Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 71


__ADS_3

Olivia mengerutkan dahinya memandangi wanita muda tersebut.


"Clarissa?" Gumam Olivia tak percaya.


"Mom ... Mommy kenal dengan Bu Olive?" Tanya Clarissa setengah berbisik di telinga Gina.


Gina mengangguk pelan. "Iya. Sangat kenal."


"Kok bisa? Gimana ceritanya?"


"Nanti saja Mommy cerita sama kamu."


"Daddy juga mengenalnya?"


"Nanti saja Cla Mommy cerita. Pah ... Ayo masuk Pah." Gina memanggil kembali suaminya yang seakan tak mempedulikannya.


Dan benar saja, Hadi sama sekali tak menggubrisnya. Pikiran Hadi dan perhatian Hadi dalam sekejap teralihkan karena kehadiran Olivia.


"Baiklah. Sekarang tunggu apa lagi? Ayo kita ke rumah sakit, sebelum semuanya terlambat." Ujar Hadi.


Olivia pun bergegas menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Sedangkan Hadi kembali naik ke mobilnya sendiri.


Satpam menutup kembali pintu gerbangnya lantaran majikannya yang tak jadi masuk. Sejurus kemudian mobil Olivia dan mobil Hadi melaju beriringan meninggalkan tempat itu.


Sementara  Gina setengah mati menahan sejuta kesal di dada. Lantaran kemunculan kembali wanita masa lalu Hadi dan kepergian Hadi begitu saja dan tak mempedulikannya.


Bagaimana tidak, selama ini ia telah bekerja keras menyingkirkan wanita masa lalu Hadi. Dan sekarang wanita itu kembali lagi dengan alasan putri mereka. Putri yang sudah susah payah ia singkirkan bertahun-tahun lalu ternyata masih hidup.


Gina pun geram dibuatnya. Bagaimana bisa ini terjadi. Jika putrinya Olivia masih hidup, lalu bagaimana dengan nasib putrinya sendiri, Clarissa? Hadi sudah pernah berkata bahwa dia akan mewariskan seluruh kekayaannya kelak untuk putrinya. Putri kandungnya.


Hal itulah yang menjadi ketakutan tersendiri bagi Gina. Menjalani pernikahan karena perjodohan adalah satu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Namun apalah daya, meski pernikahannya dengan Hadi karena perjodohan, tapi ia mencintai Hadi. Ia tetap bertahan meski Hadi tidak mencintainya.


.


.


Kondisi Irene sempat memburuk. Namun berkat Hadi, kini Irene bisa terselamatkan. Beruntung mereka datang tepat waktu.


Selama proses transfusi darah, tak henti-hentinya Hadi memandangi Irene yang terbaring tak berdaya. Matanya pun berkaca-kaca lantaran kerinduan yang teramat dalam terhadap putri tercintanya. Kini ia hanya bisa menyesali kesalahannya di masa lalu yang tak memperjuangkan cintanya.


Kini ia telah kehilangan dua orang yang berharga dalam hidupnya. Wanita yang dicintainya dan putri kesayangannya.

__ADS_1


Sementara pernikahannya dengan Gina, ia jalani dengan setengah hati. Lantaran tak ada cinta dalam pernikahan itu.


Setelah proses transfusi darah, Irene pun telah di pindahkan ke ruang rawat inap.


Hadi, Olivia, dan Axelle yang pertamakali diperbolehkan menjenguknya. Sementara Irene masih belum sadarkan diri.


Axelle duduk di bangku kecil, di sisi tempat tidur. Sambil tangannya menggenggam erat jemari Irene. Sesekali ia mengecup punggung jemari Irene. Ditatapnya wajah Irene lekat-lekat. Di hidung Irene terpasang selang oksigen. Sebagai alat bantu pernapasannya.


Sementara di sisi lain tempat tidur itu, Hadi dan Olivia berdiri sambil mengamati wajah polos Irene yang terlelap. Baik Hadi maupun Olivia tampak berkaca-kaca. Sampai akhirnya, Olivia tak tahan lagi. Tangisnya pecah seketika. Dengan sebelah tangannya ia membekap mulutnya sendiri. Menahan isak tangisnya agar tak terdengar jelas.


Mengerti dengan perasaan Olivia, Hadi pun mengangkat sebelah tangannya dan mengusap lembut punggung Olivia.


Hati Olivia benar-benar hancur melihat keadaan putrinya yang tak berdaya.


"Liv ... Aku mau kita bicara sebentar. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu." Ucap Hadi bernada pelan. Sebab tak ingin mengganggu pasien.


Olivia masih terisak dalam tangisnya. "Apalagi yang perlu kita bicarakan."


"Kita bicara di luar. Biarkan Nadine beristirahat. Setelah dia siuman nanti, kita beritahu dia kalau kita adalah orang tuanya."


Mendengar ucapan Hadi, sontak Axelle mengangkat wajahnya. Memandangi Olivia dan Hadi bergantian. Sembari mengernyit, Axelle bangun dari duduknya.


"Pak Hadi?" Sapa Axelle. Sejak tadi ia tak memperhatikan. Sebab pikiran dan perhatiannya terlalu terfokus pada Irene. Hingga ia tak menyadari kehadiran Hadi Irawan, sang produser ternama di negeri ini. Siapa pun pasti mengenalnya. Terlebih lagi para kalangan selebriti.


"Axelle? Kamu ..." Sungguh dunia memang sempit. Padahal mereka sudah saling mengenal. Dan ternyata Irene adalah putri Hadi Irawan.


"Jadi kamu ini suaminya Nadine, putriku?" Hadi pun hampir tak bisa mempercayainya.


"Nadine?" Axelle semakin mengernyit.


"Iya, Nadine. Ini Nadine putriku yang telah lama hilang. Dia diculik sejak usianya baru tiga bulan. Tapi ternyata, Tuhan masih menjaganya. Aku sangat bersyukur Nadine ku masih hidup."


Axelle mengangguk pelan. Kini ia bisa memahami kenapa Irene bisa hidup di panti asuhan. Ternyata dia diculik sejak bayi. Dan sekarang dia telah bertemu dengan orang tua kandungnya. Tapi sayangnya, Irene belum juga siuman.


"Oh ya, Axelle. Aku ingin sekali bicara dengan mu. Tapi mungkin lain waktu saja. Tolong jaga Nadine baik-baik. Aku titip putriku padamu." Ujar Hadi. Kemudian tanpa aba-aba ia menarik pergelangan tangan Olivia. Mengajaknya keluar dari ruangan itu.


.


Di taman rumah sakit itu, Hadi mengajak Olivia. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Olivia. Salah satunya tentang Nadine.


Olivia tampak memalingkan wajahnya ke sembarang tempat. Ia seakan tak ingin bertatap muka dengan mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu bilang Nadine diculik. Lalu bagaimana dia bisa ada bersamamu?" Tanya Hadi penasaran.


Olivia tampak menahan kesal yang telah terlanjur bersarang di dada. Tetapi sejurus kemudian ia menghembuskan napasnya pelan. Mencoba mengatur pernapasannya. Agar rasa kesal tak semakin menggunung.


"Dia memang di culik. Aku juga baru tau, kalau dia adalah Nadine. Aku mengenalnya dengan nama Irene. Selama ini dia hidup di panti asuhan." Jawab Olivia tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun.


"Bagaimana kamu bisa mengenalinya?"


"Dari kalung yang aku pakaikan padanya. Kalung yang aku pesan khusus untuknya. Saat dia diculik, dia memakai kalung itu."


"Yang aku tidak mengerti, kenapa dia bisa diculik. Jika memang dia diculik oleh orang jahat, seharusnya kalung itu tidak ada lagi padanya. Atau jangan-jangan, ini adalah ..." Hadi seakan mencurigai sesuatu.


"Kamu menuduh orang tuaku yang membuangnya dengan alih-alih diculik? Kamu pikir keluargaku serendah itu?" Kini Olivia menatap garang Hadi. Dengan kilatan amarah di matanya.


"Aku tidak berpikiran seperti itu. Hanya saja, rasanya aneh. Kok ada yang begitu tega menculik seorang bayi yang tak berdosa."


"Aku juga penasaran siapa pelakunya." Olivia kembali memalingkan wajahnya.


"Jadi kamu curiga orang tuaku yang melakukannya?"


Wajar jika keduanya berpikiran seperti itu. Sebab pernikahan mereka yang tak mendapat restu dan ditentang habis-habisan oleh kedua belah pihak.


Olivia memang wanita yang dicintai Hadi. Akan tetapi status pernikahannya dengan Hadi hanyalah sebagai istri kedua. Bahkan ia sering dianggap perebut suami orang, pengganggu rumah tangga orang.


Hingga suatu hari Olivia pun tak tahan akan perlakuan kasar istri pertama dan juga orang tua Hadi. Olivia sudah pernah meminta Hadi untuk menceraikannya. Namun Hadi samasekali tak mengindahkannya. Sebab hanya Olivia lah wanita yang dicintainya.


Sampai tragedi itu terjadi, Nadine putri mereka tercinta hilang diculik orang. Hingga kejadian naas itu pun akhirnya membentangkan jarak di antara mereka. Dan Olivia memilih pergi dari rumah meninggalkan Hadi. Sampai detik ini pun, tak ada kata cerai diantara mereka.


"Tidak ada lagi yang mau kamu bicarakan kan? Permisi." Dengan gerakan cepat Olivia memutar tubuhnya dan hendak beranjak pergi.


Namun dengan gerakan cepat pula, Hadi mencekal lengan Olivia. Hingga langkahnya pun terhenti.


"Lepaskan tanganku. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Tandas Olivia kasar.


"Aku sangat merindukan mu Liv."


"Sudahlah. Jangan membahas masa lalu lagi. Aku lihat, kamu sudah berbahagia dengan istri dan putri mu." Olivia menghempas kuat tangan Hadi dari lengannya. Dan hendak beranjak kembali. Namun ucapan Hadi menghentikan langkahnya sekali lagi.


"Clarissa bukan putriku." Ujar Hadi tiba-tiba.


Olivia pun terpaku seketika. Lalu kembali memutar tubuhnya. Memandangi Hadi yang tanpa keraguan sedikitpun mengatakan hal itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2