara mereka.
Irene telah merebut segalanya dari genggamannya. Dalam sekejap Irene telah menjadi seseorang yang begitu dibencinya.
"Wow ... Kamu selalu saja tampak menarik di mataku." Puji Clarissa ingin menggoda Zaky.
Zaky tak menggubris. Ia memilih keluar dan menutup kembali pintu apartemennya.
"Oh ya, aku dengar Irene kecelakaan. Gimana keadaannya sekarang?" Tanya Clarissa demi menghentikan langkah Zaky yang hendak berlalu.
"Dia baik-baik saja."
"Aku turut prihatin atas kecelakaan yang menimpanya. Axelle pasti sangat sedih kehilangan calon bayinya."
__ADS_1
Zaky terhenyak. Lalu menatap Clarissa yang menunjukkan raut penyesalannya. Seakan ia ikut merasa kehilangan.
"Kamu tahu darimana kalau Irene keguguran?" Tanya Zaky sambil memicing curiga.
Seketika Clarissa pun gugup. Semakin gugup lagi saat tatapan Zaky terasa semakin tajam. Bagai mau menembus jantungnya.
"Bu_bukankah dia sedang hamil? Apalagi dia hamil muda, masih rentan mengalami keguguran. Kecelakaan itu sudah pasti merenggut kandungannya."
"Oh ya? Kamu pandai menebak juga."
"Of course. Bayangkan saja, mobil itu menabraknya dari samping, tepat di pinggangnya. Dekat dengan perutnya. Sudah pasti dia bakal keguguran."
"Mobil yang mana. Kamu tahu darimana kalau dia ditabrak mobil?" Zaky semakin memicing curiga.
"Tentu saja mobil kan? Lalu apalagi, sepeda gitu?"
"Bisa saja sepeda motor kan?"
"Kecelakaan seperti itu sudah pasti mobil yang menabraknya."
"Mobil kamu?"
"Ten_" Clarissa terdiam. Kalimat yang hendak diucapkannya tanpa sadar itu terhenti begitu saja. Lalu ditatapnya takut-takut Zaky yang semakin menajamkan tatapannya. Membuat nya harus menelan saliva susah payah. Bahkan mendadak gugup, dan salah tingkah.
Zaky menyeringai tipis. Ia hanya asal tebak saja. Tapi siapa sangka malah membuat Clarissa terlihat salah tingkah. Dari ucapannya, seolah menyiratkan bahwa Clarissa adalah pelaku tabrak lari tersebut. Bahkan dari gelagatnya saat ini, Clarissa seakan sedang menyembunyikan sesuatu.
"Clarissa ... Apa yang ingin kamu katakan? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Selidik Zaky curiga.
"Maksud kamu apa sih. Kamu mencurigai ku?"
"Tidak. Aku tidak mencurigai kamu. Hanya saja, aku merasa ada yang aneh dari sikap kamu."
"Itu sama saja kamu curiga padaku. Kamu curiga aku yang menabrak Irene?"
"Aku tidak bilang seperti itu."
Clarissa pun semakin salah tingkah. Zaky begitu lihai menjebaknya. Hampir saja ia ketahuan.
"Tadinya Axelle berniat melaporkan hal ini ke pihak yang berwajib. Tapi ..."
"Kalau mau melaporkan kecelakaan itu, bukankah sebaiknya jika kalian punya bukti yang kuat dulu? Jangan seenaknya main tuduh orang sembarangan."
"Aku tidak menuduh siapa-siapa. Kenapa malah jadi kamu yang sewot?"
"Emm ... Emm ... A_aku ..." Clarissa benar-benar gugup.
"Kamu benar, kami tidak punya cukup bukti yang kuat. Jadi mungkin, kami tidak akan melaporkan kasus ini. Dan kamu selamat, kamu aman sekarang." Tandas Zaky begitu saja, lalu beranjak meninggalkan Clarissa. Namun sesekali ia menoleh ke belakang. Memperhatikan raut wajah Clarissa yang terlihat berbeda.
Dari yang terlihat, Clarissa seperti sedang panik atau mungkin ketakutan.
Entahlah.
__ADS_1
Tetapi raut wajahnya menampakkan hal itu.
TBC