
Olivia dan Ranti melangkah cepat, bahkan berlari untuk segera sampai ke UGD. Raut wajah keduanya diliputi kecemasan yang teramat sangat. Sesekali Olivia terlihat mengusap wajahnya. Lantaran air mata yang terus berderai begitu saja tanpa mampu ia bendung.
Tiba di depan ruang UGD. Ada Bu Norma, Boni dan Zaky yang juga baru saja tiba. Sementara Axelle masih berada di dalam ruangan itu melihat keadaan Irene sebentar.
"Zaky ... Boni ..." Panggil Olivia. Ia menghentikan langkahnya dan menghampiri Zaky.
Zaky pun menoleh. Dan mendapati Olivia tampak cemas luar biasa. Bahkan matanya tampak sembab.
"Bu Olive? Bu Ranti?"
"Gimana keadaan Irene?"
"Dia membutuhkan donor darah secepatnya."
"Kalau begitu, ambil darah saya saja. Saya bersedia mendonorkan darah saya." Ujar Olivia antusias. Sebab ia yakin golongan darahnya sudah pasti sama dengan golongan darah Irene.
"Boni, tolong cepat panggilkan dokter." Titah Zaky.
Belum sempat Boni melangkahkan kakinya, dokter yang menangani Irene datang tergesa-gesa bersama seorang perawat. Lantaran kondisi pasien yang memburuk.
"Dokter, dokter." Panggil Olivia mencegah dokter masuk ke ruangan. Sedangkan seorang perawat segera masuk ke ruangan tersebut.
"Saya bersedia mendonorkan darah saya. Cepat ambil darah saya saja Dok." Ujar Olivia terburu lantaran panik dan cemas.
"Anda siapa?"
"Saya ... Saya ... Saya ibunya."
Serentak yang berada di tempat itu dan mendengar ucapan Olivia pun terbelalak kaget. Bahkan tak percaya dengan apa yang dikatakan Olivia.
"Golongan darah anda O negatif?"
Olivia pun terdiam. Lalu menelan salivanya dalam-dalam.
Tidak!
Jika Irene tidak segera mendapatkan donor darah, lalu bagaimana keadaannya nanti? Sementara ia sendiri, yang awalnya ia begitu yakin memiliki golongan darah yang sama dengan Irene. Nyatanya justru berbeda.
"Ti_tidak Dok. Tapi, ada seseorang yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien."
"Kalau begitu, tolong secepatnya. Sebelum kondisi pasien semakin memburuk."
Olivia mengangguk cepat. "Iya, Dok. Saya akan membawa pendonornya sekarang juga."
"Tolong secepatnya ya?" Dokter pun bergegas masuk ke ruangan.
Setelah dokter itu masuk, Ranti pun menghampiri Olivia.
"Liv ..." Panggil Ranti lirih. Sambil menatap penasaran akan ucapan Olivia beberapa saat lalu.
Olivia pun menoleh. Wajahnya tampak tegang. Memikirkan sesuatu yang tak ingin ia lakukan. Namun terpaksa harus ia lakukan demi Irene.
"Jadi ... Irene itu ... Irene itu ..." Ranti bahkan sampai tak bisa menyelesaikan kalimatnya, saking terkejutnya.
__ADS_1
"Iya, Ran. Aku sangat yakin, Irene adalah putriku. Kalung Irene yang ada sama kamu, itu sama persis dengan kalungnya Nadine. Karena aku sendiri yang memilih kalung itu. Aku sendiri yang mendesainnya dan memesannya di toko perhiasan langganan aku dulu."
"Trus, gimana dengan pendonor yang kamu janjikan? Siapa yang bisa mendonorkan darahnya untuk Irene?"
"Ada satu orang. Hanya dia yang bisa." Ujar Ranti dengan tatapan lurus.
"Siapa?"
"Ayah kandungnya."
Ranti pun ternganga. Hampir tak bisa mempercayainya. Jika benar Irene adalah putrinya Olivia. Itu artinya, Olivia adalah besannya.
Oh astaga!
Takdir memang terkadang terasa lucu. Tak bisa terduga. Takdir selalu punya cara yang unik untuk mempertemukan insan yang telah lama terpisah.
Sama halnya dengan Bu Norma, Zaky dan Boni. Mereka sangat terkejut mendengar penuturan Olivia. Yang mengatakan bahwa Irene adalah putrinya.
Selama ini Bu Norma berpikir bahwa Irene adalah anak yatim piatu. Atau mungkin saja orang tua Irene tak mampu lagi merawat dan membesarkannya sehingga mereka meninggalkannya di panti asuhan. Tapi ternyata, Irene adalah putri orang berada. Sungguh takdir seseorang memang tak terduga.
"Maaf, Ran. Nanti saja kita bicara. Sekarang ada hal penting yang harus aku lakukan. Aku titip Irene sebentar ya? Tolong jaga dia baik-baik." Ujar Olivia sebelum akhirnya beranjak dari tempat itu kemudian.
.
.
Tidak ada cara lain lagi, demi Irene yang ia yakini adalah putri kandungnya. Olivia pun dengan sangat terpaksa harus melakukan hal ini.
Kini ia tengah berdiri di depan pintu pagar sebuah rumah mewah. Seorang satpam tidak mengijinkannya masuk. Lantaran tak membuat janji sebelumnya dengan majikannya.
"Tuan sedang tidak ada di rumah. Maaf ya Bu. Jika tidak ada janji sebelumnya, Ibu tidak akan diijinkan masuk. Meski Tuan ada di rumah." Jawab satpam tersebut.
"Katakan saya Olivia. Olivia Rajendra. Pak Hadi sangat mengenal saya. Katakan ini penting. Saya harus bertemu Pak Hadi sekarang juga."
"Maaf sekali Bu. Kan saya sudah bilang tadi. Tuan tidak ada. Beliau sedang ada urusan mendadak. Baru saja beliau pergi."
"Kemana?"
"Waaah ... Kalau soal itu saya kurang tau Bu. Tapi kalau Nyonya ada. Perlu saya panggilkan Nyonya?"
"Tidak usah."
"Siapa tamunya Ujang?" Tiba-tiba terdengar sebuah suara lembut menyapa. Olivia pun terlihat panik dan salah tingkah.
Siapa lagi wanita yang datang menghampiri itu kalau bukan sang Nyonya rumah. Istri pertamanya Hadi Irawan.
Olivia hendak beranjak meninggalkan tempat itu, sampai tiba-tiba terdengar seruan yang tak sedap di pendengaran.
"Sudah sangat lama, tapi ternyata kamu masih punya nyali ya?"
Olivia pun menghentikan langkahnya. Lalu memutar tubuhnya. Dipandanginya sang Nyonya rumah dengan tatapan dingin.
"Untuk apa lagi kamu datang kemari?" Tanya Nyonya rumah sinis dan terkesan meremehkan Olivia.
__ADS_1
"Aku mau bertemu Hadi. Dia ada di rumah kan?" Ujar Olivia akhirnya memberanikan diri. Demi Irene, tidak ada pilihan lain lagi. Selain menceburkan diri kembali ke dalam kubangan lumpur. Menerima hinaan dari istri pertama Hadi Irawan. Seorang produser film ternama. Dan salah satu film yang di produserinya ialah film terbaru Axelle. Yang tayang baru-baru ini.
"Suamiku sedang tidak ada di rumah. Ada keperluan apa kamu datang kemari?"
"Bukan urusan kamu." Olivia kembali memutar tubuhnya dan hendak meninggalkan tempat itu.
Namun langkahnya harus kembali terhenti. Sebab sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Karena Olivia menghalangi jalan, hingga terdengar bunyi klakson berkali-kali memintanya menyingkir dari depan pintu gerbang.
Olivia tak menggubris. Sebab ia tahu siapa yang pemilik mobil tersebut.
Satpam bergegas membukakan pintu gerbang. Dari mobil itu, turun seorang pria paruh baya. Melihat Olivia berdiri memandanginya dengan raut masam, pria itu pun menghampirinya.
"Olive?" Sapa pria itu tak percaya. Sebab sudah bertahun-tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu lagi.
Meski ada rasa sesak di dada, meski ada rasa benci yang teramat, namun Olivia sebisa mungkin menahannya.
"Ada perlu apa kamu datang kemari?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Hadi Irawan.
"Sebenarnya aku tidak ingin lagi datang kemari. Aku sungguh tidak ingin lagi bertemu denganmu, tapi aku terpaksa. Aku butuh bantuan mu." Ujar Olivia.
Hadi mengulum senyumnya. "Kamu butuh bantuan ku? Tumben."
"Aku terpaksa, demi putri kita. Nadine."
Seketika Hadi pun terdiam. Sambil menatap lekat Olivia.
"Putri kita? Nadine masih hidup?" Hadi seakan tak percaya. Tak disadarinya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Pah ... Ayo masuk Pah. Untuk apa berdiri di luar." Seru istri Hadi dengan wajah masam. Namun Jadi tak menghiraukan seruan istrinya.
"Hanya kamu yang bisa membantu Nadine sekarang. Karena kalian memiliki golongan darah yang sama." Ujar Olivia.
Seketika wajah Hadi pun terlihat tegang bercampur cemas.
"Apa yang terjadi dengan Nadine?" Tanya Hadi cemas.
"Dia kecelakaan dan kehilangan banyak darah. Dan sekarang dia dalam keadaan kritis. Dia membutuhkan donor darah secepatnya. Jika bukan karena Nadine, aku tidak akan sudi meminta bantuan mu."
Hadi menganggukkan kepalanya. Sembari mengusap wajahnya gusar.
"Baiklah. Dia di rawat di rumah sakit mana?"
"Mom ..." Tiba-tiba terdengar suara lembut lain menyapa. Dan suara itu sudah tak asing lagi di telinga Olivia.
Olivia pun menoleh. Tampak seorang wanita muda dan cantik datang menghampiri. Wanita itu terkejut melihat Olivia berdiri di depan gerbang rumahnya.
Sama halnya dengan Olivia. Yang begitu terkejut melihat wanita itu datang menghampiri. Dan memanggil istri Hadi dengan sebutan Mom. Atau Mommy. Yang berarti wanita itu adalah putrinya. Putri Hadi dan istrinya, Gina.
"Bu Olive?" Gumam wanita itu dengan ekspresi terkejut.
Olivia mengerutkan dahinya memandangi wanita muda tersebut.
"Clarissa?" Gumam Olivia tak percaya.
__ADS_1
TBC