Sweet Scandal

Sweet Scandal
Ch. 80


__ADS_3

Gina masih terdiam. Seakan membeku di tempat. Tak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan Clarissa. Sebab ia tahu, hal ini sudah pasti akan menyakiti putrinya. Dan ia sungguh tak ingin melihat kehancuran putrinya.


"Mommy ... Jawab pertanyaanku Mom. Siapa itu Nadine?" Clarissa kembali bertanya hal yang sama.


"Bu_bukan siapa-siapa. Kalau begitu, kamu makan saja dulu. Kamu pasti belum makan kan? Ayo Mommy temani kamu makan."


"Mom ..." Cegah Clarissa pada Gina yang hendak beranjak dari hadapannya.


"Mom, Nadine itu siapa? Kenapa Daddy menyebutnya putriku. Apa Daddy punya anak yang lain selain aku? Kata Mommy aku satu-satunya anak kesayangan Daddy. Lalu Nadine itu siapa?" Clarissa benar-benar penasaran akan jati diri Nadine. Ia merasa belakangan ini ayahnya semakin berubah. Sedangkan ibunya seolah tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Na_Nadine itu bukan siapa-siapa. Dia hanya seseorang yang Daddy kenal. Seseorang yang pernah ditolong sama Daddy. Jadi Nadine itu bukan siapa-siapa." Gina berkilah. Agar Clarissa berhenti bertanya perihal siapa Nadine.


"Ayo, Mommy temani kamu makan." Gina hendak meraih pergelangan tangan Clarissa. Namun Clarissa dengan kasar menghempas tangan Gina. Hingga Gina tersentak.


"Clarissa." Pekik Gina.


Clarissa semakin menajamkan tatapan. Gina bahkan sampai harus menelan saliva kasar. Jika Clarissa menginginkan sesuatu, maka itu harus terwujud.


"Mommy jawab dulu pertanyaan ku. Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri. Daddy menyebutnya putriku."


Gina kembali menelan saliva. Ia atur pernapasannya. Sekedar menghilangkan rasa gugup yang mulai mendera.


"Nadine itu ... Memang adalah anak Daddy. Anak Daddy dengan Olivia." Ujar Gina akhirnya.


"Itu artinya dia adalah saudara ku. Saudara seayah?"


Gina bingung harus menjawab apa. Karena Nadine bukan saudara seayah Clarissa. Sebab Clarissa bukan anak kandung Hadi. Jika ia mengatakan itu, kira-kira seperti apa reaksi Clarissa nanti.


Gina pun akhirnya mengangguk. Mungkin ini yang lebih baik untuk sementara ini. Terpaksa ia membohongi Clarissa. Demi menjaga perasaan Clarissa agar tak tersakiti.


"Seperti apa Nadine itu? Mommy sudah bertemu dengannya?"


Gina menggeleng. "Belum. Terakhir Mommy melihatnya, saat dia masih kecil."


"Tapi setahu aku, Bu Olive tidak punya seorang putri. Dia hidup sendiri."


"Sudahlah. Untuk apa kamu tahu tentang Nadine. Dia dan Olivia sudah lama berpisah dari Daddy. Jadi mereka bukan bagian dari keluarga ini lagi."


Bukan Clarissa namanya jika tak ingin mencari informasi lebih. Pasalnya, Hadi akan memperkenalkan Nadine sebagai putrinya pada semua orang. Bahkan akan disiarkan secara langsung di semua stasiun televisi.


Hal itu tidak bisa ia terima. Sebab Hadi tidak pernah melakukan hal seperti itu untuknya. Hingga detik ini, bahkan hanya segelintir orang saja yang mengenalnya sebagai putri Hadi Irawan. N


Hadi adalah seorang produser, tapi tak pernah mendukung karirnya di dunia entertaint. Hadi membebaskannya melakukan apapun yang ia mau. Namun tak pernah memberinya dukungan di dunia entertaint.


Sebab hal itulah, yang terkadang membuat Clarissa merasa kurang kasih sayang dari Hadi sebagai ayahnya. Sebab hal itu pula terkadang ia merasa seperti bukan putri seorang Hadi Irawan.


Saat mendengar Hadi mempunyai anak selain dirinya, ia tak bisa menerimanya begitu saja. Ia sungguh dibuat penasaran, siapa gerangan putri ayahnya dan Olivia.

__ADS_1


.


.


Gina dibuat resah dan gelisah akan peringatan Hadi tempo hari. Yang memintanya bersiap-siap, entah untuk hal apa. Terlebih lagi Hadi ingin memperkenalkan putrinya kepada semua orang. Sungguh Gina tak terima. Ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Lalu bagaimana dengan nasibnya dan putrinya, Clarissa.


Di halaman belakang, di tepian kolam renang, Gina mondar-mandir. Gelisah tak menentu memikirkan nasibnya. Ia tahu, hingga detik ini Hadi masih mengharapkan Olivia kembali ke dalam kehidupannya.


Hanya saja, kehilangan Nadine yang membentangkan jarak diantara mereka selama ini. Dan kini Nadine telah kembali. Sudah pasti, Hadi akan berusaha mendekati Olivia lagi.


Tidak!


Tidak bisa!


Gina geram. Menahan amarahnya setengah mati. Hadi benar-benar keterlaluan jika menyingkirkannya begitu saja. Walau bagaimanapun ia yang selama ini setia mendampingi Hadi selama bertahun-tahun lamanya. Bukan Olivia.


"Halo?" Gina menelepon seseorang diam-diam. Dengan nada suara dibuat sepelan mungkin.


"Kita harus bertemu sekarang juga. Aku punya pekerjaan untukmu. Selesaikan dengan cepat. Dan kamu akan mendapatkan bayaran yang sesuai. Kita bertemu di tempat biasa." Ujar Gina pelan.


Tanpa Gina sadari, ada sepasang mata dan sepasang telinga yang mendengar percakapannya tanpa sengaja.


.


.


"Katakan apa yang harus aku lakukan." Ujar pria itu.


Gina mengambil sesuatu dari dalam tas nya. Ia lantasĀ  condong ke depan. Agar ucapannya nanti tidak akan di dengar orang, sembari mengangsurkan selembar foto.


Pria itu mengambil foto yang diangsurkan Gina padanya.


"Itu adalah Olivia Rajendra. Dia desainer terkenal. Kamu pasti pernah melihat wajahnya."


Pria itu tampak mengamati foto yang ada ditangannya.


"Apa yang harus aku lakukan padanya?" Tanya pria itu.


"Cari tahu tentang putrinya. Aku ingin melihat seperti apa wajah putrinya. Setelah itu akan aku beritahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya."


Pria itu mengangguk. Disaat bersamaan datang seorang pelayan pria dengan daftar menu di tangannya.


"Mau pesan apa Pak, Bu?" Tanya pelayan sembari menyodorkan daftar menu itu ke tangan Gina.


Gina hanya memesan dua gelas jus. Pelayan itu pun bergegas meninggalkan meja.


Tak berapa lama pelayan itu kembali dengan nampan berisi dua gelas jus dan sebuah kotak tissue. Setelah menaruh jus itu di meja, di depan pemiliknya masing-masing, dan kotak tissue ia letakkan di tengah-tengah meja. Pelayan itu pun beranjak pergi.

__ADS_1


"Bayaran ku gimana? Sesuai kan?" Tanya pria itu setelah pelayan berlalu.


"Kamu selalu saja mementingkan soal uang, uang, dan uang. Apa pernah kamu memikirkan soal aku dan Clarissa?" Keluh Gina kesal.


Pria itu menyeringai tipis.


"Aku sudah berbuat banyak untuk mu. Jangan lupakan soal itu."


"Iya. Tapi kamu gagal menghabisi bayi itu. Padahal aku sudah memberimu banyak uang. Apa susahnya menghabisi seorang bayi." Gina kembali berkeluh kesah akan kejadian di masa lampau.


"Yang penting bayi itu menghilang selama bertahun-tahun. Dan keinginan kamu terwujud. Hadi dan istri keduanya berpisah kan?"


"Tapi sekarang bayi yang gagal kamu habisi dulu, dia kembali lagi. Dan hidup Clarissa akan jadi taruhannya. Apa kamu tega, melihat aku dan putri mu hidup di jalanan?"


Pria itu kembali menyeringai.


"Aku pastikan, kali ini aku tidak akan gagal. Aku akui, dulu aku ceroboh. Aku hanya meninggalkan bayi itu sebentar. Saat itu aku kebelet. Begitu aku kembali, bayi itu tiba-tiba menghilang."


"Pegang kata-katamu, Herman."


"Jangan kamu lupa, aku juga sudah berjasa atas kehidupan nyaman kamu selama ini. Hadi mengira putri ku adalah putrinya. Untuk itulah kalian hidup bergelimang harta. Semua itu karna aku yang merelakan kalian hidup bersama orang lain."


"Tapi semua yang kamu lakukan itu juga tidak gratis. Aku selalu memberimu uang setiap bulannya. Dan kali ini, aku tidak mau ada kegagalan lagi. Cari tahu, dimana putrinya Hadi dan Olivia berada."


"Baik. Akan aku lakukan."


"Lakukan demi Clarissa." Tegas Gina.


Pria yang bernama Herman tersenyum sinis saat menerima sebuah amplop cokelat yang disodorkan Gina.


.


.


Seorang pelayan cafe yang melayani Gina, melangkah tergesa-gesa menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Pelayan itu mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.


Kaca jendela mobil itu turun tak sampai setengah. Dari dalam menyembul sebuah amplop. Pelayan itu menerimanya setelah ia memberikan sebuah chip mikro.


"Terima kasih banyak Tuan." Ujar pelayan kemudian berlalu meninggalkan mobil yang terparkir.


Di dalam mobil yang tampak gelap, seorang pria tengah melakukan panggilan telepon.


"Cari tahu siapa pria yang bernama Herman. Dimana dia tinggal, apa pekerjaannya. Cari informasi sebanyak mungkin tentang dia. Akan aku beritahu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya begitu kamu menemukannya."


Panggilan itu pun berakhir. Detik berikutnya mobil itu mulai melaju meninggalkan tempat itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2