
Irene mengerjap. Hawa yang terlalu dingin dari pendingin ruangan membuatnya terbangun. Meski sudah berada di bawah selimut tebal, ia masih saja merasa kedinginan. Serasa ada sesuatu yang kurang. Dekapan hangat Axelle tak terasa lagi.
Berkali-kali ia mengerjap, memfokuskan pandangan mencari sesuatu yang tak ada lagi di sisinya. Axelle tak berbaring lagi disampingnya. Ia lantas bangun dari tempat tidur. Meraih remote AC di nakas, dan mematikan pendingin ruangan itu.
Irene menuruni anak tangga pelan. Lantaran rasa kantuk yang masih terasa, serta pandangan mata yang belum fokus. Ia menatap nanar, menyapukan pandangannya ke seisi ruangan mencari keberadaan Axelle. Sampai tiba-tiba pandangannya tertuju pada meja makan yang sudah tertata rapi sarapan pagi.
Namun ada yang berbeda, bukan Axelle yang menyiapkan sarapannya. Melainkan orang lain yang terlihat begitu terampil dan seakan telah terbiasa melakukan pekerjaan wanita. Bahkan dapurnya pun tak terlihat berantakan. Tidak seperti Axelle, hanya membuat nasi goreng dan telur ceplok saja dapurnya sampai seperti kapal pecah.
Zaky.
Pria itu menyunggingkan senyumnya saat melihat Irene menghampiri.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Zaky.
Zaky tak sempat melihat Irene menuruni anak tangga. Jadi sampai saat ini, Zaky belum mengetahui kedekatan hubungan Irene dan Axelle.
"Kok kamu pagi-pagi sekali sudah__"
"Kadang aku melakukan hal ini kalau Axelle sedang sakit." Sela Zaky cepat sebelum Irene menyelesaikan kalimatnya.
Irene mengernyit saat mendengar kata sakit. "Axelle sakit?"
"Iya. Sejak kemarin dia kurang enak badan. Dia hanya kelelahan karena terlalu memaksakan diri kemarin. Syuting yang seharusnya lebih lama dibuatnya singkat. Baru kali ini dia seperti itu." Sembari membawa semangkuk sup panas dan menaruhnya di meja makan.
"Ayo kita sarapan sama-sama. Kamu juga pasti lapar kan?"
Irene mengulas senyumnya. Meski hatinya resah, mencemaskan keadaan Axelle.
"Oh ya. Bisa tolong kamu bangunkan dia?" Pinta Zaky.
Irene kebingungan. Sebab tak tahu dimana Axelle saat ini. Saat ia terbangun pun Axelle sudah tak berada di sisinya.
"Dia sedang tidur di sofa. Di depan TV." Ucap Zaky.
Irene mengulas senyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu beranjak ke ruang tengah, menghampiri Axelle yang berbaring di sofa. Dilihatnya Axelle tertidur pulas. Rasanya jadi tak tega harus mengganggu tidur nyenyaknya. Apalagi kata Zaky Axelle sedang tak enak badan.
Irene berjongkok. Menatap wajah Axelle dalam jarak dekat. Perlahan tangan Irene terulur hendak menyentuh dahi Axelle. Untuk memastikan Axelle sedang tidak demam. Sebab semalaman mereka berdua tidur dengan suhu ruangan yang sangat dingin. Dan hanya dengan saling mendekap akan terasa lebih hangat. Meski mereka tidur dibawah selimut tebal.
Belum sempat tangan Irene menyentuh dahi Axelle. Tiba-tiba saja Irene bersin-bersin. Hingga membangunkan Axelle dari tidur lelapnya.
"Harciiih ... Hatciiih ..." Refleks Irene menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya.
"Irene?" Axelle terbangun dengan wajah cemasnya memandangi Irene.
Sontak Axelle bangun dan menempelkan punggung jemarinya di dahi Irene. Memastikan kondisi Irene.
__ADS_1
"Kamu demam?" Cemas Axelle.
"Tidak. Aku tidak apa-apa."
"Tapi badan kamu hangat."
"Tidak apa-apa. Bukannya kamu yang sakit? Aku diminta Zaky membangunkan kamu. Sarapannya sudah siap."
"Aku hanya kelelahan. Istirahat sebentar juga pasti sembuh."
"Ya sudah, ayo kita sarapan. Zaky sudah menunggu di meja makan." Lalu berdiri dan hendak ke meja makan. Namun dengan cepat tangan Axelle menarik pergelangan tangannya. Hingga ia pun jatuh dalam dekapan Axelle.
"Axelle, lepaskan aku." Pinta Irene saat terasa dekapan Axelle semakin erat.
"Sebentar saja."
"Bagaimana kalau Zaky melihat kita nanti." Irene masih meronta.
"Tidak akan. Kalau dia melihat kita, terpaksa kita jujur kalau hubungan kita sudah sejauh mana."
"Kamu gila ya."
Akhirnya Axelle pun melepas dekapannya. Dan berganti menatap tajam Irene. Menelisik raut wajah Irene dan rona wajahnya yang tampak memucat.
"Kita ke dokter." Ucap Axelle datar.
"Bukan aku yang sakit. Tapi kamu. Kita ke dokter ya?"
"Aku tidak apa-apa. Tidak usah mencemaskan aku. Yang seharusnya ke dokter itu kamu. Bukan aku."
"Kenapa sekarang kita malas saling tuding begini sih? Ya sudah, kalau begitu kita main dokter-dokteran saja. Seperti semalam." Kelakar Axelle dengan senyum usilnya, hingga membuat wajah Irene bersemu merah.
"Apa-apaan sih ..." Irene tersipu malu sembari memalingkan wajahnya.
Sesaat kemudian terasa tangan Axelle merangkum wajahnya. Membawanya bertatapan dengannya. Dalam jarak yang begitu dekat.
Meski hal seperti ini sudah sering terjadi, akan tetapi entah kenapa masih saja membuat hatinya berdebar-debar. Hingga jantung pun berdetak semakin kencang. Axelle selalu bisa membuatnya merasa dicintai, merasa begitu berarti. Hingga cinta dihatinya pun kian bersemi.
"Dengarkan aku." Axelle menatap lekat bola mata Irene. "Mulai sekarang, jangan pernah menghindariku lagi. Tetaplah berada di sisiku. Aku ingin kita terus bersama sampai maut memisahkan."
Ucapan Axelle terdengar sedikit konyol. Tapi sukses membuat hatinya menghangat. Irene tak tahu harus menjawab apa. Sebab Axelle tampak bersungguh-sungguh.
"Kamu terlalu berlebihan." Lirih Irene berucap disertai senyum kikuk lantaran dilanda malu yang membuatnya gugup setengah mati.
"Aku sungguh-sungguh, Ren. Aku ingin pernikahan ini bukan lagi sandiwara. Aku benar-benar mencintaimu." Ungkap Axelle dengan segenap rasa di jiwa.
__ADS_1
Impian yang terpampang begitu nyata di depan mata, ia ingin sesegera mungkin menjadikannya nyata. Ia menginginkan sebenar-benarnya ikatan. Bukan kepalsuan belaka. Ia begitu ingin menjadikan Irene sebagai bagian dari hidupnya. Menjalani sisa hidupnya bersama orang yang dicintainya.
Banyak hal yang membuatnya jatuh cinta pada Irene. Hal yang membuatnya merasa lengkap. Sedetikpun ia tak ingin berpisah. Rasa itu kian hari kian membuncah di dadanya. Tak sanggup membayangkan jika nanti keadaan memisahkan. Jika sandiwara ini berakhir, mereka pun harus berpisah. Dan ia tak ingin hal itu terjadi. Sebelum semuanya berakhir, ia ingin mengakhirinya lebih dulu. Dengan mengganti sandiwara menjadi kenyataan.
"Kamu mau kan menikah denganku?" Tanya Axelle tiba-tiba.
Irene tertegun. Harus menjawab apa, sungguh ia tak tahu. Sejujurnya, ia pun menginginkan hal itu terjadi. Tapi apakah mungkin, semua akan terasa mudah menjadikannya nyata. Apakah mungkin aral takkan membentang disaat impian begitu ingin diraih.
Tolong, seseorang yakinkan Irene. Jika semua dilalui bersama, diperjuangkan bersama, akan terasa mudah.
Irene tersenyum, disertai anggukan pelan. Bersamaan dengan wajah Axelle yang perlahan mulai mendekat. Kini semakin dekat. Saat tiba-tiba ...
"Axelle ... Irene ..." Seruan Zaky membuat keduanya gelagapan. Buru-buru saling menjauh.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Zaky heran.
"Emm ... Itu ... Matanya Irene kelilipan. Aku hanya membantu meniupnya saja." Jawab Axelle gugup.
"Oh ya? Terus, gimana sekarang? Sudah baikan Ren?"
"Su_sudah. Sudah lebih baik. Berkat Axelle. Makasih ya, Axelle." Irene pun tak kalah gugupnya. Hampir saja mereka ketahuan.
"Syukurlah. Ayo kita sarapan. Nanti makanannya keburu dingin." Zaky lebih dulu melangkahkan kakinya menuju meja makan. Disusul oleh Axelle dan Irene kemudian.
Selama berada di meja makan Irene dan Axelle tampak seperti tak saling dekat. Bahkan terlihat seperti orang asing. Hanya sesekali terlihat mereka saling melirik. Sementara di bawah meja makan, kaki saling bersenggolan. Benar-benar mirip bak remaja yang sedang kasmaran.
Sedangkan Zaky tampak tenang menikmati sarapannya. Hanya bola matanya yang sesekali bergerak melirik Irene. Irene tampak tenang, tapi tidak dengan kakinya yang saling bersenggolan dengan kaki Axelle. Sampai tiba-tiba Axelle menendang kakinya terlalu kuat.
"Aww!" Pekik Irene seiring dengan tatapan tajamnya pada Axelle.
Zaky yang tampak tenang pun terusik. Segera ia menghentikan makannya. Lalu menatap Irene cemas.
"Kenapa Ren? Makanannya kurang enak?" Tanya Zaky.
Irene tersenyum kikuk. Bingung harus menjawab apa. Sebab tak ingin Zaky menaruh curiga akan kelakuan nakal Axelle.
"Ti_tidak. Makanannya enak kok. Sangat enak. Aku hanya tidak menyangka, ternyata kamu sangat pandai memasak." Irene melemparkan pujiannya. Sebab hanya itulah jawaban yang melintas di benaknya.
Dan siapa sangka, pujian Irene justru membuat raut wajah Axelle berubah dalam sekejap mata. Dengan tatapan kesal, dipandanginya Zaky dan Irene bergantian.
"Dasar." Umpat Axelle membatin.
"Makasih. Lain kali, aku ingin makan masakan kamu. Boleh kan?" Tanya Zaky.
Irene kembali tersenyum kikuk. "Boleh."
__ADS_1
Seketika, mata Axelle membola. Melotot sempurna memandangi Irene. Axelle semakin kesal.
TBC