
Bermain bersama anak-anak panti menyenangkan. Namun sekaligus lelah disaat yang bersamaan. Tapi sukses memberinya kebahagiaan tersendiri yang terasa berbeda di hati.
Axelle melayangkan pandangannya ke sekeliling. Mengamati keadaan sekitar panti yang entah kenapa merasa tak asing dengan tempat itu.
Axelle dan Irene kini sedang duduk di bangku kecil, dibawah pohon yang rindang berdua.
"Kamu tidak perlu menyusul ku kemari. Aku bisa pulang sendiri." Ucap Irene memecah hening di antara mereka.
Axelle merogoh kantong jaketnya, mengambil ponsel dari sana. Disodorkannya ponsel itu pada Irene.
Irene pun menyambar ponsel itu cepat dari tangan Axelle dengan wajah cemberut.
"Aku sampai lupa kalau punya handphone." Sungut Irene kesal sebab Axelle baru mengembalikan ponselnya.
Axelle tersenyum. "Maaf. Aku lupa mengembalikannya padamu."
"Lupa atau memang sengaja." Irene memanyunkan bibirnya.
"Lupa. Sumpah, aku lupa."
"Anggap saja aku percaya."
"Oooh ... Jadi kamu tidak percaya padaku? Hm?" Axelle sudah bersiap hendak menggelitik pinggang Irene. Namun dengan cepat Irene bangun dari duduknya. Lalu beranjak meninggalkan Axelle.
"Irene, kamu mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendiri dong." Seru Axelle setengah berteriak. Sembari bangkit dan menyusul langkah Irene memasuki panti.
"Memangnya kamu mau kelaparan? Kita makan siang dulu bersama anak-anak." Seru Irene setengah berteriak pula.
"Tunggu aku." Lalu mengambil langkah cepat hingga berhasil menyusul Irene dan berjalan bersisian bersama Irene memasuki panti.
.
Axelle tak menyangka, makan siang bersama anak-anak panti bisa sangat menyenangkan. Walau hanya dengan menu sederhana. Ia merasa seperti pernah mengalami hal serupa. Akan tetapi ia lupa kapan ia pernah melalui hal seperti itu. Sebagian masa kecilnya saja menghilang dari memorinya sejak kecelakaan beberapa tahun silam yang pernah dialaminya.
Sebelum datang ke kota ini, sebelumnya Axelle pernah tinggal di luar negeri bersama orang tua dan saudaranya. Bagi Axelle, entah bagi mereka, apakah selama ini mereka menganggapnya sebagai bagian keluarga. Sebab ada satu orang dalam keluarganya yang seakan tidak menginginkan kehadirannya. Itulah sebabnya kenapa ia tinggal sendirian di kota ini. Berjuang dari nol hingga sampai pada titik sekarang yang sedang ia nikmati. Kesuksesan, popularitas, materi yang mencukupi. Akan tetapi, ia masih saja merasa ada yang kurang.
Meski kini Irene hadir dalam hidupnya. Memberinya warna yang berbeda, melengkapi kekurangannya. Namun ada sesuatu yang hilang dari hidupnya, yang menjadi alasannya kembali ke negara ini. Ia berusaha menemukannya. Meski tak tahu apakah takdir akan sudi mempertemukannya.
"Kita langsung pulang saja ya?" Tanya Axelle tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya. Axelle memfokuskan konsentrasinya pada jalanan yang mulai terlihat padat sore itu. Meski ia merasa lelah, tapi ia tak bisa membiarkan Irene pulang sendirian. Hingga ia sedikit memaksakan diri menyetir sendiri.
"Boleh. Aku ingin istirahat di rumah. Besok aku harus menghadiri acara peluncuran katalog Olive Fashion." Jawab Irene sambil sibuk bermain ponsel.
"Kenapa tidak bilang padaku?"
"Aku baru saja memberitahumu kan?"
"Apa aku boleh ikut."
"Boleh. Kebetulan Bu Olive juga ingin kamu menghadiri acara itu."
"Waaah ... Sayang sekali, besok aku sangat sibuk. Syutingnya padat."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri."
__ADS_1
Ckiiit ...
Tiba-tiba Axelle menghentikan mobilnya di tepian jalanan yang tampak sepi. Axelle mengerem mendadak hingga membuat Irene terkejut. Pandangannya yang semula fokus pada layar ponselnya, kini menatap Axelle tajam.
"Axelle, kamu kenapa sih?" Tanya Irene kesal bercampur cemas. Dilihatnya Axelle tengah memegangi kepalanya. Seakan sesuatu terjadi padanya.
"Axelle, kamu kenapa?" Tanya Irene lagi dengan nada suara lebih lembut.
"Kamu, tidak apa-apa kan?" Irene tak bisa menutupi kecemasannya. Cemas kalau sesuatu terjadi pada Axelle. Axelle kelelahan, dan sampai detik ini dia belum mengistirahatkan raganya dengan benar.
"Aku tidak apa-apa." Sembari mengulas senyum. "Aku hanya sedikit pusing."
"Ya sudah, kita pulang saja. Aku hubungi Boni saja ya? Biar dia yang menyetir."
"Tidak perlu. Sudah dekat kok."
Tanpa perlu berlama-lama lagi, Axelle pun kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
.
.
Sampai di rumah, Irene bergegas menuju ke kamarnya. Menaruh tas kecilnya di nakas, lalu berbaring di tempat tidur.
Membayangkan kebersamaan mereka di panti tadi, membuat Irene tersenyum-senyum sendiri. Ia tak menyangka, meski kadang Axelle terlihat angkuh, tetapi ia adalah pria yang baik dan menyukai anak-anak. Menghabiskan hari di panti bersama Axelle dan anak-anak tak disangka bisa begitu menyenangkan. Dan hari ini pertama kalinya ia melihat Axelle sebahagia itu.
Cklek
Perhatian Irene pun teralihkan saat terdengar suara decitan pintu terbuka. Axelle sudah berdiri di ambang pintu, menatapnya sendu.
Dengan santainya Axelle kini mengambil tempat di sebelah Irene. Di tariknya selimut sampai batas dada, lalu berbaring sambil tangannya melingkar di pinggang Irene.
"Aku ingin tidur disini bersamamu." Ucap Axelle sembari membenamkan wajahnya di ceruk leher Irene. Nafas hangatnya terasa menyentuh permukaan kulit, membuat jantung Irene berdetak kencang. Bulu roma nya pun ikut meremang. Was-was jikalau Axelle akan berbuat lebih.
"Axelle, tidurlah di kamarmu." Pinta Irene.
"Boleh. Tapi kamu ikut." Masih dengan mata terpejam.
"Tidak mau. Nanti kamu berbuat yang aneh-aneh lagi."
Axelle terkekeh dan semakin mempererat rangkulannya di pinggang Irene.
"Ya sudah, aku tidur di sini saja. Tidak usah cemas, aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku sangat lelah. Aku hanya ingin tidur bersamamu. Rasanya sangat nyaman tidur seperti ini."
"Axelle ..." Panggil Irene lirih saat terdengar lagi ocehan Axelle.
Tak ada lagi sahutan dari Axelle. Keadaan hening tiba-tiba. Dalam sekejap, Axelle telah terlelap. Lantaran tubuhnya yang terlalu lelah.
Irene pun tak bisa berbuat apa-apa. Tak tega rasanya membangunkan Axelle dari tidurnya hanya untuk memintanya pindah ke kamarnya sendiri. Sebab rasa lelah, dan kantuk yang mulai menyerang, Irene pun memejamkan matanya. Memulai perjalanannya di alam mimpi. Ia biarkan Axelle tertidur di sampingnya, sambil memeluknya erat. Sementara malam mulai merangkak.
.
.
__ADS_1
Di lain tempat.
Zaky baru saja kembali dari urusannya. Ia melepas jaket dan menaruhnya di sofa. Baru saja hendak mengambil duduk, ia dikagetkan dengan suara bel pintu.
Sembari membuang napas berat, ia berjalan ke arah pintu. Untungnya, unit apartemennya sudah dilengkapi dengan bel pintu nirkabel lengkap dengan kamera. Hingga ia bisa mengetahui siapa tamu yang sedang berdiri di depan pintu.
Zaky kembali membuang napas berat sembari memijit keningnya yang mulai terasa berkedut. Lantaran tamu yang tak diundang. Tamu yang kedatangannya hanya akan membuatnya gerah.
Clarissa.
Tampak di layar, wanita itu tengah memperbaiki tatanan rambutnya yang sebenarnya tak terlihat berantakan. Melihatnya saja membuat Zaky muak. Tapi apa boleh buat, wanita itu sedikit memaksa dengan menekan bel berulang-ulang kali. Hingga membuatnya gerah juga.
"Hai ..." Sapa Clarissa begitu pintu terbuka.
Namun Zaky tak membalas sapaannya. Dipandanginya datar Clarissa yang kini menyunggingkan senyumnya semanis mungkin.
"Aku boleh masuk kan?" Tanya Clarissa.
Zaky tak menjawab. Ia memilih mengambil langkah masuk lebih dulu. Lalu diikuti Clarissa yang mengekor di belakangnya.
"Boleh kan aku duduk?" Tanpa dipersilahkan pun Clarissa langsung mengambil duduk di sofa panjang. Di sebelah Zaky yang telah lebih dulu duduk di sofa itu.
"Langsung saja, apa maksud kedatangan mu kemari?" Tanya Zaky to the poin. Tanpa perlu berbasa-basi lagi. Zaky memang seperti itu tabiatnya. Tak suka dengan orang yang suka bertele-tele.
"Aku bosan sendirian. Jujur, aku kesepian." Jawab Clarissa tanpa canggung.
"Apa datang kemari bisa menghilangkan rasa bosan mu? Jujur, aku tidak nyaman dengan kehadiranmu." Tandas Zaky tanpa peduli perasaan Clarissa.
"Aku hanya ingin meminta satu hal darimu."
"Langsung saja. Aku tidak punya banyak waktu. Aku sangat lelah."
"Ijinkan aku masuk agensi mu. Aku ingin memulai karirku dari awal lagi."
"Tidak bisa. Aku tidak ingin merepotkan diriku. Axelle saja sudah cukup untukku."
"Karena Axelle itu adalah adik mu kan?"
"Aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri."
"Bukan. Bukan seperti, tapi ..." Clarissa menggeser duduknya semakin mendekat. Lalu ia berbisik di telinga Zaky. "Karena Axelle adalah adik kandung mu. Itulah sebab nya kenapa kamu begitu menjaganya. Karena ini perintah dari ayah mu kan?"
Seketika, Zaky tertegun. Terpaku dengan tatapan lurus.
Dari mana Clarissa tahu?
TBC
...----------------...
Thankyou so much buat reader yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini☺️🙏
Salam sayang dari otor kawe untuk reader dimanapun berada 😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya🤗 agar otor kawe makin semangat update.
Sampai jumpa di episode berikutnya🤗🤗